Mine

Mine
Pesta Semakin Di Depan Mata



"Undangan dari keluarga Collin? Sejak kapan mama sedekat itu sama kepala keluarga Collin?!" Sendok dalam genggaman Jevano nyaris melesat jatuh ke lantai, setelah mendengar cerita dari sang ibu.


"Ish, kamu jorok banget. Benahi etika makanmu, biar nggak malu-maluin kalau mama ajak ke pesta besar," Beatrice mengkritik keras gaya makan Jevano yang berantakan.


Jevano mendengus jengah. Ibunya itu memang suka sekali mengomentari segala gerak-geriknya, kesalahan sekecil apapun pasti dibesar-besarkan oleh beliau.


"Siapa juga yang mau ikut sama mama."


Sudut bibir Nyonya Beatrice tersungging ke atas. "Yakin? Mama dengar-dengar keluarga Reinhart juga bakal diundang ke pesta ini. Ini pertama kalinya lho dalam sejarah, keluarga Collin mengundang orang-orang luar yang bukan relasi maupun rekan bisnis terdekatnya untuk menghadiri pesta tahunannya ini." Nyonya Beatrice kembali mengangkat sebuah amplop panjang dengan hiasan yang tampak mewah dan mahal disertai lambang keluarga Collin tertempel di tengah-tengah amplop.


Dari jauh pun dapat dilihat bahwa amplop itu bukan sembarang amplop.


"Aku bahkan nggak pernah tau kalau ada tradisi macam itu di keluarga Collin," sahut Jevano, dengan ekspresi yang tampak sedikit terganggu.


'Memangnya apa yang spesial dari keluarga itu? Selain harta, kekayaan dan kedudukan mereka, nggak ada hal menarik lainnya yang dapat di perhatikan dari keluarga Collin,' batin Jevano dalam hati.


Nyonya Beatrice menghela pelan. Padahal dia pikir anaknya itu sudah menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan si bungsu Collin. Tapi sepertinya kabar itu salah deh. Jevano justru terlihat tidak senang menerima undangan dari pihak Collin. Tak tahu saja anak itu, ini merupakan undangan yang teramat sangat penting dan bernilai tinggi tiada banding.


Tak muda bagi Beatrice mendapatkan undangan resmi tersebut, membutuhkan koneksi serta upaya yang amat besar agar dapat diakui oleh keluarga konglomerat itu.


"Pokoknya, kamu harus menemani mama datang ke pesta ini! Asal kamu tau aja, orang-orang yang diundang datang itu berasal dari kalangan atas, kesempatan emas ini nggak boleh kita lewatkan begitu aja!"


Jevano dapat melihat kobaran api membara dari sorot mata ibunya. Mau menolak juga tak mungkin, ibunya itu pasti akan mengomelinya habis-habisan.


"Oh, atau kamu berangkat ke pestanya bareng sama Jasmine aja? Kalau kalian mau, mama bisa kok pesanin tuxedo sama gaun yang sepasang buat kalian." Beatrice sengaja menggunakan Jasmine guna memancing Jevano supaya mau datang bersama dengannya.


"Pasti lucu banget lihat kalian pakai tuxedo dan gaun yang sama. Coba kamu tanyakan Jasmine sekarang, biar kalian bisa segera fitting secepatnya," suruh ibu dua anak itu pada Jevano.


Keinginan untuk menghadiri pesta bersama dengan Jasmine saja tak terbesit sama sekali dalam benak Jevano. Ah, lebih tepatnya sih, Jevano sama sekali tidak berminat menghadiri pesta tersebut. Apa lagi yang menyelenggarakan itu adalah keluarga dari orang yang membuat Jevano iri dengki.


Rasa malas Jevano semakin menjadi-jadi saja.


"Mama datang aja sendiri. Aku masih banyak kerjaan, Ma."


Beatrice menatap sengit putra sulungnya. "Yang benar aja! Susah payah biar diundang, kenapa kamu malah nggak semangat gini sih?! Kalau kamu berhasil mendapatkan investor baru, Mama bakal tambahin uang saku kamu!"


Tawaran yang menggiurkan tapi Jevano tak akan terkecoh begitu mudah.


Jevano belum siap melihat Serena jalan berdampingan layaknya sepasang raja dan ratu bersama dengan Julian.


"Kenapa sih sama anak ini?! Mana Jevano mama yang antusias?! Kamu kayak anak galau aja deh. Padahal putus juga enggak!" sarkas Beatrice, yang sedikit menohok perasaan Jevano.


'Justru karena itu, Ma...andai Jasmine setuju buat pisah, aku nggak akan segalau ini,' batin Jevano, sambil menatap kosong gelas yang ada di depannya.


'Sehariiii aja...sehari aja aku nggak mau dengar soal Jasmine ataupun keluarga Reinhart. Yang ada kepalaku jadi pusing tiap hari.'


...🌸...


...🌸...


Jadwal Serena sudah penuh untuk seminggu ke depan. Situasi yang tidak Serena bayangkan sebelumnya, bakal sesibuk ini demi kelancaran hari H pesta nanti.


