
"Ma-Mama..."
Nyonya Esther bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Serena yang didampingi dengan Julian.
Kedua pemuda-pemudi itu sudah mengganti pakaian mereka dengan setelan yang lebih santai sebab pesta telah berakhir sekitar satu jam yang lalu, namun Tuan Philip beserta Nyonya Esther belum juga pulang karena ingin berjumpa sekali dengan Serena.
Baru kali ini ibunya meminta pertemuan secara khusus dengannya, jadi mau tak mau Serena mengiyakan permintaan sang ibunda, barangkali ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan.
Suasana sedikit canggung dan kikuk, apalagi setelah mereka sekeluarga melalui insiden tak mengenakan di masa lalu. Namun mau bagaimanapun buruknya hubungan kekeluargaan mereka, Serena harus tetap mengakui bahwa kedua orang itu adalah orang tua dan walinya.
"Kamu mau aku tinggal bertiga dengan mereka?" Julian berbisik pada Serena yang telah menduduki single sofa yang berseberangan dengan tempat Nyonya Esther dan Tuan Philip duduk.
Belum juga beranjak pergi, Serena menarik kuat tangan Julian dan menahan kekasihnya agar tidak pergi ke mana-mana. Rasa takut itu masih membekas di hati Serena, dia takut kejadian pada waktu itu kembali terulang andaikata obrolan mereka berakhir buruk.
Serena yang ketakutan berhadapan dengan orang tuanya sendiri jelas menohok hati Tuan Philip beserta sang istri. Mereka tak menyangka sikap kasar waktu itu akan meninggalkan trauma yang mendalam bagi Serena.
"Rena...maafkan papa dan mama.." Tuan Philip lebih dulu angkat bicara, seraya menundukkan kepalanya kepada Serena.
"Sebagai orang tua kami gagal melakukan yang terbaik untukmu. Papa tau ucapan maaf saja tak akan cukup menebus kesalahan kami padamu, tapi izinkan kami berdua meminta maaf sedalam-dalamnya atas sikap papa dan mama selama ini..." Tuan Philip ingin meluruskan semua masalah yang masih mengikat mereka.
Nyonya Esther juga turut menundukkan kepala, dia telah gagal dan tak becus menjadi seorang ibu yang baik untuk Serena. Semua sikap serta perkataan kejam yang pernah beliau lontarkan pada Serena, tak pernah seharipun Nyonya Esther lupakan.
Penyesalan dan kekecewaan selalu hadir setiap kali selesai memarahi Serena. Andai waktu dapat diputar kembali, Nyonya Esther ingin sekali memperbaiki semuanya.
"Maafin mama...Serena..." Pada akhirnya yang hanya bisa Nyonya Esther lakukan adalah menumpahkan penyesalan terberatnya melalui tangisan hebat.
"Maafin mama....ini semua karena mama! Mama nggak pantas jadi seorang ibu buat kamu dan Jasmine!" Nyonya Esther menangis kencang, sampai badannya gemetar saking hebatnya tangisan beliau.
Tuan Philip segera merengkuh tubuh sang istri yang gemetar ke dalam pelukan. Mungkin penyesalan serta permintaan maaf mereka tak bernilai apa-apa di mata Serena, namun mereka hanya ingin Serena tahu bahwa mereka benar-benar tulus ingin berbaikan kembali dengan sang puteri tercinta.
"Kami tidak akan menuntut apa-apa darimu, kamu bebas memilih jalan hidupmu. Tapi kami mau minta satu hal saja, yakni kamu bersedia memaafkan kesalahan kami berdua dan juga Jasmine," ucap Tuan Philip dengan sorot matanya yang menatap Serena dengan lembut.
"Mungkin tidak mudah dan butuh waktu, berapa lama pun yang kamu butuhkan, tidak menjadi masalah bagi kami, asalkan kamu bersedia menerima permohonan kami ini," sambung beliau, dengan senyum kecut yang terpatri di bibir.
