
Upacara sakral itu berlangsung dengan lancar dan penuh haru. Dari awal sampai akhir tak ada kesalahan yang terjadi, itu saja sudah cukup membuat batin Julian serta Serena sedikit lega.
Meski janji suci pernikahan hanya dapat disaksikan oleh kedua belah pihak keluarga serta beberapa kerabat terdekat saja, tak mengurangi sedikitpun momen penting dan menguras emosi di sepanjang jalannya acara.
Khususnya bagi Nyonya Esther yang tak henti-hentinya meneteskan air mata begitu melihat betapa cantiknya sang puteri dalam balutan gaun mewah berwarna putih yang melambangkan kesucian.
"Udah, ih, Ma. Jangan nangis terus! Nanti acaranya keganggu gara-gara tangisan Mama!" Di samping Nyonya Esther, ada Jasmine yang jadi kuwalahan sendiri menenangkan sang ibu yang menangis tersedu-sedu.
Di belakang Jasmine, ada Jevano yang secara khusus di undang dan hadir bersama dengan sang ibu duduk tenang sembari mengagumi kecantikan Serena yang berjalan di karpet merah.
'Sekarang kamu udah jadi milik orang lain, Rena. Aku harap persahabatan kita bakal langgeng selamanya...yah, meskipun aku sedikit menyesal kenapa bukan aku saja, orang yang berdiri di altar itu...' Walau ada sedikit ketidakrelaan dalam hati Jevano, namun sebagai sahabat sejati dia harus menerima kenyataan pahit ini.
Dia sudah terlambat, benar-benar terlambat meraih Serena. Kini Jevano harus menegarkan hatinya melihat pria lain menggenggam tangan Serena dan menuntun langkah gadis itu menghadap ke arah pendeta yang telah menunggu untuk mengikatkan janji suci sebagai suami istri.
'Semoga kamu bahagia selalu. Aku selalu ada di belakangmu, kapanpun kamu membutuhkanku, Rena...I love you...and i'm sorry...'
...🎉...
...🎉...
"WAAAHHHH!!!! SELAMAAATTTT~ PENGANTIN BARU!!"
"Langgeng selamanya ya sampai maut memisahkan kalian!"
"YAKKK! KINI SAAT YANG DITUNGGU-TUNGGU AKHIRNYA TIBA JUGA! PELEMPARAN BUCKET BUNGA OLEH MEMPELAI WANITA!!!" Seorang staff yang membantu jalannya pernikahan mulai mengumumkan sesi yang paling dinanti-nantikan oleh sebagian besar kaum perempuan dan lelaki yang belum menikah.
Sontak saja barisan para perempuan berjejer rapi menunggu Serena melemparkan bunga yang sedari tadi dia genggam untuk di berikan pada para tamu yang sudah berdiri dengan tidak sabaran.
"Kau nggak ikut mengantri kayak mereka?" Leonard menyikut Helena yang berdiri agak jauh dari kumpulan perempuan yang menunggu bunga di lemparkan.
Biasanya Helena yang paling energik dan agresif kalau ada acara heboh seperti ini, namun anehnya hari ini gadis itu lebih pendiam dan tak bersemangat.
Apa mungkin Helena masih sedih karena di tinggal nikah Serena?
Leonard tidak merasa itu jawaban yang tepat. Lantas apa? Apa yang membuat gadis itu jadi lesu seperti sekarang? Rasa penasaran perlahan menyelimuti hati Leonard.
"Aku...nggak mungkin juga bakal nikah cepat meski dapetin bucket bunga itu," Senyum getir tercipta di bibir Helena. "Orang yang mau kuajak nikah nggak ada, buat apa repot-repot rebutan bunga itu kalau aku nggak bisa nikah dalam waktu cepat?"
Leonard tahu kalau Helena menyukai kakak tingkat mereka yang bernama Marcus-atau siapa lah itu. Dan dengar-dengar, Helena sudah mengejar kating itu sejak awal semester dulu. Itu sudah cukup lama, apa mungkin tidak berhasil ya?
Leonard jadi penasaran, tapi tidak berani menanyakan langsung pada Helena. Bila di lihat dari ekspresi sendu Helena, kemungkinan besar usaha gadis itu tidak membuahkan hasil.
"SIAP YA?! AKU LEMPAR SEKARANG! 1,2,3!!! TANGKAPPP!!" Serena berseru kencang lalu melempar bucket bunganya sambil membelakangi tamu-tamu yang berkerubung.
