
Mereka masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi dulu, waktu keduanya masih sering bersama. Sebelum Alfa bertunangan.
Mereka baru saja duduk di meja kosong ketika Ainsley mendengar ponselnya berbunyi. Ia menatap
layar ponselnya. Austin yang menelpon. Kenapa pria itu menelpon?
"Halo?"
"Kau di mana?"
"Tempat makan."
"Dengan siapa?"
Dalam kebingungan Ainsley menatap ponselnya, lalu menempelkannya
kembali di telinga. Kenapa dengan
Laki-laki itu? Nada suaranya terdengar dingin tidak seperti tadi pagi. Dasar labil.
"Teman," jawab Ainsley berusaha menetralkan intonasinya. Ia tidak mau Alfa melihatnya berdebat dengan sih penelpon yang adalah suaminya sendiri itu.
di ujung sana Austin mendengus kesal.
"Ada ada menelponku?" tanya Ainsley lagi. Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar,
"Hanya ingin bertanya saja," setelah berkata begitu telpon langsung terputus. Austin menutupnya sepihak. Tanpa pamit dan bilang-bilang dulu.
Ainsley yang kesal sontak mematikan ponselnya dan menatap Alfa yang jadi ikut menatapnya dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu pelayan datang dan menanyakan pesanan.
***
Hari ini Austin bertemu dengan seorang klien di sebuah restoran kecil. Kliennya yang sudah kakek-kakek itu ingin makan di restoran kecil dan ramai begini. Kalau tidak berpikir kakek itu adalah salah satu orang yang cukup dekat dengannya dan dia hormati, Austin pasti tidak akan rela datang ke tempat ramai dan agak kecil ini.
Namun, Austin sekarang merasa berterimakasih pada sih kakek yang membawanya ke restoran ini. Karena ia bisa melihat Ainsley. Ia baru sadar ternyata kampus gadis itu tak jauh dari restoran ini. Tapi gadis itu tidak datang sendiri. Ada seseorang bersamanya. Bukan teman-teman perempuannya yang seperti biasa, tapi seorang pria.
Siapa pria itu? Austin berusaha menahan diri untuk tidak menghampiri istrinya. Tempat ini ramai. Dia tidak mau berbuat kacau di keramaian. Apalagi sekarang dirinya sedang bersama kakek tua ini.
Austin terus mengamati mereka. Ia melihat Ainsley dan pria itu
menempati meja di dekat jendela. Walau cukup jauh dari tempatnya, Austin bisa melihat mereka dengan jelas.
Si laki-laki tidak henti-hentinya tersenyum dan berbicara, Ainsley juga sering tersenyum dan sesekali menanggapi kata-kata pria itu.
Austin tampak tidak suka melihat kebersamaan mereka. Tidak suka melihat Ainsley tertawa pada laki-laki lain. Ia lalu permisi sebentar pada kakek itu untuk menelpon.
Pria itu merogoh ponsel di sakunya lalu menelpon Ainsley. Ia ingin mendengar bagaimana gadis itu menjawab pertanyaannya. Awas saja kalau berbohong.
Ketika mereka berbicara di telpon, Ainsley memang tidak berbohong. Tapi ia tidak mengatakan kalau dirinya sedang bersama dengan teman prianya.
Siapa sih sebenarnya pria brengsek yang mengajak istrinya makan itu? Sialan. Austin ingin sekali menarik Ainsley pergi dari situ sekarang juga tapi terus di tahannya.
Setelah menutup telpon sepihak, Austin kembali ke meja tempatnya duduk bersama si kakek sekaligus kliennya itu. Mereka mulai membahas bisnis meski sesekali Austin masih mencuri-curi pandang ke tempat Ainsley duduk bersama laki-laki yang tak di kenalnya itu.
Sementara sang kakek bicara, mata Austin terus fokus ke tempat lain. Mungkin sudah lebih dari lima belas menit mereka berada di restoran itu dan kini kedua orang di ujung sana, yang sejak tadi menjadi perhatiannya berdiri dari tempat mereka dan berjalan keluar.
"Apa yang kau lihat, Austin?" tanya kakek itu. Austin biasa memanggilnya kakek. Fu. Salah satu pemegang bisnis terbesar di perusahaannya. Kakek Fu juga merupakan sahabat baik mantan kakeknya. Hubungan mereka bisa di bilang cukup dekat. Austin menghormati orang tua itu seperti ia menghormati almarhum sang kakek. Makanya tadi ia tidak bisa bertindak sembarangan.
