100 Days

100 Days
Part 46



Sayup-sayup suara orang berbincang menelisip ke dalam pendengaran Eric. Dengan lemah dia mulai membuka kelopak matanya. Kerjapan matanya juga terlihat lambat. Wajar saja untuk ukuran orang yang baru saja kehilangan banyak darah.


Koyakan taring tajam srigala itu membuat Eric mendapatkan dua puluh jahitan lebih di lengan kanannya. Sepertinya srigala itu benar-benar lapar.


Eric merasakan pandangannya masih kabur. Tapi dia cukup yakin di depan wajahnya saat ini sedang ada seseorang yang mengamatinya.


"Jordan !" Teriak Isabel yang setia menunggu disamping matras Eric. Jordan sudah meminta gadis itu untuk beristirahat di sofa sambil menunggu Eric siuman. Tapi dia menolak. Rasa bersalah membuatnya rela duduk disamping Eric meskipun sebenarnya tubuhnya meronta karena pegal.


Jordan dan Nora yang sedang berbincang di sofa segera memusatkan perhatian pada Isabel.


"Eric siuman." Isabel tersenyum senang.


Jordan dan Nora segera beranjak mendekat. Nora memeriksa kondisi Eric yang sepertinya belum sepenuhnya sadar.


"Hei, Michaels kau bisa mendengarku ?" Nora memastikan. Kondisi Eric cukup bagus meskipun masih lemah.


Eric terlihat menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dia mengerjap pelan dan menganggukkan kepalanya sedikit.


Isabel mengambil botol air mineral lalu membantu Eric minum menggunakan sedotan. "Minumlah."


"Kau berhasil membuatku takut, Dude." Kelakar Jordan yang berhasil membuat Eric menyunggingkan senyum lemahnya.


"Aku tidak mengira kau setangguh ini, Michaels. Sayang aku sudah menikah." Timpal Nora.


Eric hanya menanggapinya dengan senyum miring. Lalu pandangannya jatuh pada gadis yang terlihat tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil memegang erat botol air mineral.


Eric mengedipkan matanya pada Isabel, seolah berkata, 'Aku tidak apa-apa'. Tapi justru itu membuat air mata Isabel terjatuh, yang dengan cepat dia hapus.


Eric mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia seperti baru menyadari sesuatu. "F*ck !" Meskipun suaranya terdengar lemah. Tapi umpatan Eric berhasil membuat yang lain terkekeh.


"Aku senang masih bisa mendengarmu mengumpat, brother." Ucap Jordan tulus. Dia bersyukur Eric masih tertolong meskipun harus membawanya ke klinik hewan. Karena hanya tempat ini yang terpikirkan oleh Jordan. Hanya klinik milik Nora yang paling dekat dengan posisi mereka waktu itu.


"Aku minta maaf karena tidak memiliki ranjang yang layak untukmu. Tapi tenang saja aku selalu mensterilkan matras ini setelah bekerja." Nora mengulum senyum saat melihat ekspresi kesal Eric.


"Bawa aku pulang." Ucap Eric dengan suara lemahnya.


"Kau yakin ? Kau masih terlihat lemah." Jordan meragukannya. Secara Eric baru saja siuman.


Eric tidak menjawab. Ekspresi kesalnya semakin bertambah saat mendengar ucapan Jordan.


Ayolah, sudah cukup Eric berbagi matras dengan pasien-pasien Nora. Dia tidak harus menyiksa dirinya lagi dengan berbaring dalam kondisi kaki yang menggantung karena ukuran matras yang tidak sesuai dengan tubuhnya.


Eric mencoba bangkit, lalu dengan sigap Jordan membantunya untuk duduk.


Berhasil duduk, Eric memegang kepalanya yang tiba-tiba diserang rasa sakit. Dia memejamkan mata saat merasa ruangan tempatnya berada saat ini berputar. Kepalanya terasa berat.


"Kau tidak apa-apa ?" Jordan memastikan. Kedua tangannya tidak lepas dari bahu Eric agar pria itu tidak tumbang lagi.


"Itu hal yang wajar, Deckinson. Srigala itu membuatnya hampir mati kehabisan darah." Jelas Nora.


Jordan mengangguk. Nora menulis sesuatu dalam note kecil lalu memberikannya pada Jordan.


"Persediaan obatku tidak ada yang cocok dengannya. Belilah di apotik." Ucap Nora jujur. Dia hanya memberikan Eric antibiotik dan pain killer untuk menekan rasa panas dan perih di lengannya. Karena hanya itu yang dia punya. Selebihnya adalah obat untuk hewan.


Jordan menerima note itu lalu menyelipkannya di saku jaket. "Terima kasih, Nora."


"Tidak masalah, Deckinson. Aku senang bisa membantu. Dia adalah yang tertampan diantara semua pasienku." Ucapan Nora diakhiri dengan kekehan.


"F*ck." Sekali lagi Eric mengumpat setelah menjadi bahan tertawaan orang-orang disana.


"Rupanya dia juga satu-satunya pasienku yang senang mengumpat." Bukan lagi kekehan yang terdengar. Tapi tawa lantang Nora.


Jordan tertawa kecil, "Hentikan, Nora ! Aku yakin saat ini dia ingin sekali membidikmu dengan senapannya."


Ucapan Jordan dibalas dengan ekspresi Nora yang kesakitan sambil memegang dadanya seolah dirinya baru saja tertembak.


"Bawa aku pulang, keparat." Akhirnya Eric buka suara. Sudah cukup kedua orang itu mengolok-oloknya.


Eric semakin kesal saat Jordan tidak merespon permintaannya. Pria itu justru semakin asyik menjadikan Eric bahan candaan dengan Nora.