Hari ini jadwalnya Serena memesan gaun dan tuxedo untuk dirinya dan Julian. Oh, tak hanya mereka berdua saja sebenarnya, ada juga Dion, Elliot dan juga Tuan Joseph yang juga sekalian memesan tuxedo untuk dikenakan di pesta.


"Wah~ motif yang ini keren juga! Warnanya mengkilap kalau terkena cahaya!" Dion tampak begitu antusias memilih tuxedo untuk dirinya sendiri.


Ini pertama kalinya dalam hidup Dion, memilih dan memesan tuxedo yang harganya bisa buat beli sepeda motor.


Tuan Joseph yang notabenenya paling tua di antara lainnya juga tak kalah antusiasnya dari para anak muda di sana. "Karena rambutmu merah, warna orange tua atau merah maroon cocok buatmu. Tapi kalau menurutku sih, merah maroon sangat sempurna untuk menunjang penampilanmu," jelas beliau, sambil memperhatikan warna rambut Dion yang alami.


"Be-benar begitu? Ka-kalau gitu, aku akan memilih warna itu!" Entah mengapa kedua pipi Dion bersemu merah. Walau ini bukan pertemuan pertamanya dengan Tuan Joseph, Dion masih sedikit kikuk dan canggung. Padahal Tuan Joseph sudah memperlakukan Dion layaknya anak sendiri.


Mungkin karena tidak memiliki ayah, Dion jadi sangat menghormati Tuan Joseph. Serena turut senang melihat sepupunya berinteraksi dengan banyak orang baik. Pengaruh yang positif jelas akan berdampak bagus untuk perubahan mental dan emosi Dion.


"Tolong pilihkan gaun yang nggak berat dan nggak terlalu glamour," Suara Julian mengalihkan atensi Serena.


Mereka sedang memilih-milih gambar dalam katalog gaun untuk Serena. Dari tadi Serena belum menemukan yang sesuai dengan seleranya. Gaun yang ada di katalog kelihatan terlalu mewah, glamour dan pastinya berat. Serena tidak suka yang ribet-ribet gitu.


"Saya punya satu referensi, tapi tidak ada di katalog kami. Apa anda ingin melihatnya?" Secara khusus designer muda itu melayani Tuan Joseph dan keluarga.


"Boleh. Tolong tunjukkan apa yang anda punya," Itu Julian yang menyahuti.


Buru-buru designer itu pergi ke ruangannya hendak mengambilkan buku sketsa yang dia letakkan di atas meja.


"Buat jaga-jaga, kamu pesan dua atau tiga gaun sekalian. Karena proses pembuatannya pasti memakan waktu lama," Elliot datang setelah memilih tuxedo yang dia suka.


Julian mengangguk menyetujui ide kakaknya, "Iya juga ya. Seenggaknya harus punya cadangan gaun di rumah. Buat antisipasi aja," timpalnya.


Serena hanya tersenyum mengiyakan saja. Percuma juga berdebat dengan kakak beradik itu, yang ada Serena bakal kena ceramahan nanti.


"Dengar-dengar papa mengundang keluarga Reinhart juga. Apa itu ide yang bagus, Serena? Kalau kamu nggak mau melihat mereka, kamu boleh menghapus nama mereka dari daftar tamu undangan kok."


Serena juga mengetahui hal itu. Tapi apa daya, yang membuat keputusan pertama adalah Tuan Joseph selaku pemimpin di keluarga Collin, sementara Serena hanyalah kekasih dari putera bungsu Tuan Joseph alias orang luar yang kebetulan mendapat kepercayaan besar dari anggota keluarga itu. Tentu Serena tak berani berbuat sembarangan.


"Gapapa, kak. Aku yakin Papa mengundang mereka pasti ada tujuannya. Aku nggak mau mengubah apa yang udah Papa atur sebelumnya," balas Serena dengan bijaksana.


Elliot saling melirik dengan Julian.


"Ya udah kalau itu keputusanmu. Kalau gitu, kamu harus tampil sedikit ekstra saat pesta nanti! Karena kamu adalah bintang utama dalam pesta kali ini~" ucap Elliot, yang kembali bersemangat memilih gaun untuk Serena.


Elliot akan membuat Serena bersinar lebih dari siapa pun, dan menunjukkan pada semua orang-khususnya keluarga Reinhart, bahwa Serena adalah permata yang sangat istimewa.


"Karena kamu adalah bintang utamanya, jadi kamu harus tampil secantik dan seindah mungkin!"


Senyuman lebar yang ditunjukkan semua orang kepadanya membuat hati Serena tersentuh. Padahal pestanya saja belum di mulai, tapi Serena sudah merasa diperlakukan bak tuan putri sungguhan oleh orang-orang berharganya itu.


Apa yang Elliot katakan benar-benar membangkitkan antusias Serena. Perasaan takut bercampur gelisah yang membuatnya sedikit tertekan kini sirna sepenuhnya, tergantikan oleh perasaan hangat dan bahagia yang sulit diungkapan dengan kata-kata.


Serena jadi tak sabar menantikan datangnya hari besar itu. Kembang api dan acara seru lainnya, Serena harap pesta tahun ini dapat meninggalkan kesan yang indah dalam hati masing-masing tamu yang hadir.