
"Ngg...jam berapa sekarang?"
Julian baru terbangun dari tidur pulasnya. Aneh, seingatnya dia tertidur di sofa, tapi sekarang dirinya sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Hmm..mungkin Leonard yang memindahkannya ke kamar, mengingat sahabatnya itulah yang menemaninya sejak kemarin.
Julian merasa lebih baikan sekarang, sudah tidak ada gejala lagi dan perasaannya jauh lebih tenang. Menyadari keheningan di luar kamarnya, Julian memutuskan keluar sekalian mencari sesuatu untuk di makan.
"Oh! Akhirnya kau bangun juga! Lapar nggak? Aku udah belikan delivery tadi!"
Hal pertama yang Julian jumpai begitu turun ke lantai bawah hendak menuju dapur adalah Elliot.
Kakaknya itu tengah berdiri di dekat kulkas lengkap dengan setelan kemeja yang rapi. Tapi bukan, bukan itu yang menjadi fokus Julian, melainkan kehadiran kakaknya di dalam rumah pribadi miliknya ini.
kedua mata Julian auto melebar begitu melihat Elliot di rumahnya, "Kok kakak bisa ada di sini??"
Justru orang yang Julian cari tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
Ke mana perginya anak itu?Jangan-jangan Leonard yang sudah memberitahukan alamat rumahnya ini kepada Elliot?!
Menyadari keterkejutan sang adik, Elliot buru-buru memberi penjelasan, "Leonard menghubungiku tadi sore, dia harus pulang karena Mamanya baru aja datang. Karena Leo mengkhawatirkanmu, jadi dia minta tolong padaku buat datang ke sini dan menjagamu. Maaf, seharusnya aku minta izin dulu soal ini denganmu. Tapi kamu nggak angkat-angkat telponku jadi aku panik terus masuk aja ke sini," jelasnya panjang lebar.
Julian jadi pusing sendiri mendengar omongan sang kakak yang tidak ada jeda. Dia mengibaskan tangan ke udara, meminta Elliot untuk berhenti berbicara karena dia tidak mempermasalahkan hal ini.
"Udah, gapapa. Aku yang minta maaf, kakak pasti sibuk ngurusin pekerjaan tapi malah repot-repot datang ke sini. Aku udah baikan kok, kakak bisa pulang sekarang," Bukan maksud Julian mengusir Elliot, kalau dulu mungkin dia akan melakukannya, tapi sekarang keadaan sudah berbeda dan mereka telah berbaikan. Tak ada alasan bagi Julian mengusir dan memperlakukan Elliot layaknya orang asing lagi.
Senyuman gembira terbit di wajah Elliot. Dia sangat lega sebab Julian tak lagi mengusirnya pergi seperti dulu. Kemajuan yang tak pernah berani dia bayangkan sebelum-sebelumnya.
Kemudian Elliot melayani sang adik dengan semangat, dia membuka satu per satu bungkus makanan yang telah dia beli tadi sebelum Julian bangun. "Ayo, di makan! Kamu harus makan banyak supaya badanmu nggak lemas!"
Julian hanya memperhatikan Elliot yang menyiapkan semua perlengkapan makan dengan begitu gesit dan hati-hati. Elliot memperlakukannya seperti orang kesakitan, tapi ini tidak terlalu buruk juga sih. Sudah lama sekali Elliot tidak merawatnya lagi ketika dia sakit seperti waktu mereka remaja dulu. Momen-momen ini juga menjadi salah satu dari beberapa hal yang Julian rindukan pada sosok kakaknya.
"Mau aku ambilkan yang mana?" Elliot melayani Julian layaknya Tuan dan pelayan, akan tetapi Elliot sama sekali tidak merasa terbebani, justru dia senang akhirnya bisa kembali merawat sang adik dengan kedua tangannya sendiri.
Sedikit memalukan sih, tapi jujur Julian tidak membenci kebersamaannya dengan Elliot seperti ini. Justru keadaan seperti inilah yang semakin memperkuat tali persaudaraan di antara mereka berdua.
"Kau juga makanlah. Ini terlalu banyak buat kumakan sendiri," Julian memaksa Elliot makan bersamanya.
