
Ainsley terserang flu keesokan harinya karena menunggu Austin pulang semalaman di luar rumah besar itu. Sayangnya, lelaki yang ia tunggu sama sekali tidak pulang. Suara batuknya terdengar ke seluruh penjuru rumah saking kerasnya. Batuknya terdengar kering dan pastinya menyakitkan. Ainsley memutuskan untuk tidak masuk kuliah. Berjalan dari kamar ke dapur saja ia sudah merasa tidak sanggup, apalagi pergi ke kampus. Ia tertawa hambar. Akhir-akhir ini dirinya sering sekali absen. Nilai semesternya pasti akan turun. Ainsley sudah pasrah kalau itu terjadi.
Pandangan Ainsley terus mengarah keluar. Ia berharap pagi ini akan melihat Austin. Entah apa yang membuat pria itu tidak pulang semalam. Apa karena urusan kerjaan atau karena pria itu masih marah padanya? Walaupun sedikit kecewa dengan perkataan yang dilontarkan oleh Austin kemarin, Ainsley tetap bersabar. Ia ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Alfa. Pokoknya foto yang dilihat oleh Austin tidak seperti yang pria itu pikirkan. Ainsley harus menjelaskan.
Namun sampai jam sepuluh pagi, suaminya tidak kelihatan juga. Ainsley mendesah panjang. Segala pikiran negatif kembali berkelabat dalam hatinya. Jangan-jangan Austin pergi ke club, minum-minum, dan menyewa perempuan lain untuk memuaskan pria itu karena sakit hati padanya. Biasanya kan para laki-laki seperti itu kalau dalam kondisi down. Mereka suka mencari kebahagiaan mereka sendiri. Meski tidak semua laki-laki sama, tapi Austin punya segalanya, bisa saja kan apa yang dipikirkan oleh Ainsley benar-benar terjadi.
Jemari Ainsley saling meremas. Kepalanya makin sakit memikirkan Austin tidur dengan perempuan lain. Ya Tuhan, kalau sampai itu benar... Gadis itu akan merasa hancur. Ainsley berusaha menghilangkan pikiran negatifnya yang sudah merembes ke mana-mana. Tenggorokannya terasa sangat kering, ia memaksakan diri melangkah ke dapur. Perutnya juga sudah keroncongan. Biasanya kalau jam begini bi Ranti dan pelayan lain yang bersih-bersih rumah itu sudah pulang. Mereka akan kembali lagi sore nanti. Karena biasanya Austin dan Ainsley sendiri tidak ada di rumah siang hari, jadi mereka tidak perlu memasak makanan buat siang hari.
Benar saja. Rumah itu sudah kosong. Hanya ada satpam yang berjaga didepan. Ainsley menuangkan air putih di gelas dan menelannya dalam sekali teguk. Ia bersandar di meja makan karena kepalanya masih pening. Pandangannya berpindah ke sarapan yang sudah tersedia di atas meja itu, lalu ia duduk dan makan dengan pikiran yang masih melayang pada keberadaan suaminya.
Habis makan, Ainsley memutuskan untuk mandi. Badannya sudah pengap karena berkeringat sepanjang malam. Ia juga berencana untuk pergi ke rumah sakit. Setidaknya ia harus memeriksakan dirinya ke dokter agar diberikan resep obat. Setelah mandi dan berganti pakaian, Ainsley langsung berangkat ke rumah sakit.
Hampir sejam gadis itu berada di rumah sakit karena harus tunggu antrian. Kepalanya memang masih sedikit pusing, tapi sudah tidak separah semalam dan pagi tadi. Setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter dikantin rumah sakit, ia merasa dirinya makin membaik. Ia bersiap-siap untuk pulang ke rumah Austin, namun sebuah panggilan menghentikannya.
Dia cepat-cepat merogoh ponsel dari tas tangannya dan melihat siapa yang menelpon. Ainsley menghembuskan nafas panjang, tak begitu bersemangat. Ternyata Alfa yang menelpon. Dia pikir suaminya. Gadis itu menimbang-nimbang sebentar kemudian memutuskan untuk mengangkat. Menurutnya Alfa tidak akan berhenti-berhenti menganggunya kalau dia terus-terusan menghindar.
