
Ainsley terbangun di pagi hari dalam keadaan yang masih sedikit pusing. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Ah, dia dan Austin sudah baikan. Semalam Austin minta maaf padanya, dia juga menjelaskan kejadian yang sebenarnya mengenai ciuman antara dirinya dan Alfa. Ainsley tersenyum. Akhirnya ia bisa tenang sekarang. Kesalahpahaman diantara mereka telah selesai.
Ia merenggangkan tangannya lebar-lebar lalu menatap ke samping kiri. Keningnya berkerut, mana Austin? Ia baru sadar kalau suaminya tidak ada dalam kamar itu. Kemana dia?
Ainsley memutuskan keluar dari kamar dan menemukan Austin sudah berada dibagian dapur. Hanya ada lelaki itu di sana. Entah kenapa bi Ranti dan para pembantu lain yang biasanya sudah ada di rumah itu pagi-pagi begini malah tidak terlihat. Namun Ainsley mengangkat bahu. Mungkin Austin sengaja memerintahkan agar mereka tidak datang.
"Selamat pagi sayang."
Pipi Ainsley bersemu merah. Melihat Austin sibuk membuat minuman hangat di dapurnya disertai ucapan selamat pagi yang begitu manis.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Ainsley balas bertanya.
Austin menoleh sekilas. Senyum tipis tersungging dibibirnya.
"Aku tidak mau mengganggumu. Ingin kau beristirahat lebih banyak." Ia kemudian memegang dua cangkir minuman. Dua cangkir yang berisi minuman berbeda. Yang satunya berisi kopi Espresso, satunya lagi susu. Austin menyodorkan susu ke Ainsley. Mereka lalu duduk di meja makan, berbincang-bincang ringan sambil menikmati minuman di pagi hari.
"Tubuhmu baik-baik sajakan? Ceritakan padaku dimana saja penculik itu menyentuhmu?"
pertanyaan Austin kembali mengingatkan Ainsley akan kejadian waktu dirinya di culik semalam. Gadis itu terus terdiam, dan Austin menemukan kalau sang istri sudah dalam keadaan tegang. Pasti masih syok dengan kejadian tidak mengenakan itu. Austin mengutuki dirinya sendiri yang bertanya tentang penculikan tersebut.
Dengan satu tarikan tangan, Austin membawa Ainsley ke dalam pelukannya. Memberinya rasa aman.
"Jangan takut, aku di sini. Aku akan melindungimu." gumam Austin lembut.
"Bagaimana dengan penculik itu?" Ainsley memberanikan dirinya bertanya. Iya tahu dirinya pasti akan dimintai keterangan oleh polisi nantinya. Jadi dia ingin terbiasa membicarakan tentang kasus penculikan dirinya.
"Mereka sudah di amankan oleh polisi. Sebentar lagi aku akan ke kantor polisi buat mengusut masalah penculikan kamu sampai tuntas. Kau ingat Clara?"
Ainsley menoleh menatap Austin yang masih setia memeluknya. Kenapa tiba-tiba lelaki itu menyebut nama Clara? Ia kemudian mengangguk. Baru beberapa hari yang lalu merasa tanpa sengaja bertemu.
"Wanita itu adalah dalang dibalik penculikan kamu. Dia yang menyuruh orang-orang itu menculikmu. Bahkan tega mau menjual kamu ke sindikat perdagangan manusia." raut wajah Austin berubah geram saat mengingat perbuatan Clara yang sengaja menculik dan mau menjual istrinya. Untung mereka cepat menemukan Ainsley, kalau tidak ia tidak tahu bagaimana nasib istrinya sekarang. Dan bagaimana nasibnya nanti seandainya dia kehilangan perempuan yang dia cintai.
Ainsley sendiri merasa kaget. Jadi sih Clara-Clara itu dalang yang sebenarnya dibalik penculikannya? Tapi tidak heran juga sih, Ainsley bisa merasakan kalau Clara memang sangat tidak menyukainya.
"Austin," gumamnya lagi. Tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan dalam benaknya.
Austin sendiri belum menjawab sama sekali. Ia terus menatap Ainsley lama kemudian terdengar gelak tawa dari mulutnya. Pria itu bahkan menyentil pelan dahi Ainsley, hingga gadis itu mengaduh kesal.
"Kau cemburu?" goda pria itu. Ainsley mencebik.
"Siapa yang cemburu?" balasnya menutupi rasa malunya.
"Tidak apa-apa cemburu sayang, itu wajar. Kan kita suami istri." ucap Austin makin mempererat pelukannya. Tangannya setia melingkar di perut sang istri.
"Kau belum jawab pertanyaanku." ujar Ainsley. Austin terkekeh.
"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun sebelumnya. Cuma kamu satu-satunya yang mampu membuatku tertarik, bahkan tergila-gila seperti sekarang." ucap pria itu dan tanpa aba-aba menggigit ****** telinga Ainsley pelan.
Ainsley merasa geli. Posisinya yang duduk di paha Austin bisa merasakan bagian di antara paha laki-laki itu sudah mengeras. Lalu tangan Austin yang melingkari perutnya perlahan turun kebawah, dan masuk dengan gerakan lambat ke balik celana tidurnya. Ainsley menggigit bibirnya lirih. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Gadis itu cepat-cepat memegangi tangan Austin saat jemari besar pria itu berhasil menyentuh bagian yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Dibanding dengan pemaksaan yang dilakukan lelaki itu kemarin, hari ini Ainsley sangat menikmatinya. Memang benar, kalau mereka melakukannya dengan perasaan, pasti rasanya jauh berbeda.
"A..Austin... Kita di dapur, b..bagaimana kalau ada y.. yang lihat?" gumam gadis itu pelan. Matanya sesekali terpejam akibat kenikmatan yang ia rasakan. Tangan Austin terus bergerak di dalam sana, membuat sekujur tubuh Ainsley mendadak lemah.
"Nikmati saja sayang..." gumam Austin serak. Tangannya bergerak makin cepat hingga Ainsley tidak dapat lagi menahan desah@nnya.
"Ahh...Mmphh..." suara erangan Ainsley makin kuat ketika ia merasakan sesuatu akan keluar dari dalam tubuhnya. Austin makin mempercepat temponya. Ia tahu Ainsley sudah akan keluar. Dan ketika cairan itu keluar dari dalam tubuh Ainsley, gadis itu menggelinjang hebat dan mengerang panjang. Austin puas melihat ekspresi sang istri yang begitu menikmati permainannya.
Kalau saja ia tidak berpikir tiga puluh menit lagi ia harus segera ke kantor polisi, ia pasti sudah meniduri Ainsley sekarang juga diatas meja makan. Sayangnya pria itu harus menahan diri. Masih ada banyak waktu yang bisa dia habiskan dengan Ainsley diatas ranjang. Sekarang dia harus fokus pada pencarian Clara dulu. Ia tidak mau rubah jahat itu berkeliaran bebas di luar sana dan kembali menyakiti istrinya.
"Kita akan melanjutkan nanti. Aku harus segera ke kantor polisi." ucap Austin membuat Ainsley berdiri dari pangkuannya.
"Perlukah aku ikut?" tanya Ainsley.
Austin memegangi kepalanya sebentar.
"Tidak perlu. Kau istirihat saja di rumah, dan jangan kemana-mana." katanya lalu mengecup singkat pipi Ainsley dan masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Ainsley tersenyum. Pokoknya hari ini dia sangat bahagia.