Mine

Mine
Chapter 72



"Jangan Austin, aku tidak mau melakukannya dalam keadaan seperti ini." Ainsley bergumam lagi, berusaha menyadarkan lelaki itu yang tampak begitu marah dan tidak bisa menahan diri. Tetapi Austin sama tidak mempedulikannya, dia merenggut Ainsley, dan mendorongnya ke ranjang, ketika Ainsley mundur dan hendak bangkit dari ranjang, Austin mencengkeramnya dan menindihnya.


Ainsley berusaha menyingkirkan Austin, tetapi tubuh lelaki itu terlalu berat, terlalu kuat, dan apalah dayanya, seorang perempuan lemah dibawah kuasa lelaki yang sedang penuh kemarahan? Pada akhirnya pertahanan berubah berubah menjadi air mata, air mata sakit hati dan penderitaan.


Suaminya akhirnya memperlakukannya dengan begitu kasar dan tanpa perasaan, tidak mempedulikan permohonannya. Ini memang bukan malam pertama mereka, tapi sesuatu seperti ini sama sekali tidak pernah diimpikan oleh Ainsley. Penuh pemaksaan, dirinya direndahkan oleh suaminya sendiri, dan penuh rasa sakit, luar dalam. Dan ketika lelaki itu selesai melampiaskan kemarahannya, ia berdiri dengan tergesa memakai pakaiannya kembali, dan melangkah pergi meninggalkan Ainsley yang terbaring dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan pakaian setengah robek dan acak-acakan, dan penuh air mata, hati Ainsley hancur seketika.


Ingatannya melayang kepada almarhum mamanya yang penuh kasih dan selalu mendoakan kebahagiaannya suatu saat nanti, mendoakan agar dirinya menemukan suami yang benar-benar mencintainya dan bisa menjaganya. Ainsley menggingit bibirnya, tersengal atas tangis yang pekat.


"Mama..." rintihan itu diselingi tangis, dan Ainsley memanggil nama mamanya, merindukan pelukan almarhum mama kandungnya dan elusannya yang menenangkan. Gadis itu begitu kesakitan ketika menyadari kenyataan bahwa ia sendirian.


Selama ini tidak ada yang benar-benar peduli padanya. Setelah mamanya meninggal, papanya menikah lagi. Meskipun mama tirinya tidak jahat padanya, tetap saja ia merasa wanita itu tidak bisa menggantikan mama kandungnya. Papanya pun menjadi lebih sibuk dengan mama barunya itu. Belum lagi hubungannya dengan saudari tirinya yang tidak begitu baik.


Ainsley memang tidak mengeluh saat papanya menikah lagi, kasih sayang dan rasa hormatnya pada pria paruh baya itu pun tidak berkurang. Hanya saja, ia menyadari hubungan mereka sebagai ayah dan anak mulai ada jarak. Dan itu membuatnya makin merasa kesepian.


Ainsley mulai bahagia saat Austin hadir dalam hidupnya. Ia menyadari lelaki itu perlahan mengisi hatinya yang terasa kosong dan kesepian. Meski awal-awal bertemu ia membenci laki-laki itu yang selalu bersikap seenaknya, namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Apalagi ketika suaminya itu memperlakukannya dengan begitu lembutnya. Dan beberapa minggu terakhir ini, Ainsley akhirnya menyadari kalau dia sudah jatuh cinta pada Austin. Ia tidak tahu apa yang membuat perasaannya pada pria itu tumbuh begitu cepat.


Sayang sekali hari ini hatinya hancur berkeping-keping. Karena pria yang berhasil mengambil hatinya itu.


Ia pikir Austin mencintainya juga. Ternyata laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya. Masih jelas diingatannya perkataan pria itu tadi. Dan itu membuat dadanya merasa begitu sesak. Gadis itu terisak kuat. Percuma saja penjelasannya panjang lebar pada Austin di mobil tadi. Dan tentang pengakuannya...


Dia langsung ke kamar mandi dan mencuci tubuhnya dengan bersih, menggosok kulitnya di pancuran kamar mandi sampai terasa sakit. Seolah semua itu bisa menghilangkan sisa penghinaan dan sikap merendahkan yang dilakukan Austin kepadanya. Air matanya sudah terkuras habis, bahkan Ainsley sudah tidak mampu menangis lagi. Cukup sudah! Dia sungguh yakin bahwa memang Austin tidak mencintainya dan tidak pernah mencintainya. Pria itu boleh sakit hati dan menuduhnya semaunya, dia tidak peduli lagi.


Ainsley memakai pakaiannya kemudian mulai merapikan seluruh pakaiannya di lemari dan memasukkannya ke dalam tas. Pernikahan ini sejak awal memang dilakukan dengan terpaksa. Gadis itu tersenyum kecut, semua yang pernah dilakukan Austin kepadanya, kelembutan itu, kasih sayang dan tatapan mata penuh cinta itu, semuanya adalah palsu. Jadi, untuk apa dia mempertahankan diri bersama dengan laki-laki itu. Mereka hanya akan berakhir dengan saling menyakiti.


Hati Ainsley terasa sakit, dia tidak mampu lagi menahan diri untuk terus berada di tempat ini. Dia harus pergi dari rumah ini, segera.


\*\*\*


Sementara itu, Austin kembali ke apartemennya setelah merendahkan Ainsley seperti itu. Semalam ia memang tidak pulang ke rumah. Namun ia tidak pergi kemana-mana, hanya menyendiri di rumahnya yang lain sambil merenungi hubungan dan Ainsley.


Austin tidak berhenti-berhenti mengutuk dirinya sendiri yang memperlakukan istrinya dengan sangat kasar. Tadi dia sangat marah. Emosinya sudah tidak mampu ia tahan saat memergoki istrinya dan laki-laki itu berduaan. Ainsley bahkan tersenyum lembut pada pria sialan itu.


Saat itu juga Austin langsung gelap mata dan pikirannya sudah dirasuki untuk menyakiti Ainsley. Waktu itu ia berpikir Ainsley sama saja dengan mamanya dan perempuan kebanyakan. Murahan dan suka tukang selingkuh. Berkali-kali Austin mengatakan dalam hati kalau ia puas sudah menyakiti gadis itu. Sayangnya, setelah bersikap sekasar itu, perasaannya tidak juga membaik. Apalagi ketika melihat Ainsley menangis memohon padanya tadi.


Austin pada akhirnya bertindak kejam, memperlakukan Ainsley dengan kejam, untuk memuaskan kemarahannya, untuk membuat Ainsley merasakan apa yang dirasakan oleh dirinya. Sakitnya harus sama.


Tetapi... kenapa rasa sakit ini semakin lama semakin menekan perasaannya? Membuatnya sesak dan tidak mampu menahan rasa sakit didadanya. Austin mengerang frustasi. Apa yang harus dia lakukan, bagaimana menghadapi Ainsley kelak. Lalu, penyesalan mulai memenuhi pikirannya. Bertubi-tubi.