
"Dia kenapa?"
Narrel berjalan cepat pada Austin yang masuk ke dalam Villa dengan menggendong Ainsley. Pria itu menatap penampilan keduanya yang basah dan kotor dengan lumpur.
"Jatuh di air," sahut Austin terus melanjutkan langkah menuju kamar. Narrel hanya termangu melihat mereka sampai keduanya menghilang dari hadapannya.
Ada-ada saja. Pikir Narrel. Apa yang mereka lakukan sampai jatuh ke dalam air. Jangan bilang kalau mereka berdebat lagi. Lelaki itu menggeleng tidak habis pikir.
"Tuan Austin dan istrinya kenapa?"
pandangan Narrel berpindah pada Iren yang sudah berdiri di belakangnya. Entah muncul darimana. Bukannya wanita itu tadi ada di taman belakang, lagi sibuk menyiapkan perayaan ulang tahun kecil-kecilan untuk pacarnya bersama yang lain.
"Jatuh di air katanya," sahut Narrel.
"Persiapan buat nanti malam sudah selesai?" tanya pria itu. Iren menggeleng.
"Hampir," jawabnya.
"Anda istirahat dulu saja, tuan. Nanti saya panggil kalau sudah siap." kata Iren. Ia sudah berterimakasih sekali karena atasannya itu mau meminjamkannya tempat untuk merayakan ulang tahun sang pacar, apalagi membantunya mengajak bos utamanya Austin.
Karena itu Iren menjadi tidak enak kalau Narrel membantunya lagi menyiapkan acara. Makanya ia menyuruh pria itu istirahat saja dulu.
"Iren," suara berat itu membuat Iren mendongak menatap Narrel. Ekspresinya datar seperti biasa.
"Panggil aku Narrel saja. Jangan terlalu formal karena kita tidak sedang di kantor." ujar Narrel. Jujur ia sebenarnya tidak suka di panggil tuan. Menurutnya sangat tidak cocok dengannya.
"Baik tu.., eh, Nar..rel," Iren masih merasa canggung memanggil sang atasan dengan nama. Ia melihat pria didepannya itu tertawa.
"Begitu lebih baik. Ya sudah, yang lain mungkin mencarimu sekarang. Kau harus pergi." Iren cepat-cepat membalik badan kembali ke taman belakang.
Narrel menggeleng-geleng. Walau asistennya itu sangat kaku orangnya tapi cukup pintar dan cekatan, juga pekerja keras. Menurut Narrel, terlalu sia-sia Iren berpacaran dengan penjilat seperti Demon, kekasihnya itu.
Narrel yakin sekali Demon memacari Iren hanya untuk memanfaatkan gadis itu. Narrel sudah beberapa kali melihat perlakuan Demon yang sangat cuek pada Iren. Malah sibuk mencari cara buat ngobrol dengan Austin. Narrel masih tidak habis pikir kenapa Iren mau dengan pria tidak becus seperti itu.
***
"Mandilah lebih dulu," gumam Austin sambil menurunkan tubuh Ainsley perlahan-lahan dalam bathtup di kamar mandi. Tubuh keduanya sudah bau akibat air danau yang kotor itu. Austin memasang air hangat supaya Ainsley bisa berendam sepuasnya.
"Bagaimana denganmu, kau belum mau mandi?"
Ainsley sama sekali tidak sadar kalau pertanyaannya itu memberikan alarm buat Austin. Austin memang merasa dirinya sudah bau dan sangat kotor. Ia juga ingin membersihkan dirinya secepat mungkin namun ia ingat dengan janjinya pada Ainsley. Itu sebabnya ia berusaha keras menahan diri untuk tidak tergoda. Apalagi dalam keadaan basah begitu, tubuh istrinya makin terlihat sexy. Semua lekukan dibagian tubuh gadis itu terpampang dengan jelas.
Tinggal sepuluh hari lagi dan janji yang sudah ia sepakati bersama gadis itu berakhir. Ainsley tidak bisa menolaknya lagi saat perjanjian itu berakhir.
