Mine

Mine
Holiday, Start!



"Aku pengen berkunjung ke Roman Forum, Colosseum, terus sama lihat Trevi Fountain!"


Kedua mata Serena berbinar ceria sambil menunjukkan gambar dari situs-situs perabadan yang terdapat di Roma. Ini adalah impiannya sejak kecil, dapat mengunjungi berbagai tempat wisata yang memiliki nilai sejarah yang menarik.


"Hahaha! Kamu kelihatan energik banget sedari pagi. Duduk dulu, kita harus mengisi perut sebelum mulai wisata kita!" Julian menarik Serena untuk menempati meja yang masih kosong.


Selepas menaruh barang-barang mereka di kamar hotel, Serena merengek ingin segera jalan-jalan mengunjungi lokasi pertama yang akan mereka tuju, yakni Colosseum.


Berhubung sekarang masuk musim salju, jadi semua jalanan serta bangunan diselimuti butiran salju yang putih. Serena tidak menyesal datang di musim yang dingin begini, karena salju justru membuat pemandangan di sekitar sana tampak lebih cantik bagaikan di negeri dongeng.


"Cantik ya....meskipun cuacanya kayak gini, tapi bagiku ini lebih terasa liburannya!" Serena tak berhenti mengagumi pemandangan di luar jendela restoran tempatnya makan.


Julian sudah selesai memesan, Serena menyerahkan pilihan menu makannya kepada Julian sebab Julian pasti tahu mana saja yang enak dan sesuai dengan seleranya.


"Cantik ya? Tempat kita juga tertutupi salju, tapi bangunan bersejarah yang ada di sini yang membuat suasananya terasa jauh berbeda. Walaupun dingin, tapi pemandangannya nggak mengecewakan sama sekali." Julian ikut berkomentar tentang liburan mereka kali ini.


Lalu dia menambahkan, "Lain kali, kita harus datang saat musim panas. Pasti lebih seru."


Serena mengangguk setuju. "Iya! Kalau perlu kita ajak semuanya liburan juga! Aku mau Dion juga bisa ngerasain liburan seseru ini!" Rupanya Serena tidak melupakan eksistensi Dion.


Hanya Dion satu-satunya saudara yang ada di dekatnya, jadi Serena juga ingin membagi pengalaman serunya kepada Dion.


Ya, lagipula liburan bersama keluarga besar kedengarannya tidak buruk juga. Sudah lama sekali Julian tidak pergi bersama keluarganya, dia jadi merindukan momen-momen menyenangkan itu.


"Iya, aku yakin semua pasti setuju. Nggak akan ada yang nolak kalau diajak liburan. Apalagi kalau kamu yang mengajak," ujar Julian, sambil mengusap lembut sebelah pipi Serena yang mulai terasa hangat.


Tak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang. Namun itu tidak menghentikan ocehan Serena yang terlampau antusias hendak berkeliling sekitar kawasan itu sehabis makan. Julian yang duduk di depan Serena hanya tersenyum manis sambil menyimak ocehan kekasihnya yang kelewat senang.


Tidak ada hal yang membahagiakan bagi Julian selain melihat wajah tersenyum Serena yang manis. Keduanya menikmati makan mereka yang lumayan romantis, suasana di dalam restoran itu juga sangat mendukung dan cocok sebagai tempat berkencan.


Ya, meski bagi Serena mau mereka makan apa dan di mana, tak pernah menjadi masalah asalkan Julian bisa menikmati makanannya dengan baik. Serena 'kan sudah lama mengonsumsi makanan pinggir jalan tapi kalau Julian 'kan mungkin hanya sekali-kali atau bahkan belum pernah, jadi takutnya Julian tidak terbiasa.


Tapi syukurlah, sejauh ini Julian tak pernah mengeluh apalagi protes meski terkadang mereka makan makanan pinggir jalan.


Julian terpaksa mengikuti gaya hidup Serena demi menghargai gadis itu, dan Serena amat menyadari kemurahan hati Julian padanya.


"Tapi kayaknya gara-gara musim dingin, jumlah pengunjungnya sedikit banget ya," Ini pendapat Julian begitu menyadari sedikitnya turis yang datang melihat-lihat daerah sekitar.


"Mungkin. Karena kita terbang naik jet pribadi, jadi kita nggak tau seberapa banyak orang yang naik menggunakan pesawat komersial lainnya."


Julian mengangguk, sependapat pula dengan Serena.


Setelah menyelesaikan makanan mereka, Serena dan Julian tak langsung ke luar dan memulai penjelajahan bersejarah mereka. Keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati segelas coklat hangat yang menemani obrolan ringan mereka.


"Setelah ini, kamu tentuin tempat bulan madu kita ya. Mungkin aku nggak sempat cari tau sendiri karena banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," kata Julian tiba-tiba, yang nyaris membuat Serena tersedak.


