
Tak akan ada yang mengubahmu kecuali kamu sendiri yang mau mengubah dirimu.
Tiba di sana aku disambut dengan suasana hangat yang membuat aku sedikit melupakan amarah pertama sepanjang usiaku. Aku tahu kepergianku adalah keegoisan terbesarku. Tapi aku tidak peduli karena aku akan melakukannya sendiri dengan kedua tanganku.
Beruntung, pameran yang aku adakan tidak jauh dari sini. Tidak masalah aku bekerja sendiria. Semoga saja ada seseorang yang sudi membantuku nantinya.
"Hotel xxx..." Aku menyebutkan nama hotel yang akan menjadi tempat naunganku selama seminggu. Bicara mengenai hotel, aku jadi teringat foto yang suamiku tunjukan. Jadi tak masalah bukan jika aku bertanya kebenarannya?
"Maaf Pak. Apa benar disini terjadi gempa?" Tanyaku dengan bahasa ibu mereka. Hei jangan salah aku mampu menguasai beberapa bahasa.
"Ya non baru dua hari yang lalu. Kasian banyak diantara mereka yang kehilangan sanak saudara dan hartanya."
"Lalu mereka dimana sekarang?" Tanyaku sangat antusias. Sepertinya aku memilkki sebuah ide.
"Lokasi Penampuangan Non. Kalau dari hotel Nona si lumayan jauh." Jelasnya.
"Kira-kira dengan taksi apakah bisa?" Tanyaku lagi.
"Bisa Nona tapi hati-hati ya. Disini lagi tidak kondusif." Aku mengerti maksud si supir taksi. Lepas mengantarkan aku dia mendapatkan penumpang lagi yang harus dia antar. Tidak buruk juga ada disini.
Saat aku memasuki hotel, aku menghubungi tempat dimana aku akan mengadakan pameran busana disini. Aku mau semua berjalan dengan baik. Memang seminggu disini itu ada alasannya. Pertama pameran busana yang akan aku adakan dua hari dan juga sisanya aku ingin ambil gambar untuk busana yang ada di pameranku nantinya. Karena hanya aku sendiri disini jadi mau tidak mau aku akan mengambil semua job yang ada.
"Kita akan ambil foto selama tiga hari dan saya akan jadi modelnya. Setelah itu, saya mau semua persiapan di pameran sudah sangat matang. Tolong untuk seseorang jemput saya besok karena pekerjaan kita masih banyak." Aku menghubungi seseorang yang memang bekerja sama denganku. Apalagi dia pemilik lokasi yang akan aku adakan pameran nantinya. Ah! sepertinya berendam hari ini tidak buruk.
Di belahan dunia lain, seorang Pria tengah menatap putra kesayangannya yang tertidur lelap setelah menangisi kepergian ibunya. Dia Raskal, si pemilik perusahaan raksasa di negaranya. Raskal pikir menikahi Clara akan membuat gadis cantik itu menuruti perkatannya tapi nyatanya tidak. Apa wanita itu tidak paham bagaimana rasa takutnya kehilangan dia.
"Pergilah. Susul Clara sebelum kamu menyesal nantinya. Pertengkaran dalam rumah tangga memang akan selalu ada. Tapi kamu harus tahu, mengalah dalam hal ini bukan berati kamu buruk. Temani dia, Mama yakin dia sendirian disana."
"Biarkan saja. Toh dia yang menginginkan pergi bukan?" Raskal sudah malas membahas istrinya. Tapi, sejujurnya dia sangat ingin menyusul kesana. Ia sekarang tidak bisa berjauhan dari Clara. Karena wanita itu sudah jadi candu baginya.
"Terserah kamu. Mama cuma katakan yang sejujurnya saja. Jika kamu masih seperti ini, Clara akan anggap kamu memanfaatkan dirinya." Riana keluar dari kamar cucunya meninggalkan putra satu-satunya yang ia miliki sekarang. Ia cuma tidak ingin anaknya menyesal nanti. Ia sangat tahu betapa dewasa Clara. Apalagi sejak kepergian kedua orang tuanya. Gadis cengeng yang ia kenal manja berubah menjadi sosok dewasa yang begitu menawan.
"Apa Papa harus menyusul Mama kamu?" Raskal bertanya pada anaknya yang masih terlelap tidur. Andai istrinya ada disini pasti dia bisa memeluk dan merasakan betapa manisnya tubuh sang istri.
"Bro! Bisa kita bicara?" Charles muncul dengan raut wajah tak enak hati.