Tinggal sepuluh hari lagi,
Tinggal sepuluh hari lagi...
Austin terus menguatkan diri dengan berkata tidak lama lagi ia benar-benar akan bisa menyentuh Ainsley semaunya. Jadi hari ini tahan saja dulu.
"Aku akan mandi di kamar Narrel." ucap Austin pelan lalu ke luar dari situ.
Austin berjalan dengan cepat menuju kamar Narrel di lantai dua. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara-suara aneh dari ruangan sebelum kamar Narrel.
Karena penasaran Austin mengubah arah dan melangkah mendekati ruangan yang terbuka lebar itu. Matanya menganga lebar mendapati dua orang di ujung sana tengah melakukan hal yang tidak senonoh.
Austin mengira pria itu adalah Narrel. Ternyata dia salah. Ia ingat kalau tidak salah tadi pagi pria itu memperkenalkan diri namanya Marcel. Dan kini Marcel sedang bermain api dengan wanita yang di bawah Marcel, itu Yuka. Mereka berdua telanjang dan posisi Yuka berada di atas Marcel. Yuka sepertinya yang memimpin kegiatan itu. Tangannya sibuk mengocok milik Marcel yang sudah berdiri tegak.
"Ah.., benar d....si..tu,"
"Faster..umph..." desah Marcel kuat. Wajahnya sangat menikmati permainan Yuka.
Austin menatap jijik ke mereka. Setahunya mereka baru saling kenal tadi pagi. Ini bahkan belum terhitung satu hari dan mereka sudah melakukannya? Astaga. Austin tidak mengerti dengan pikiran anak muda jaman sekarang. Semudah itu mereka merusak diri mereka sendiri dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh seperti itu sebelum menikah. Bahkan di sembarang tempat.
Ia tidak menampik kalau dirinya pun ingin merasakan kenikmatan seperti itu. Tapi ia akan melakukannya dengan wanita yang dia inginkan, bahkan ia cintai. Bukan sembarang wanita.
Yuka dan Marcel terus melakukan kegiatan panas itu. Mereka sama sekali belum menyadari seseorang tengah menonton mereka. Ketika hampir sampai di ujung dan Yuka tanpa sengaja menghadap ke pintu, ia kaget bukan main melihat Austin yang berdiri di ambang pintu. Detik itu juga, gerakan wanita itu terhenti. Membuat Marcel yang berada dibawahnya berdecak kesal. Padahal sudah di ujung sekali dia akan keluar. Sialan.
"Apa yang kau lakukan, jalan g!" maki Marcel kesal. Matanya mengikuti pandangan Yuka dan ikut kaget. Pria itu cepat-cepat mendorong wanita yang masih duduk di atasnya itu dan cepat-cepat berdiri memakai bajunya. Mereka tertangkap basah, brengsek.
"Austin, kau dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi tahu." seru Yuka berlari mendekati Austin tanpa memakai pakaiannya dulu. Sayangnya tubuh polosnya sama sekali tidak membangkitkan gairah Austin. Hanya perasaan jijik yang memenuhi pikirannya saat melihat wanita. Sekali lagi, Austin sudah tidak bisa menghitung berapa banyak wanita yang sudah berdiri telanjang didepannya dan sampai sekarang tidak ada yang di antara mereka yang membuatnya bergairah.
"Kenapa dengan penampilanmu ini?" Yuka mencoba memegangi wajah Austin tapi pria itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Singkirkan tangan kotormu itu dariku," kata Austin dengan tatapan tajam. Yuka tersentak. Ia pikir dengan telanjang didepan pria itu, Austin akan tergoda.
Pandangan Austin berpindah ke Marcel yang masih sibuk merapikan pakaiannya dan melirik Yuka lagi.
"Kalau kau mau jual diri, tempat ini tidak cocok untukmu." itulah kata-kata terakhir Austin sebelum meninggalkan mereka berdua. Yuka yang merasa sakit hati, memakai bajunya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.