
Setelah selesai makan siang bersama dan berbincang-bincang sambil membicarakan bisnis, Austin kembali ke kantor.
Pria itu masuk ke ruang kerjanya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia merasa sangat lelah. Bagaimana tidak lelah, habis rapat di kantor, ia makan dengan kakek Fu, menemani lelaki tua itu ngobrol. Belum lagi pria itu tambah bad mood karena melihat istrinya makan siang dengan pria lain selain dirinya.
"Kenapa lagi denganmu?"
Suara itu sontak membuat Austin yang hampir ketiduran membuka matanya. Narrel sudah duduk di depannya. Austin menatap sekretarisnya itu yg tanpa bersemangat.
"Kau tahu, menyukai wanita hanya akan membuatmu merasa lelah." ucap Narrel lagi seolah tahu apa yang ada di pikiran Austin.
Ia memang mengakui Ainsley yang bisa membuat sahabatnya itu menyukainya tanpa usaha keras seperti yang di lakukan wanita-wanita yang lain. Tapi kalau ia jadi Austin, ia tidak akan bersikeras mendapatkan gadis itu. Apalagi menikahinya. Belum tentu juga kan Ainsley gadis yang baik, meski kelihatannya baik, tidak ada yang tahu isi hatinya seperti apa.
Sampai sekarang Narrel masih merasa pernikahan Austin terlalu terburu-buru. Tapi mau bagaimana lagi, sahabatnya itu sudah memutuskan.
Narrel bukanlah tipe lelaki yang bisa setia hanya pada satu wanita. Ia adalah tipe lelaki playboy yang hanya ingin bermain-main dengan mereka. Ia memang menghormati mereka. Tapi kalau di ranjang, beda cerita.
Austin sendiri tidak menghiraukan perkataan Narrel. Biarkan saja pria itu dengan pandangannya sendiri tentang wanita. Itu haknya. Namun Austin berbeda. Baru kali ini ia merasa menyukai seorang wanita sedalam ini.
"Kenapa ke sini?" tanya Austin sambil memijit pelipisnya.
"Kosongkan waktumu di hari sabtu," ucap Narrel.
Austin bersandar di sofa, bersedekap dan menatap Narrel dengan alis terangkat.
"Iren memohon padaku mengajakmu ikut merayakan hari ulang tahun pacarnya. Katanya pacarnya sangat mengagumimu karena itu ia ingin memberi kejutan. Kau boleh mengajak Ainsley, istri tercintamu itu. Karena aku juga akan membawa wanita." jelas Narrel panjang lebar.
"Ah satu lagi, aku meminjamkan vila ku pada Iren. Kita mungkin akan bermalam di sana." tambah pria itu.
Austin berpikir sebentar. Vila? Pria itu tersenyum. Ia tampak menyukai ide itu. Dengan begitu ia akan punya banyak waktu berduaan dengan Ainsley.
"Baiklah, aku setuju." katanya menyetujui. Narrel terkekeh. Ia sudah menduga pria itu akan setuju kalau melibatkan Ainsley.
"Baiklah," ujar Narrel berdiri dari sofa lalu menepuk bahu Austin pelan.
"Kalau begitu aku keluar sekarang. Lanjutkan pekerjaanmu." pamitnya kemudian.
***
Kira-kira jam enam sore Ainsley baru pulang dari kampus. Ia tampak lesuh. Tak ada semangat berjalan naik tangga ke lantai atas, ke kamarnya. Ralat, kamar Austin yang sudah menjadi kamarnya juga. Intinya kamar mereka berdua.
Walau berat masih harus naik tangga untuk mencapai lantai atas, Ainsley tetap naik. Kan tidak ada lift di rumah itu. Bagaimana dirinya bisa sampai ke atas coba kalau tidak berjalan kaki.
Ainlsey menertawai dirinya sendiri. Ia memang selalu berpikir tidak jelas kalau sudah kelelahan seperti ini.
Austin melepaskan map itu, dan menaikkan wajah menatap Ainsley.
"Siapa pria tadi? Yang makan bersamamu."
pertanyaan Austin membuat Ainsley tersentak. Ternyata benar dugaannya, Austin memang berada di restoran tadi. Lelaki itu melihatnya bersama Alfa, makanya menelponnya.
Gadis itu berdeham, berusaha terlihat biasa.
"Teman kampusku," jawabnya pelan.
Austin bersandar di sofa, menyandarkan kepalanya di tangan dengan siku di rentangkan. Dia terus memandang Ainsley seperti menyelidik dengan cahaya redup di matanya yang setengah curiga.
"Harusnya kalian makan berdua saja? Aku ingat kau punya banyak teman wanita." selidik Austin lagi. Ia begitu karena cemburu.
Ainsley memutar otaknya, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Jawaban yang membuat Austin percaya. Kalau dia bilang dirinya makan dengan Alfa hanya karena mau membahas pekerjaan, Austin pasti akan marah. Pria itu tidak boleh tahu kalau ia sedang cari kerja.
"Temanku itu sedang menyukai salah satu temanku, ia mengajakku makan karena ingin bertanya-tanya tentang temanku." bohong Ainsley.
Aduh, kenapa dia malah berbohong begitu sih? Apa dia masih boleh menarik kebohongannya sekarang?
Austin menyipitkan matanya menatap Ainsley. Ia berniat mencari kebohongan di mata gadis itu tapi yang lebih terlihat olehnya adalah wajah lelah Ainsley. Pria itu jadi tidak tega. Baiklah tidak usah di bahas lagi. Lagipula tadi siang ia tidak melihat gerakan-gerakan aneh dengan pria yang makan bersamanya itu. Ia akan mempercayai ucapan Ainsley.
"Ya sudah, mandilah. Setelah itu makan lalu tidur. Besok kita akan pergi ke vilanya Narrel."
Ainsley mengernyit menatap suaminya.
"Vila?" tanyanya.
"Mm, Kau ingat Iren sekretaris Narrel?"
Ainsley menganggukkan kepala.
"Pacarnya akan berulang tahun dan ingin mengundang kita untuk merayakan bersama. Kau tidak masuk kuliah kan besok?"
Ainsley menimbang-nimbang sebentar, kemudian mengangguk. Besok hari sabtu. Biasanya selain kerja atau jalan-jalan dengan para sahabatnya, ia hanya santai di rumah.
Austin tersenyum. Ia pikir akan sulit mengajak sang istri, ternyata gadis itu malah langsung mengiyakan. Kalau istrinya patuh begitu kan ia jadi senang.
"Mandilah," kata Austin lagi lalu melanjutkan memeriksa map yang tadi ia lihat.