
Sepanjang perjalanan menuju kantor Austin, perasaan Ainsley ketar-ketir. Tangannya saling meremas dan otaknya terus memikirkan apa yang sudah dia lakukan. Kenapa suara Austin terdengar sangat dingin. Padahal baru semalam keduanya begitu dekat, saling memberikan kenyamanan dan saling percaya. Juga saling memahami satu sama lain.
Apakah Austin adalah jenis laki-laki yang gampang berubah-ubah? Apakah dalam semalam saja hati pria itu bisa berubah dengan cepatnya? Mungkin karena dirinya terlalu cepat menerimanya jadi pria itu sudah merasa bosan. Benarkah begitu? Pikiran Ainsley terus direcoki dengan hal-hal negatif. Ia sampai tidak sadar mobil yang ditumpanginya sudah berhenti didepan kantor suaminya.
"Nona, benar di sini kan alamatnya?" tanya sih sopir taksi melirik Ainsley dari balik spion. Ainsley bergeming, melihat keluar dan mengangguk lalu turun.
"Iya pak, makasih ya."
Ainsley mendesah berat menatap gedung besar didepannya ini. Rasanya begitu berat untuk masuk ke dalam. Ia takut bertemu Austin dan akan mendengar perkataan yang tidak ingin didengarnya. Gadis itu meremasĀ tali tasnya dan menghela nafas sejenak lalu berjalan masuk.
Sepanjang perjalanan, ia merasa para karyawan dalam kantor itu yang melewatinya terus memperhatikannya. Bahkan ada yang tampak segan dan bersikap hormat padanya. Entah apa yang salah. Tapi sesaat kemudian ia sadar mungkin karena dia adalah istri dari pemilik perusahaan ini, bos mereka sendiri. Karena itu perlakuan mereka berbeda.
Ainsley masuk ke lift pakai jalur khusus. Lift khusus yang biasanya hanya digunakan oleh orang-orang penting seperti Austin atau tangan kanannya. Ainsley langsung menekan tombol yang menuju lantai paling atas, ruang kerja Austin. Tak ada siapa-siapa di luar ruangan Austin. Penjaga pintu, sekretaris atau siapapun yang berjaga di luar tidak ada. Ainsley sendiri merasa tidak enak untuk masuk begitu saja. Jadi ia memutuskan mengetuk dulu.
"Masuk." suara rendah khas milik Austin terdengar dari dalam. Ainsley menghela nafas sekali lagi lalu membuka pintu itu perlahan. Pandangannya langsung bertemu dengan Austin yang tengah duduk di sofa. Seperti sudah tahu kalau yang akan datang adalah dirinya.
Pria itu tidak bicara sepatahkatapun. Hanya terus menatap Ainsley dengan tatapan tajamnya.
"Duduk." perintahnya. Giliran pria itu yang berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ainsley mengira Austin akan ke luar, ternyata hanya mengunci pintu dan kembali. Mungkin karena pria itu tidak ingin diganggu saat mereka bicara.
Pikiran-pikiran negatif yang tadi berkelabat dipikiran Ainsley kembali datang. Kira-kira ada apa dengan Austin? Ia berusaha untuk terlihat tenang dengan tersenyum. Sayangnya, suaminya sama sekali tidak terpengaruh sama sekali dengan senyuman manis yang terpampang lebar dibibirnya.
"Kau pasti kenal pria bernama Alfa kan?" perkataan itu membuat senyuman di wajah Ainsley memudar dan perlahan-lahan menghilang.
"Mm." angguknya.
"Siapa pria itu?"
"Seniorku di kampus." Ainsley menjawab dengan hati-hati, takut salah menjawab.
"Apa hubungan kalian?"
"Teman biasa." jawab Ainsley langsung. Austin mendengus keras.
"Teman biasa? Apakah teman biasa melakukan sesuatu yang seperti ini juga?" pria itu melemparkan beberapa lembar foto di atas meja yang menampilkan Alfa dan Ainsley yang tengah berciuman. Mata Ainsley melebar. Itu ciuman tiba-tiba yang Alfa lakukan kemarin secara sepihak, tapi di dalam foto dirinya seolah membalas ciuman pria itu. Sisi gambar itu diambil dengan sangat baik, sehingga orang-orang bisa salah paham melihat gambar itu. Contohnya Austin.
