
Sedari pagi Jevano tidak bisa tenang. Pikirannya berkelana ke mana-mana, jantungnya bahkan terus berdebar tak karuan karena sudah tak sabar lagi memulai liburannya bersama dengan Serena.
Ya, hari ini adalah hari di mana Jevano akan terbang ke Bangkok bersama dengan Serena, oh begitu pula dengan ibunya, Nyonya Beatrice. Mereka tidak hanya bertiga di sana, ada beberapa anak buah yang turut serta juga, misalnya asisten dan bodyguard yang secara khusus ditugaskan oleh Nyonya Beatrice untuk menjaga serta membantu membawakan barang-barang mereka nantinya.
Meski ketambahan orang cukup banyak, Jevano tidak akan protes asalkan dirinya bisa pergi bersama Serena.
Mereka sudah janjian berkumpul di depan pintu keberangkatan, Jevano hanya tinggal menunggu Serena yang tiba paling akhir. Sebenarnya Jevano sudah menawarkan diri hendak menjemput Serena, tapi Julian langsung menolak keras niat baiknya.
Ya sudah, asal diperbolehkan pergi berdua dengan Serena saja Jevano sudah sangat bersyukur. Kesempatan emas begini tak akan disia-siakan oleh Jevano, sebab dirinya telah berhasil melewati rintangan paling sulit: yakni meminta izin pada Jasmine dan Nyonya Esther, atas rencana liburannya bersama Serena dengan membawa sang ibunda turut serta.
Negosiasi yang sangat alot dan menguras emosi serta batin. Tetapi perjuangan keras itu kini terbalaskan dengan gembiraan yang luar biasa sampai Jevano sulit mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Oh, itu Serena 'kan?!" Nyonya Beatrice menurunkan sedikit kacamata hitam yang dikenakannya untuk melihat lebih jelas sosok gadis berambut coklat panjang berlari kecil menuju ke tempatnya berada.
Wajah Jevano seketika cerah begitu melihat kedatangan Serena. Serena berlari-lari kecil menuju ke tempat di mana Jevano dan rombongan menunggu dirinya.
Nafas Serena sampai terengah-engah gara-gara berlarian dari lobi bandara menuju ke titik pertemuannya dengan Jevano. "Hh hh hh...ma-maaf ya, aku hampir aja terlambat!" Serena membungkuk berulang kali sebagai bentuk permintaan maafnya telah membuat semua orang menungguinya.
Jevano bangkit berdiri, tak tega melihat sahabatnya kelelahan pasca berlarian.
Nyonya Beatrice tersenyum lebar menyambut kedatangan Serena. Wanita itu bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Serena lalu memberikan pelukan hangat yang sudah lama tak mereka lakukan.
Serena sangat senang dapat kembali bertemu dengan ibu dari sahabatnya, Nyonya Beatrice makin terlihat cantik setelah sekian lama mereka tak bersua.
Dari arah yang sama, terdengar suara roda koper mendekat ke arah mereka. Julian muncul di belakang Serena sambil menarik koper berukuran sedang berwarna baby pink yang tak lain merupakan koper milik Serena.
Melihat kehadiran Nyonya Beatrice, Julian tak punya pilihan lain selain bersikap tenang dan gentle seperti ketika dirinya berhadapan dengan orang-orang penting. "Selamat pagi, Nyonya Beatrice Nollan. Suatu kehormatan bagi saya dapat berjumpa dengan anda di tempat ini," sapanya dengan senyuman tipis.
"Oh? Wah~ Aku tidak menyangka akan bertemu langsung dengan si Pangeran kedua dari keluarga Collin di tempat seperti ini! Senang bertemu denganmu, nak Julian!" Nyonya Beatrice menyapa Julian dengan energik.
Julian masih mempertahankan senyum ramahnya, meski hatinya tak benar-benar baik setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana clingey-nya Jevano pada Serena sampai membuat mood Julian semakin memburuk.
"Anda bisa memanggil saya Julian saja. Saya juga senang dapat bertemu dengan orang sehebat anda, Nyonya Beatrice," sapa Julian balik.
Beatrice merasa tersanjung dipuji oleh pemuda setampan dan secerdas Julian. Kemampuan serta skill Julian di bidang bisnis sudah cukup diakui kehebatannya, darah seorang pemimpin yang mengalir dalam nadi Julian membuat lelaki itu disegani di kalangan pebisnis meski usianya masih sangat muda.
Beatrice ingin puteranya dapat mencontoh usaha keras Julian dan menjadikan Julian sebagai salah satu motivator bagi Jevano guna mencapai goal, tetapi sepertinya hal itu mustahil terjadi. Lantaran Beatrice dapat merasakan percikan persaingan tak kasat mata di antara Jevano dan Julian.
Dan insting Beatrice mengatakan bahwa itu ada kaitannya dengan Serena.
Beatrice bisa menebak dengan mudah bila Jevano menyimpan rasa pada Serena tetapi memilih memendam perasaan itu untuk mempertahankan hubungan persahabatan mereka. Hal seperti ini Beatrice kira hanya akan terjadi dalam drama saja, ternyata di kehidupan nyata pun juga bisa terjadi.
Yah, tapi mau bagaimana lagi? Jevano sendiri yang memilih Jasmine jadi Beatrice tidak bisa menentang keputusan puteranya. Pasti Jevano sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum menjadikan Jasmine sebagai kekasihnya.
Namun bila Beatrice boleh berkata jujur, Beatrice sangat menginginkan Serena sebagai calon menantunya, bukannya Jasmine yang bahkan sampai detik ini belum pernah memperkenalkan diri kepadanya.
