
Rasanya tidak ada hari terkelam selain hari ini. Langit pun seolah ikut bersedih. Matahari yang biasanya bersemangat menghangatkan bumi, kini entah pergi kemana. Dia meninggalkan langitnya dengan mendung kelabu.
Wajah-wajah muram itu memandang ke arah yang sama dengan tatapan hampa. Tanah yang masih basah, seolah menyiratkan bahwa luka di hati mereka masih mengalirkan darah kepedihan. Bukan hanya kerabat dekat, wajah-wajah tersohor di kota ini pun tampak menghadiri pemakaman wanita yang mereka kasihi. Dan tidak ada satupun dari mereka yang mampu menutupi rasa kehilangan. Semuanya bersedih, semuanya berduka. Seorang Elena Dianne Alejandro memiliki pengaruh yang begitu kuat, hingga orang-orang berpengaruh di kota ini ikut berduka atas kepergiannya.
Masing-masing dari mereka memiliki luka yang berbeda-beda. Dua pria yang bersimpuh di sisi pusara ini misalnya, mereka adalah yang paling terluka dengan kepergian Elena. Mengantar kepergian orang yang mereka sayangi ke peristirahatan terakhir adalah hal terberat yang harus mereka lakukan.
Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi jeritan kehilangan. Tapi luka dalam hati mereka terlanjur menganga, bagai sebuah palung yang sangat dalam.
Namun tanpa mereka sadari, seseorang yang kini berdiri di belakang mereka, tidak hanya merasakan kehilangan. Dalam hatinya kini tertanam beban yang begitu berat. Beban yang akan membuatnya terus dibayangi sosok yang telah beriatirahat dalam damai itu. Dia adalah Isabel.
Isabel merasa dadanya begitu sesak. Dia tidak hanya merasa kehilangan Elena. Tapi dia juga berhutang nyawa pada wanita yang pernah dia benci itu.
Lucu, bukan ?! Orang yang pernah kau benci ternyata adalah orang yang rela menggantikan nyawamu dengan nayawanya.
Harusnya Isabel yang saat ini terbaring dibawah sana. Harusnya Elena saat ini masih bisa minum teh bersama dua sahabatnya. Atau mungkin Elena saat ini kembali ke Amytville untuk mengenang masa kecilnya bersama Eric dan Jordan. Tapi semua itu tidak terjadi. Semua itu hanya menjadi angan kosong. Karena nyatanya, saat ini Isabel masih bisa berdiri tegak, bernafas dengan bebas, sementara Elena harus terbaring di peristirahatan terakhirnya di bawah sana.
Elena baru saja mendapatkan kebahagiaannya, tapi Tuhan mengambil nyawanya dengan cara yang sangat kejam. Rasanya sungguh tidak adil.
Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan makam Elena. Begitu pula dengan Aiden dan Chloe. Aiden merangkul bahu istrinya yang terlihat kepayahan saat berjalan karena perutnya yang semakin membesar.
Dan kini hanya tinggal mereka bertiga disana. Eric, Jordan dan Isabel.
Beberapa saat kemudian Eric mencium nisan Elena lalu bangkit. Dia menghela nafas berat, meredakan sesak yang menghimpit hatinya lalu membalik badan. Dia menatap lekat pada Isabel saat mereka beradu pandang.
Dari apa yang dilihat Isabel, Eric seperti memendam luka yang begitu dalam. Isabel seperti tidak mengenali pria yang saat ini tengah menatapnya dengan sorot yang tidak dia mengerti.
Yang lebih membuat Isabel bertanya-tanya, Eric berlalu begitu saja setelah menatapnya cukup lama. Eric meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan Isabel sampai memutar tubuh mengikuti arah perginya Eric, berharap kekasihnya itu akan berbalik dan menggandeng tangannya untuk pergi bersama. Tapi itu sama sekali tidak terjadi. Eric terus melangkah hingga keluar area pemakaman. Dan dari kejauhan Isabel bisa melihat Eric masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat mobil itu bergerak perlahan semakin menjauh dari area pemakaman.
Entah kenapa Isabel merasa ada yang disembunyikan Eric darinya. Eric seperti sedang memendam sesuatu yang sangat berat.
