
Julian merintih pelan merasakan kepalanya lumayan berdenyut pusing. Dia bahkan tidak bisa mengingat apa saja yang terjadi semalam tadi. Memorinya masih buram, namun anehnya Julian seperti melihat Serena mendatanginya ke kamar.
Tapi sepertinya itu hanya halusinasinya belaka, Serena 'kan masih liburan bersama dengan Jevano di Bangkok. Daripada semakin penasaran, Julian berniat menghubungi Serena melalui ponselnya. Setidaknya video call sebentar tak ada salahnya bukan? Toh Julian bisa sekalian melepas kerinduannya sedikit.
"Hm? Kenapa Jevano menghubungiku berkali-kali?" Dahi Julian mengkerut melihat nama Jevano masuk ke dalam daftar misscall dan berusaha menjangkaunya berulang kali.
Entah mengapa perasaan Julian jadi tidak enak. Lantas Julian membuka ruang obrolan antara dirinya dan Jevano secepat mungkin, tetapi yang didapatinya sungguh membuatnya syok.
"Serena balik duluan?! Ta-tapi kok dia nggak pulang ke sini-" Ketika Julian tak sengaja melihat ke sisi ranjangnya yang kosong, kedua matanya membulat selebar-lebarnya ketika menemukan bercak kemerahan yang sudah mengering, menempel pada sarung bantalnya yang berwarna abu-abu terang. Jelas warna itu kelihatan mencolok padahal Julian tidak pernah melihat noda itu sebelumnya.
"D-darah siapa ini?!" Tangan Julian gemetar meraih bantal tersebut.
Julian mencoba menggosok noda darah itu, sekedar memastikan apakah sudah benar-benar kering atau masih setengah basah.
'Nggak bisa hilang! B-berarti ada kemungkinan bercak ini udah cukup lama menempel di sini!' Julian mengambil kesimpulannya sendiri.
Tapi darah siapa? Apa mungkin Elliot?
Julian bergegas melompat turun dari ranjang, tak memperdulikan lagi kepalanya yang masih setengah berputar akibat berdiri secara tiba-tiba. Lalu Julian keluar dari kamar, mencari kakaknya yang kemungkinan besar masih menginap di rumahnya.
Brak
Suara keras yang berasal dari kamar Julian mengejutkan Elliot yang akan meminum teh hangatnya di meja bar.
"Pagi, aku udah siapin sarapan untukmu. Apa kepalamu masih pusing?" Elliot menyambut Julian dengan ekspresi lembut bak malaikat.
Julian berjalan cepat menghampiri sang kakak, hendak memeriksa kondisi Elliot dari jarak dekat; apakah ada luka di wajah atau mungkin anggota tubuh Elliot yang lain.
"Kak, kau baik-baik aja?! Nggak ada yang luka?!" Tetapi Julian tidak menemukan luka apapun di wajah sang kakak.
"Luka? Aku nggak punya luka tuh. Aku bahkan nggak pergi ke mana-mana setelah pindahin kamu ke kamar, terus langsung pergi tidur juga," Elliot menjawab dengan wajah polos tanpa mengetahui situasi yang terjadi.
Warna di wajah Julian semakin sirna. Kalau bukan Elliot, bisa saja Leonard atau Serena. Tapi kemarin Leonard tidak mampir ke rumahnya bahkan sampai larut malam. Lagipula Leonard juga tidak memegang kunci cadangan rumahnya, hanya Serena saja yang Julian berikan kunci cadangan sebagai akses keluar masuk rumah ini secara bebas.
Pikiran negatif perlahan mendominasi otak Julian. Perasaannya bercampur aduk sekarang, namun dia masih berusaha tetap tenang dan berpikir jernih.
Untuk memastikan sekali lagi, Julian harus mengumpulkan para pekerja di rumahnya, yang kemungkinan besar mengetahui adanya tamu dadakan di saat dirinya tidak sadarkan diri.
"Tolong panggilkan semua pekerja dan berkumpul di depan rumah. Aku akan mandi dan mengganti pakaianku dulu!" Dengan ekspresi mengeras, Julian memerintahkan kepala pelayan untuk mengumpulkan para pekerja di depan rumah.
Julian buru-buru masuk ke dalam kamarnya lagi untuk berbenah diri sebelum melakukan rapat mendadak dengan seluruh karyawan di rumah pribadinya.
Elliot yang sama sekali tidak tahu menahu, bingung sekaligus heran dengan sikap Julian. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa telah terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya?
Dilihat dari ekspresi Julian, sepertinya masalah ini tidak main-main. Elliot akan menunggu penjelasan Julian dengan sabar.
.
.
Seluruh pekerja telah berkumpul di halaman depan rumah Julian yang memang cukup luas. Setidaknya di kediaman pribadinya, Julian memperkerjakan sekitar 7 orang dengan pembagian kerja masing-masing. Tak terlalu banyak memang, karena Julian tidak suka banyak orang berkeliaran di dalam rumahnya.