"Darimana kau dapatkan foto itu?"
"Jadi itu benar?" rahang Austin mengetat.
"Aku bertanya kau sungguh berciuman dengan sih brengsek itu?" nada bicara Austin makin tinggi.
"Aku bisa jelaskan."
"Kau menyukainya?" pria itu terus bertanya. Karena emosi, ia tidak bisa mengontrol dirinya dan terus bertanya. Ia paling benci perempuan yang tidak setia, seperti mamanya. Itu sebabnya ia tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat Ainsley berciuman dengan laki-laki lain. Ia benar-benar merasa dikhianati.
"Apa dulu kau mati-matian tidak mau menikah denganku karena laki-laki itu?"
"Tidak, Alfa tidak ada hubungannya sama sekali dengan pernikahan kita." Ainsley menggeleng cepat.
"Tapi kau menyukainya."
"Itu dulu." Austin tertawa keras.
"Lihat? Kau sudah mengaku. Semua sudah jelas, tidak ada perlu kau jelaskan lagi." kata pria itu dingin. Ainsley terdiam sesaat, lalu kembali bersuara.
"Kau sungguh tidak mau mendengarkan penjelasanku?"
"Kau mencintaiku?" Ainsley terdiam. Bagaimana harusnya ia menjawab? Beberapa bulan yang dia lewati menjadi istri Austin begitu banyak dengan drama. Namun pada akhirnya ia mulai menerima pria itu. Ia memutuskan untuk menjadi istri yang baik buat Austin dan berusaha mencintainya dengan sepenuh hati. Tapi apakah Austin akan mempercayai ucapannya? Sedang ciumannya dengan Alfa saja sudah menjadi masalah besar yang membuat Austin tidak mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun.
"Kalau aku bilang iya, kau akan percaya?" Austin tersenyum remeh.
"Bagaimana bisa aku percaya pada perempuan yang baru saja berselingkuh dariku? Sepertinya aku yang terlalu cepat mengambil keputusan menikah denganmu. Aku yang salah karena terburu-buru menikah tanpa mengenali jati dirimu yang sebenarnya."
hati Ainsley sakit mendengar perkataan Austin.
"Kau menyesal menikahiku?" tanyanya dengan suara bergetar. Austin tidak menjawab. Pria itu hanya diam dengan wajah dinginnya. Ia emosi. Dirinya terlalu emosi hingga tidak bisa mengontrol apapun yang dia katakan. Untuk sesaat ia benar-benar ingin membuat Ainsley sakit hati karena berani menghancurkan kepercayaannya. Padahal dia sudah sangat percaya pada gadis itu.
"Pulanglah. Aku ada rapat sebentar lagi. Kita lanjutkan di rumah." kata Austin datar. Emosinya mulai mereda. Ia juga sempat terenyuh melihat kesedihan di mata Ainsley, tapi terlalu gengsi untuk menghiburnya.
Austin sadar sikapnya terlalu kasar. Tapi tadi ia terngiang-ngiang dengan masa lalu di mana mamanya pergi meninggalkannya dengan ayahnya demi selingkuhannya. Karena itu ia melampiaskan semuanya pada Ainsley, bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan gadis itu, perasaannya untuk membuat hati Ainsley terluka tadi jauh dari sekarang.
Didepannya, Ainsley mengusap airmatanya yang sempat terjatuh dan langsung berlari keluar. Ia sakit hati. Ia sedih. Ia kecewa. Ia tidak percaya akan mendengarkan kata-kata seperti itu keluar dari mulut Austin. Hatinya sungguh terluka. Padahal dia sudah jatuh cinta dengan semua perlakuan lembut pria itu.
Austin sendiri mengusap wajahnya kasar. Harusnya ia senang sudah melampiaskan emosinya, tapi kenapa hatinya tidak membaik juga? Pria itu mengerang kesal. Otaknya mendadak kosong. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan sekarang. Pandangan berpindah ke foto sialan yang diberikan oleh salah satu anak buahnya. Sialan, ini semua karena foto ciuman itu.