Mine

Mine
Part 1



Aku melihatnya terdiam kaku menatap Jenazah didepannya. Tak ada yang berani mengajaknya berbicara. Hanya hening dan kesedihan yang terpancar di wajah tampannya.


Aku mengenalnya sebagai sahabat Kakakku. Sahabat yang sering berkunjung kerumah demi menemu Kakak kandungku. Yang aku tahu, Pria ini adalah Pria dingin yang aku kenal. Bahkan selama dia menginjakkan kakinya kerumah, tak ada satu katapun terucap padaku. Mungkin dia tidak tertarik padaku.


Sedangkan anak kecil yang tadi duduk disampingnya, berlari memelukku sambil berteriak "Bunda" aku yang kaget hanya bisa merespon dia dalam pelukan hangatku hingga dia tertidur pulas.


Padahal, aku baru saja menyelesaikan tour ku tadi, lalu di telpon untuk segera kembali ke sini. Dan alhasil aku disini sekarang. Bersama dengan keluargaku, menemani Pria dan anak kecil yang ada dalam dekapanku.


Melihat wajah tenang anak berusia tiga tahun ini, membuat aku bersumpah aku akan terus menjaganya. Selayaknya aku menjaga anakku sendiri.


Sampai tatapan mataku bertemu dengan netra hijau di seberangku. Mata yang selama ini membuat aku jatuh cinta. Bisa kah aku memilikinya?


"Kamu ke kamar saja, ada kamar kosong di lantai atas." Sepanjang usiaku, baru kali ini Pria itu berbicara sangat panjang padaku. Apa mungkin dia iba padaku karena aku menggendong ponakan tercintanya.


"Terima Kasih." Jawabku.


Aku sampai lupa. Namaku Clara Jhonson. Aku desainer yang tengah naik daun saat ini. Bukan bermaksud pamer, tapi aku hanya ingin memberi tahu kepada kalian. Kedua orang tuaku sudah tiada sejak aku berusia lima tahun. Jadi selama ini aku hanya tinggal bersama dengan Opa dan Kakak kandungku. Tanpa mereka berdua mungkin aku tidak bisa berdiri tegap seperti sekarang ini.


"Non, mari saya antar ke kamar Tuan Muda."


"Terima Kasih, Bu."


 


Aku tidak tahu kenapa kedatangannya hari ini membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan sisi lelakiku yang tidak pernah muncul tiba-tiba menguar bagaikan sebuah nafas.


Netra biru itu, benar-benar menenggelamkan aku. Di tambah lagi dengan sebutan "Bunda" yang ponakanku ucapkan untuknya, membuat jantung ini semakin berdegup kencang.


Aku tidak tahu, apakah aku berdosa jika aku merasakan hal seperti ini disaat Kakak kandungku satu-satunya telah tiada. Kejadian ini benar-benar tidak terduga. Padahal, beberapa jam yang lalu kami masih menikmati nikmatnya makan malam buatan Mama. Tapi ternyata, takdir memberikan cerita yang sangat kejam. Aku tidak tahu bagaimana jadinya ponakanku nantinya.


"Waktunya dimakamkan." Charles Jhonson mengingatkan kami. Alhasil malam ini, kami mengikhlaskan kepergian keduanya. Walaupun aku yakin Mama dan Papa sulit melepaskan keduanya, aku akan berusaha membuat mereka kembali seperti sedia kala.


"Kapan kamu mau menyatakan perasaan kamu?" Charles memang sangat tahu siapa aku. Bahkan saat hari dimana aku tersakiti saat itu juga aku langsung tersembuhkan oleh senyuman memikat adiknya.


"Aku mau langsung menikahinya saja. Menjadikan dia miliku seutuhnya itu lebih baik." Jawabku.


Aku meninggalkan Charles demi menemui Opanya. Malam ini, aku harus mengutarakan segala apa yang sudah aku tahan lima tahun ini. Kini, sudah cukup waktu bersabarku. Karena aku tidak bisa membiarkan dia keluar bebas tanpa memakai namaku.


"Maaf menggangu Opa. Aku ingin menagih janjiku. Bukankah sudah saatnya cucu kesayanganmu menikah denganku?" Tanyaku


"Apa kamu siap menjaganya? Dari musuh keluargamu dan musuh bebuyutanku?" Tanyanya dingin.


"Sangat siap. Jika nyawa taruhannya akan aku lakukan deminya"


"Tunjukan kesungguhanmu anak muda. Saya akan merestuinya." Jawabannya membuat aku berterima kasih. Tak lupa menutup pintu kamarnya. Baru saja aku keluar dari sana Charles dan Istrinya, Ciara muncul dengan wajah senangnya.


"Sudah direstui, tunggu apalagi?" Ciara meledekku.


"Tunggu besok. Kalian harus bantu aku!"


Setidaknya malam ini aku akan tertidur nyenyak. Karena restu yang akhirnya aku nantikan terdengar indah malam ini. Yang pasti, aku akan membuat anak buahku lelah karena menyiapkan pesta pernikahan kami nantinya. Dan pastinya senyuman Mama dan Papa yang kini mereka tunjukan membuat aku langsung memeluknya.


"Terima kasih telah mengenalkan dia padaku."


"Sama-sama sayang, Clara cocok bersanding dengan kamu." Jawab Mama.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Yang pasti, aku sudah berjanji dengan mereka jika aku akan menjaga putri kesayangan keluarga Jhonson.


🦋🦋🦋