Hh...apapun itu, Isabel hanya bisa menelan kekecewaan saat mobil Eric sudah benar-benar hilang dari pandangannya.
Sentuhan di bahu Isabel membuat gadis itu menoleh. Ternyata Jordan sudah berdiri di sampingnya.
Jangan bertanya wajah seperti apa yang Isabel lihat saat dia menoleh pada Jordan. Wajah ceria yang selalu dihiasi senyum itu kini mendung. Isabel tidak menemukan binar sedikitpun dari kedua mata Jordan yang kini menatapnya. Mata itu seolah mati.
"Kita pulang." Kata Jordan singkat tanpa ekspresi.
Pria itupun sama. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Isabel di samping pusara. Meski nantinya mereka akan pulang dengan mobil terpisah, Isabel segera menyusul Jordan.
Sebegitu berartinya kah Elena bagi mereka ? Hingga kematian Elena seolah menjadi kematian jiwa mereka juga.
Bahkan hingga satu minggu berlalu sejak kematian Elena, Isabel masih merasakan aura kelam. Dia merasa kalau Eric dan Jordan berubah. Kedua orang itu seperti phantom. Mereka seperti bayangan yang tidak tersentuh.
Semakin sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Jordan selalu menghabiskan waktu di depan layar komputer. Dia tidak ingin siapapun mengganggu pekerjaannya. Dia hampir tidak pernah tidur hanya untuk melacak keberadaan Jim. Ya, hingga sekarang Jim belum di temukan. Pria itu sangat licin, sangat pandai bersembunyi.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, saat di pemakaman itu adalah kali terakhir Isabel bertemu dengan Eric. Setelah hari itu, Eric menghilang. Eric memutus semua akses komunikasinya dengan siapapun. Pria itu benar-benar menghilang tanpa jejak.
Isabel mengkhawatirkan Eric. Saat terakhir mereka bertemu, Isabel melihat banyak luka batin dari sorot mata Eric. Isabel tidak ingin hal buruk terjadi pada kekasihnya itu. Isabel merindukan Eric.
Dan itulah yang membuat Isabel hari ini mendatangi kantor Jordan. Dia harus tahu dimana Eric sekarang. Dia tidak bisa seperti ini terus. Merindukan seseorang yang tidak ingin di temukan.
Isabel berdiri di depan sebuah gedung yang menjadi pusat kegiatan Skytech. Dengan langkah lebar Isabel memasuki gedung 6 lantai itu. Dia pernah menelpon Jordan, tapi pria itu hanya mengatakan jika dirinya sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa berbicara di telepon lama-lama. Maka dari itu, Isabel memberanikan diri menyambangi Skytech.
"Aku ingin bertemu dengan Jordan Deckinson." Kata Isabel pada resepsionis.
"Maaf, Miss. Mr. Deckinson sedang tidak bisa menerima tamu." Jawab resepsionis itu dengan sopan.
Isabel menghela nafas. Eric menghilang. Jordan tidak ingin ditemui. Ada apa dengan mereka ?!
"Tolong katakan padanya, Isabel Bennings ingin membicarakan masalah penting dengannya." Tegas Isabel.
Resepsionis itu tampak terkejut. Meski samar, tapi Isabel bisa melihat kerutan di dahi wanita itu.
"Mohon tunggu sebentar." Kata resepsionis itu. Lalu dia menghubungi seseorang melalui pesawat telepon yang ada di mejanya.
"Maaf, Ms. Bennings. Saat ini Mr. Deckinson tidak ingin bertemu dengan siapapun." Kata resepsionis itu setelah selesai melakukan panggilan telepon.
Isabel mengernyit. Apa Jordan memang sesibuk itu hingga tidak bisa menemuinya ?
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Eric Michaels." Kata Isabel kemudian.
"Mr. Michaels sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang cuti."
Cuti ? Eric juga tidak bekerja ? Isabel tidak habis pikir, apa-apaan mereka ini ? Mereka pikir hanya mereka saja yang bersedih atas kematian Elena ? Lantas bagaimana dengan Isabel yang berhutang nyawa pada Elena ? Apa mungkin mereka menghindar karena menganggap Isabel yang bersalah atas kematian Elena ? Bukankah waktu itu harusnya Isabel yang mati ?! Hah ! Apa pikiran mereka sedangkal itu ? Apa otak jenius mereka ikut mati bersama Elena ?
