Mine

Mine
Berjalan Menuju Masa Depan



"Aku kok gugup banget ya?"


Serena menggenggam erat tangan besar Julian yang duduk di sebelah kirinya. Mereka tengah dalam perjalanan menuju ke tempat acara yang diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima yang juga bekerja sama dengan perusahaan Collin.


Julian tampak tampan dalam balutan tuxedo berwarna merah maroon bercampur hitam, senada dengan gaun yang dikenakan oleh Serena. Keduanya tampak serasi dan menawan layaknya seorang Pangeran dan Putri kerajaan yang berkelas.


"Jangan gugup. Aku akan selalu menemanimu di sana." Julian mengusap lembut puncak kepala istri mungilnya yang malam ini sangat cantik.


'Tau gini lebih baik kita nggak usah ikut acara itu. Lihat Serena yang cantik begini, pasti banyak serangga yang berniat mendekatinya. Aku harus mengawasinya secara ekstra nanti!' Sedari tadi diam-diam Julian tengah bergulat dengan emosinya sendiri.


Julian khawatir banyak 'hama' yang berani mendekati istrinya apalagi pada sesi menari berpasangan nanti. Julian bertekad akan terus menempel di sisi Serena apapun situasinya.


...🎆...


...🎆...


Mobil mewah yang membawa Serena dan Julian akhirnya tiba di hotel tempat acara berlangsung. Antrian masuk cukup panjang, rupanya banyak mahasiswa yang tak ingin kalah memamerkan kemewahan yang mereka miliki. Setidaknya untuk terakhir kalinya sebagai mahasiswa, sebagian besar datang mengendarai kendaraan mewah nan mahal dengan maksud ingin tampil gaya.


"Genggam tanganku. Kamu adalah tuan putri untuk malam ini," Julian turun terlebih dahulu sebelum mengulurkan tangannya untuk sang istri.


Serena menerima uluran tangan Julian dengan senang hati.


Kedatangan sepasang suami istri itu jelas menggemparkan seisi hotel, apalagi tamu-tamu hotel yang terkejut bisa melihat si pasangan hot secara tak terduga di depan kedua mata mereka langsung.


Di mobil lain, Helena datang bersama dengan Leonard yang juga mengenakan tuxedo serta gaun yang berwarna senada. Ini juga karena paksaan Helena, gadis itu bilang ingin mengenakan pakaian couple dengan pasangan Prom Nightnya, jadi Helena merengek hebat pada Leonard yang menjadi sasaran empuknya.


Ya sudah dasarnya Leonard tak ingin ambil pusing, jadi dia mengiyakan saja permintaan Helena. Anggap saja ini menjadi kenangan terakhir mereka sebagai anak kuliahan.


"Lihat, itu mobil Julian. Mereka juga baru sampai rupanya." Leonard menunjuk tepat ke arah sedan mewah berwarna hitam mengkilap dengan inisial J di bagian moncongnya.


Mobil itu sangat jarang Julian kendarai, paling waktu menghadiri acara-acara resmi dan penting saja.


Helena membulatkan mulutnya yang berpoleskan lipstik merah menyala. Khusus untuk malam ini, Helena sengaja memakai makeup bold untuk menunjang keseksiannya.


"Duh, jantungku dag dig dug nih! Kamu nggak tegang memangnya?" Helena memegangi lengan Leonard secara erat.


Seperti biasa, Leonard tak menunjukkan banyak ekspresi selain ekspresi datarnya. "Nggak. Ini sih nggak ada apa-apanya dibanding menghadiri acara penting yang hampir semua tamunya orang-orang tua," celetuknya acuh.


Helena mendengus kesal. Kalau ada orang yang bersedia menjadi teman kencannya untuk malam ini sih, dia tak akan meminta bantuan Leonard. Lelaki itu selalu bersikap dingin dan tak berbicara banyak, sungguh berbanding terbalik dengan watak Helena. Namun meski banyak perbedaan di antara dirinya dan Leonard, Helena senang dapat berteman baik dengan lelaki itu.


Lagian perempuan mana di dunia ini yang tidak ingin menjadi teman dekat lelaki tampan nan kaya raya seperti Leonard maupun Julian?


Helena tak mau munafik, dia merasa bangga dapat menjadi teman dekat dari Leonard. Bahkan tanpa mereka sadari, keduanya lebih dekat dari yang mereka pikirkan.


Entah bagaimana, Leonard selalu ada di saat Helena sedang down. Dan yang membuat Helena sangat bersyukur mempunyai teman sebaik Leonard, adalah ketika lelaki itu datang secara diam-diam di kala dirinya tengah terpuruk gara-gara patah hati.


"Makasi.."


Kedua mata Leonard sedikit membulat ketika telinganya mendengar ucapan terima kasih secara tiba-tiba. Kepalanya spontan menoleh ke sisi kanannya dan menatap gadis itu heran.