Ajakan yang tak terduga sama sekali, Elliot menerima ajakan Julian dengan hati yang luar biasa gembira. Lalu keduanya makan bersama sambil mengobrol ringan. Elliot sengaja tidak mengungkit soal Serena karena tak ingin Julian kembali bersedih.
Syukurlah Julian jauh lebih ceria dari yang Elliot takutkan sebelumnya.
...👿...
...👿...
"Silahkan melangkah dengan hati-hati, nona Serena."
Serena menerima uluran tangan seorang pelayan yang membantunya turun dari jet sewaan Caesar. Hm, pelayanan yang Serena terima jelas sangat istimewa karena uang yang diglontorkan oleh Caesar tentunya tidak sedikit.
Serena jadi ragu, apakah dirinya bisa mengganti semua uang Caesar hanya dengan bekerja paruh waktu. Rasanya ingin menangis saja, sebab Serena pikir Caesar hanya akan membelikan tiket pesawat yang penerbangannya cepat sehingga dia bisa mengejar waktu. Tak dia duga, Caesar justru menyewakan satu unit jet pribadi yang tentunya mahal dan eksklusif.
Namun berkat itu, Jevano tidak bisa mencegahnya untuk terbang kembali karena waktu yang mepet. Untungnya Nyonya Beatrice memahami situasi genting yang dihadapi Serena, jadi beliau membantu Serena dengan menahan Jevano di sana. Bisa ruyam masalahnya kalau Jevano memaksa ikut pulang, Serena tidak bisa menghadapi Jasmine lebih leluasa.
Dan sekarang, Serena telah tiba dengan selamat di bandara internasional negaranya. Sayang sekali dia tidak sempat menikmati liburannya bersama Jevano dan Nyonya Beatrice, mungkin di lain waktu mereka bisa menebus waktu yang terbuang itu, tapi dengan membawa pasangan masing-masing sebab Serena tak akan meninggalkan Julian lagi.
Mobil jemputan telah menunggu kedatangan Serena. Serena dilayani dengan sangat baik dan ketat, semua ini berkat bantuan Caesar tentunya.
Tanpa membuang waktu, Serena bergegas pergi menuju kediaman Reinhart. Serena sengaja tidak mengabari siapapun terkait kepulangannya yang tiba-tiba, biar saja menjadi kejutan khususnya untuk Jasmine yang akan dia datangi saat ini juga.
"Apa perlu saya menunggu anda nanti, nona? Tuan Caesar sudah membayar penuh untuk hari ini," tanya supir yang duduk di depan, di dampingi oleh seorang bodyguard yang tak Serena kenal.
Kalau Caesar sudah membayar penuh, Serena tak boleh menyia-nyiakan fasilitas yang diberikan untuknya. Lantas dia mengangguk mengiyakan, toh hari ini Serena akan menghadapi sesuatu yang berat, dirinya tak yakin sanggup pulang ke apartement dengan tenaga yang terbuang banyak.
"Ya, tolong antarkan aku pulang ke tempat tinggalku nanti, setelah itu tugas kalian sudah selesai."
.
.
Kediaman Reinhart..
"Nona! Gawat, nona Jasmine! Gawat ini!" Salah seorang maid kepercayaan Jasmine datang sambil berteriak panik.
Jasmine yang baru pulang ke rumah setelah menginap di rumah Sarah nyaris melempar pelayannya itu dengan bantal yang ada di dekatnya saking jengkelnya dia.
"Nggak usah teriak-teriak segala! Ada apa?!" bentaknya kesal.
Pelayan wanita berwarna Marie itu tampak memucat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Itu-itu...a-ada Nona Serena! Nona Serena sudah pulang lebih awal! Tapi ekspresinya kelihatan marah besar, non. Apa saya suruh pulang saja ya?"
"APA?!" Mendengar laporan Marie, Jasmine spontan bangkit dari duduknya dan nyaris memekik kencang lantaran terkejut.
"DI-DIA PULANG DULUAN?! SAMA SIAPA?!" Mendadak kepanikan melanda Jasmine, dia tidak menerima kabar soal kepulangan Jevano maupun Serena yang begitu mendadak.
