
Saat Narrel menawarkan minum pada Austin, pria itu tidak bilang apa-apa, hanya menunduk lesuh.
Narrel menghela nafas. Dengan kondisi Austin sekarang ini, ia yakin pria itu butuh minum. Tanpa bertanya lagi Narrel membawa Austin di sebuah bar tak jauh dari kantor mereka.
Austin minum banyak. Ia menghabiskan hampir enam botol red wine. Narrel sampai garuk-garuk kepala melihatnya. Ia sendiri tidak berencana untuk minum. Ia takut mabuk. Bagaimana caranya mengantar Austin coba kalau mereka sama-sama mabuk.
"Kau tahu, baru kali ini aku merasa frustasi karena seorang wanita," racau Austin dengan gaya mabuknya. Pria itu jarang mabuk, jadi Narrel merasa lucu.
Ia tiba-tiba terpikir sebuah ide. Pria itu lalu merogoh ponsel di saku Austin, mencari kontak Ainsley kemudian menelpon gadis itu. Membiarkan Ainsley mendengar semua perkataan Austin. Ketika setelah menelpon, Narrel menarik Austin turun dari meja bar dan membawanya ke ruang kedap suara biar suaranya bisa kedengaran di telpon.
Di seberang sana, Ainsley yang sudah membersihkan dirinya dan bersiap-siap tidur menoleh ke ponselnya yang berdering. Siapa sih yang menelponnya malam-malam begini?
Dengan langkah malas ia mengambil ponsel di atas nakas. Dahi gadis itu berkerut ketika melihat nama Austin di daftar panggilan. Kenapa pria itu menelponnya? Bukankah pria itu sedang marah padanya? Ainsley menghembuskan nafas panjang kemudian meletakkan ponsel di telinganya setelah menekan layar berwarna hijau.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Austin. Samar-samar Ainsley mendengar bising-bising di ponselnya dari seberang sana. Di mana pria itu sekarang?
"Kau tidak punya mulut?" tanya Ainsley ketus namun setelah lama menunggu, pria itu tidak menjawab juga. Bising-bising yang di dengarnya tadi mulai hilang perlahan. Sebenarnya pria itu di mana sih?
"Dengar Austin, kalau kau tidak bicara juga aku akan menutup telponnya." kata Ainsley lagi. Ia bersiap menutup telpon namun suara Austin menghentikannya.
"Mungkin aku sudah jatuh cinta padanya,"
"Pada siapa?" tanya Narrel sengaja. Ia tahu Ainsley pasti sedang mendengar sekarang, jadi ia harus membuat gadis itu tahu siapa yang tengah di bicarakan Austin dalam mabuknya.
"Siapa lagi, tentu saja istriku yang cantik dan keras kepala itu."
Narrel tersenyum puas. Bukankah dia sangat pintar?
Ainsley sendiri yang berada di ujung sana tertegun mendengar ucapan Austin. Betul, itu memang suara Austin. Tapi, pria itu mabuk? Ia pergi minum-minum?
"Awalnya aku berniat menikahinya hanya karena menginginkan tubuhnya dan membutuhkan keluarga. Ia juga kebetulan adalah perempuan yang di jodohkan denganku jadi tidak sulit bagiku memaksanya menikah denganku. Tapi, setelah melewati beberapa waktu dengannya, bahkan ketika kita berdua berada di Hawaii, aku mulai menyadari perasaanku. Itu bukan hanya napsu, tapi cinta. Aku mungkin sudah jatuh hati pada Ainsley. Bahkan sepanjang hari ini hanya dia yang terus ada dalam pikiranku." Austin terus meracau. Ia sudah mabuk berat. Namun yang ada dalam benaknya saat mabuk tetap adalah Ainsley.
Bukan hanya Ainsley. Narrel ikut tertegun. Ainsley mungkin tidak bisa lihat keadaan Austin sekarang. Namun di mata Narrel, Austin terlihat sangat kacau. Ternyata sahabat sekaligus bos nya itu sudah menetapkan hatinya pada satu gadis. Dan kini, ia punya masalah hati.
