Mine

Mine
Ada Udang Dibalik Batu



Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Serena dan Julian telah sampai di bandara internasional yang ada di Roma, menggunakan jet pribadi yang disediakan oleh Tuan Joseph.


Padahal Serena berharap mereka bisa bepergian menggunakan transportasi umum seperti orang-orang normal pada umumnya. Namun sekali lagi, Serena lupa dengan siapa dia berurusan.


Tentu saja Tuan Joseph akan menyiapkan fasilitas mewah dan nomor satu untuk semua anak-anaknya, tanpa terkecuali. Apalagi hubungan Tuan Joseph dan Julian cukup lama renggang gara-gara satu perempuan rubah itu. Maka tak heran bila sekarang Tuan Joseph ingin menunjukkan seberapa besar kasih sayangnya terhadap Julian dengan memberikan segala fasilitas serta uang yang tak terkira pada putera bungsunya.


"Agak dingin ya? Tapi nggak separah di rumah. Mantelmu jangan sampai di lepas ya?" Julian memastikan sekali lagi, mantel bulu yang membalut tubuh Serena masih melekat sempurna.


Berhubung ini musim liburan, jelas saja kondisi di sekitar sana juga tampak ramai. Banyak turis juga sama seperti mereka, Serena jadi bersemangat kembali memulai liburan ini.


"Kita ke hotel dulu ya? Istirahat sebentar sambil mutusin ke mana tujuan kita selanjutnya," ajak Julian kemudian.


Mobil jemputan mereka telah tiba, barang-barang keduanya juga telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Serena bahkan tak di beri kesempatan memegang koper miliknya sendiri.


Tapi sisi baiknya, Serena tak terlalu merasa lelah berkat bantuan dari banyak orang.


'Ini fasilitas mewah yang nggak akan bisa kamu rasain kalau bukan karena Julian, Serene, jadi cukup nikmatin aja semuanya!' Serena sedikit minder tapi juga senang.


Bahkan meskipun Tuan Philip juga sanggup menyediakan fasilitas mewah seperti ini, pria itu tak pernah memberikannya pada Serena. Jadi Serena sedikit minder atas semua perhatian Tuan Joseph kepada Julian.


.


.


"Selamat datang kembali. Maaf aku nggak bisa menyiapkan sesuatu yang istimewa untukmu menyambut kedatanganmu."


Dion menyambut Caesar yang baru saja tiba di bandara. Ini cukup mendadak, bahkan Dion yakin Caesar tidak memberitahu Serena terlebih dulu.


Penyambutan Dion sedikit mencengangkan Caesar. Dia belum begitu akrab dengan Dion, namun Dion tampaknya ingin membangun hubungan yang baik antar saudara.


"Ya, lumayan melelahkan. Tapi ini cukup penting, jadi aku harus datang sendiri ke sini." Mata Caesar memeriksa tubuh Dion dari atas sampai bawah.


Sejak Dion ikut keluarga Collin dan Serena, tubuh Dion kelihatan jauh lebih segar dan terawat dari pada sebelumnya. Bagus kalau begitu, itu artinya Dion hidup dengan layak di sini.


"Kita langsung ke hotel tempatku menginap aja. Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu," Caesar mengajak Dion ikut naik mobilnya.


Kedatangan Caesar tidak diketahui siapapun, termasuk Elliot yang masih ada di kota itu, sementara Julian dan Serena sedang pergi liburan.


"Sebenernya Serena juga harus mendengar hal ini, tapi gimana lagi, dia nggak ada di sini, jadi sebagai gantinya kau aja yang nanti kasih tau dia," ujar Caesar pada Dion.


"Baik, aku mengerti."


Meski sikap Dion masih sedikit kaku dan canggung, tapi Caesar cukup puas dengan perkembangan ini.


'Well...punya saudara yang penurut nggak ada salahnya juga 'kan? Bukankah ini lebih baik?' Caesar akan menasehati Dion nanti, yang terpenting sekarang adalah urusan bisnis yang berkedok keluarga.


"Aku akan beritahu ringkasannya di dalam mobil nanti. Sebelum itu, lebih baik kita makan siang terlebih dulu. Aku sangat lapar sekarang."


Ekspresi Caesar tampak seperti karakter angry bird yang selalu terlihat garang. Sebenarnya Dion sama sekali tidak takut pada Caesar, malah Dion sering menemui orang yang lebih sangar dan mengerikan dari Caesar. Tapi karena Caesar adalah saudara, jadi Dion harus lebih menghormati pria itu.


Dari situ Dion tahu, bahwa Caesar bukan orang sembarangan. Pria itu dengan mudah menyembunyikan segala informasi yang menyangkut tentang dirinya, dan itu bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan.