Isabel memjamkan mata sambil menghembuskan nafas berat. Dia harus bertemu dengan salah satu dari mereka.
"Miss Bennings !" Panggil resepsionis itu saat Isabel berjalan cepat menuju lift. Isabel akan ke ruang kerja Jordan langsung untuk tahu apa yang sebenarnya pria itu kerjakan hingga tidak bisa menemuinya.
Terlihat dua orang security mengejar. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani menyentuh Isabel. Mereka hanya berusaha mencegah dengan terus memberi penjelasan bahwa Jordan tidak ingin bertemu siapapun sambil terus mengikuti langkah Isabel.
Isabel tidak peduli. Dia masuk ke dalam lift lalu menekan angka 6. Untung saja Eric pernah bercerita jika ruang kerjanya berada di lantai 6, jadi satu dengan ruang kerja Jordan. Jadi dia tahu arah mana yang harus dia tuju.
Begitu sampai di lantai 6, Isabel segera mencari ruangan dengan pintu berwarna hitam dengan ukiran unik di tengahnya.
Sekretaris wanita yang berada di depan ruangan itu tampak bingung dengan kehadiran Isabel bersama dua orang security di belakangnya.
Tanpa basa basi mengetuk, Isabel membuka pintu itu dengan kasar. Begitu dia masuk, dia dibuat terkejut dengan pemandangan yang tertangkap pertama kali oleh matanya. Sebuah layar led besar yang menempel di dinding. Dia berhenti melangkah dan menatap layar itu dengan seksama. Layar yang menampilkan tayangan slide foto-foto dirinya.
Isabel menelan ludah, kedua matanya berkaca-kaca. Apa Eric yang membuat ini ? Pantas saja resepsionis tadi tampak terkejut saat Isabel menyebutkan namanya. Mungkin dia hanya pernah mendengar namanya tapi tidak pernah melihat foto-fotonya yang ditayangkan secara bergantian di ruang kerja Eric.
Lalu saat seseorang membuka pintu lain di dalam ruangan itu, Isabel semakin dibuat terkejut. Itu adalah Jordan.
Bukan hanya Isabel yang terkejut. Jordan pun tak kalah terkejut dengan kehadiran Isabel di ruangannya.
"Jordan ?" Isabel mengernyit, lantas berjalan perlahan mendekat pada Jordan. Kedua matanya meneliti penampilan Jordan dari atas sampai bawah. Dia terlihat sangat....berantakan. Kemeja putih yang dia kenakan sangat kusut. Tiga kancing teratasnya sudah terbuka, lengan bajunya dilipat asal-asalan hingga siku. Dia membiarkan bagian bawah kemejanya menjuntai sebagian.
Itu baru pakaiannya. Wajah Jordan tidak kalah mengerikan. Entah sudah berapa lama dia tidak tidur atau mandi. Kantung matanya terlihat menghitam. Bibirnya kering. Jambangnya yang dibiarkan memanjang, serta rambutnya yang acak-acakan membuat Isabel merasa iba. Apa yang terjadi pada Jordan ?
"Keluarlah !" Perintah Jordan pada tiga orang disana yang tidak kalah terkejut dengan Isabel saat melihat penampilan Jordan. Sekretaris dan dua security itu mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan Isabel bersama Jordan.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Jordan dingin. Raut wajah dan nada bicara yang tidak pernah dia tunjukkan pada Isabel sebelumnya. Dia berjalan menuju sofa di ujung ruangan.
Isabel mengerjapkan matanya, seperti baru saja tersadar dengan tujuannya datang kesini. Lalu dia menyusul Jordan.
"A-aku.....se-ebenarnya aku....."
"Aku tidak punya banyak waktu." Potong Jordan yang tidak sabar menunggu jawaban Isabel.
"Apa yang terjadi padamu ?" Isabel mengesampingkan tujuannya untuk mencari Eric. Karena keadaan Jordan terlihat tak kalah mengkhawatirkan.
"Kalau tujuanmu kesini hanya untuk menanyakan itu, sebaiknya kau pulang. Aku masih banyak pekerjaan." Jordan berdiri hendak melangkah meninggalkan Isabel saat gadis itu ikut beranjak dari duduknya.