"A-ada apa?" Leonard menahan diri untuk tidak tertawa geli. Tidak biasanya Helena yang gengsinya setinggi langit tiba-tiba mengucapkan terima kasih tanpa perlu dipaksa lebih dulu.


Kedua pipi Helena perlahan merona merah gara-gara malu. Wajahnya ditolehkan ke lain arah agar Leonard tidak bisa menyadari perubahan raut wajahnya.


"Nggak. Kupikir aku bakal datang sendirian aja. Berkat kamu, aku jadi nggak kesepian di sana.." Helena tulus mengucapkan rasa terima kasihnya dari lubuk hati terdalam.


Di lain sisi, senyuman manis Helena membuat jantung Leonard berdetak makin cepat.


Deg deg deg


Ini bukan kali pertama Leonard melihat senyuman lebar Helena yang diam-diam menawan, namun kali ini senyuman itu tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari sebelumnya.


'Aku pasti udah gila!' batin Leonard dalam hati.


Setelah beberapa menit mengantri parkir, akhirnya tiba giliran Leonard dan Helena turun dan pergi ke ballroom tempat acara diselenggarakan.


...🎇...


...🎇...


"Dion, akhirnya kau tiba juga."


Kedatangan Dion di sambut hangat oleh Caesar yang bangkit dari duduknya.


Di depan lelaki itu terdapat dua orang dewasa yang tak Dion kenal. Tapi bila dilihat secara seksama, wajah pria itu mirip dengan b@j!ngan yang mengaku sebagai ayah biologisnya.


"Jadi dia yang kau ceritakan, nak?" Pria itu bertanya pada Caesar yang berjalan menghampiri Dion.


Layaknya saudara yang lama tak berjumpa, Caesar menarik Dion ke dalam pelukan hangatnya. "Ya, ayah. Dia yang bernama Dion. Dan dia adalah ponakan yang belum kau ketahui sebelumnya."


Seketika itu juga tubuh Dion membeku. Dia tak menyangka akan dipertemukan dengan orang tua Caesar secepat ini. Tak salah lagi, sepasang pria dan wanita yang duduk di sofa panjang dalam ruangan itu adalah ayah dan ibu kandung Caesar.


"A-ah, perkenalkan, nama saya Dion.." Dion panik, bingung harus memperkenalkan diri yang bagaimana.


Statusnya di sini hanyalah anak h@r@m yang bahkan tak diakui oleh ayah biologisnya sendiri. Dion tak punya muka berhadapan langsung dengan adik kembar ayahnya.


Pria berambut hitam itu lantas bangkit berdiri. Meski usianya tak lagi muda, namun garis wajah yang tajam serta badan yang masih terlihat atletis menambah kesan kuat yang mengintimidasi.


"Hahaha, hebat! Aku sama sekali tidak menyangka memiliki keponakan yang hampir seusia puteraku sendiri!" Tiba-tiba pria itu tergelak dalam tawa.


Ekspresinya sudah tidak sedingin sebelumnya.


"Ck, Ayah, kendalikan tawamu itu. Kalau ada yang dengar, mereka akan curiga nanti!" tegur Caesar pada sang ayah.


Sementara itu, satu-satunya wanita di antara ketiga pria di sana hanya memandangi Dion dalam diam. Dion sampai mati kutu gara-gara salah tingkah.


"Wah~ James benar-benar orang paling br3ngs3k yang pernah kutemui. Anak sudah sebesar ini tapi dia sama sekali tidak peduli. Daripada kedua anaknya yang bodoh itu, lebih baik kami memilihmu sebagai kaki tangan Caesar ketimbang mereka!" celetuk wanita berambut coklat muda itu.


Ayah dan anak itu mengangguk setuju. "Benar. Dari wajahmu sudah kelihatan kalau kau lebih pintar dan dapat diandalkan ketimbang dua anak babi itu. Hmm...apa kau mau bekerja di sini bersama kami, nak Dion?" Tiba-tiba ayah dari Caesar memberikan tawaran spesial.


Dion telah memikirkan hal ini secara matang. Serena telah lulus dari kuliah dan sudah menjadi istri dari seorang Julian Collin. Tugasnya menjaga Serena sudah tergantikan oleh Julian, maka dari itu sekarang Dion akan mencari kesibukkan lain agar tidak merasa kesepian.


Terbang ke tempat di mana Caesar tinggal merupakan pilihan satu-satunya yang Dion punya. Walau itu berarti peluang dirinya akan bertemu dengan ayah biologisnya cukup besar, Dion nekat datang ke sana agar tidak merepotkan Serena lagi.


"Meski itu artinya kau bisa saja bertemu dengan James sewaktu-waktu. Apa kau sudah siap menerima risikonya?"


Dion tak akan mundur dari keputusannya lagi. Baginya masalah keluarganya hanyalah masa lalu. Di masa ini, Dion hanya ingin melakukan apa yang hatinya inginkan.


"Ya, saya siap. Orang itu tak punya hak atas saya, saya tidak akan takut menghadapi orang itu, bahkan jika memang diperlukan, saya sudah siap berperang melawannya!"