"Ga-gapapa kalau tempatnya aku yang milihin? Na-nanti nggak cocok sama selera kamu gimana?" Serena tak tahu preferensi Julian yang bagaimana, dia takut tempat yang dipilihnya tak sesuai harapan Julian.


Padahal Julian tak akan mengeluh meski Serena memilih tempat terpelosok sekalipun. "Iya, nggak masalah. Meskipun kita pergi ke pedalaman sekalipun juga nggak masalah. Kita bisa melakukan banyak hal bersama mulai sekarang."


'Banyak hal bersama...iya ya, sebagai pasangan, mau nggak mau kita akan menempel selama 24 jam. Banyak hal yang pengen aku coba bersama Julian..mungkin, kita bisa mewujudkannya satu per satu...' Serena memandangi lekat wajah lelaki yang akan menjadi suaminya dalam beberapa bulan lagi.


"Makasi banyak...tanpa kamu, aku nggak akan pernah bisa ngerasain kebahagiaan ini," ungkapan rasa terima kasih yang tiba-tiba.


Julian tertawa lepas sambil mencubit kedua pipi Serena yang kenyal.


"Jangan berterima kasih dulu sama aku. Kita akan melakukan lebih banyak kegiatan di masa depan, bersama. Kamu cukup menikmati aja dan bersenang-senang. Aku lebih senang melihat kamu tertawa lepas tanpa beban.." balas Julian, disertai senyuman tampan yang begitu lembut.


Serena jadi merona sendiri, dia bisa merasakan tatapan penuh cinta dari sorot mata Julian yang hanya tertuju padanya.


Usapan jemari besar Julian pada jemarinya membuat jantung Serena berdegup kencang, seolah-olah dirinya jatuh cinta lagi pada lelaki di hadapannya.


"Iya, oke. Aku akan menikmati perjalanan kita dengan hati gembira!"



Tujuan pertama Serena dan Julian adalah mengunjungi Colosseum, bangunan megah yang sayangnya hanya tinggal reruntuhan saja. Sebenarnya tidak ada hal menarik di dalam bangunan tersebut, tapi begitu sampai di lantai teratas, pemandangan di dalam sana tampak menakjubkan, kita bisa membayangkan rasanya hidup di jaman sebelum masehi, ditemani oleh seorang guide yang menceritakan kisah Gladiator.



Di sebelah Colosseum terdapat Palatine Hill atau Roman Forum, salah satu reruntuhan bersejarah yang menarik minat Serena. Sama seperti Colosseum, tak ada hal menarik yang dapat di lihat di sekitar selain terdapat makam Julius Caesar yang sayangnya hanya berupa gundukan tanah yang sederhana.


Ini sedikit menggelikan bagi Julian, sebab dia merasa nama diktator sekaligus jenderal Romawi itu seperti penggabungan nama antara dirinya dan Caesar.


Di sana Serena tak berhenti mengabadikan momen kebersamaannya dengan Julian melalui ponsel ataupun kamera foto milik Julian yang harganya sangat mahal. Julian sampai membeli peralatan kamera itu khusus untuk liburannya bersama Serena.


Beranjak malam, Serena dan Julian pergi menuju Trevi Fountain yang menjadi tempat ikonik di Itali. Konon katanya, kalau kita melempar uang koin ke dalam air mancur itu, suatu saat kita akan kembali lagi ke Roma. Entah itu hanya mitos atau apa, tapi yang pasti Serena ingin datang lagi ke sini di lain musim dan kalau bisa membawa orang-orang terdekatnya juga.


Karena pemandangannya yang bagus, tanpa sadar Serena lebih banyak menghabiskan waktu mengagumi arsitektur air mancur tersebut.


"Hujan saljunya makin lebat. Lebih baik kita segera kembali ke hotel dan menghangatkan tubuh." Julian yang sedari tadi memegangi payung untuk melindungi dirinya dan Serena dan guyuran hujan salju akhirnya bersuara.


Julian khawatir Serena terserang demam atau flu gara-gara terlalu lama berada di cuaca yang dingin seperti ini. Namun sepertinya Serena terlalu antusias sampai tidak merasakan hawa dingin yang semakin menusuk kulit.


"Baiklah kalau gitu. Mau coba kopi yang terkenal di daerah sini nggak sebelum kembali?" Serena dengar, kopi khas Itali rasanya sangat enak. Dia jadi ingin mencobanya sekali, meskipun Serena bukan penggemar minuman pekat itu.


"Boleh juga. Kita coba lihat di peta, biar nggak tersesat jalannya."


Kurang rasanya kalau mereka tidak mencicipi segala minuman atau makanan yang terkenal di daerah itu. Liburan akan terasa pas dan lengkap kalau mereka sudah mencobai semua menu populer yang ada di sana. Biar saja berat badan mereka naik sedikit, yang penting hati merasa puas.