Mine

Mine
Holiday (Part 3)



"Yosh! Apa kamu udah siap, Serena?!"


"Iya, udah siap dong! Aku udah nggak sabar memulai penjelajahan kita!"


"Kalau gitu, ayo kita turun ke bawah!"


Grep


Serena dan Dion hampir saja berlari menuju pintu, tapi Caesar dengan cepat menahan keduanya agar tidak ke luar lebih dulu.


"Leherku tercekik, kak!!" Serena memegangi lehernya yang tercekik akibat hoodienya di tarik dari belakang.


Begitu juga dengan Dion, kedua orang itu tak jadi berlari-larian gara-gara Caesar yang menarik tudung hoodie mereka.


"Kak Caesar, Serena jadi ikut tercekik itu!" Buru-buru Julian menarik tangan Caesar yang masih memegangi tudung hoodie Serena supaya kekasihnya bisa bernafas dengan benar.


"Huhuhu...bikin kaget aja. Kok kak Caesar main tarik hoodieku sih?!" protes Serena pada sang sepupu.


Caesar menghela nafas panjang, "Itu karena salah kalian sendiri! Lihat itu! Kalian bahkan belum memakai mantel, tapi buru-buru turun ke bawah. Mau mati kedinginan atau gimana?!" Caesar justru balik mengomeli Serena dan Dion yang langsung dibuat tak berkutik.


Mesti mulutnya masih mengomel, tangan Caesar bergerak memakaikan mantel pada Serena dan Dion secara telaten layaknya seorang ibu yang memakaikan baju anak-anaknya.


"Hehe~ Aku sampai nggak sadar. Habisnya aku udah nggak sabar mau memulai jalan-jalan kita berempat!" Serena tak berhenti tersenyum ceria saking antusiasnya dia.


Meski harus merelakan quality time-nya dengan Julian, Serena tetap akan menikmati masa liburannya dengan sepuas hati.


Julian menghela nafas berat, tak dipungkiri hatinya masih kecewa karena liburan yang sudah dia nanti-nantikan harus di usik oleh kedatangan tamu tak di undang. Tapi melihat kekasihnya senang, Julian tidak bisa marah dan kecewa lama-lama.


"Kau juga! Pakai mantelmu dengan benar kalau nggak mau kedinginan di luar!" Caesar menunjuk Julian yang masih berdiam diri belum mengenakan mantel hangatnya sendiri.


Julian tertawa kecil. Caesar tiba-tiba menjelma bak ibu-ibu cerewet dan galak, tapi itu tidak menutupi perhatian yang dicurahkan oleh pria itu.


"Iya-iya. Ini aku pakai. Serena, barang yang mau kamu bawa udah semua?" Sebelum itu, Julian harus memastikan kelengkapan barang yang akan di bawa kekasihnya, termasuk di antaranya power bank, kamera, serta payung yang akan melindungi mereka dari hujan salju yang bisa turun kapan saja.


"Payungnya belum. Tolong kamu bawakan ya?" sahut Serena, yang masih diam menunggu Caesar mengancingkan mantelnya dengan benar.


"Oke."


Setelah semua persiapan lengkap, barulah ke empat orang itu turun ke lobi hendak menuju tempat wisata yang akan mereka kunjungi hari ini.


Karena Caesar dan Dion belum mengunjungi Colosseum dan Trovi Fountain, jadilah Serena dan Julian kembali ke sana untuk mengantarkan keduanya melihat-lihat.


Serena sih senang saja, toh dia sangat menyukai air mancur yang ikonik itu. Julian pun juga tak keberatan, lagipula tidak tiap hari mereka bisa melihat keindahan reruntuhan bersejarah itu. Apalagi di sana juga terdapat makam si jenderal yang mempunyai nama yang sama dengan Caesar. Bisa Julian jadikan bahan godaannya nanti untuk calon kakak iparnya itu.


Dan yang membedakan hari ini adalah, mereka akan mengunjungi restoran-restoran terkenal untuk mencicipi jenis-jenis makanan khas Itali. Nafsu makan Serena bertambah besar khusus untuk liburan ini, jadi Caesar dan Julian tak akan menahan gadis itu mencicipi segala jenis makanan yang Serena inginkan.


Serena juga tak lupa mengabadikan segala momen menyenangkan yang dia dapatkan selama liburan. Sosial media yang jarang sekali Serena update, kini kembali aktif sejak Serena rajin membagikan foto-foto maupun video yang memperlihatkan liburan mewahnya kali ini.