\*\*\*
Ainsley memasuki restoran sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Alfa. Matanya menelusuri seluruh tempat, dan melihat Alfa melambaikan tangannya dari ujung sana. Ia melangkah menuju sebuah sudut yang nyaman dekat jendela tempat Alfa duduk. Suasana cafe tampak ramai dengan para pelayan yang lalu lalang melayani pengunjung, mungkin ini karena tepat saat jam makan siang.
"Kau sudah makan?" tanya Alfa sambil bangkit berdiri untuk sekedar menggeser kursi buat diduduki oleh Ainsley. Meski tidak begitu nyaman, Ainsley berusaha menghargai pria itu. Biar bagaimanapun Alfa pernah ada dalam hatinya. Pria itu tidak salah apa-apa. Mereka saja yang tidak berjodoh.
"Kamu sakit?" tanya Alfa dengan nada khawatir ketika menyadari wajah Ainsley terlihat agak pucat. Ainsley menggeleng dan tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lapar, mungkin karena pengaruh belum makan." gadis itu memberi alasan. Ia bukanlah tipe perempuan yang suka caper kalau dirinya sedang sakit. Lagipula kondisinya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi siang.
"Nasi sama sate ayam aja kalau ada." sahut Ainsley di sambut dengan anggukan Alfa lalu pria itu mengangkat tangan memanggil salah satu pelayan yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka dan memesan. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu.
"Ainsley," Ainsley mengangkat wajahnya menatap lelaki yang duduk berhadapan dengannya itu, menunggu perkataan selanjutnya.
"Aku minta maaf soal ciuman itu. Hari itu aku benar-benar tidak bisa menahan diri. Emosiku tidak stabil." tutur Alfa merasa bersalah. Ainsley tersenyum.
"Aku menerima permintaan maafmu, asal jangan kau ulangi lagi." balasnya. Alfa mengangguk.
"Tapi tentang perasaanku, aku tidak berbohong." katanya lagi tulus dan menatap Ainsley dalam. Jeda sesaat saat pesanan mereka datang.
"Makanlah. Aku tidak mau kau pingsan didepanku." ucap Alfa bercanda. Ainsley terkekeh lalu mulai mengunyah makanannya. Saat ini gadis itu ingin fokus mengisi perutnya dulu. Butuh sekitar lima menit bagi Ainsley untuk menghabiskan makanannya. Ia lalu menatap Alfa serius.
"Alfa," Alfa mengangkat kepala menatap gadis itu. Ia sendiri sudah selesai makan.
"Kamu pria yang baik. Jujur aku pernah menyukaimu dulu. Aku pernah berpikir bagaimana kalau suatu hari nanti kita berpacaran, pasti kita akan menjadi pasangan yang sangat manis." ada getaran kebahagiaan di hati Alfa. Senang mendengar Ainsley pernah memikirkan mereka bersama dulu.
"Tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang membuat perasaanku padamu berubah. Kau pria yang baik, tapi aku perlahan menyadari kita berdua terlalu mirip. Itu sebabnya kita tidak cocok bersama. Terimakasih untuk perasaanmu padaku, aku berharap kau menemukan wanita yang cocok denganmu. Aku sendiri sudah menikah. Aku tidak ingin menyakiti suamiku." kata Ainsley panjang lebar. Alfa tertawa pelan. Terkesan dipaksakan. Ia tahu gadis itu sudah menikah. Ia juga tidak ingin merusak pernikahannya, ia hanya ingin menyatakan perasaannya pada gadis itu.
"Jadi begini rasanya ditolak." ujar Alfa. Ainsley merasa tidak enak, tapi ia harus mengatakannya.
"Oh. Jadi begini yang selalu kau lakukan dibelakangku." suara dingin itu membuat Ainsley terlonjak kaget. Ia menoleh ke samping dan memucat seketika saat melihat Austin berdiri di sana, tampak luar biasa marah.