
Pria akan dilihat kesungguhannya dengan cara menikahi wanitanya dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Wanita akan dilihat kesungguhannya saat dia bisa menerima kesungguhan Prianya dengan wajah berseri-seri.
***
Kini, aku tengah duduk di depan sebuah meja rias bersama Raskal yang ada dalam pangkuanku. Walaupun merasa berat, aku tetap tak tega membangunkan anak manis di dalam dekapanku sekarang. Beruntung aku sudah berganti dengan gaun tadi jadi saat Raskal bangun, saat itu pula aku bisa langsung menuju lokasi acara.
"Gila! Kenapa si nikah dadakan kaya gini? Kamu gak hamilkan? Terus juga kan kamu tahu kita baru saja selesai dari tour." Gadis cerewet di sampingku bernama Elena. Ia sahabatku dari kecil. Elena memang sangat membantu dalam usahaku, karena dia menjadi model utama dalam bisnis fashionku. Wajar saja jika sekarang aku melihat wajah lelahnya.
"Setidaknya Kak William menemani kamu bukan? Jadi kamu tidak sendirian ke sini." Jawabku yang dibalas dengan merengut.
"Dih! Jelek bener kamu El, lagian kita tuh harus bahagia jika sahabat kita menikah lebih dulu." Aku tersenyum menatap gadis cantik yang gayanya khas seperti lelaki, Razle. Nah, sama seperti Elena Razle juga sahabat karibku dari kecil ia bekerja bersama dengan ku sebagai seorang desainer. Bedanya aku fashion sedangkan dia interior. Tapi, kami sering bekerja sama dalam berbagai hal terutama saat aku mengadakan lauching busana. Pasti orang yang lebih dulu aku ajak diskusi adalah Razle. Karena bagaimanapun dia juga merangkap sebagai sekretarisku. Pekerjaan interior dia lakuka ketika sedang keadaan senggang saja. Karena separuh waktunya pasti di habiskan bersama dengan ku.
"Betul sekali! Lagian kan kalian berdua tahu. Aku mencintainya sejak lama dan aku tidak akan membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia."
"Ya tapikan jangan dadakan kaya gini, Aku butuh istirahat Clara Johnson." Lagi dan lagi Elena merengek. Melihat tingkahnya yang sepeeti saat ini membuat aku tidak tega.
"Gimana kalau kalian ikut dengan ku nanti?"
"Kemana?" Tanya keduanya kompak.
"Liburan." Jawabanku membuat keduanya langsung loncat-loncat menyerukan kata liburan. Sampai-sampai Raskal bangun dengan menatap keduanya bingung.
"Hay sayang sudah bangun. Kenalin Tante Elena dan Razle." Aku mulai memperkenalkan kedua sahabatku pada Raskal. Memang awalnya dia takut dengan Elena maupun Razle tapi lama kelamaan, Raskal mulai menerima keduanya. Bahkan sekarang mereka tengah bercanda ria melupakan aku yang tengah mempersiapkan diri.
Jujur jika aku menjelaskan pada kalian tentang persiapan pernikahanku yang sangat kilat pasti akan sangat panjang. Pasalnya, apa yang Rafael berikan padaku saat ini sesuai dengan apa yang aku mimpikan selama ini. Dimana pernikahan bernuansa merah muda dengan bunga-bunga mawar putih dan merah muda mengiasi tempat ini. Awalnya aku pikir saat Rafael berkata hari ini, aku akan menikah dengannya secara sederhana ternyata tidak. Pria tampan itu benar-benar sukses membuat aku tambah cinta padanya.
Itulah kenapa saat Rafael mengatakan semua siap. Aku langsung menghubungi sahabat-sahabatku. Karena aku tahu, Rafael tipe orang yang, emm... Kita ingin sesuatu maka terkabulkan. Aku bisa lihat jelas dimatanya kalau dia sungguh-sungguh denganku. Makanya aku langsung mengiyakan pula. Bukan karena alasan Raskal melainkan karena perasaan hati yang terpemdam sejak lama. Seperti takdir membawa ia pada sebuah kenyataan yang selama ini ia impikan.