Ah, tidak. Bisa saja Serena pulang duluan mendahului Jevano? Tapi kenapa?
Jasmine mencoba menerka-nerka. Alasan mengapa Serena pulang lebih awal bahkan ini belum sehari mereka liburan, seperti telah terjadi sesuatu yang genting sampai Serena nekat pulang cepat-cepat.
Lalu otak Jasmine bekerja dengan cepat, apa jangan-jangan Serena sudah mengetahui soal ciumannya dengan Julian?
Tapi itu 'kan kemarin, bagaimana bisa kabar itu sampai ke telinga Serena begitu cepat?
Pasti ada orang yang membocorkannya! Ya, Jasmine yakin sekali itu! Mengingat sifat dingin Julian, tak mungkin lelaki itu mengumbar hal memalukan seperti itu ke sembarang orang.
Bisa saja Leonard, atau mungkin Helena. Orang terdekat Julian selain Serena ya hanya mereka berdua.
Tok tok tok
Pintu kamar Jasmine di ketuk dari luar, sampai membuat Marie terjingkat bagaikan anak kucing yang sensitif.
"Aku tau kau ada di dalam, jangan sembunyi dariku dan mari kita bicara empat mata," Suara Serena terdengar dari balik pintu.
Jasmine saling berpandangan sejenak dengan Marie. Ternyata benar, Serena nekat pulang kembali karena ingin menemuinya.
Jasmine menyeringai sinis, ternyata Serena masih memikirkan kekasihnya, lucu sekali.
"Masuk. Pintunya nggak dikunci," sahut Jasmine dengan nada angkuh.
Serena memutar knop pintu dengan cepat. Di dalam kamar ada Jasmine dan juga Marie, pelayan yang tadi dia suruh naik ke atas untuk memanggil Jasmine.
"Kamu udah tau 'kan alasanku datang ke mari dan menemuimu?" Serena langsung masuk ke dalam inti pembicaraan.
Jasmine masih memasang senyum seringaiannya sambil melipat kedua tangan di depan dad*a. "Well~ bukan salahku 'kan? Siapa pula yang berani membawa pergi pacarku tanpa peduliin perasaanku? Aku kesepian tau, karena aku nggak mau Julian juga ikut kesepian, jadi aku datang buat menghiburnya."
Tapi Serena tak mempercayai ucapan Jasmine sama sekali.
"Aku tau aku salah, tapi jangan libatkan Julian dalam masalah ini. Aku bakal lakuin apapun yang kamu mau, tapi jangan pernah menyentuh Julian." Serena menatap tajam Jasmine yang berdiri di seberangnya.
Jasmine mendengus kasar, "Memang apa yang bisa dilakuin orang miskin kayak kamu?! Kamu bahkan nggak bisa beliin aku barang mahal! Sama sekali nggak berguna, kayak hidupmu!"
"Kalau kau bisa ambil pacarku, kenapa aku nggak boleh ambil pacarmu?! Jangan egois, dasar anak buangan!" tuduh Jasmine dengan suara lantangnya.
Serena tak masalah Jasmine mengolok-olok dirinya atas kebodohannya, tapi tidak dengan kata-kata buangan seperti yang baru saja Jasmine lontarkan.
Hati Serena sakit, dia sendiri tahu bahwa dirinya sama sekali tidak diharapkan di keluarganya, tapi itu sudah keluar dari konteks persoalan mereka kali ini.
Tanpa banyak kata Serena maju mendekati Jasmine lalu melayangkan tamparan tepat di pipi kiri kembarannya.
PLAK
"KYAAA! APA YANG ANDA LAKUKAN, NONA SERENA?!" Marie yang terlambat mencegah, hanya bisa berteriak keras sampai suaranya terdengar ke luar kamar.
Jasmine membeku sesaat ketika pipinya kembali merasakan perihnya sebuah tamparan. "BERANI-BERANINYA KAU MENAMPARKU!!!" Dia lalu berseru marah, luapan amarah yang sudah dia tahan dari kemarin-kemarin meledak detik ini juga.
