Mine

Mine
Chapter 48



Ainsley ingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Bagaimana Austin menyentuh keseluruhan tubuhnya sampai dirinya merasakan getaran yang begitu hebat. Sial, dia sangat malu. Harus di taruh dimana mukanya? Ia tidak bisa menyalahkan suaminya itu karena gagal menepati janjinya yang bilang tidak akan menyentuh dirinya dulu sampai ia benar-benar mempersiapkan diri. Semalam, tubuhnya sama sekali tidak bisa menolak. Austin pasti akan meledeknya kalau ia tiba-tiba marah padahal dia sendiri mau.


Untuk menutupi rasa malunya, pagi-pagi buta Ainsley sengaja menelpon sopir Austin untuk menjemputnya di villa. Ia tidak ingin pria itu melihatnya ketika bangun nanti. Ia masih sangat malu untuk sekedar melihat wajah Austin. Tidak ada yang tahu ia sudah pergi dari villa itu pagi-pagi sekali. Daripada harus menahan malu didepan Austin, lebih baik pergi saja.


Ketika sampai di rumah Austin, Ainsley cepat-cepat mandi, berganti baju dan langsung berangkat ke kampus. Lebih baik ia ke kampus lebih pagi daripada melihat Austin.


Sementara itu, Ketika Austin bangun dan tangannya menyentuh sisi kiri ranjang untuk menggapai sang istri, matanya langsung terbuka karena tidak mendapati Ainsley disampingnya.


Austin mencari-cari keberadaan gadis itu namun tidak ketemu juga. Matanya kemudian melihat ke atas nakas dan mendapati sebuah catatan kecil yang ditinggalkan Ainsley.


Austin tertawa pelan. Di catatan itu Ainsley memberinya alasan kenapa dia pergi. Namun Austin tahu itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh istrinya. Alasan utamanya pasti karena gadis itu malu melihatnya. Yap! Semalam dirinya sudah mengobrak-abrik tubuh gadis itu dengan begitu rupa. Bahkan jeritan dan ******* Ainsley masih teringat jelas dalam ingatannya. Pasti gadis itu malu sekali. Mengingat itu adalah pertama kalinya dia disentuh oleh seorang pria. Austin tahu itu karena Ainsley ketahuan sekali tidak ada pengalaman.


Tidak sia-sia memang Narrel memasukan video *** di laptopnya. Dia bahkan tidak akan mengira sama sekali kalau Ainsley akan melihat video itu entah sengaja atau tidak. Tapi pasti tidak. Seorang Ainsley yang masih polos begitu mana tahu ada video-video seperti itu dalam laptopnya. Gadis itu memang tidak sengaja membukanya yang sayangnya tertangkap basah oleh Austin. Saat itulah Austin sengaja memakai kesempatan itu untuk menyentuh istrinya. Ia tidak peduli lagi dengan semua janjinya pada sang istri. Ia sudah tak sabar memiliki gadis itu seutuhnya. Tunggu saja. Lagipula Ainsley sudah dia kasih pemanasan yang cukup hot semalam.


                                 ***


"Ada apa denganmu? Istrimu menghilang pagi-pagi buta tapi kau terlihat sangat senang, terus tersenyum seperti orang bodoh." ucap Narrel terus memandangi Austin dengan heran.


Sekarang ini mereka berada di mobil menuju kantor. Liburan sehari mereka di villa tidak ada yang menyenangkan bagi Narrel. Semua yang dia persiapkan tidak ada yang terjadi satupun. Sudah salah dia membawa Yuka. Mereka malah melihat akhir dari hubungan Iren dan pacar brengseknya itu. Dan penyebabnya adalah wanita yang dibawanya, Yuka. 


Namun melihat Austin yang tampak bahagia, sepertinya lelaki itu menikmati liburan ini.


"Katakan apa yang terjadi padamu? Kenapa Ainsley pulang begitu saja?" tanya Narrel sambil menyetir. Matanya melirik sesekali ke Austin dari balik spion.


"Dia bukan pulang begitu saja, tapi melarikan diri." kata Austin masih senyum-senyum.


Narrel mengerutkan alis,


"Melarikan diri? Kenapa?" ia tidak mengerti apa maksud Austin.


Okey. Narrel masih tidak mengerti maksud ucapan Austin. Malu? Malu kenapa? Apa yang di lakukan Austin sampai-sampai Ainsley merasa mal.. tiba-tiba Narrel terpikir sesuatu dan matanya terbuka lebar-lebar lalu sekilas berbalik menatap Austin dengan mata melototnya. Hanya berbalik sebentar karena ia harus tetap fokus menyetir


"Jangan bilang kalian sudah melakukannya semalam?" kali ini Narrel kembali menatap Austin dari kaca spion. Ia sudah tahu Austin belum pernah menyentuh istrinya sama sekali. Pria itu sendiri yang bilang. Narrel melihat senyuman Austin makin lebar.


"Belum," sahut Austin.


"Tapi aku sudah memberinya pemanasan semalam," tambahnya terus senyum mengingat kejadian semalam. Narrel sampai melongo dibuatnya.


"Maksudmu kau hanya menyentuhnya tapi dirinya tidak melakukan apa-apa? Kau yakin kau sudah puas hanya dengan begitu?"


bagi Narrel berhubungan intim dengan pasangan harusnya mereka bisa saling memberi dan menerima. Maksudnya, dirinya tidak akan puas kalau hanya dia sendiri yang aktif. Pasangannya harusnya bisa memuaskannya balik.


"Aku tidak mau membuatnya takut. Kau tahu Ainsley adalah gadis yang lugu, tidak ada pengalaman sama sekali. Tidak seperti wanita-wanita jalan gmu itu. Aku akan mengajarinya perlahan-lahan."


Narrel terkekeh dengan perubahan wajah Austin. Mungkin karena dia sendiri sudah punya pengalaman yang begitu banyak dalam berhubungan ***, jadi dirinya merasa Austin terlalu menyia-nyiakan kesempatan. Padahal Ainsley adalah istrinya yang sah. Ia bisa menyentuh gadis itu kapan saja dia mau tanpa meminta ijin atau menunggu gadis itu siap.


"Terserah kau saja," ucap Narrel akhirnya.


"Oh ya, aku meliburkan Iren dua hari." katanya lagi mengubah pembicaraan. Semalam ketika ia mengejar Iren, wanita itu sedang menangis tersedu-sedu di belakang villanya. Narrel ingin menghiburnya namun tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya ia memutuskan hanya melihat dari jauh.


Putus cinta memang menyakitkan, itulah alasannya kenapa Narrel tidak mau menjalin hubungan serius dengan wanita, karena ia tidak mau sakit hati nantinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Austin. Ia baru ingat dengan kejadian yang menimpa Iren semalam.


"Aku lihat wanita itu sangat terpukul. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya beberapa hari," ujar Narrel.


"Baiklah. Kau saja yang atur." kata Austin. Tidak mungkin juga kan dia memaksa orang yang jiwanya sama sekali tidak ada di tempat kerja untuk bekerja. Bisa-bisa wanita itu malah menghancurkan pekerjaan. Mobil yang dibawa Narrel itu terus melaju menuju kantor. Kedua pria dewasa itu lalu diam, fokus dengan pikiran masing-masing.