Orang-orang yang mengikuti sosmed Serena sedari lama jadi mengetahui apa saja aktivitas Serena selama liburan musim dingin tahun ini.


Tak terkecuali Jevano dan Jasmine yang diam-diam menstalking Serena melalui akun gadis itu.


Serena yang selama ini hanya suka mengabadikan foto benda atau orang lain, sekarang tak malu-malu lagi membagikan foto-foto yang memperlihatkan wajah cantiknya dan kemesraannya bersama Julian.


Kalau Caesar sih Jasmine sudah tahu. Tapi sosok lelaki bersurai merah yang terlihat cukup akrab dengan Serena itu yang membuat rasa penasaran Jasmine muncul.


Tak hanya itu, Dion juga beberapa kali kerap terlihat dalam video di story milik Julian dan berhasil menarik perhatian ratusan perempuan yang menjadi followers Julian.


Keakraban yang tak biasa itu semakin menarik keingintahuan Jevano.


'Siapa sih sebenernya orang itu? Kalau cuma sekedar anak buah, kayaknya nggak mungkin. Keakraban mereka udah di luar batas antara bawahan dan atasan,' pikir Jevano dalam hati.


Jevano tidak bisa berhenti menstalking akun sosmed milik Julian dan Serena yang tiba-tiba menjadi aktif. Padahal sebelum ini, sepasang kekasih itu sangat jarang sekali update, bahkan setahun bisa di hitung dengan lima jari.


Apa lagi identitas Dion itu masih menjadi misteri sampai saat ini. Jevano tidak bisa menutupi rasa penasarannya yang setinggi gunung.


Jevano hanya ingin memastikan identitas dari orang asing yang dekat dengan sahabatnya, tidak lebih. Jevano tetap akan menjaga Serena meski dari kejauhan. Sebab hanya sejauh ini dia bisa melakukan sesuatu untuk Serena. Selama keselamatan Serena terjamin, itu sudah lebih dari cukup buat Jevano.


'Banyak hal baru yang nggak aku ketahui sejak hubungan kita merenggang, Rena..' Jemari Jevano mengusap lembut foto polaroid lamanya bersama Serena.


Jevano masih menyimpan semua foto-foto dirinya dan Serena yang telah dia masukkan ke dalam frame supaya aman. Selamanya Serena adalah sahabat terbaik yang pernah Jevano punya. Sahabat yang berharga dan paling dia sayangi.


"Maafin aku...aku harap kita bisa memperbaiki hubungan kita..." Jevano bergumam lirih.


Jevano juga ingin memberikan semua hal yang terbaik untuk Serena. Meski dirinya terlambat selangkah dari Julian, itu tidak akan menjadi masalah besar baginya.


Mau Jasmine akan melayangkan protes padanya juga Jevano tak peduli. Janjinya pada Serena akan tetap Jevano penuhi meski terlambat.


'Sebelum kamu menikah, beri aku kesempatan untuk melakukan sesuatu sebagai seorang sahabat. Hanya dengan begitu, aku akan benar-benar merelakanmu bersama orang lain...'


'Aku harap kamu bahagia dengan siapapun pilihanmu, Rena. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga..'


.


.


"Ada apa?"


Serena tiba-tiba berhenti melangkah, sampai Julian nyaris menabrak tubuh kekasihnya dari belakang.


Serena menatap langit yang sedang turun hujan salju. "Nggak...gapapa. Mungkin cuma perasaanku aja." Serena tersenyum kecil menjawab Julian.


Caesar yang berjalan di sisi Serena lantas mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Serena. "Kita minum coklat hangat aja dulu. Wajahmu mulai memerah kedinginan," ajaknya kemudian.


Mereka baru selesai berjalan-jalan di sekitar Castel Sant'Angelo, dan berencana mencari restoran terdekat untuk sekedar menghangatkan badan.


Asap yang mengepul keluar dari pernafasan Serena juga terlihat cukup tebal dari sebelumnya. Cuaca memang agak buruk hari ini ketimbang kemarin, wajar Serena kedinginan lebih cepat.


Mungkin mereka harus menyudahi jalan-jalan hari ini, sambil menunggu cuaca sedikit stabil.


"Lebih baik kita istirahat lebih awal hari ini. Atau kita jalan-jalan di dalam hotel aja kalau bosan," usul Caesar kemudian.


Itu ide yang bagus juga. Serena dan Julian belum sempat mengitari hotel tempat mereka menginap, dengan arsitektur yang klasik dan mewah, sepertinya bagus juga untuk berfoto-foto.