Tanpa belas kasih Jasmine membalas dengan tamparan yang tak kalah kerasnya.
Kesabaran Serena telah habis, semua kekecewaan serta amarah yang selama ini dia pendam bercampur menjadi satu dan membuatnya hilang kendali. Tak tahan lagi, Serena berusaha menarik rambut Jasmine dengan kuat.
Perkelahian pun tak terhindari. Kedua gadis itu saling menampar, mencakar, menjambak dan bahkan saling mendorong tanpa bisa dilerai.
Marie berteriak meminta tolong pada siapa pun yang bisa membantunya memisahkan kedua nona muda Reinhart itu. Sekejap kediaman Reinhart berubah ramai dan ricuh. Para pelayan bergegas naik menuju sumber teriakan Marie dan membantu Marie memisahkan Jasmine dan Serena.
"NONA! TENANGLAH, NONA SERENA! JANGAN SEPERTI INI! NANTI TUAN DAN NYONYA BISA MENGHUKUM BERAT ANDA!" Beberapa pelayan yang cukup dekat dengan Serena berusaha menghentikan Serena yang lepas kendali.
Jasmine yang merasa tak terima dipukuli oleh Serena juga tak berhenti membalas perbuatan kembarannya.
Sampai Nyonya Esther datang dengan suara menggelegarnya, perkelahian itu baru bisa teratasi meski sedikit alot.
PLAK
Tamparan baru dilayangkan oleh Nyonya Esther pada Serena yang menjadi biang di balik perkelahian ini.
"APA KAU SUDAH GILA?! KAU MAU MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI, BEGITU?!" Emosi Nyonya Esther sudah mencapai ubun-ubun, melihat luka yang diterima Jasmine membuat hatinya hancur berkeping-keping. Terlebih lagi, yang menyakiti Jasmine adalah kakaknya sendiri.
Serena terdiam menerima tamparan keras dari sang ibu. Tubuhnya terasa kebas, dan pikirannya melayang ke mana-mana.
Tak berselang lama Tuan Philip pulang dengan tergesa menuju ke tempat anak-anaknya berada. Jasmine sudah menangis sesenggukan sambil mengadu kesakitan ketika diobati, sedangkan Serena hanya diam seribu bahasa menerima tamparan serta cubitan pedas yang diberikan oleh Nyonya Esther.
"Ada apa ini?! Siapa yang memulai perkelahian ini?!" Tuan Philip tak habis pikir bagaimana bisa kedua puterinya berkelahi layaknya kucing jalanan.
Tak ada yang menjawab, tetapi Jasmine menatap tajam ke arah Serena yang masih diam menunduk.
Tuan Philip menghela nafas panjang, beliau pikir setelah Serena keluar dari rumah, situasi di dalam rumahnya menjadi lebih damai dan tenang, Tapi apa yang terjadi? Justru sekalinya pulang, Serena menimbulkan kekacauan yang parah.
"Ke mari kau!" Tuan Philip memerintah Serena untuk berdiri menghadapnya.
Nyonya Esther mendorong pundak Serena supaya bergegas pergi mendekati suaminya. Begitu Serena berdiri di depan Tuan Philip, pria itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebelum kembali melayangkan pukulan pada wajah Serena.
Bugh
Pukulan kecil yang tetap berdampak besar untuk Serena. Serena sampai dibuat tersungkur oleh karena pukulan yang diberikan oleh ayahnya sendiri.
Cairan pekat meluncur keluar dari sudut bibirnya, tetapi Serena mengusapnya dengan cepat agar tidak ada yang melihatnya.
"Pergi....PERGI KAMU DARI RUMAH INI DAN JANGAN BERANI MENAMPAKKAN DIRI LAGI DI DEPAN KAMI!"
Air mata Serena luruh detik itu juga. Tak menyangka ayahnya akan mendepaknya dari rumah itu, bahkan tak memperbolehkannya menampakkan diri lagi di hadapan ketiga orang itu.
"Pa...papa, maafin aku..a-aku udah keterlaluan, aku minta maaf..." Serena merangkak mendekati kaki ayahnya, berharap di beri kesempatan untuk memohon ampun dan merenungkan kesalahannya.
