Mine

Mine
Takut dan Resah



"Jevano!"


Jevano yang termenung di kursi duduk depan sebuah kamar rawat pasien sontak menengok begitu mendengar suara yang amat familiar di telinganya.


"Se-Serena??"


Ekspresi suramnya seketika menjadi cerah begitu melihat kedatangan Serena yang tak terduga. Meski ada Julian di belakang Serena, namun Jevano tetap bersyukur wanita itu bersedia datang menemuinya.


"Gimana keadaan tante Beatrice?? Kondisinya udah baikan??"


Raut cemas tercetak jelas di wajah Serena. Mungkin wanita itu mendengar kabar buruk ini dari Jasmine, maka Jevano akan berterima kasih pada mantan kekasihnya itu nanti.


"Udah mendingan, tapi kadang masih sering drop. Dokter sedang memeriksanya sekarang..."


Syukurlah kalau begitu, kekhawatiran Serena perlahan sedikit menguap.


"Ini, kami bawakan sesuatu untukmu dan ibumu." Julian yang membawa beberapa bingkisan di kedua tangan, maju lalu menyerahkan semua itu pada Jevano.


Jevano menerima pemberian pasutri itu dengan senyum yang sendu. Serena bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata Jevano dengan jelas.


"Kamu sulit tidur ya? Kantung matamu kelihatan lebih gelap."


Seperti yang diharapkan, Serena masih saja peka terhadap dirinya. Jevano tidak bisa menutupi kegembiraannya gara-gara perhatian kecil yang diberikan sahabatnya.


"Iya. Tapi tadi malam aku bisa tidur nyenyak kayak biasanya lagi. Kemarin-kemarin aku sulit tidur karena harus memantau kondisi Mama terus. Mama juga nggak mau ditunggui sama orang lain kalau bukan keluarganya sendiri, malu katanya...jadi ya, aku lebih banyak tinggal di sini untuk sementara waktu ini.."


Nyonya Beatrice memang sensitif terhadap orang asing, jadi tak mengherankan lagi kalau wanita itu menolak dijaga dan dirawat oleh pihak luar yang bukan anggota keluarganya sendiri.


"Tapi kalau pagi sampai sore, ada yang bibi datang ke sini menemaniku sambil membawakan beberapa berkas penting untukku. Mau nggak mau, aku harus bekerja dari rumah sakit.." imbuh Jevano kemudian.


Serena dan Julian mendengar secara seksama. Rupanya Jevano menghadapi masa-masa sulit dan melelahkan sekarang.


"Kalau Julio udah lebih besar, aku nggak masalah meninggalkannya sebentar untuk merawat tante Beatrice juga...sayangnya, dia masih kecil dan nggak mau aku tinggal terlalu lama.." Dalam lubuk hatinya yajg terdalam, Serena juga ingin berpartisipasi langsung menjaga Nyonya Beatrice meski hanya sebentar.


Sayang sekali, Serena tak bisa meninggalkan puteranya terlalu lama karena anak itu akan menangis histeris bila tak melihat ibunya.


Jevano tersenyum kecil, dia sudah menduga hal itu akan terjadi karena kini bayi mungil Serena telah menjadi si kecil yang sedang aktif-aktifnya.


"Nggak masalah. Aku akan merasa sangat bersalah sama Julio kalau kau nekat datang ke mari dan merawat Mamaku." Jevano terkekeh kecil membayangkan si mungil Julio merengek marah.


"Ya, Julio memang anak Mama. Jadi sulit menjauhkan kedua orang ini," celetuk Julian, yang seringkali merasa tersingkirkan oleh puteranya sendiri.


Sama seperti Julian, Julio tumbuh menjadi anak yang begitu menyayangi ibunya. Bahkan ke mana-mana harus bersama sang ibu, dan jika tidak melihat wajah ibunya dalam beberapa menit saja Julio akan menangis histeris dan meronta-ronta minta dipertemukan dengan ibunya.


Karena hal itulah, Julian menghadapinya kesulitannya sendiri.


Jevano tak bisa menahan tawanya, membayangkan betapa frustasinya Julian harus mengalah pada buah hatinya sendiri.


'Ahh...hanya dengan kedatangan mereka, bisa sedikit menghibur hatiku...kesepianku juga sedikit terobati berkat mereka,' batin Jevano senang.


