
Ainsley berlari keluar dari ruangan Austin dengan air mata yang sudah sudah penuh di pelupuk matanya. Saking kecewa dan merasa sakit hati, ia bahkan tidak sadar dirinya menabrak seseorang dengan sangat keras.
"Hey, kau.." ucapan Narrel tertahan. Pria itu yang awalnya ingin memarahi perempuan yang menabraknya tadi kini terhenti dan hanya menatap kedepan dengan wajah bingung. Ia jelas kenal siapa perempuan itu. Itu Ainsley.
"Ainsley? Kau kenapa?" tanyanya saat melihat kondisi gadis itu yang sepertinya tidak baik-baik saja.
"Tidak apa-apa." Ainsley menggeleng dan berusaha tetap tersenyum dihadapan pria itu.
"A..aku pergi dulu." lalu gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Narree. Meninggalkan Narrel yang menatap kepergiannya dengan ekspresi kebingungan. Tak mau berlama-lama berdiri di situ, ia berbalik masuk ke ruangan Austin.
Di dalam sana, Austin juga tampak kacau. Ada apa ini? Apa mereka bertengkar? Kenapa? Padahal akhir-akhir ini hubungan mereka baik-baik saja, terpampang jelas dari wajah Austin.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Narrel menatap lurus ke Austin yang tengah duduk di meja kerjanya. Austin tidak melalukan apa-apa, hanya terlihat merenung dengan tangan terlipat di meja. Ekspresi wajahnya tampak begitu banyak pikiran.
"Karena Ainsley? Kalian bertengkar? Aku melihat istrimu berlari keluar sambil menangis. Jangan bilang kau yang membuatnya menangis?" Narrel menatap lurus Austin. Sedang pria itu tidak menanggapinya sedikitpun. Melihat sikap Austin, Narrel menghela nafas. Beginilah kalau bergaul dengan pria yang memiliki sikap sangat dingin seperti Austin ini, dia harus banyak-banyak bersabar.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya tentang masalahmu lagi." katanya.
"Ada urusan apa ke sini?" tanya Austin kemudian. Lupakan sebentar masalah rumah tangganya. Ia tidak ingin perseteruannya dengan Ainsley sampai berpengaruh pada pekerjaannya. Dia mencoba bersikap profesional.
"Kau ingat Clara?" Austin memicingkan matanya melirik Narrel. Bagaimana bisa dia lupa pada wanita sinting itu. Bukan karena Clara termasuk orang penting dalam hidupnya. Tapi Austin tidak suka saja sama wanita yang terus-terusan mengejarnya padahal wanita itu sendiri sudah tahu kalau dirinya sudah menikah.
Austin ingat beberapa waktu lalu Clara sempat menghubunginya. Dia sengaja tidak menjawab panggilan itu, akhirnya Clara mengiriminya pesan lewat wa. Entah darimana wanita itu menemukan nomor Wa Austin. Katanya dia mau menawarkan kerja sama dengan kantor Austin. Kerja sama apa coba? Mereka sudah tidak punya urusan apa-apa.
Itu sebabnya waktu Clara ingin menemuinya secara langsung dua hari yang lalu, ia selalu menghindarinya. Austin masih pusing karena habis bertengkar istrinya, sekarang wanita lain malah datang mengganggu. Seolah belum cukup apa yang dialaminya hari ini.
"Kenapa dengannya?" tanyanya dengan nada rendah.
"Dia baru saja menghubungiku. Katanya ingin menemuimu tapi kau sibuk. Jadi dia bertanya padaku kapan waktu bebasmu. Dia ingin membicarakan hal penting." ujar Narrel. Austin tertawa sumbang. Membicarakan hal penting? Tentang apa? Kerja sama lagi? Jangan coba-coba menipunya. Lalu tanpa pikir panjang Austin meraih ponsel di atas meja, mencari nama Clara yang tersimpan dalam benda pipih tersebut, dan langsung memblokir kontaknya. Ia lalu menaikkan pandangan ke Narrel.
"Bilang pada wanita itu aku tidak punya waktu meladeninya. Kalau ingin kerjasama, cari perusahaan lain saja. Sekarang aku tidak ingin mengurusi hal-hal yang tidak penting. Apalagi wanita sinting sepertinya" pungkasnya tanpa berpikir dua kali. Narrel yang berdiri didepannya saja merasa tercengang. Haruskah dia memberi tepukan tangan buat laki-laki itu? Ia sungguh tidak dapat berkata-kata lagi. Austin memang terkenal dengan kata-kata pedasnya, tapi ia tidak berpikir sama sekali kalau pria itu akan menolak kerja sama dengan wanita seperti Clara. Padahal melakukan kerja sama dengan perempuan itu cukup menguntungkan bagi perusahaan mereka. Clara bukan lagi orang baru dalam dunia bisnis, ia punya sejuta pengalaman. Namun dia bisa apa coba kalau Austin menolak.
"Bagaimana dengan Iren, kondisinya sudah membaik? Aku ingin kau menyuruhnya mengatur kembali jadwal kerjaku."
Nama yang disebutkan oleh Austin itu membuat Narrel terdiam sesaat. Ingatannya kembali ke malam panas yang dia lakukan dengan wanita itu beberapa hari yang lalu. Malam yang sangat indah dan menyenangkan. Itu pertama kalinya hatinya tersentuh saat bercinta dengan seorang wanita. Biasanya Narrel tidak pernah mengingat detail permainan panasnya dengan kebanyakan wanita, tapi dengan Iren, ia bisa ingat dengan jelas sedetail mungkin.
Mulai dari tangannya yang menyentuh setiap inci dari tubuh mulus Iren, lidahnya yang bermain di setiap titik-titik sensitif wanita itu, dan penyatuan mereka yang tidak terlupakan hingga membuatnya melayang karena kenikmatan berada di dalam Iren. Narrel sangat mengingatnya. Dan ia menginginkan lagi. Ia ingin melakukannya lagi dengan Iren. Tapi sayang sekali karena Iren tetap bersikap seperti biasa setelah mereka melakukannya. Wanita itu berpura-pura seolah tidak terjadi apapun di antara mereka malam itu.
Jelaslah Narrel kesal. Ini pertama kalinya dirinya kesal pada perempuan yang bercinta dengannya. Itu sebabnya beberapa hari terakhir sikap keduanya sedikit dingin. Narrel jarang berbicara dengan Iren, sedang wanita itu sendiri lebih menyibukkan diri dengan membantu dibagian marketing.
"Wanita itu sudah kembali kerja seperti biasa. Hanya saja akhir-akhir ini dia sibuk mengurus tim dibagian marketing. Mereka sedang membuat iklan. Kalau kau butuh dia bekerja untukmu, kau bisa menghubunginya sendiri." Narrel menjelaskan dengan nada bicara seperti seseorang yang sedang kesal. Tentu saja sikapnya itu tidak luput dari perhatian Austin.
"Kalian ada masalah? Sepertinya aku sudah melewatkan hal penting." gumam Austin menatap Narrel seolah ingin meminta penjelasan.
"Tidak, tidak ada! Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa" Narrel menjawab cepat dan agak gugup. Austin malah menertawainya. Namun tawanya menghilang seketika saat mengingat kembali kalau dirinya sendiri ada masalah dengan Ainsley. Ia bingung menghadapi gadis itu. Entahlah, pikirannya masih kacau. Melihat istrinya berciuman dengan pria lain membuat darah di sekujur tubuhnya mendidih. Dan pikiran untuk menghabisi pria yang bersama Ainsley itu makin menjadi-jadi.