Hari ini pertama kalinya Austin bicara tentang wanita. Wanita yang di sukainya tentu saja. Bahkan sebagai pria, Narrel merasa Ainsley sangat beruntung. Ia tahu Austin itu walau di luar terlihat kejam dan suka berbuat seenaknya, tapi hatinya sebenarnya sangat baik. Apalagi pada orang-orang yang dia sayangi.
Austin juga adalah lelaki yang sangat setia. Bisa Narrel pastikan itu. Austin tidak pernah menyentuh satu wanita pun selama ia hidup melajang. Kurang apalagi coba. Ia bertaruh Ainsley pasti menyesal kalau sampai menyia-nyiakan seorang Austin.
Sementara itu Ainsley masih terdiam. Apakah semua perkataan Austin benar? Atau lelaki itu sedang mengerjainya? Bisa saja kan ia sengaja bilang begitu untuk merayunya?
Tapi, sepertinya suaminya itu sedang mabuk berat. Biasanya perkataan orang mabuk selalu jujur. Iya kan?
Jantung Ainsley berdegup tak karuan. Bagaimana kalau semua yang di katakan Austin benar-benar tulus dari hatinya? Bagaimana ia akan menghadapi laki-laki itu nanti? Apakah benar kata kebanyakan orang yang bilang, perasaan cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu?
suara di ujung sana membuat perhatian Ainsley teralih. Kali ini yang bersuara bukan Austin. Pasti Narrel, sekretarisnya.
"Ya," sahut gadis itu pelan.
"Sekarang Austin sangat mabuk, kau di mana?"
"Rumah. Kau perlu aku ke sana?" jawab Ainsley kemudian bertanya. Biar bagaimana pun ia adalah seorang istri. Setidaknya ia akan mencoba menjadi istri yang baik sekarang.
"Tidak usah, aku akan mengantarnya sekarang. Kau tidak keberatan mengurusnya malam ini bukan?"
pertanyaan Narrel membuat Ainsley mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti maksud kata mengurus menurut Narrel itu seperti apa namun ia mengangguk saja.
"Baiklah," jawabnya. Setelah itu telpon terputus.
***
Hampir satu jam Ainsley menunggu sampai akhirnya Narrel dan Austin sampai. Gadis itu menunggu mereka di ruang tamu. Jadi ia langsung menuju pintu depan dan membukakan pintu ketika mendengar mobil Narrel memasuki rumah itu.
Ainsley termangu di depan pintu masuk rumah. Yang pertama ia lihat adalah kondisi Austin yang benar-benar sudah kacau. Berapa banyak pria itu minum?
Ainsley sendiri masih tidak percaya Austin minum-minum hanya karena dirinya. Posisinya belum sepenting itu kan di mata seorang Austin?
Pasti Austin merasa stress dengan masalah di kantor. Kan akhir-akhir ini ia sibuk mengurus masalah kantor. Ainsley mulai menduga-duga sendiri.
"Sampai kapan kau di situ? Tidak membantu?" kata Narrel yang tampaknya kesulitan memapah tubuh tinggi Austin.
Ainsley tersenyum tanpa dosa kemudian berlari kecil, ikut membantu Narrel memapah Austin. Pria itu sudah mabuk berat. Matanya terus tertutup meski sesekali masih meracau.
Setelah sampai kamar, keduanya meletakkan Austin di tempat tidur. Narrel dan Ainsley mengatur nafas mereka sebentar karena kelelahan memapah Austin sampai ke lantai dua.
"Aku membantu sampai di sini saja, selanjutnya kau." ucap Narrel setelah selesai mengatur nafas. Pandangannya lurus ke Ainsley yang balas menatapnya.
"Apa yang harus ku urus? Bukankah dia sudah tidur?" tanya gadis itu. Ia belum pernah berhadapan dengan orang mabuk sebelumnya. Narrel tertawa kecil.
"Lap wajah, tangan dan kakinya dengan air hangat. Setelah itu ganti bajunya."
"Hah?!" seru Ainsley kaget. Ganti baju? Haruskah dia yang ganti?
"Kenapa, kau istrinya bukan? Itu tanggung jawabmu Ainsley." kata Narrel. Mau tak mau Ainsley terdiam. Benar juga kata pria itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Narrel setelah melirik jam tangannya.