Nyonya Esther yang masih kesal berjalan cepat lalu menjambak rambut Serena dengan kuat, "KAMU UDAH DENGAR SENDIRI 'KAN, SERENA!? PERGI KAMU DARI SINI SEKARANG JUGA! DAN JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRIMU LAGI DI DEPAN KAMI!!!" Tanpa ampun Nyonya Esther menyeret Serena dengan menarik rambut puterinya sampai keluar dari rumah.
Teriakan pilu Serena menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sesalah apapun tindakan Serena, tak sepantasnya Serena diperlakukan bak hewan kurban seperti itu.
Beberapa pelayan yang menyayangi Serena berusaha menghentikan Tuan Philip serta Nyonya Esther yang hendak mendepak Serena dari keluarga Reinhart. Tapi yang mereka dapatkan justru ancaman akan dipecat dan diblacklist dari semua pekerjaan di masa depan. Tak ada yang berani membantah ucapan Tuan dan Nyonya Reinhart yang lebih berkuasa.
"MAAFIN AKU, PA! MAAF!! AKU SAMA SEKALI NGGAK BERMAKSUD MELUKAI JASMINE KAYAK GINI! PLEASE, MAMA...MAAFIN AKU!"
Bruk
Nyonya Esther melempar Serena dengan tidak berperasaan. Hati Nyonya Esther sudah kepalang sakit dan terluka atas tindakan tak bermoral yang Serena lakukan terhadap puteri kesayangannya.
"SEBELUM KAMU MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI, MAMA NGGAK PUNYA PILIHAN LAIN SELAIN MENGUSIRMU DARI KELUARGA INI!" Nyonya Esther berseru marah.
Serena menggeleng kuat, dia sama sekali tak mempunyai niatan seburuk itu terhadap adiknya sendiri.
"Jasmine...maaf...aku salah, aku minta maaf...aku nggak bermaksud melukai hatimu..kata-katamu tadi memicu amarahku...maafin aku, aku udah hilang akal sehatku tadi, hiks.." Serena berusaha meminta maaf pada Jasmine.
Namun Jasmine membuang pandangannya dari Serena. Hatinya cukup puas melihat Serena diberi pelajaran oleh kedua orang tua mereka.
"PERGI! SEBELUM AKU PANGGILKAN SATPAM LEBIH BAIK KAMU SEGERA ANGKAT KAKI DARI RUMAH KAMI!" Nyonya Esther kembali mengusir Serena.
Serena berusaha bangkit dengan tenaga yang tersisa. Sebelum dia pergi, Serena menengok ke belakang untuk terakhir kalinya. Melihat orang-orang yang dia sayangi satu per satu membalikkan diri darinya. Melihat bagaimana ayah dan ibunya lebih memperhatikan Jasmine seperti yang selalu mereka lakukan.
Serena tak pernah ada dalam hati mereka, Serena tahu itu. Mereka bahkan tak menanyakan duduk permasalahan yang menyebabkan mereka berkelahi. Mereka tak memperdulikan hatinya yang terluka atas ucapan yang dilontarkan Jasmine padanya.
Luka di hati Serena lebih sakit ketimbang luka yang membekas di sekujur tubuhnya.
Pada akhirnya yang Serena dapatkan hanyalah kekecewaan baru. Dia berjalan sempoyongan menuju mobil yang membawanya ke mari.
Kedatangan Serena dengan luka di sekujur tubuh serta wajah yang membengkak jelas mengejutkan pak supir serta bodyguard yang menungguinya dengan setia.
"Tolong...antarkan aku ke suatu tempat dulu.." pinta Serena dengan suara lirih.
Meski mereka mengkhawatirkan kondisi sang klien, mereka tak berani membantah perintah Serena.
"Aku hanya akan mampir sebentar...setelah itu tolong antarkan aku ke tempat terakhir sebelum tugas kalian selesai. Maaf, tapi tolong bantu aku untuk terakhir kalinya.."
Baik supir dan bodyguard itu tak bertanya lebih lanjut, mereka hanya melaksanakan perintah Serena karena memang mereka dibayar untuk itu.