Serena terbuai sesaat melihat ekspresi asing yang ditunjukkan oleh orang tuanya tepat di depan matanya. Baru kali ini ayah dan ibunya menatap lurus ke dalam matanya, semua hal baru ini benar-benar menjadi sebuah keajaiban yang tak terduga.
Perasaan Serena tiba-tiba menjadi hangat dan seperti digelitik. Dia tidak membenci perasaan baru ini, apalagi perasaan ini muncul karena orang tuanya.
Ini lah yang Serena harapkan sedari dulu. Perhatian orang tuanya serta kepedulian mereka. Bukan sebagai perantara atau 'pembantu' Jasmine, tapi sebagai Serena.
Julian dapat melihat secercah harapan baru dalam sorot mata Serena yang berkaca-kaca. Julian ikut senang jika memang penyesalan Tuan Philip dan Nyonya Esther dapat meruntuhkan hati Serena yang keras.
Tangan besar Julian mengusap lembut pundak Serena yang sedikit gemetar karena perasaan haru.
"A-aku...sudah memaafkan kalian," ucap Serena dengan sedikit terbata. Jelas saja dia gugup, ini masih menjadi kebiasaannya ketika berbicara dengan kedua orang dewasa di depannya. Dulu ayah dan ibunya pasti enggan menyimak apa yang ingin Serena katakan, dan akan mengomeli Serena alih-alih mendengarkan apa permintaan puteri mereka yang satu itu.
Jadi Serena masih menyimpan ketakutan dan kegugupan itu, karena berpikir bila perkataannya tak akan di dengar lagi oleh mereka.
Tapi nyatanya kali ini berbeda. Baik Tuan Philip serta Nyonya Esther menyimak dengan baik kata demi kata yang ingin Serena sampaikan, dengan ekspresi lembut yang tak terduga.
"A-aku memang sudah memaafkan kalian dan Jasmine...tapi setiap kali melihat kalian, ingatan akan hari itu terus muncul dalam otakku. Aku...ma-maaf meski aku sudah memaafkan kalian, tapi aku tidak bisa kembali bersama kalian!"
Serena akhirnya berhasil mengatakan apa yang hatinya inginkan.
Serena sudah bertekad akan tinggal bersama keluarga Collin yang sudah menerima dirinya apa adanya, kebaikan mereka membuat Serena aman dan nyaman, melebihi keluarganya sendiri.
Nyonya Esther dapat melihat ketulusan cinta yang dipancarkan oleh satu sama lain.
'Ternyata kamu sudah sebesar ini...' Kenapa dirinya baru menyadari perkembangan Serena akhir-akhir ini?
Nyonya Esther benar-benar menyesal telah menelantarkan Serena sampai dewasa ini. Dan ketika matanya akhirnya terbuka, Nyonya Esther harus rela melepaskan puteri sulungnya bersama orang lain tanpa di beri kesempatan untuk menggenggam tangan Serena seperti sewaktu anaknya baru lahir dulu.
'Ini adalah balasanku...aku harus bisa menerima keputusan Serena dengan lapang hati...' Ini tidak seperti mereka tak akan berjumpa lagi selamanya. Masih ada banyak waktu untuk membenahi hubungan yang telah rusak.
Perlahan namun pasti, Nyonya Esther ingin membangun kembali kepercayaan serta hubungan yang lebih baik lagi dengan Serena.
"Terima kasih...Mama harap kamu bahagia di manapun kamu berada," Ucapan ini tulus dari lubuk hati terdalam. Senyuman manis Nyonya Esther berikan untuk Serena dan Julian yang sudah berbaik hati memaafkan semua perbuatannya di masa lalu.
Serena berusaha menahan air matanya yang hendak runtuh detik ini juga. Ini adalah momen spesial yang tak pernah Serena prediksi.