"Waktunya dimulai."
Dengan tarikan nafas dan dukungan yang lain. Aku berjalan keluar dari kamar rias ditemani oleh Raskal yang menggandeng tangan kananku. Kini perjalanan hidup baruku akan segera dimulai.
Rafael pov
Aku terpaku saat melihat betapa cantiknya Clara malam ini. Ia mendekat kearahku ditemani sang Kakek. Tuhan, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk--aku harus segera menyelesaikan semua ini.
Saat tangan Clara berada di genggaman tanganku. Saat itulah kami mengucapkan janji sehidup semati. Sebagaimana yang telah aku ucapkan kepada semua orang yang ada disini dan sebagaimana janjiku kepada sang pencipta. Aku bersumpah akan memberikan kehabagian untuknya dengan segala keringat yang ada.
Aku menarik dagunya dengan lembut dan sangat hati-hati. Seakan-akan wanita dihadapanku adalah sosok rapuh yang tidak boleh aku sakiti. Jantungku berdetak kencang saat aku bisa merasakan bibir manis yang kini ada dalam naungan bibirku. Hanya ada rasa lebih yang aku inginkan saat ini, tapi suara berisik mengganggu pergelutan batinku.
"Sudah woi!!" Teriakan itu dari sahabatku, siapa lagi jika bukan Alex. Pria satu itu memang sangat menyebalkan. Berbeda dengan William dan Charles mereka lebih kalem malam ini. Apa ada masalah dengan mereka?
"Aku malu." Perkataan Clara membuat aku gemas sendiri. Aku mengecup puncak kepalanya dan mulai turun dari tempat kami berada dan berbaur dengan tamu undangan yang ada.
"Congratulation Baby!!! Semoga cepet dapat momong--"
"Bunda!!!" Tangisan anak kakakku menghentikan ucapan kekasih William. Bahkan melepaskan Clara yang tadi aku rangkul.
"Kenapa sayang? Kamu ngantuk ya?" Jawab Clara sambil menciumi wajah Raskal. Membuat aku iri pada anak itu, karena bisa dengan mudah menarik perhatian istriku. Kapan giliran ku?
"Raskal kenapa kamu?! Siapa yang jahatin kamu?! Sini tante marahin."
"hiks.. Katanya Tante itu Bunda akan pergi seperti Mama. Itu tidak benar bukan?" Raskal menunjuk kearah seseorang yang aku sudah ketahui siapa dia.
Aku menatap ketiga sahabatku dengan murka. Bisa-bisanya mereka mengundang nenek lampir itu. Tidak tahu saja malam ini aku tidak ingin di ganggu oleh drama murahannya.
"Tenang, Aku bereskan semuanya." Alex berjalan mendekati nenek lampir tersebut. Semoga Alex tidak bertindak gegabah yang menyebabkan wanita sialan itu merusak moment bahagiaku.
"Tidak sayang. Bunda tidak akan meninggalkan kamu. Belum saatnya." Entah kenapa perkataan Clara membuat aku sedikit panik. Pasalnya wajah ceria yang barusan ia tunjukkan padaku berubah menjadi wajah garang bak guru yang menunggu muridnya untuk di introgasi.
"Hahaha.. Selamat menikmati malam pertama yang suram." Ledek Charles.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya."
"Mantan kamu kenapa bisa disini?" Pertanyaannya yang dingin membuat aku melihat sisi berbeda darinya. Dari ucapannya sepertinya dia sudah tahu mengenaiku.
"Ekhem... Aku belum pernah cerita dia mantan aku loh. Kamu tahu dari mana?" Tanyaku.
"Ekhem.. Aku mau ke kamar Raskal aja." Jawabannya yang gugup membuat aku tersenyum. Sepetinya malam pertama yang suram itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku bisa memiliki seribu cara untuk menaklukan dia malam ini.
"Aku akan membuat kamu jujur padaku malam ini sayang."
🦋🦋🦋