Kedua pria itu berjalan keluar dari kamar Raskal dan berbincang diruang kerja Revan yang tak jauh dari sana.
"Ada apa charles?" Tanya Revan malas.
Raskal malas sekali jika harus membahas ini apapagi di sangkut pautkan dengan mantanya. Kan yang salah disini Clara kenapa mantannya harus di bawa-bawa.
"Kenapa kamu bawa-bawa mantanku? Tidak ada hubungannya. Memang adik mu saja pembuat masalah."
"Bodoh! seharusnya kamu ikut dia kesana. Kan bisa sekalian bulan madu. Aku tahu kamu belum mencintainya. Tapi, aku bersumpah Rev kalau kamu melukai adikku sedikit saja. Aku akan bawa dia pergi dari sini dan aku tak akan membiarkan kamu menemukannya." Charles mengancam Revan. Yang membuat kedua mata Revan langsung melotot. Bagaimana bisa dia berpisah dari istrinya sekarang!
Kenapa Revan tidak kepikiran sampai kesana ya? Kan dia bisa berbulan madu dengan istrinya disana. Ditambah lagi, pasti akan menyenangkan jika hanya ada mereka berdua saja disana.
"Aku akan meminta anak buahku untuk menyiapkan pesawat segera. Tolong jaga Raskal selama aku pergi." Raskal seharusnya tidak menyerah begitu saja bukan. Dia akan membuat kejutan untuk sang istri. Toh pesawat sang istri tiba akan sangat lama. Jadi dia bisa menyiapkan semuanya.
"Kita ikut ya Rev!" Seru kedua sahabatku yang aku jawab dengan gelengan.
"Ini tiket untuk kalian. Persiapkan semua yang ada di sana karena setelah dari indonesia aku akaj bawa dia kesa." Raskal memberikan beberapa kunci di mejanya dan meninggalkan mereka semua setelah anak buahnya mengatakan semua persiapan sudah siap. Iam coming baby....
Akhirnya aku tiba di kamar yang sudah aku pesan sebelumnya. Aku tidak sabar untuk segera berendam di dalam kolam yang ada di dalam kamarku. Ah pasti sangat menyenangkan.
ting..
Pintu kamar hotelku terbuka. Masih gelap dan sepi, tapi aku merasa sesuatu aneh disini. Apa mungkin hanya firasatku saja? Entahlah.
Aku meletakkan koper yang ku bawa di sisi tempat tidur dan membuka pakaian yang ku pakai dengan menyisakan pakaian dalam saja. Kolam berwarna biru langit sudah memanggil namaku untuk segera masuk ke dalam sana. Namun, baru saja kakiku ingin masuk ke sana. Sebuah tangan kekar memelukku dengan kencang. Wangi yang sudah aku hafal seharian ini merasuk ke dalam indra penciumanku. Tidak mungkin bukan jika dia datang lebih cepat dariku?
"Why you so beautifull today. Iam hungry and i want to you my wife."
Aku mulai merasakan kecupan-kecupan nakal di leherku sedangkan tangannya mulai bermain di bagian tubuhku. Aku hanya bisa bersandar pada tubuhnya, sampai akhirnya mata kami bertemu. Mata yang membuat aku selalu terbeku akan pesonanya. Dia mengecup dahiku sangat lama tanpa melepaskan dekapan kami.
"Maafkan aku yang terbawa emosi, seharusnya aku tidak berkata kasar tadi."
"Aku juga minta maaf sayang, tidak seharusnya aku bersikap egois dengan meninggalkan kalian berdua. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menyelesaikan ini segera."
"Aku paham. Lanjutkan apa yang mau kamu lakukan, aku akan memesan makanan untuk kita. Aku tahu, kamu hanya makan cemilan saja tadi." Omelnya membuatku gemas untuk tidak mencubit pipinya.
"Terima kasih suamikuh."
Sepertinya hari ini tak akan sama seperti yang sudah ada dalam pikiranku. Karena suami tampanku tiba disini dan sudah aku pastikan kegiatan kerjaku akan di ganggu olehnya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat menginginkan kehadirannya disini. Sekalian nanti aku mengajak dirinya ke tempat yang aku ingin jumpai tadi.
Lepas kepergiannya aku benar-benar menikmati kolam renang yang sangat sejuk ini. Sambil memejamkan mata, aku memikirkan hari esok. Berharap semuanya akan berjalan lancar sebagaimana mestinya.
🦋🦋🦋