"Papa dan Mama akan mendukungmu, apapun yang ingin kamu lakukan dan di manapun kamu berada. Jangan ragu meminta bantuan kami, karena kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi penyokongmu juga," timpal Tuan Philip.
Serena mengangguk kecil, mulutnya tak sanggup mengucapkan sepatah kata atau suaranya akan terdengar bergetar.
"Terima kasih banyak. Serena tetaplah puteri kalian, dukungan serta bantuan kalian akan menjadi sangat berharga untuk Serena ke depannya nanti," balas Julian, yang mewakili Serena.
...✨...
...✨...
"Cuaca di luar masih dingin. Sampai kapan kamu mau duduk di bangku itu?"
Jevano berdiri di depan Jasmine yanh duduk termenung di sebuah bangku panjang yang ada di taman depan mansion keluarga Collin.
Namun tak ada sahutan dari Jasmine. Sorot mata gadis itu juga terlihat kosong, seolah tak ada niatan hidup lagi.
Jevano menghela nafas panjang, lalu duduk tepat di sebelah Jasmine yang masih kosong.
"Terus apa yang akan kau lakukan? Kamu udah bikin papa dan mamamu marah besar, belum lagi kamu hampir mengacaukan pesta Tuan Joseph dan nyaris membuat namamu tercoreng sendiri. Serena nggak akan marah kalau kamu nggak menyulut emosinya. Sampai kapan kamu mau begini terus?"
Jasmine bungkam tak ingin menjawab. Hatinya masih kesal dan kecewa lantaran semua orang berpihak pada Serena.
"Padahal aku jatuh cinta sama kamu karena kamu sebenarnya anak baik. Tapi kebaikan hatimu tertutupi rasa iri dan serakah, yang membuat kebaikan itu ternodai. Jujur, aku lebih suka dirimu yang dulu. Yang tersenyum tulus tanpa menyakiti Serena hanya karena cemburu. Belum terlambat buat kita memperbaiki hubungan ini, seperti yang kamu mau. Tapi kalau kamu terus bersikap kayak gini..maaf, aku nggak bisa ngelanjutin apa yang kamu minta," ujar Jevano panjang lebar.
Jasmine menoleh secepat kilat ketika Jevano mengatakan hal itu.
"Jangan pergi!" seru Jasmine, dengan ekspresi putus asa yang kentara.
"...jangan pergi, please...aku cuma punya kamu...kamulah penyemangatku! Jangan tinggalin aku, Jevi..." Suara Jasmine bergetar seiring keluarnya isakan demi isakan di sela-sela tangisnya.
Hawa dingin yang menusuk kulit seakan menembus hati Jevano yang ikut membeku.
Padahal Jevano ingin mengakhiri segalanya dengan Jasmine, tapi melihat betapa kacaunya gadis itu, hati Jevano menjadi iba dan prihatin.
"Please, jangan tinggalin aku...hiks...jangan tinggalin aku..." Jasmine mencengkram erat kemeja di balik tuxedo Jevano.
"Kalau gitu, kamu harus janji sama aku, nggak akan berbuat buruk lagi pada Serena. Kalian sama berharganya buatku. Aku ingin kembali ke masa-masa dulu, di mana kita bisa tertawa bersama...Serena itu sayang banget sama kamu. Kamu yang paling tau seberapa besar kasih sayang dan perhatian Serena padamu, tapi kamu terus mengelak dan menutup mata akan hal itu. Sekarang kamu harus membuka hatimu, dan menerima Serena sebagai sosok yang harus kamu hormati dan hargai. Karena bagaimanapun juga, kalian adalah saudara. Ada kalanya saudara saling membutuhkan dan bahu membahu satu sama lain. Aku harap itu bisa membuka pikiranmu yang tertutup.."
"..aku juga akan belajar merelakan Serena, sebagai sahabat yang baik. Ayo, kita benahi semua kekacauan yang kita perbuat. Aku yakin Serena juga merindukan kebersamaan kita seperti dulu..."