Mine

Mine
Part 5



Cinta sejati itu dekat, hanya saja kita tidak pernah menyadari keberadaanya.


 **


Aku terbangun dengan sinar mentari yang sangat menyilaukan. Ya, wajar saja kaca di kamar suamiku sangat besar memudahkan si mentari mencuri perhatian padaku.


Baru saja aku ingin bangun, sesuatu dibawah sana menegang. Membuat sang empunya kembali melakukan apa yang semalam di lakukan.


"Masih pagi sayang, kenapa harus buru-buru kebawah?" Tanya suamiku yang masih menikmati genjotan dalam tubuhku. Sampai akhirnya pelepasan kami membuat dia terdiam sejenak tanpa melakulan pergerakan apapun.


"Aku harus membersihkan Raskal." Aku menolaknya saat dia ingin melakukannya lagi.


"Raskal sudah ikut Mama sama Papa diakan harus sekolah. Lagian hari ini kita honeymoon loh." Kini dia melanjutkan kembali apa yang tertunda.


"Ini terakhir! Aku lelah Revano." Bisikku.


"Siap nyonya."


Kali ini dia menepati janjinya. Bahkan membantuku untuk membersihkan diri tanpa ada niatan untuk menyentuh kembali. Berbeda dengan semalam. Jujur Revano benar-benar maniak.


Aku keluar lebih dulu dan mulai berpakaian. Tak lupa aku juga menyiapkan pakaian yang akan suamiku kenakan hari ini.


"Seprainya letakkan di keranjang kotor saja." Padahal aku ingin membersihkannya. Yang aneh, kenapa aku tidak berdarah? Padahal suamiku melakukannya terus menerus. Apa aku sudah tidak perawan? Tapi bagaimana bisa? Aku selalu menjaga diriku dengan baik. Tidak mungkin bukan?


"Jangan berpikir kamu tidak perawan hanya karena tidak ada noda darah disana. Karena aku tahu cara bermain dengan hati-hati sayang." Revano memelukku dari belakang. Sekarang dia sudah berpakaian dengan rapih bahkan lebih segar dari yang ku lihat tadi.


"Bunda!!!!"


"Katanya Raskal sudah pergi. Kamu bohongi aku ya?!" Aku memarahinya dan suamiku hanya tersenyum membalas.


"Mana aku tahu dia akan kembali secepat ini sayang." Revano berjalan kearah pintu sedangkan aku? menyimpan seprai kotor tadi kedalam keranjang. Lagian setahuku, Raskal bosan berada di sekolahnya. Makanya sering kali sahabatku membawa dia ke butikku meminta aku mengajari dia baca tulis. Alhasil dia suka dengan caraku.


"Wah... Anak Bunda habis dari mana?" Tanyaku saat dia berada dalam gendonganku.


"Lihat sekolah baru! Aku mau sekolah disana ya Bund!!" Baru kali ini aku melihat dia seriang ini. Siapa yang membuat jagoanku berubah dalam sekejap?


"Boleh. Asal selama sebulan ini, kamu nurut sana Kakek dan Nenek. Karena Mama dan Papa akan pergi bekerja." Revano menatap Raskal dengan penuh harap. Aku yakin dia pasti menginginkan bulan madu. Padahalkan aku ada kerjaan di indonesia nanti.


"Baik! Raskal akan menuruti semua perkataan Mama dan Papa."


Kenapa aku sebahagia ini mendengar Raskal memanggilku Mama. Apa mungkin aku terlalu terbawa suasana?


"Mama jadi ingin tahu, kenapa kamu ingin sekali bersekolah disana?"


"Karena banyak teman." Jawabnya dengan raut bahagia.


"Kalau kamu senang. Mama izinkan!" Jawabku yang dibalas dengan kecupan hangat oleh Raskal dipipiku. Selagi aku bercanda ria dengan Raskal. Suamiku tengah menghubungin seseorang entah siapa. Yang pasti melihatnya sangat serius membuat aku tak ingin mengganggu dirinya sama sekali.


"Akhirnya kamu bangun juga dek. Kamu masak sendiri ya sarapan sudah habis sama kita-kita tadi." Kakakku mengucapkan hal yang baru saja ingin aku tanyakan. Kupikir Kakaku dan kedua sahabat suamiku sudah kembali semalam. Ternyata mereka menginap disini. Beruntungnya aku memakai pakaian tertutup pasti jika terbuka mereka akan banyak bertanya sesuatu yang membuatku merona merah nantinya.


"Ara, bisa kita bicara sebentar?" Razle mendekat kearahku bersama Elena. Melihat Raskal enggan melepaskan aku, membuat aku mau tidak mau mengajak anak kecil ini untuk berbincang dengan Razle.


"Padahal tadi dia girang sekali menceritakan sekolah barunya. Eh sekarang malah tidur." Jawabku yang di balas senyuman hangan Razle.


