
"Sol agency?" alis Austin terangkat. Ia mencoba mengingat agency itu. Ah, itu adalah perusahaan hiburan yang beroperasi sebagai label rekaman, agen pencari bakat serta manajemen acara dan produksi film. Sol agency adalah salah satu perusahaan hiburan terkemuka di negara itu. Mereka sudah menerbitkan banyak artis terkenal. Bagaimana bisa perusahaan sebesar itu menawari istrinya menjadi artis mereka? Ia bisa berpikir maksud undangan yang Ainsley bilang tadi. Tapi, bagaimana bisa?
"Mereka menawarimu menjadi artis di sana?" tanyanya langsung. Ainsley mengangguk. Tuhkan benar. Austin sudah menduganya. Istrinya ini memang memiliki paras yang cantik alami, apalagi kalau sudah dipoles sedikit saja. Aura bintangnya pasti keluar. Tapi Austin tidak begitu suka kalau Ainsley menjadi seorang aktris. Ia tahu persaingan di sana begitu kuat. Apalagi itu adalah salah satu perusahaan paling terkemuka. Bahkan mungkin bisa bersaing dengan perusahaannya. Hanya saja mereka bergerak dalam bidang yang berbeda. Artis-artis di sana kebanyakan adalah artis-artis top negara ini. Bukannya meragukan kemampuan Ainsley, ia hanya tidak mau nantinya gadis itu tersakiti karena persaingan yang berat dan beban yang besar yang harus dia tanggung. Namun, Austin tetap mencoba mendengarkan gadis itu. Biar bagaimanapun, kalau Ainsley tertarik ia tidak bisa apa-apa, ia tidak mau terlalu mengekang istrinya.
"Apa kau..."
"Aku sudah bertanya pada mereka, mereka menawariku bukan karena dirimu. Katanya mereka tidak mempedulikan statusku sebagai istrimu. Mereka murni melihat bakat." potong Ainsley cepat. Ia pikir Austin akan berpikiran yang sama dengannya. Yaitu mereka menawarinya menjadi artis di agency besar itu karena nama besar pria itu. Padahal Austin sendiri tidak terpikir sampai sejauh itu.
"Bakat? Kau suka berakting? Katakan, apa kau tertarik dengan tawaran mereka? Bukankah kau paling tidak suka tampil didepan banyak orang?" tanya lelaki itu bertubi-tubi. Austin sama sekali tidak tahu kalau istrinya diam-diam punya impian yang tersembunyi. Ia pikir gadis itu hanya ingin menjadi seorang wanita biasa yang menjalani hidupnya dengan bebas. Apa dia yang terlalu berpikir sangat mengenal gadis itu?
"Kau benar," pungkas Ainsley.
"Aku sendiri heran. Aku selalu merasa terganggu kalau ada wartawan yang tiba-tiba muncul bergerombolan dihadapanku. Tapi mengenai berakting, aku pernah memimpikannya dulu. Setahun yang lalu, aku bahkan pernah ikut audisi di agency itu. Mereka bilang aku mendapat tawaran itu karena tidak sengaja melihat video audisiku." ia melanjutkan.
"Bagaimana dengan sekarang, kau masih punya mimpi itu? Kau senang dengan tawaran itu?" otak Ainsley berpikir keras mendengar pertanyaan Austin. Jujur saja ia sempat tergoda sesaat, tapi ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Karena itu ia membutuhkan masukan dari suaminya. Mungkin dengan begitu ia tidak akan salah memilih. Austin jauh lebih berpengalaman darinya. Dia juga ingin mengetahui bagaimana pandangan pria itu.
"Kalau aku bilang iya, kau akan mengijinkanku menerima tawaran itu?" Ainsley balas bertanya. Dalam hatinya sendiri sebenarnya dia tidak banyak berharap. Walau sempat tergoda, tapi kali ini ia sudah berpikir dengan matang. Mungkin terjun ke dunia hiburan tidak akan cocok dengannya. Ia akui dia punya sedikit bakat dan senang berakting, tapi itu satu tahun yang lalu. Sekarang dia lebih senang hidup bebas dan berkarya sesuai dengan kemauannya sendiri. Cukup dirinya menjadi istri pebisnis terkenal seperti Austin ini, dia tidak usah ikut-ikutan jadi terkenal. Ia juga sudah mempertimbangkan banyak hal. Austin sempat bilang ingin dia melahirkan anak pria itu secepat mungkin. Kalau menerima tawaran itu, mungkin saja dia akan disarankan untuk tidak hamil dulu. Ainsley menatap wajah Austin. Menunggu lelaki itu berbicara. Austin tampak tenang ketika mulai membuka suara.
