Mine

Mine
Impian anak-anak



Tanpa terasa Serena sudah memulai kehidupan barunya hampir seminggu lamanya.


Bangunan yang dipilih Serena akhirnya mendapat persetujuan dari Dion meski harus melalui perdebatan yang sedikit alot lantaran ada beberapa hal yang tidak memenuhi standart kelayakan menurut versi Dion.


Namun pada akhirnya Serena berhasil menyakinkan lelaki itu dan resmi menetap sementara di hunian yang teramat sederhana tersebut. Bangunannya terdiri dari dua lantai, dengan 6 unit saja. Hanya tersisa satu kamar yang masih kosong, jadi Serena harus segera menempatinya sebelum diisi oleh orang lain. Di mana lagi Serena bisa menemukan kontrakan dengan harga amat miring selain di sana? Toh yang terpenting di tempatnya tinggal sudah tersedia kamar mandi di dalam ruangan, itu sudah lebih dari cukup untuk Serena.


Berhubung Serena sendiri belum merencanakan kegiatannya lebih lanjut, Serena membayar secara penuh untuk sebulan ini. Toh kalau tidak ada masalah atau gangguan, Serena belum ingin pindah dari sana.


Lalu setelah membereskan unitnya, Serena masih harus menanti kabar dari Dion perihal lowongan pekerjaan yang dicarikan oleh lelaki itu. Serena tidak akan menolak segala jenis pekerjaan asalkan pekerjaan tersebut aman dan halal, bukan menjalankan pekerjaan kotor dan ilegal. Dion terlihat menyanggupi permintaannya, jadi Serena akan menunggu kabar baik dari lelaki bersurai merah itu.


Sambil menunggu jawaban Dion, Serena sibuk mengelilingi kawasan tempatnya tinggal. Bisa dibilang kawasan yang sekarang menjadi area tetangganya ini cukup ramai dipenuhi dengan rumah-rumah kontrakan atau apartement murah dari kalangan menengah ke bawah.


Melihat banyaknya orang yang hidupnya lebih susah dan malang ketimbang dirinya, Serena jadi semakin menghargai semua yang dia miliki sampai saat ini. Setidaknya Serena pernah hidup sebagai seorang puteri dari pengusaha kaya raya meski kemewahan yang dia dapatkan tidak seglamour kembarannya. Tapi mau seberapa banyak barang mewah serta fasilitas lengkap yang diberikan orang tuanya, Serena sama sekali tidak mendapatkan apa yang sesungguhnya dia inginkan.


Uang tak selamanya membuat seseorang bahagia, justru sebaliknya bisa mengubah watak seseorang menjadi gelap mata dan serakah. Tapi tanpa uang, Serena sadar dirinya tak akan bisa bertahan hidup hanya dalam sehari.


Satu-satunya cara untuk terus mengisi perutnya supaya tidak sampai mati kelaparan adalah dengan bekerja keras menggunakan usaha sendiri.


Setelah pendapatannya kembali terpenuhi, Serena akan menentukan kembali langkah selanjutnya yang akan dia lakukan. Ke mana dia akan pergi, ingin mencoba hal baru apa, ingin memperluas koneksi dengan cara apa dan siapa saja, Serena mulai memikirkan hal itu satu per satu.


Drrrtt


Ponsel dalam kantong Serena bergetar. Itu bukan ponsel lama Serena melainkan ponsel baru dengan model kuno yang diberikan Dion untuknya. Alasannya sih agar Dion bisa menghubungi Serena sewaktu-waktu untuk kembali menjalankan akting mereka sebagai sepasang kekasih. Dan hanya Dionlah satu-satunya orang yang mengetahui nomor dalam ponsel kuno tersebut.


Jadi jelas, gerangan yang mengirimi Serena pesan tak lain dan tak bukan adalah Dion.


Serena membaca secara seksama isi pesan yang dikirimkan Dion, hanya dalam hitungan detik, raut wajah Serena seketika sumringah. Kedua mata besar Serena membulat saking tidak percayanya dia melihat kabar baik yang diberikan Dion barusan.


Tanpa membuang waktu, Serena langsung menghubungi Dion detik itu juga. Memastikan sekali lagi, apakah tulisan yang dia baca barusan benar-benar sebuah kenyataan atau hanya halusinasi semata.


"Ya? Apa?" Suara jutek khas Dion terdengar di seberang telpon.


Serena nyaris memekik kencang gara-gara terlalu bersemangat, "Yang kamu kirim ke aku itu sungguhan 'kan?! Kamu nggak lagi nge-prank aku 'kan?!"


