Mine

Mine
Chapter 74



Saat memutuskan pergi dari rumah Austin, Ainsley jujur tidak tahu mau kemana. Ia tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya. Papa dan mama tirinya belum pulang, hanya ada Deisy di rumah. Dan Ainsley tidak suka ditertawai oleh kakak tirinya itu.  Deisy pasti akan mengatakan semua hal yang membuatnya sakit hati. Ia juga tidak enak mengganggu Dara dan teman-teman yang lain yang cukup dekat dengannya. Uang di tangannya tidak banyak. Ainsley menghembuskan nafas panjang. Memang ada kartu kredit milik Austin  yang pria itu berikan agar dia bisa berbelanja semaunya. Tapi ia sengaja meninggalkannya di rumah. Aneh juga kalau dia kabur bawa-bawa kartu milik orang, bahkan kalau sampai memakai uang milik suaminya itu. Austin pasti menertawainya.


Tapi gadis itu merasa lapar. Ia hanya makan siang tadi dengan Alfa. Malam ini ia belum makan sama sekali. Ia lebih sibuk memikirkan rasa sakit hatinya karena perlakuan kasar Austin. Bagaimana bisa berselera makan coba kalau hatinya dipenuhi dengan kekecewaan terhadap suaminya sendiri.


Ainsley memegangi perutnya yang keroncongan. Pandangannya berhenti pada sebuah toko roti diseberang sana. Kebetulan sekali. Lalu gadis itu memutuskan menyeberang dan masuk ke dalam toko roti itu. Sakit itu tidak enak. Jadi ia harus menjaga kondisi tubuhnya biar tetap kuat. Setelah ini dirinya juga masih harus mencari tempat untuk dirinya menginap.


Setelah membeli beberapa bungkus roti, gadis itu duduk sebentar di emperan toko dan mulai makan rotinya. Baru saja ia mau membuka bungkusan yang kedua, tiba-tiba ada dua orang laki-laki bertubuh kekar menyeretnya dari tempat itu. Ainsley sangat kaget dan berusaha melepaskan diri. ia meronta-ronta dan menjerit sekuat mungkin, berharap ada orang yang mendengar teriakannya dan menolongnya. Sayangnya ia berada di lokasi yang agak gelap dan mulutnya dibekap hingga tak ada yang mendengar teriakannya. Pada akhirnya mereka berhasil menyeretnya masuk ke dalam mobil.


Dalam mobil penculik itu Ainsley tidak diam saja, ia masih terus meronta-ronta namun pada akhirnya salah satu dari pria bertubuh kekar itu memukul bagian belakangnya hingga pandangan gadis itu mendadak gelap dan ia jatuh tidak sadarkan diri.


                                    ***


Austin melompat dari dalam mobilnya dan berlari seperti orang gila menuju ke toko roti yang dikatakan bi Ranti tadi. Walau bi Ranti sendiri tidak memberitahu di mana tepatnya toko roti yang dia bilang di telpon tadi, Austin sudah bisa menebak di mana toko itu. Pernah sekali ia berpapasan dengan wanita tua yang bekerja di rumahnya itu didepan toko. Itu hal yang wajar mengingat letak toko roti itu tidak jauh dari rumahnya.


Bi Ranti berdiri di sana dengan wajah cemas. Di tangannya ia memegangi koper kecil berwarna pink fanta. Austin ingat sekali itu koper milik istrinya.


"Tuan Austin," gumam bi Ranti masih dengan ekspresi yang sama. Ia kelihatan sangat cemas. Apalagi kondisinya yang sudah tua dan tiba-tiba melihat seseorang di culik dihadapannya, tentu saja jantung tidak bisa berdetak normal.


"Bi Ranti lihat ke arah mana mereka menbawa Ainsley?" tanya Austin dengan suara rendah, berat dan amat serius. Ia bersumpah akan menghabisi orang yang menculik Ainsley kalau sampai gadis itu kenapa-napa.


"Mereka ke arah sana tuan." jawab bi Ranti menunjuk ke arah kiri.


"Bibi ingat berapa nomor plat mobilnya?" kini giliran Narrel yang bertanya. Sayangnya bi Ranti tidak ingat sama sekali. Bahkan tidak sempat terpikir untuk melihat plat mobil itu. Ia terlalu gugup dan khawatir tadi sampai-sampai otaknya tidak bisa bekerja dengan baik lagi.


"Kopernya nona Ainsley gimana tuan?" tanya bi Ranti dengan pandangan berpindah-pindah ke Austin dan Narrel.


"Nanti kita yang bawa aja bi. Ini sudah malam, bi Ranti sebaiknya cepat pulang aja." lagi-lagi Narrel yang bicara mewakili Austin. Mau tak mau bi Ranti langsung mengangguk. Narrel tahu Austin sangat tegang dan khawatir sekarang. Narrel jadi penasaran kira-kira siapa yang sengaja menculik Ainsley. Apakah musuhnya Austin? Atau Ainsley hanya kebetulan bertemu dengan orang jahat yang sengaja mau menculik perempuan-perempuan cantik untuk di jual dan dijadikan pelacur. Sekarang kan banyak sekali kasus begitu.


"Lihat itu." Narrel tiba-tiba melihat cctv yang tersembunyi dibalik tiang di atas sana. Bentuknya sangat kecil hingga tak ada yang akan menyangka kalau di jalanan sepi seperti ini ternyata ada cctv yang mengawasi.


Austin mengikuti pandangan Narrel lalu langsung berbalik pergi. Ia ingin segera mengecek jalanan itu lewat cctv yang mereka lihat.


                                   ***


Ainsley membuka matanya dengan terkejut, mengetahui bahwa dia berada di ruangan yang gelap. Dia langsung panik setelah mengingat kejadian dirinya diseret paksa oleh orang-orang jahat tadi.


Astaga! Dia ada di mana sekarang?


Tangannya diikat di belakang, membuatnya pegal, kakinya juga dan mulutnya di sumpah dengan lem. Tempat itu amat gelap dan Ainsley merasa sesak napas. Dia ingin melepaskan ikatan di kaki dan tangannya sekuat tenaga, mencoba menendang-nendang sekencang mungkin, tetapi percuma. Usahanya sia-sia saja karena ikatan itu sangat kuat.


Sampai akhirnya Ainsley terdiam, dengan napas makin terengah dan lemas kelelahan. Oh Tuhan! Kenapa mereka tega sekali melakukan tindakan kejam ini padanya? Siapa yang tega menculik dirinya? Ia yakin sekali dirinya tidak pernah memiliki musuh. Memang ada orang-orang yang tidak begitu menyukainya di kampus. Tapi mereka tidak mungkin berani melakukan penculikan seperti ini.


Austin... Tiba-tiba Ainsley menyebut nama itu dalam hatinya. Berharap Austin akan datang menyelamatkannya. Meski lelaki itu telah membuatnya kecewa, Ainsley tetap saja berharap orang pertama yang menemukannya adalah Austin.


Tiba-tiba kepalanya kembali terasa pening. Lalu semuanya gelap, dan sebelum kesadarannya hilang lagi, Ainsley sempat berpikir bahwa mungkin dia tidak punya kesempatan untuk bertemu Austin lagi.