"Julian, ada apa sebenarnya?" Elliot bertanya lebih dulu. Dia bisa melihat ekpresi bingung bercampur takut dari para pekerja Julian.
"A-apa ada di antara kalian yang melihat kedatangan Serena lewat tengah malam?"
Namun satu-satunya cara hanyalah dengan mengonfirmasikannya. Apalagi Jevano memberitahunya bahwa Serena langsung terbang kembali ke negara mereka dengan alasan yang tak jelas. Bagaimana bisa Julian tidak cemas dan panik menerima laporan itu?
Bahkan Serena meninggalkan ponselnya sendiri di kamar Julian. Julian jadi semakin yakin sesuatu telah terjadi pada kekasihnya.
"Ah, soal itu!" Salah seorang pelayan wanita mengangkat tangannya ke udara. "Iya, Tuan! Nona Serena memang datang ke mari. Tapi nona tidak membawa kunci cadangannya jadi saya yang membukakan pintu rumah untuknya," terang wanita muda itu tanpa ada yang dikurangi.
"Apa? Serena datang? Kok tidak memberitahu?" Elliot bertanya dengan kerutan di dahi.
Pelayan itu menurunkan tangannya dengan cepat, takut di marahi sebab dia sengaja tidak melaporkan kedatangan Serena pada sang Tuan rumah. "I-itu...nona Serena yang melarang saya..nona bilang ingin memberi kejutan untuk Tuan Julian, jadi saya langsung meninggalkannya begitu nona sampai di depan kamar Tuan Julian.."
Jadi semua yang Julian lihat semalam tadi bukan hanya khayalan semata! Julian menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri.
"Ta-tapi Tuan!" Pelayan itu kembali bersuara, kali ini kecemasan tercetak jelas di wajahnya, "Wajah nona Serena babak belur! Saya tidak berani menanyakan karena ekspresi nona kelihatan sangat buruk tadi malam! Nona juga melarang saya mengganggunya begitu masuk ke dalam kamar!" jelasnya, yang sukses mengejutkan semua orang yang ada di sana.
Termasuk juga Julian dan Elliot. Ekspresi kakak beradik itu seketika menggelap dan dingin.
"Apa katamu? Babak belur? Serena?" Julian mendesis marah.
Pelayan bernama Windy itu mengangguk takut. Dia bisa merasakan aura membunuh terpancar dari kedua Tuan mudanya yang berdiri di depan.
'Serena? Babak belur? Siapa...? Siapa yang berani menyakiti gadisku?'
Hati Julian menjadi kosong dan gelap. Bayangan kekasihnya terluka sampai babak belur bukanlah sesuatu yang ingin dia lihat dan ketahui.
Siapa?
Siapa yang berani menyentuh kekasihnya bahkan seujung kukunya sekalipun?
Ahhh...Julian tidak bisa berpikir rasional sekarang. Emosinya bercampur aduk hingga membuatnya berpikir dengan benar. Rasa ingin meremukkan tulang seseorang begitu besar dia rasakan.
"Serena....di mana dia sekarang?" Entah pada siapa Julian bertanya.
Serena meninggalkan ponselnya di rumah, bukankah itu sebuah pertanda bahwa kekasihnya tak ada di sekitarnya lagi?
Singkatnya, Serena kabur entah ke mana tanpa membawa barang berharga.
Menyadari situasi yang semakin tidak kondusif, khususnya Julian yang bisa meledak sewaktu-waktu, Elliot segera membubarkan massa. Dia harus menenangkan Julian terlebih dahulu, agar adiknya tidak melakukan sesuatu yang nekat.
"Kita bicarakan di dalam. Aku akan menghubungi orang-orangku untuk melakukan pencarian besar-besaran. Kamu tenang aja, Serena pasti baik-baik aja," Elliot menepuk pundak Julian yang kaku. Dia berharap Julian tidak berpikiran buruk dulu terhadap Serena.
Walaupun masih banyak pertanyaan bersarang dalam benaknya, Elliot tidak ingin menanyakan lebih detail kepada Julian dan membiarkan adiknya menenangkan dirinya dulu.
Padahal Elliot pikir, adiknya telah menemukan kebahagiaannya sendiri, tapi mengapa ada saja rintangan dan cobaan yang mereka hadapi? Baik untuk Julian dan Serena, Elliot berharap semuanya akan baik-baik saja dan terlindungi dari segala mara bahagia dan kesialan.
'Aku pasti akan menemukan Serena untukmu, adikku. Tapi sebelum itu, kita harus menyelidiki masalah ini lebih dalam sampai ke akarnya. Aku yakin ada alasan jelas dibalik luka yang didapatkan Serena,'
Dan satu-satunya hal yang bisa Elliot lakukan terlebih dulu adalah dengan bertanya pada keluarga Reinhart. Firasat Elliot mengatakan bahwa luka yang didapatkan Serena pasti diterima dari keluarganya. Sebab kalau bukan mereka, siapa lagi yang berani mencari masalah dengan Serena?