"Pekerjaan macam apa yang membuatmu jadi seperti ini ?!" Isabel bertanya dengan lantang. "Meratapi kematian Elena ?" Tambah Isabel.
Terlihat Jordan menelan ludah. Kedua tangannya mengepal. "Jangan berbicara seolah kau tahu apa yang kurasakan !" Jawab Jordan dingin.
Isabel maju mendekat. Dia seperti tidak mengenal pria yang kini berdiri membelakanginya itu. "Aku tahu ! Aku tahu apa yang kau rasakan, Jordan !"
Tangan Jordan masih mengepal kuat. Dia memejamkan mata rapat-rapat sambil menggertakkan giginya. "Keluar. Sebelum aku kehilangan kesabaranku." Jordan berusaha mengusir Isabel secara halus.
"Tidak ! Aku tidak akan pergi dari sini !" Isabel bersikukuh. Dia tidak akan membiarkan Jordan terpuruk sendirian.
"AKU BILANG KELUAR !" Dan untuk pertama kalinya Jordan membentak Isabel.
Jantung Isabel berdegup kencang. Suara lantang Jordan membuatnya gemetar. Tapi Isabel tidak akan menyerah. Dia tahu Jordan sedang dalam kondisi buruk. Dan jika dia tidak membantunya bangkit, bisa jadi Jordan akan semakin terpuruk.
Meski tubuhnya gemetar, Isabel berjalan mendekat pada Jordan. Perlahan Isabel mengurai kepalan tangan pria itu. Lalu dia memeluk Jordan dari belakang.
"I know you're not okay. Bicara padaku. Aku akan mendengarkanmu." Kata Isabel lembut dibalik punggung Jordan.
Jordan berusaha melepas pelukan Isabel. Tapi gadis itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga merasa kehilangan Elena. Mungkin aku tidak akan bisa merasakan persis seperti yang kau rasakan. Tapi perlu kau tahu, aku menanggung beban yang akan menghantuiku seumur hidup. Aku berhutang nyawa padanya. Harusnya aku yang mati, bukan Elena. Apa menurutmu mudah menanggung beban seperti ini ? Aku tersiksa, Jordan. Setiap malam aku selalu bermimpi Elena datang padaku dengan bersimbah darah. Jangan menganggap hanya dirimu yang menderita. Akupun menderita. Aku dihantui rasa bersalah. Aku bukan hanya kehilangan Elena. Tapi aku juga kehilangan kalian, kau dan Eric. Kalian pergi begitu saja meninggalkanku."
Dari balik punggung Jordan, Isabel bisa merasakan tubuh pria itu bergetar. Lalu Isabel mendengar isakan kecil dari bibir Jordan. Isabel melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke hadapan Jordan dan dia mendapati pria itu menangis.
Isakan Jordan semakin menjadi saat Isabel memeluknya. Jordan mendekap erat Isabel dan menangis dalam pelukannya.
"It's okay. Keluarkan semua kesedihanmu. Aku disini bersamamu, Jordan." Isabel mengusap punggung Jordan.
"Maafkan aku, Isabel. Maafkan aku." Sesal Jordan. Dia tidak pernah bermaksud kasar dengan membentak gadis itu. Dia hanya....sedang sangat kalut. Dia hampir putus asa karena upayanya mencari keberadaan Jim selama seminggu ini tidak membuahkan hasil apapun.
"It's okay. Aku mengerti." Ucap Isabel. Dia membiarkan Jordan menumpahkan segala kesedihannya. Dia tidak pernah melihat Jordan serapuh ini. Tidak bisa dipungkiri, Jordan merasa sangat terpukul dengan kematian Elena. Bukan karena dia mencintai Elena seperti seorang pria mencintai wanita, tapi seperti seorang kakak yang mencintai adik kesayangannya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Maaf kemarin gag up. Lagi ikut melayat. Hehehe
Saatnya nyiksa mereka satu persatu. hahahaha....ketawa jahat dulu lah.
Oya, 100 Days baru ganti cover. Hapus dulu aja dari rak buku, nanti setelah masuk rak buku lagi covernya udah jadi baru.
See you next part, Love.