
"Se-Serena..?"
Perjumpaan yang tak disengaja. Serena tak sengaja berpapasan dengan Jevano di depan butik langganan favoritenya.
Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya mereka bisa bertatap muka lagi. Ya, awalnya itu yang Jevano syukuri sebelum seorang laki-laki asing datang lalu menyelimuti tubuh Serena menggunakan sebuah mantel hitam tebal.
Alis Jevano otomatis berkerut. Dia tak mengenal lelaki tinggi bersurai kemerahan itu, apalagi sikap laki-laki itu kelihatan akrab dengan Serena.
"Siapa dia?" Itu adalah pertanyaan pertama yang Jevano ajukan.
'Jevano pasti penasaran sama Dion,' Serena mendongakkan sedikit kepalanya untuk bisa melihat ekspresi Dion di sampingnya.
Tak jauh berbeda dari Jevano, ekspresi Dion juga jadi dingin. 'Tapi identitas Dion belum boleh diketahui siapa-siapa. Bisa gawat kalau Jevano tahu kalau Dion ini sebenarnya sepupuku.' Serena berpikir cepat.
Sesuai kesepakatan Serena dengan Caesar, identitas Dion tak boleh terbongkar ke media atau ke siapa pun orang selain dirinya, Julian, Elliot, Tuan Joseph serta beberapa pihak tertentu yang membantu menyelesaikan urusan Dion sebelumnya.
Jadi Serena harus memutar otak untuk mengecoh Jevano.
"Oh, dia...namanya Dion. Dia kenalan kak Caesar dan kebetulan tinggal di sini sementara waktu," Hanya itu jawaban yang bisa Serena berikan.
Keingintahuan Jevano itu tinggi, Serena tidak boleh menarik rasa penasaran Jevano karena itu bisa menimbulkan masalah baru untuknya.
Meski sedikit tak menyukai skenario ini, Dion hanya bisa mengikuti akting Serena.
"Udahan dulu acara perkenalannya. Kita harus segera masuk ke dalam. Cuacanya makin dingin," Dion mencoba menyudahi obrolan mereka sampai di situ.
Tatapan tajam dari mata Jevano serasa melubangi kepalanya, Dion tak ingin berurusan panjang dengan laki-laki yang dia tebak adalah teman Serena.
"Oh, iya. Udah ya, Jev. Aku pergi dulu kalau gitu. Hati-hati di jalan," Serena melambaikan tangannya sekali pada Jevano, sebelum melenggang masuk ke dalam butik yang sudah Julian booking penuh hanya untuk kenyamanan Serena berbelanja.
Namun Jevano tak akan membiarkan Serena pergi begitu saja dari hadapannya.
"Tunggu! Ka-kamu berhutang cerita sama aku soal waktu itu!" Tanpa sadar tangan Jevano melesat menarik tangan Serena dan menahan gadis itu agar tidak pergi terlalu cepat.
Dion menggeram rendah, lalu mencengkram kuat pergelangan tangan Jevano yang menahan tangan Serena, "Lepasin. Kau pikir kau siapa, hah?! Main tarik tangan orang sembarangan!" gertaknya, dengan rahang mengeras menahan amarah.
Kedua lelaki itu saling bertatapan tajam seolah-olah sedang mengibarkan bendera perang tak kasat mata di antara keduanya. Suasana di antara mereka bertiga semakin terasa menegangkan sampai membuat Serena ketakutan akan terjadi baku hantam detik itu juga.
"Udah. Aku gapapa kok," Serena menepuk lengan Dion guna menenangkan sang sepupu bahwa dirinya baik-baik saja. Secara perlahan Serena melepaskan pegangan tangan Jevano darinya, "Jangan gini, Jev. Banyak pasang mata yang lihat, jaga sikapmu di depan publik," tegurnya singkat, yang terkesan dingin di telinga Jevano.
'Nggak..kalau aku lepasin Serena, aku yakin dia bakal sulit kutemui lagi. Apalagi cowo di sebelahnya itu kelihatan nggak bener. Auranya terasa mengintimidasi banget, aku jadi khawatir sama Serena,' batin Jevano ragu.
Melihat penampilan Dion, Jevano tidak tenang membiarkan Serena hanya berduaan dengan lelaki itu.
Di sisi lain, Serena mulai kedinginan. Tapi sepertinya Jevano tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya pegangannya dan membiarkan dirinya masuk sekarang juga.
Seakan lupa akan tujuannya datang ke pertokoan itu, Jevano buru-buru melihat jam.
'**!*! Sebentar lagi bakal antri tokonya! Aku harus cepat-cepat ke sana sebelum keduluan orang!' Jevano panik. Jasmine menyuruhnya datang ke kawasan ini hanya untuk membeli sebuah camilan hangat mirip bakpao yang memang terkenal enak.