'Selalu berhati-hati pada Caesar...bahkan aura pria ini terasa mengintimidasi hanya dalam sekali pandang.' Dion tahu, ini salah untuk dilakukan sebagai saudara, tapi dia tidak bisa untuk bersikap natural bila berhadapan dengan pria itu.


"Oh, iya. Mungkin dalam waktu dekat, kau akan ikut denganku pergi ke Itali."


"Ya? Itali? Bu-buat apa?" Dion pernah pergi ke luar negeri, tapi itu untuk kepentingan organisasi semata, bukan untuk liburan.


Mungkin kali ini juga akan sama.


"Mengejar penculik yang berani bawa kabur tuan puteriku, he he he." Senyum yang Caesar tampilkan tampak sangat menyeramkan, seakan menyimpan dendam kesumat.


'Tuan puteri? Oh...maksudnya Serena ya?' Dion pikir dia dapat menebaknya secara kasar.


Serena 'kan sedang liburan ke Roma, apa Caesar berencana menyusul Serena dan Julian ke sana? Memangnya apa yang membuat Caesar khawatir setengah mati pada Serena?


"Bukannya mereka cuma liburan di sana? Apa perlu sampai menyusul mereka segala?" Dengan semua keberaniannya, Dion bertanya.


Caesar menengok sangat cepat, bahkan matanya melotot menatap Dion dan membuat sepupunya itu gemetar ketakutan. "Cuma katamu?! CUMA?! KAU NGGAK TAU APA YANG BISA DILAKUKAN SEPASANG KEKASIH YANG HANYA TINGGAL BERDUA DI SATU KAMAR HOTEL?! NGGAK!!! AKU NGGAK AKAN BIARIN SI RAMBUT PUTIH ITU MENYENTUH SERENAKU SEBELUM WAKTUNYA!!!"


Caesar tiba-tiba berteriak histeris sambil mengacak rambutnya bak orang frustasi.


"Hahahah. Tidak perlu bingung, tuan muda Dion. Tuan Caesar hanya terlalu mengkhawatirkan adik kesayangannya itu. Tenang saja tuan Caesar, tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada nona Serena. Tuan muda Collin pasti akan menjaga beliau dengan sangat baik," Oliver menyahuti dari kursi pengemudi.


"Bicara sekali lagi, akan kurobek mulutmu ini! Cepat jalankan saja mobilnya dengan benar! Tidak usah ikut campur urusan tuanmu!" Caesar mencengkram leher Oliver dari belakang. Dia tidak benar-benar mencekik asistennya itu kok, atau mungkin belum?


Ya pokoknya Caesar kesal lantaran Oliver menyepelekan kekhawatirannya ini.


Ini bukan kali pertamanya Dion melihat kebarbaran Caesar di depan matanya, tapi tetap saja masih sedikit menakutkan baginya.


Caesar di mata Dion tak ubahnya seperti predator berdarah dingin, terutama jika sudah menyangkut soal Serena. Pria itu bisa menjelma bak iblis yang siap melenyapkan nyawa siapa saja yang berani menyentuh Serena, adik sepupu kesayangannya.


"Bukankah mereka sudah berjanji akan menikah tahun depan? Aku rasa, nggak ada salahnya kalau mereka bermesraan lebih dari biasanya. Itu bagus 'kan untuk mempererat hubungan mereka?" Tanpa sadar Dion semakin menyiramkan minyak ke dalam api yang berkobar.


Caesar yang sudah bersusah payah menahan kegelisahannya sontak saja meledak detik itu juga.


Bayangan si serigala berbulu domba (re: Julian) berniat memangsa adiknya benar-benar menjadi mimpi buruk untuk Caesar.


"PUTAR BALIK MOBILNYA SEKARANG JUGA! KITA HARUS SEGERA KEMBALI KE BANDARA DAN TERBANG MENUJU KE ITALI! SEKARANG!"


"HAH?! APA?!"


Oh tidak, bahkan ini makin parah dari yang Oliver bayangkan. Sedari awal Oliver sudah menaruh curiga dengan alasan si tuan mudanya itu ingin menemui Dion secara langsung. Ternyata benar dugaannya selama ini, itu hanya alibi Caesar supaya bisa menyusul Serena yang sedang menikmati liburan tahun barunya bersama dengan Julian.


Kalau sudah begini, apa boleh buat. Oliver akan berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan tuan mudanya dari Serena dan Julian, serta memastikan supaya Caesar tak akan mengganggu sedikitpun liburan berharga sepasang kekasih itu.


Ya, berdoa saja agar Oliver bisa menangani Caesar dengan sangat baik di sana nanti.