
Derap langkah kaki Isabel menggema di lorong Rumah Sakit. Isabel berjalan cepat menuju ruang perawatan Eric. Isabel tidak tahu Eric sakit apa. Tapi dia sangat khawatir saat mendengar kabar bahwa sejak semalam Eric dirawat di Rumah Sakit.
"Aiden !" Seru Isabel saat melihat Aiden duduk sendirian di kursi tunggu tepat di depan ruangan tempat Eric dirawat.
Aiden berdiri, dia tersenyum pada Isabel. "Kau datang ?" Tanyanya. Dia tidak menyangka kalau Isabel mau menjenguk Eric, karena yang dia tahu hubungan keduanya sedang buruk.
"Dia....." Isabel menunjuk ke arah pintu ruangan. Tanpa dilanjutkan pun Aiden sudah paham dengan kalimat apa yang akan diucapkan Isabel.
"Duduklah !" Aiden mendahului Isabel untuk duduk. Isabel menuruti ucapan Aiden untuk duduk disampingnya.
"Dia mengalami dehidrasi parah. Kemarin, dia muntah terus menerus, hingga tubuhnya lemas karena kekurangan cairan." Jelas Aiden.
Isabel mengerutkan kening. Muntah ? Setahu Isabel, Eric tidak mempunyai riwayat alergi makanan. Dia muntah karena apa ? Salah makan ?
"Apa dia makan sesuatu yang beracun yang membuat dia muntah terus menerus ?" Tanya Isabel.
Aiden tersenyum tipis. Dia merasa geli dengan pertanyaan Isabel. Lalu Aiden menghela nafas pelan. "Dia mabuk bahan pembuat kue manis." Jawab Aiden sambil tersenyum.
Kedua mata Isabel melotot. Memangnya ada mabuk semacam itu ? Kue manis ? Astaga ! Isabel tidak percaya ini. Dia baru ingat kalau Eric tidak begitu suka manis. Setiap hari dihadapkan dengan bahan-bahan pembuat kue yang dikirimkannya pada Isabel, pasti membuatnya mual.
"Tidak perlu merasa bersalah. Dia hanya butuh sedikit cairan infus dan dia akan sehat kembali." Kata Aiden menenangkan, karena dia tahu Isabel khawatir. "Kau mau masuk ?" Tanya Aiden kemudian.
Isabel menggeleng. Dia belum siap bertemu dengan Eric. Tidak dia pungkiri kalau dia sangat khawatir, tapi dia merasa ini belum saatnya untuk bertemu dengan Eric. Aiden pun mengerti, dia tidak akan memaksa.
"Kau bersama istrimu ?" Tanya Isabel berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tidak." Aiden menggeleng. "Dia di rumah bersama Annabeth. Dia baru saja pulih. Aku tidak ingin dia kelelahan menjaga kakaknya. Jadi aku dan Jordan yang menjaga Eric disini."
Isabel mengangguk paham. "Kulihat semakin hari kau semakin menyayangi istrimu." Cibir Isabel membuat Aiden tertawa kecil.
"Kau benar. Sejak kehadiran putri kami, aku semakin menyayangi mereka." Aku Aiden. Bukan hanya sayang, tapi Aiden bisa merasakan perubahan dalam hatinya. Sedikit demi sedikit Aiden bisa merasakan benih-benih cinta tumbuh di hatinya untuk Chloe.
Hati siapa memangnya yang tidak tersentuh dengan perempuan seperti Chloe ? Dia baik, cantik, lemah lembut, perhatian dan pemikirannya dewasa. Seperti batu yang ditetesi air secara terus menerus, hati Aiden perlahan-lahan luluh dengan kebaikan Chloe.
"Aku ikut senang mendengarnya." Ucap Isabel tulus. "Aku ingin sekali melihat putrimu. Dia sangat cantik."
"Datanglah ke rumah ! Chloe dan Annabeth pasti sangat senang kalau kau mau datang."
Ingin sekali Isabel kesana. Dia merindukan bayi mungil yang baru sekali dia temui itu. Tapi, dia merasa tidak enak dengan Chloe. Dia takut Chloe akan berpikiran yang macam-macam jika dia berkunjung kesana.
"Sebaiknya tidak. Aku tidak ingin Chloe berprasangka macam-macam."
Aiden tersenyum, setengah tahun lebih dia menikah dengan Chloe, sudah mampu membuatnya memahami karakter Chloe dengan baik. Meski Isabel pernah menyakitinya, tapi Chloe sama sekali tidak pernah berpikiran buruk tentang Isabel, apalagi menaruh dendam.
"Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Percayalah, dia akan sangat senang kalau kau mau berkunjung." Kata Aiden sangat yakin.
Hal itu membuat hati Isabel tersentil. Betapa jahatnya dia dulu pada Chloe. Padahal Chloe adalah orang yang sangat baik.
"Lain kali aku akan kesana." Ucap Isabel sebagai basa basi. Meski dia tidak tahu kapan dia akan datang berkunjung.
Beberapa saat mereka terjebak keheningan. Hingga saat Jordan datang menghampiri.
"Kau disini ?" Tanya Jordan dengan senyum lebar saat mendapati Isabel duduk di kursi tunggu bersama Aiden.
"Ya." Jawab Isabel singkat.
"Sudah bertemu Eric ?" Tanya Jordan lagi.
Isabel dan Aiden saling berpandangan. Lalu Aiden bangkit seraya berkata, "Aku masuk dulu." Dia segera meninggalkan Isabel bersama Jordan. Dia tahu ada hal yang harus mereka bicarakan, jadi dia memberikan ruang untuk mereka saling bicara empat mata.
Jordan mengerti dengan situasi yang ada. Dia duduk di sebelah Isabel dengan wajah serius.