"Secara pribadi, aku tidak suka kau terjun ke dunia hiburan. Namun kalau itu impianmu, aku tidak bisa memaksa. Tapi sebelum kau benar-benar mengambil keputusan untuk menerima tawaran itu, kau perlu tahu bahwa persaingan di dunia hiburan sangat berat. Banyak orang yang bisa saja menjatuhkanmu. Aku bisa saja menolongmu saat kau mengalami masalah, tapi aku tidak bisa bersamamu tiap hari satu kali dua puluh empat jam untuk memastikan tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi padamu." tutur Austin panjang lebar. Ainsley tertawa pelan lalu menangkup wajah pria itu. Pikirannya memang benar. Austin tidak suka ia bekerja dibidang itu.
"Aku tidak menyangka seorang Austin yang minim bicara, bisa bicara panjang lebar begini." gumamnya setengah meledek.
"Jawab aku dulu, kau akan menerima tawaran itu atau tidak?" tanya Austin tanpa mempedulikan ledekan gadis itu. Ia lalu meraih tangan Ainsley yang masih bertengger dipipinya dan menggenggamnya erat.
Ainsley menggeleng dengan senyuman manis yang terpampang diwajah cantiknya. Dan Austin senang mengetahuinya.
"Aku ingin fokus pada kuliahku saja. Setelah itu mencari kerja." sahut gadis itu.
"Kerja di kantorku saja. Jadi sekretarisku." Austin mengedipkan matanya. Ia lebih tenang kalau gadis itu bisa bekerja dengannya. Dengan begitu, ia juga bisa melihatnya sepanjang waktu.
"Aku tidak mau jadi sekretarismu. Cari yang lain saja. Aku ingin membuat usahaku sendiri."
Ainsley menggeleng, tetap menolak. Tanpa perlu bekerja di kantor Austin pun, mereka tetap bertemu tiap hari.
"Aku tidak mau." tolak Ainsley lagi.
"Bagaimana kalau aku memaksa?"
"Maka aku akan terus menolak."
"Kau yakin?" Austin lebih menyamping ke arah Ainsley dan mengangkat tubuh bagian atasnya. Tanpa ijin ia menyibak selimut yang menutupi tubuh polos gadis itu hingga membuat Ainsley tergelak kaget dan menutupi bagian-bagian yang sensitif ditubuhnya dengan kedua tangannya.
"Austin, apa-apaan!" serunya kesal. Sementara Austin hanya menyeringai nakal.
"Aku akan membuatmu menyerah padaku." lalu pria itu kembali menindih Ainsley.
"Ahh..." gadis itu mengerang kuat saat merasakan benda besar milik Austin itu kembali masuk pada bagian intimnya dengan cara yang menyenangkan. Kali ini permainan itu sedikit lebih kasar dari tadi. Pinggul Austin terus bergerak cepat tanpa memberi ampun pada istrinya yang mulai berteriak-teriak meminta ampun padanya.
Ainsley minta ampun bukan karena kesakitan yang ia rasakan. Namun karena kenikmatan yang begitu besar sampai-sampai gadis itu tidak merasa kuat lagi. Ia butuh istrihat setelah mengalami pelepasan berkali-kali akibat ulah suaminya.
"A..Austin, aku mohon..."
"Apa?"
"B..berhentilah. Aku tidak kuat lagi." ucap Ainsley dalam erangannya. Ia mencengkeram bahu Austin kuat.
"Janji dulu. Kau harus jadi sekretarisku. Ahh..." pria itu ikut mendes*h merasakan bagian sensitif Ainsley yang mencengkeram miliknya dengan kuat. Sungguh nikmat, istrinya sangat nikmat.
"B..baiklaah.. hhh, Mmph ahh.." keduanya mendes*h panjang secara bersamaan, saat mendapatkan pelepasan bersama-sama. Austin tersenyum menang dan kembali berbaring di samping sang istri. Menarik kepala Ainsley bersandar di dada bidangnya.
"Tidurlah." gumamnya lalu menutup mata. Ainsley menurut. Dan keduanya tertidur dalam keadaan sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.