Jevano pergi sebentar untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Gimana? Apa semuanya baik-baik aja?"


Sesudah dokter pergi, Serena mengajukan pertanyaan yang membuatnya penasaran.


Raut muka Jevano tampak menyendu lagi. Serena merasa ada berita buruk yang disampaikan oleh sang dokter.


Jevano menghela nafas panjang. "Aku harap, aku menerima laporan tentang perkembangan kondisi Mama yang telah membaik dari dokter. Tapi kata dokter, kondisi Mama masih membutuhkan pantauan dan belum diizinkan pulang dalam waktu dekat ini." Helaan nafas berat melepas semua keresahan yang menumpuk di hati.


"Aku....aku harap Mama segera pulih dan kembali seperti sedia kala. Aku bener-bener kesepian dan kangen sama dia..."


Tak peduli reputasinya sebagai salah satu pria idaman kaum hawa, Jevano membiarkan air matanya menetes deras membasahi kedua pipinya.


Meski tanpa isakan keras, Julian dan Serena dapat melihat seberapa hebatnya tangisan seorang anak yang begitu mengkhawatirkan kondisi sang ibu.


Hati Serena perih melihat Jevano yang terpuruk. Satu-satunya hal yang bisa dia berikan adalah dukungan emosional dan tindakan. Tanpa ragu Serena merengkuh tubuh bergetar Jevano ke dalam pelukannya.


Walau air matanya sudah menggenang dan siap tumpah kapan saja, Serena berusaha menahannya sekuat mungkin demi Jevano.


Pemandangan di depan matanya sama sekali tak menyakiti hati Julian. Justru Julian ikut bersimpati atas kemalangan yang sedang menimpa Nyonya Beatrice. Walau dirinya tak sedekat itu dengan nyonya besar Nollan, tapi Julian begitu menghormati beliau.


"Kita bisa melalui ini bersama. Jangan merasa sendiri, karena aku dan Serena selalu ada untukmu." Layaknya pria sejati, Julian ikut memeluk Jevano dan juga sang istri.


Kedua orang itu pernah melalui masa-masa sulit bersama di masa lalu, jadi wajar bagi Serena untuk menguatkan Jevano yang kini kembali merasakan jurang yang gelap dan bisa kehilangan sumber cahayanya kapan saja.


Julian akan melakukan segala yang dia bisa demi membantu kesembuhan Nyonya Beatrice. Sekalipun itu artinya Nyonya Beatrice harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih canggih dan lengkap, Julian siap membantu kapan saja.


"Kalau butuh sesuatu, jangan ragu menghubungiku. Aku akan selalu ada untuk membantumu. Karena sahabat Serena adalah sahabatku juga." Julian tersenyum menyemangati Jevano.


Sungguh, setelah sekian lama Jevano baru menyadari betapa baik dan royalnya Julian pada orang-orang yang dianggapnya sebagai teman.


Di satu sisi, Jevano sedikit malu karena pada akhirnya Julian akan mengetahui bagaimana keadaan keluarganya yang tidak harmonis.


Bahkan di saat sang ibu tengah terbaring tak berdaya dengan bantuan alat pernafasan pun, baik adik maupun ayahnya belum ada niatan menjenguk ibunya ke rumah sakit. Jevano memang tidak mengharapkan kedatangan mereka, tapi setidaknya menunjukkan batang hidung mereka sebentar tidak ada salahnya, bukan?


Tapi apa yang bisa diharapkan dari orang-orang berhati dingin dan tak punya perasaan itu? Lebih baik Jevano fokus pada kesembuhan sang ibu, lalu Jevano akan memboyong ibunya ke tempat lain yang lebih sehat dan tenang daripada kembali ke kediaman Nollan.


"Jev.."


Serena bisa sedikit membaca jalan pikiran Jevano hanya dengan melihat ekspresi kosong sang sahabat.


"Berjanjilah padaku satu hal." Serena menggenggam satu tangan Jevano yang terkulai lemas di dekatnya.


"Apa itu?"


"Berjanjilah padaku untuk tidak menaruh dendam pada siapapun, termasuk pada Papa dan adikmu. Daripada membuang energi dan pikiran untuk orang-orang jahat itu, lebih baik kamu pikirkan cara untuk membahagiakan dirimu sendiri dan Mamamu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, Jevi. Aku ingin kamu meraih kebebasan dan kebahagianmu bersama dengan Mamamu..."