Terdengar helaan nafas panjang di sambungan telpon, "Ya iya lah. Mana pernah aku bohong kalau menyangkut hal penting gini?" ketus Dion tak terima.


Serena tertawa renyah, hatinya sedang berbunga-bunga sekali sampai rasanya mau terbang melayang. Sama sekali tak pernah terbesit dalam bayangannya, Serena akan menjadi seorang part-timer di sebuah taman kanak-kanak seperti yang dia impikan semasa kecil.


Serena sangat menyukai anak-anak, sudah lama sekali sejak dirinya berinteraksi dengan anak-anak kecil yang sangat menggemaskan di matanya.


Bahkan saking bahagianya, Serena sampai menitikkan air mata kebahagiaan, "Makasi...makasi banyak...rasanya ini kayak sebuah keajaiban.." Suara Serena sedikit bergetar ketika dia mengucapkan rasa terima kasihnya pada Dion.


Ini bukan karena Serena terlalu lebay atau overreact, tapi karena Serena tahu betapa sulitnya mendaftar jadi seorang guru di sebuah lembaga pendidikan anak-anak meski hanya sebatas pekerja paruh waktu saja.


Serena tidak tahu cara apa dan dengan jalur apa Dion mendapatkan lowongan itu untuknya, apapun itu Serena tetap akan berterima kasih atas usaha keras yang Dion lakukan demi dirinya.


Menjadi seorang guru...


Walau mungkin nanti hanya bisa menjadi seorang pengawas atau pengasuh saja tak menjadi masalah bagi Serena. Asalkan dia bisa memperhatikan anak-anak kecil yang lucu dan polos, itu sudah cukup menenangkan jiwanya.


Serena sudah tak sabar sekali menantikan hari H di mana dia akan dipanggil untuk bertemu dengan pihak yang bersangkutan untuk membahas kontrak kerjanya.


Sedangkan untuk Dion, Serena berniat membuatkan makanan sebagai bentuk apresiasi serta ucapan terima kasih dari lubuk hatinya yang terdalam. Yah, walau Serena tak bisa membalas kebaikan Dion dengan barang mahal atau makanan mewah, yang terpenting adalah perasaan yang tercurah di dalamnya.


'Oke! Kalau gitu aku akan panggil dia mampir ke unitku sebentar terus kasihin makanannya langsung!'


Tak ingin membuang banyak waktu, Serena bergegas balik arah hendak menuju pasar tradisional yang ada di dekat huniannya. Untung Serena sudah menghafal beberapa jalan alternatif yang bisa tembus ke mana-mana sehingga jalan menuju ke pasar tidak akan memakan banyak waktu.


...🐺...


...🐺...


Brak!


"Tuan Julian! Tuan Julian! Saya bawa kabar baik untuk anda!!!" Salah seorang anak buah andalan Julian tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar sang atasan.


Bruk


"Aduh!" Eric, lelaki bersurai blonde itu memekik kaget gara-gara mukanya kena tampol bantal Julian.


"Ulangi sekali lagi, akan kupotong kedua tanganmu yang nggak berguna itu," Julian mengancam dengan mata melotot, memperingati Eric supaya selalu ingat untuk mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.


Bisa bahaya kalau sampai ada Serena di dalam kamarnya juga. Tidak boleh ada satu orangpun yang melihat Serena di kamarnya, atau Julian akan benar-benar mencolok mata orang itu dengan tidak berperasaan.


Hmp, Julian jadi teringat akan kecantikan sang pujaan hatinya saat bangun dari tidur atau saat sedang bersantai bersamanya di atas ranjang. Sejak Serena pergi, Julian kembali merasa kosong dan dingin. Ranjangnya tak lagi terasa hangat dan menenangkan seperti saat ada Serena.


"Tuan?"


Suara Eric menyadarkan Julian dari lamunannya. Setiap kali membicarakan soal Serena, Julian pasti akan tenggelam dalam dunianya sendiri. Seolah sedang membayangkan dirinya bersama Serena atau mengingat-ingat kembali semua kenangan mereka berdua.


"Katakan saja."


Eric berdeham sekali guna melegakan kerongkongannya yang agak serak. "Siapkan hati anda atau nanti anda akan terke-oke, maafkan saya, saya akan langsung bicara ke inti," Eric mati kutu ketika Julian memberikan lirikan tajam padanya.


Eric menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya panjang, "KAMI TELAH MENEMUKAN KEBERADAAN NONA SERENA, TUAN MUDA!!" teriaknya tiba-tiba, sampai mengejutkan Julian yang sedang duduk tenang.