Kakek Fu adalah orang yang sederhana, meski hartanya banyak. Tidak heran kakek tua itu mengajaknya makan di restoran kecil seperti ini. Kakek Fu juga sudah menganggap Austin sebagai cucunya sendiri. Ia hanya punya seorang anak yang tinggal di China, tapi belum punya cucu. Jadi, kakek Fu menempatkan Austin sebagai cucunya. Apalagi keluarga pria itu sudah tidak ada.
"Aku melihat seseorang yang aku kenal tadi, tapi sudah pergi." sahutnya. Ia tidak bisa sembarangan menyebut kalau tadi ia sedang melihat istrinya makan dengan pria lain. Apa yang akan dipikirkan kakek Fu nanti. Bisa-bisa kakek itu berpikir gadis yang menikah dengannya bukan gadis yang baik lagi.
"Oh ya, kapan kau akan membawa istrimu menemuiku?" tanya kakek Fu lagi.
Kakek Fu tidak bisa hadir di hari pernikahan Austin karena hari itu ia sedang berada di China, mengunjungi anaknya. Tapi ia sudah tahu Ainsley telah punya tunangan yang sengaja di jodohkan oleh sahabatnya, kakek pria itu tentu saja. Austin juga memberinya undangan pernikahan waktu itu, sayangnya sudah terlambat karena sang kakek sudah berangkat.
"Aku akan mencari waktu kosong." jawab Austin. Kakek Fu mengangguk-angguk. Mereka kemudian kembali membahas bisnis.
***
Di parkiran mobil di luar restoran, Alfa menawari Ainsley untuk mengantar gadis itu pulang.
"Kau mau pulang? Bagaimana kalau ku antar?"
Ainsley menggeleng dan tersenyum tipis.
"Tidak usah. Aku belum mau
pulang."
Alfa berdiri di samping mobil putihnya dan bertanya lagi,
"Kalau begitu kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu." tawarnya.
Ainsley menggeleng lagi.
"Tidak usah. Kau pasti sibuk. Pergi saja dulu."
Karena tidak bisa membujuk Ainsley, Alfa akhirnya melambaikan tangan
dan bersiap membuka pintu mobilnya.
"Jangan lupa hubungi aku kalau kau tertarik dengan pekerjaan yang kita bicarakan tadi," kata pria itu sebelum masuk ke mobil lalu pamit pergi.
Ainsley memerhatikan mobil putih itu membelok di sudut jalan dan mengembuskan napas. Ia berbalik dan mulai berjalan pelan. Karena teringat ponselnya yang tadi ia
matikan, ia merogoh tas dan menyalakan alat komunikasi itu segera setelah menemukannya.
Ainsley teringat pada Austin yang tiba-tiba menelponnya tadi dan bicara tidak jelas. Ia berjalan meninggalkan tempat itu sambil terus berpikir.
Entah kenapa ia memiliki firasat aneh. Ia kembali mengingat-ingat apa yang di katakan Austin di telpon tadi.
Kau di mana, dengan siapa?
Ainsley terus mengulang-ulang kalimat-kalimat pendek itu di kepalanya. Sebenarnya apa maksud Austin bertanya seperti tadi? Kecuali kalau pria itu melihatnya sedang bersama Alfa di resto...
Gadis itu langsung menutup mulutnya. Ia berhenti sebentar dan berbalik menatap ke restoran kecil yang dia masuki bersama Alfa tadi, yang mulai jauh dalam pandangannya.
Apa Austin ada di restoran itu juga? Apa pria itu melihat dia masuk dengan Alfa karena itu dia bertanya? Astaga, mudah-mudahan pikirannya tidak benar. Mana mungkin seorang Austin bisa makan di restoran kecil begitu. Ainsley berusaha meyakinkan dirinya sendiri, namun ia masih ragu. Bukan tidak mungkin juga Austin makan di tempat kecil begitu.
Ainsley menghela nafas. Sudahlah. Sekalipun Austin melihatnya makan dengan pria lain, bukan berarti dirinya selingkuh kan? Ia tidak perlu takut.
Gadis itu melanjutkan langkahnya ke arah kampus. Hari ini ia masih ada kuliah sore sekitar jam empat. Memang masih dua jam dari sekarang tapi ia akan menunggu sambil membaca buku di perpustakaan saja. Daripada harus bolak-balik.
Tadi kata Dara, gadis itu juga sedang di perpustakaan. Mereka bisa menunggu bersama sampai kelas di mulai, sekaligus berbincang jika bosan.