"Kamu memang cocok menjadi seorang ibu. Ouh ya kamu kan belum makan, pasti suam--"


"Raskal biar aku bawa ke kamar bawah takut dia mencari kamu nantinya. Selagi kalian berbincang isi perut kamu dulu, aku tidak mau kamu sakit." Suamiku datang dengan cemilan dan segelas coklat hangat kesukaanku. Ia membawa Raskal ke tempat yang tak jauh dari taman belakang rumah Revan. Supaya saat dia mencariku nanti sangat mudah.


"Apa yang ingin kalian katakan?" Tanyaku.


"Indonesia sedang mengalami bencana, tempat dimana kita akan photoshoot mengalami gempa. Aku memutuskan untuk menunda kepergian kita kesana. Lagi pula aku sangat yakin suamimu tidak akan mengizinkannya."


"Kenapa harus ditunda? semua sudah matang Razle. Aku tidak mau semua berakhir begitu saja." Jawabku.


"Kamu tidak boleh egois Ra! Sekarang kamu punya suami dan anak. Ingat keduanya sangat membutuhkan kamu. Kalau kamu terluka disana bagaimana?!" Razle sudah mengeluarkan taringnya sekarang. Padahal aku bertanya baik-baik barusan.


"Aku tetap pada tujuan awalku. Kita akan kesana, toh kecelakaan itu terjadi di wilayah lain bukan? Jika kamu tidak mau, aku bisa kesana sendirian." Aku memilih meninggalkan Razle yang terdiam disana. Aku tak peduli, karena jadwal ini sudah harus dijalankan sebagaimana mestinya.


"Kamu egois Ra." Elena mulai membuka suaranya selama diam menjadi batu tadi.


"Aku memang egois! Karena tema ini aku dapatkan dari kedua orang tua Raskal. Jadi mau tidak mau aku akan menyelenggarakannya segera." Jelasku pada mereka.


"Tapi tidak dengan mengorbankan nyawa sayang! Bisa kalian tinggalkan kami berdua?" Entah sejak kapan Revan muncul dengan wajah dinginya. Aku yakin dia meminta hal yang sama dengan teman-temanku. Padahalkan tujuan awalku tetap sama. Mau siapapun yang membujukku.


"Kamu mau katakan hal yang sama dengan mereka? Maaf aku tidak akan keluar dari tujuan awalku! Aku tetap akan menyelenggarakan pameran ini! Kamu sangat tahu pastinya, kalau pameran ini aku khususlan untuk keluarga kamu. Seharusnya kamu tidak menahan ku!"


"Sudah?" Dia bertanya yang ku balas dengan dehaman malas. Entah apa yang ia keluarkan dari saku celananya saat ini yang pasti aku tetap pada tujuan awalku!


"Lihat! Kamu masih mau kesana dam merelakan nyawa kamu? Jika iya silakan kamu pergi kesana. Dan jangan pernah kamu meminta bantuan pada kami!" Aku melihat foto-foto yang di tunjukkan suamiku namun tak ada yang merubah semuanya. Aku Clara yang keras kepala. Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku termasuk suamiku sendiri!


"Baiklah Tuan Revano Schweinsteiger. Saya tidak akan meminta bantuan kalian semua!" Aku memilih meninggalkan dia disana dibanding harus mendebatkan hal yang sama.


Aku memang egois dan aku akan egois demi ini. Lagi pula setelah semua ini usai aku akan beristirahat sejenak. Melepaskan segala kepenatan yang ada dengan liburan. Aku pikir menikah dengannya akan membuat aku memiliki seseorang yang memiliki satu visi. Tapi aku salah, dia masih sama seperti dulu. Aku yakin semua yang terjadi semalam hanyalah angin lalu baginya. Toh aku tahu siapa dia sekarang.


Aku tak peduli suara teriakan semua orang yang kini memanggil namaku saat aku turun membawa sebuah koper besar.


"Mama!!! Jangan pergi." Tangisan dari bibir mungil Raskal membuat aku menghentikan langkah kaki. Aku memutar tubuhku dan berjalan mendekati anakku yang sudah bangun dari tidur siangnya.


"Mama mau pergi sebentar saja. Mama janji akan pulang bawa oleh-oleh yang banyak untuk Raskal. Asal Raskal janji, nurut ya sama Nenek dan Kakek."


"Raskal mau ikut!! Biasanya juga Raskal ikut kan?"


"Sekarang Raskal gak boleh ikut Mama. Kamukan sekolah. Jadi Mama tidak akan ajak Raskal lagi." Air mata mulai turun dari pipinya membuat aku tidak tega memeluknya sekarang.


"Raskal sayangkan sama Mama? Izinkan Mama pergi ya?" Aku mencoba merayunya dengan halus. Tak peduli dengan suamiku yang berdiri beberapa meter dari kami karena keputusanku sudah bulat. Siapa suruh mereka memaksa aku menikah di situasi yang tidak tepat.


"Raskal izinkan." Aku tersenyum dan mengecup pipinya untuk terakhir kali. Lepas itu aku masuk kedalam sebuah taksi yang akan membawaku pada sebuah petualangan menyenangkan. Aku bersumpah akan membuktikan pada mereka, jika aku bisa menjalankan semua yang ada di kepalaku sendirian.


🦋🦋🦋