Untuk kali ini, Julian akan menahan diri untuk tidak memukul anak buahnya itu, yang bahkan sudah membuatnya spot jantung dua kali. Berita yang dibawakan oleh Eric adalah fokus utama Julian saat ini.


Reflek kedua mata Julian membelalak kaget. "Se-serius?! Di mana?! Di mana Serena sekarang?!" Julian langsung bangkit dari duduknya. Ini bukan waktunya untuk bersantai dan menenangkan diri.


Julian bergerak cepat menuju walk in closet untuk mengambil salah satu jaket yang akan dia gunakan untuk membalut tubuhnya.


"Eum, soal itu..." Eric ragu apakah harus mengatakan informasi yang dia pegang secara menyeluruh atau tidak.


Julian berhenti tepat di hadapan Eric, satu alisnya terangkat, heran mengapa sekarang Eric justru terlihat ragu-ragu melaporkan hasil yang dia dapatkan. "Tunggu apa lagi? Ayo sekarang kita cari dia!" Julian sudah tidak sabar membawa kekasihnya pulang kembali ke pangkuannya.


"Se-sepertinya kita tidak bisa menjemput Nona Serena dulu, Tuan.." cicit Eric dengan suara lirih.


"Kenapa?!" Julian menyahuti dengan keras.


Eric sedikit gemetar ketakutan, dia tahu atasannya itu bisa berubah menjadi sangat menyeramkan ketika sedang emosi. "I-itu..kami dapat kabar kalau nona Serena sudah menyewa satu unit rusun di sekitar kawasan xx, kami juga mendapat informasi yang cukup mengejutkan, ka-kalau nona Serena menyewa unit itu menggunakan nama 'Selena' bukan nama aslinya," jelasnya ringkas.


"Selena?" Julian bergumam heran.


Apa segitu besarnya Serena ingin Kabur dari semua orang sampai nekat menyamar menggunakan identitas lain?


Lalu Eric kembali melanjutkan, dan mungkin kali ini bukanlah informasi yang mengenakkan untuk Julian, "Kami dapat keterangan dari si penyewa bangunan, kalau perempuan bernama Selena itu datang ditemani dengan seorang laki-laki yang mengaku bernama Raymond. Menurut narasumber, kedua orang itu kelihatan dekat seperti seorang kekasih, bahkan lelaki itu terlihat masuk ke dalam unit tempat nona Serena tinggal sampai larut malam baru keluar dari sana. Untuk sementara, kami tidak berani menyimpulkan masalah ini, karena itu tim kami akan menyerahkan langkah selanjutnya pada anda," jelas Eric panjang lebar.


Informasi yang benar-benar tak terduga dan membuat syok. Sekejap antusiasme Julian sirna digantikan emosi serta perasaan cemburu yang membara.


"Serena sama cowo lain..?" Julian hampir tertawa saking tidak percayanya dia.


Tapi apa bila informasi itu valid, Julian tidak bisa menepisnya terus menerus.


"Haa...kamu selalu bisa buat perasaanku jadi kayak roller coaster gini, Serena.." Julian mendesah panjang lalu mendudukkan bokongnya kembali ke sofa.


Energinya tiba-tiba menguap entah ke mana, Julian tidak lagi berminat mendatangi Serena setelah menerima laporan dari Eric soal keterlibatan laki-laki lain itu.


"Kalian sudah coba mencari tahu siapa laki-laki itu?" Julian bertanya pada Eric.


Eric menggeleng pelan, "Kami tidak berani sebelum mendapat persetujuan dan perintah dari anda terlebih dulu, Tuan." Eric dan timnya hanya takut salah langkah.


Julian berpikir keras sekarang. "Selidiki saja laki-laki itu, apapun informasi yang kalian dapatkan pasti akan berguna ke depannya nanti." Tak ada salahnya menyelidiki latar belakang dari sosok lelaki yang berkeliaran di sekitar kekasihnya.


Kesampingkan dulu rasa cemburunya, Julian justru melihat ini sebagai kesempatan yang bagus. Dia bisa menggunakan laki-laki itu sebagai tameng atau bodyguardnya Serena di tempat yang belum dia ketahui sebagaimana kerasnya.


"Terus awasi Serena dan laki-laki itu, kalau dia macam-macam sama Serena, nggak usah pikir dua kali lagi, langsung habisi nyawanya detik itu juga. Hama pengganggu memang pantasnya dimusnahkan saja," gumam Julian, dengan sorot matanya yang dingin dan gelap.