Menilai dari ekspresi Jevano, dugaan Serena benar. Jevano datang ke tempat itu pasti karena permintaan Jasmine. Bagaimana dia bisa tahu? Ya karena camilan favoritenya juga sama dengan Jasmine.
Jajanan khas korea berbentuk ikan yang enak di makan saat masih hangat. Serena sering membelikan Jasmine dulu, jadi tak mengherankan lagi Jasmine menyuruh Jevano datang membeli camilan itu karena tak ada lagi yang bisa gadis itu suruh.
"Cepat pergi sebelum kehabisan. Aku juga harus buru-buru karena masih ada urusan lain," Serena harus mengakhiri obrolan mereka cukup sampai di sini. Walaupun dirinya tidak bisa memberikan ucapan cepat sembuh secara langsung pada Jasmine, Serena tetap akan mendoakan kembarannya dari jauh.
Karena menyimpan dendam terus menerus juga tidak baik bagi kesehatan diri sendiri. Meski Serena bisa memaafkan Jasmine dan kedua orang tuanya, itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan banyak pertimbangan lainnya.
Sebelum mereka berpisah di sana, masih ada satu pertanyaan besar yang ingin Jevano tanyakan secara langsung. "Kamu....kamu nggak mau kembali ke rumahmu sendiri?"
Hawa dingin semakin menusuk kulit. Namun dibandingkan hari-hari sebelumnya, kondisi hari ini terbilang lebih hangat dan intensitas turunnya salju juga mulai berkurang.
Tetapi anehnya, pertanyaan Jevano seakan baru saja melemparkan bola salju yang dingin tepat pada hati Serena.
Serena yakin sekali kalau Jevano sudah mendengar kronologi pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan keluarganya. Serena juga dapat menebak bila Jasmine hanya akan membicarakan hal-hal yang menyelamatkan harga diri gadis itu dan melewatkan poin utama penyebab pertengkaran mereka.
Hm, toh cepat atau lambat pertanyaan ini pasti akan dilontarkan padanya. Dan keputusan Serena sudah bulat.
"Nggak," jawabnya tegas. "Aku nggak akan menginjakkan kaki ke dalam rumah itu lagi. Lagipula nggak ada hal baik yang menungguku di sana, buat apa aku kembali masuk ke dalam kandang singa yang siap menerkamku kapan aja? Itu cari mati namanya," ujar Serena, sambil tertawa sinis di akhir.
Jawaban Serena tentu bukan jawaban yang ingin Jevano dengar. Melihat sikap dan ekspresi yang Serena tunjukkan, sepertinya gadis itu benar-benar terluka begitu dalam.
"Ayo, masuk. Tanganmu hampir beku nih," Dion harus segera memisahkan Serena dengan laki-laki yang dipanggil dengan sebutan 'Jev' itu. Dion merasa ada sesuatu yang tak biasa di antara keduanya.
Berhubung Julian tak ada di tempat, maka Dion lah yang berperan melindungi Serena dari segala gangguan yang berbahaya.
Dan menurut insting Dion, laki-laki bersurai kecoklatan itu kelihatan berbahaya untuk Serena. Lihat saja tatapan matanya yang tak biasa, Dion yakin itu salah satu gejala orang pengidam sifat 'posesif' yang parah.
Terkadang Julian juga seperti itu, tapi hanya di saat-saat tertentu saja, semisal ada laki-laki yang mendekati Serena atau ketika Serena membicarakan laki-laki lain di depan Julian.
Tapi orang ini sedikit berbeda. Maka dari itu Dion harus segera memisahkan mereka sekarang juga.
"Iya, kita masuk sekarang. Urusan kita udah selesai sampai di sini kok." Serena merangkul erat lengan Dion, lalu melenggang pergi meninggalkan Jevano yang tertegun pasca mendengar jawaban Serena.
'Apa artinya itu? Apa Serena berniat memutuskan hubungannya dengan keluarga Reinhart? Kalau Serena nggak berniat pulang, terus buat apa aku menunggu kedatangannya di rumah itu? Argh, s!al! Tau gitu aku nggak buang-buang waktuku terlalu banyak!' Jevano mengacak rambutnya pelan.
Kalau Serena tidak mempunyai niatan untuk kembali ke kediaman Reinhart, maka tak ada motivasi lagi bagi Jevano untuk terus datang secara rutin menyambangi Jasmine.
'Nama cowo tadi Dion 'kan? Aku harus segera mencari tau. Caesar nggak mungkin biarin sembarangan cowo dekat sama Serena, aku yakin ada alasan tersendiri sampai dia ngizinin Dion berkeliaran di sekitar Serena!'