"Ada yang harus kita bicarakan." Tutur Jordan dengan tatapan mengarah pada Isabel.
Isabel menarik nafas dalam. Mereka memang harus membicarakannya. Meski tidak akan merubah keadaan yang telah terjadi, paling tidak hati mereka bisa lega setelah pembicaraan ini selesai.
"Ya, kurasa juga begitu."
"Aku yakin kau sudah mendengar atau mungkin melihat video yang dikirimkan Jim pada Eric." Jordan menatap serius pada Isabel. "Aku minta maaf. Karena video itu, hubunganmu dan Eric jadi berantakan. Aku sama sekali tidak bernaksud membuat hubungan diantara kita menjadi rumit dan canggung seperti ini." Jordan mengangkat alisnya menyesal. Dia juga bingung harus mengatakan apa lagi selain meminta maaf.
Jordan menelan ludah. Meski dia sudah memupus perasaannya pada Isabel, tapi dia juga tidak bisa menyangkal jika perasaan itu masih tetap ada dalam hatinya.
"Aku tidak tahu tepatnya kapan. Sejak liburan di Amytville, aku mulai menyukaimu." Jordan mendengus sambil tersenyum masam. "Aku tidak tahu kalau aku bisa sampai sekacau itu waktu kau mengabariku bahwa kau dan Eric mulai menjalin hubungan." Jawab Jordan.
"Dan kau tidak pernah mengatakannya padaku ?"
Jordan terkekeh mendengar pertanyaan Isabel. Dia menyandarkan punggung di tembok. Pandangannya menerawang jauh ke depan. "Aku melihat kalian berciuman. Aku mendengar kau mengakui bahwa kau menyukai Eric di ruang loundry." Jordan menoleh pada Isabel. Tatapannya begitu dalam. "Otakku masih waras untuk tidak berpikir egois." Jordan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Isabel tercengang mendengar pengakuan Jordan. Jadi, Jordan melihat dia berciuman dengan Eric ? Dia juga mendengar pembicaraannya dengan Aiden di ruang loundry ?
Padahal waktu itu Isabel belum memiliki perasaan apapun terhadap Eric. Dia sengaja melakukannya hanya untuk membuat Aiden menjauh darinya. Dia tidak pernah mengira kalau apa yang dia lakukan ternyata menyakiti hati Jordan.
"Aku sangat mengenal Eric. Ciuman kalian telah mempengaruhi hatinya. Meski dia sempat menyangkal, namun pada akhirnya hati tidak dapat dibohongi, bukan ?" Jordan menghela nafas panjang. "Aku bersyukur dia bisa membuka hatinya lagi sejak berpisah dari Elena. Ya...memang dia pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita, tapi aku tidak pernah melihatnya mencintai mereka seperti dia mencintaimu. Bahkan mungkin dia tidak benar-benar mencintai mereka." Tutur Jordan.
Isabel terdiam. Dia tidak mampu membalas ucapan Jordan. Lidahnya seolah kaku, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Mengenai movie player itu...." Jordan menggaruk kepalanya sambil mengerutkan wajah merasa bersalah. "Kuharap kau memaafkan kelancanganku."
Kedua mata Isabel mengerjap pelan. Dia hampir lupa kalau dia butuh penjelasan Jordan mengenai benda yang kata Eric digunakan untuk mengawasinya.
"Aku hanya menggunakannya saat aku merindukanmu. Aku minta maaf." Ulangnya lagi.
Isabel menarik nafas panjang. Sudahlah, toh semua sudah terlanjur terjadi. Jordan juga sudah meminta maaf. Jadi tidak ada alasan apapun lagi untuk memperpanjang masalah. Lagipula, dia juga tidak ingin hubungannya dengan Jordan ikut memburuk karena masalah ini.
"Apa kau masih mencintaiku ?" Akhirnya suara Isabel berhasil lolos.
Jordan menatap dalam pada Isabel. "Masih." Jawabnya jujur. "Tapi aku tahu batasanku. Dan aku akan terus berusaha mengikisnya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi kedepannya nanti." Aku Jordan.
Sekarang Isabel bisa bernafas lega. Pembicaraan ini membuat hatinya terasa lebih ringan. Seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari sana.
Senyum Isabel mengembang, lantas dia memeluk Jordan. "Aku menyayangimu." Ucapnya sebagai tanda bahwa dia sudah memaafkan Jordan. Tentu saja itu adalah rasa sayang seorang adik kepada kakaknya.
Jordan balas memeluk Isabel. Dia mengusap rambut Isabel dengan lembut. "Aku tahu. Terima kasih sudah memaafkanku." Kata Jordan.
"Kau sudah bertemu Eric ?" Tanya Jordan setelah mengurai pelukannya.
"Belum. Aku belum siap bertemu dengannya." Jawab Isabel.
Jordan mengerti. Dia tersenyum lantas mengacak rambut Isabel. "Dia sudah terlalu banyak membayar. Dariku dan dari kakakmu." Jordan mengakhiri kalimatnya dengan kekehan.
Kembali lagi Isabel dibuat tercengang. Jadi, luka di wajah Eric waktu itu bukan hanya akibat pukulan Mike ? Jordan juga menghajarnya ? Oh God ! Malang sekali nasib Eric. Tapi tetap saja Isabel masih belum bisa menemui Eric. Mengetahui kondisi Eric yang tidak terlalu mengkhawatirkan saja sudah cukup bagi Isabel.
"Jangan katakan padanya kalau aku datang !" Kata Isabel.
"As you wish, Princess." Balas Jordan.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Fiuh...!! Satu persatu masalah terselesaikan.
Selanjutnya, masalah yang mana lagi yang harus di selesaikan ? Kepoin terus yuk !
See you next part, Love.