Para gadis yang sudah tidak sabaran sontak berteriak heboh sambil berusaha meraih bucket bunga yang sayangnya melayang tinggi.
Hupp
"WAH? Tak di sangka yang beruntung justru kakak laki-laki yang ada di belakang sana. Selamat, semoga anda bisa segera menyusul sampai ke pelaminan!"
Leonard dan Helena sama-sama membulatkan mata mereka tidak percaya. Tahu-tahu bucket bunga itu melayang sampai ke tempat mereka, alhasil Leonard yang kedapatan menangkap bucket itu agar tidak mengenai kepala Helena.
Serena dan Julian yang menyaksikan dari atas panggung kecil sama-sama menutup mulut mereka, kaget.
"Menurutmu, bakal terjadi sesuatu nggak sama mereka?" Serena tak menyangka sahabatnya nyaris mendapatkan bucket bunga darinya.
Julian mengangkat bahu tanda tak tahu. Namun satu hal yang pasti dia ketahui dari ekspresi Leonard saat ini, "Aku harap hubungan mereka bisa mengarah ke hal yang baik. Aku senang, akhirnya sahabatku menyadari perasaannya yang sesungguhnya."
Resepsi di mulai pada pukul 7 malam waktu setempat. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan dengan mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Tak terkecuali Helena dan Leonard, Jevano dan Jasmine, teman-teman sekelas Julian dan Serena di kampus, kerabat dekat kedua pihak keluarga, sanak saudara Collin dan Reinhart, Caesar dan Dion dan masih banyak lainnya. Oh, jangan lupakan juga para pejabat penting negara yang turut hadir memenuhi undangan dari Tuan Joseph dan Tuan Philip.
Pesta berlangsung sangat meriah dan menyenangkan. Banyak acara seru yang bisa dilakukan baik untuk para muda-mudi maupun para orang dewasa bahkan lanjut usia.
Kedua mempelai juga ikut merasakan berbagai keseruan yang diadakan selama pesta berlangsung. Semua ini berkat MC serta WO yang sudah bekerja keras memeras otak demi menciptakan suasana pesta yang meriah, seru dan tidak membosankan tamu-tamu yang hadir.
Ada juga sesi yang menguras emosi dan air mata, salah satunya ketika kedua mempelai dipersilahkan mengatakan satu dua kalimat untuk orang tua masing-masing, begitu juga sebaliknya, para orang tua juga di beri waktu untuk memberikan nasehat, wejangan atau mengungkapkan kasih sayang mereka pada kedua mempelai yang akan mengarungi bahtera rumah tangga terlepas dari orang tua.
Malam yang terasa panjang dan paling berkesan seumur hidup Serena dan Julian. Keduanya benar-benar dapat merasakan ketulusan dari anggota keluarga masing-masing serta menerima doa dan harapan yang terbaik untuk lembaran baru sebagai sepasang suami istri.
'Berbahagialah selalu, adikku tersayang. Aku senang akhirnya aku bisa membagi tanggung jawabku dengan Julian yang benar-benar mencintaimu sepenuh hati. Meski begitu, aku harap kamu akan selalu mengingat kakak dan tetap menyayangiku sama banyaknya seperti dulu. Tapi tolong, kalau bisa jangan beri aku ponakan dulu, hatiku masih belum siap menerima semua kenyataan ini...huhuhu, Serena...kakak benar-benar sedih tapi juga bahagia atas pernikahanmu...aku benar-benar kacau,' Caesar hanya bisa membatin dalam hati. Meski begitu, dia percaya Julian akan selalu melindungi dan membahagiakan Serena melebihi siapapun.
"Kau benar-benar menahan diri ya, kak.." Dion tidak tahan untuk tidak berkomentar. Caesar terlihat sedikit tertekan, namun mau tak mau Caesar harus merestui pernikahan ini demi kebahagiaan Serena.
"Lihat aja, kalau si Julian macam-macam, akan kukeb!r! anak itu!!" Caesar masih akan terus memantau Serena apapun status dan kondisinya.
Dion menghela nafas panjang. Sudah menduga kalau sepupunya itu tak akan membiarkan Serena hidup tenang dengan Julian meski keduanya telah resmi menikah.
'Kak Caesar masih sama overprotektifnya, tapi semakin ke sini aku jadi tau perasaannya sih. Serena memang berharga, jadi kita berdua harus tetap menjaganya meski dari kejauhan...adikku, semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan kalian. Terima kasih, karena telah menerimaku sebagai kakakmu juga. Aku akan selalu menyayangimu.'