"Omong-omong, kenapa kamu nggak ajak Julian juga, Jevi sayang? Serena pasti lebih senang kalau di dampingi sama pacarnya. Bukan begitu, Serena?" Beatrice jadi ingin menggoda Jevano.
Jevano spontan melotot horor menatap sang ibu, melayangkan protes keras melalui tatapan matanya yang setajam silet.
Beatrice mengangguk mengiyakan. Julian sudah memintanya dengan baik dan sopan, lagipula tanpa diminta sekalipun Beatrice tetap akan selalu menjaga dan memastikan keamanan serta kenyamanan Serena saat sedang bersama dengannya.
Kehadiran Julian memang sedikit membuat Jevano tidak nyaman, bahkan dia kesulitan mengendalikan ekspresi mukanya yang terlihat kecut. Jelas sekali Jevano tidak nyaman dengan kedatangan Julian di hari bahagianya ini.
"Jevano," Julian tiba-tiba beralih pada Jevano yang diam seolah tak punya niatan untuk pura-pura akrab dengan dirinya.
Jevano hanya merespon dengan mengangkat satu alisnya ke atas. Julian paham atas sikap dingin yang Jevano berikan padanya, "Aku titipkan Serena padamu untuk beberapa hari ke depan. Tolong jaga Serena, jangan sampai dia kelelahan. Oke?" Senyum yang Julian berikan tampak manis, namun menyiratkan makna khusus seakan tengah memberi peringatan pada Jevano untuk tidak macam-macam pada Serena.
Jevano mengerutkan alisnya tak suka. Jevano merasa bahwa lelaki itu bersikap seolah-olah lebih superior dari dirinya hanya karena statusnya sebagai kekasih Serena. Hal itu sungguh memuakkan bagi Jevano.
Jevano tak merespon apa-apa, hanya diam seribu bahasa lalu membuang pandangannya ke arah lain, asal bukan muka Julian.
Perpisahan mereka berjalan sedikit dramatis gara-gara Jevano yang cuek kepada Julian. Padahal Julian sudah menahan diri untuk tidak memukul muka Jevano di tempat lantaran gemas dengan sikap childish lelaki itu. Mungkin karena ada Nyonya Beatrice di sana, jadi Jevano menunjukkan sifat aslinya secara terang-terangan bahkan di depan Julian.
Sikap Jevano membuat Julian semakin tidak tenang dan mulai gelisah.
Lalu tiba saatnya Julian harus melepas kepergian Serena bersama Jevano. Hatinya berat dan tidak rela, namun Julian harus menahan diri sebaik mungkin agar tidak merusak kesenangan Serena.
"Aku tinggal dulu ya? Baik-baik di sini, jangan telat makan, awas aja kalau kamu macam-macam," pesan Serena sebelum memasuki pintu keberangkatan bersama rombongan.
Julian mengangguk pelan dengan senyum tipis yang terlihat tidak rela. Serena tahu kekasihnya berusaha untuk terlihat tenang walau hati masih meradang.
Serena menghela nafas panjang sebelum menarik tengkuk Julian agar menunduk rendah kepadanya.
Cupp
Tanpa malu Serena mengecup Julian tepat di bibir. Disaksikan banyak pasang mata, Serena tak ragu memamerkan kemesraannya dengan sang pujaan hati.
"Hehehe~ Tunggu kepulanganku nanti ya! Aku pasti beliin oleh-oleh buat kamu dan yang lainnya!" ujar Serena yang tampak riang lebih dari biasanya.
Gadisnya kelihatan sangat senang dan energik, Julian jadi tidak bisa memendam emosinya terlalu lama.
Pelukan erat Julian berikan sebagai salam perpisahaan sementara mereka. Di depan mata Jevano, Julian tak menahan diri untuk mendekap tubuh mungil Serena dan membisikkan kata-kata cinta dan sayang berulang kali. Siapapun yang menyaksikan keintiman sepasang kekasih itu pasti dapat menilai seberapa besarnya perasaan cinta keduanya untuk satu sama lain.
Pemandangan itu justru menyesakkan bagi Jevano. Serena berada dalam pelukan lelaki lain tetapi gadis itu sama sekali tidak berontak atau marah, justru kelihatan begitu bahagia dan tersipu malu dengan wajahnya yang merona merah.
Jevano mengepalkan kedua tangannya kuat, rasa sesak menghantam dad*anya begitu keras dan perasaan itu amatlah menyiksa dirinya. Dengan tak sabaran Jevano menarik tangan Serena alih-alih mengajak gadis itu segera masuk ke dalam pesawat sekarang juga.
Alis Julian sontak menekuk tajam, dia menatap sengit Jevano yang juga sedang menatap ke arahnya. Tanpa perlu mengatakan sepatah kata, Julian mampu memberikan peringatan keras atas sikap kasar Jevano terhadap Serena.
Namun Jevano tidak akan takut dengan ancaman kecil seperti itu. Jevano sama sekali tak memperdulikan Julian, dia terus menarik tangan Serena untuk bergegas pergi meninggalkan Julian.
Beberapa kali Serena menengok ke belakang sambil sesekali melambaikan tangannya berpamitan pada Julian. Melihat jarak mereka yang semakin jauh membuat perasaan Serena aneh, Serena sadar dirinya belum pernah pergi berjauhan dari Julian. Entah mengapa hati Serena diselimuti perasaan cemas yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Serena berharap, sepulangnya dia nanti tak akan ada hal buruk yang terjadi. Sekecil apapun masalah yang menunggu mereka, Serena sama sekali tak mengharapkan hal itu terjadi.
Yah...mari kita doakan saja.