Eric melirik Isabel yang dari tadi hanya bisa ikut senyam senyum mendengar ocehan kedua orang sinting itu tanpa ikut menimpali.


Kebetulan Isabel berdiri tidak jauh dari Eric. Eric menggerakkan tangannya yang tidak sakit untuk menarik lengan Isabel.


"Kau bisa menyetir ? Bawa aku pulang." Eric menatap tajam pada gadis itu. Isabel yang tidak siap dengan tarikan tangan Eric, sedikit terhuyung. Namun dia segera menyeimbangkan diri dan menangkap tubuh Eric yang turun dari matras.


Sontak aksi Eric memancing perhatian Jordan dan Nora.


Eric melingkarkan tangannya yang tidak sakit ke bahu Isabel dan mulai berjalan tertatih dengan dibantu Isabel.


"Eee...Nora, aku harus segera pergi. Terima kasih atas bantuanmu." Jordan mencium pipi Nora.


"Sama-sama, Deckinson. Dengan senang hati." Balas Nora.


Saat Jordan hendak menyusul Eric dan Isabel, Nora menahan tangannya.


"She's a cute girl." Ucap Nora sedikit menggoda. Dari gelagatnya, Nora melihat kalau Jordan tertarik dengan Isabel.


Jordan tersenyum. Dia memang gadis yang manis. Jordan mangakuinya. Tanpa menjawab, Jordan segera meninggalkan tempat itu setelah Nora melepaskan tangannya.


Isabel masuk ke dalam kamar Eric dengan membawa semangkuk sup jamur. Isabel membuatnya sendiri, sup jamur sangat bagus untuk Eric yang baru saja kehilangan banyak darah.


"Aku membuat sup jamur untukmu." Kata Isabel. Gadis itu meletakkan sup diatas nakas.


Kedua mata Eric yang tadinya terpejam langsung terbuka saat mendengar suara Isabel.


Isabel membantu Eric untuk duduk bersandar pada headboard lalu dia duduk di tepi ranjang.


Eric sangat penurut, berbeda dari Eric yang biasanya. Mungkin sifat Eric memang seperti itu. Saat dia sakit, dia menjadi jinak.


Isabel mengambil sup dari nakas. "Aku akan menyuapimu." Katanya.


Dan lagi, meskipun Eric tidak menjawab, tapi dia tidak menolak. Isabel menyuapi Eric hingga sup itu habis.


Isabel masih berdiam di tempatnya, meski sup itu sudah habis. Dia menundukkan wajah, memainkan sendok dan mangkuk di tangannya.


Eric memiringkan wajahnya, "Ada apa ?" Tanya Eric datar.


Isabel mengangkat wajah, menatap lekat pada Eric. "Terima kasih." Ucapnya tulus.


Jika bukan karena Eric, pasti saat ini yang terbaring lemah diranjang adalah dirinya. Bahkan mungkin dirinya sudah menjadi mayat saat ini. Bagaimana gigi tajam srigala itu mengarah kepadanya masih terekam jelas dalam otak Isabel.


Bukannya menghindar, yang dilakukannya saat itu hanya berteriak sambil melindungi kepalanya dengan tangan. Sangat tidak membantu, bukan ?!


Isabel tidak mengira kalau orang semenyebalkan Eric rela menjadi tameng untuknya. Katakanlah itu hanya refleks seorang pria sejati saat ada orang tidak berdaya yang membutuhkan perlindungan. Tapi tetap saja hal itu membuat Isabel merasa berhutang nyawa pada Eric.


"Hmm." Eric hanya menanggapi dengan deheman.


Meskipun begitu, Isabel cukup lega bisa mengucapkan terima kasih pada Eric. Biarlah Eric bersikap menyebalkan sesuka hatinya. Isabel tidak peduli. Satu hal yang Isabel tahu, dibalik sikap menyebalkan Eric, dia mempunyai hati yang sangat baik.


"Ada lagi ?"


Isabel mengeratkan giginya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Isabel takut Eric akan berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.


"Aku ingin merawatmu sampai pulih." Yakin sajalah, terserah apa tanggapan Eric. Isabel hanya ingin membalas budi pada Eric.


Eric mengangkat alisnya. Sedetik kemudian dia tersenyum lemah. "Hanya luka kecil, tidak perlu berlebihan."


Isabel mendelik tidak suka. Bagaimana bisa Eric bilang itu hanya luka kecil. Isabel saja masih merasa ngilu jika ingat seperti apa luka Eric. Dia yakin daging Eric ada yang terlepas dari tempatnya.


"Itu bukan luka kecil, Eric ! Kau hampir mati kehabisan darah karena luka itu !"


Hardik Isabel. Dia tidak suka Eric menyepelekan lukanya.


Tanpa di duga Eric terkekeh melihat ekspresi tidak suka Isabel. "Kau mengkhawatirkanku ?" Pertanyaan itu lebih terdengar seperti cibiran untuk Isabel.


Isabel menghela nafas. Sabar, Isabel, sabar !


"Ya, aku khawatir padamu. Biarkan aku merawatmu." Nada bicara Isabel lembut. Jika dia menanggapi cibiran Eric, yang ada mereka hanya akan berakhir dengan perdebatan.


Eric menatap lekat gadis dengan wajah memelas di depannya. Sepertinya dia sungguh-sungguh. Tadinya Eric ingin membuat gadis itu kesal. Tapi melihat wajah melas dan sungguh-sungguh Isabel membuatnya tidak tega.


"Kau peduli padaku ?" Tanya Eric tanpa melepaskan tatapannya.


"Ya, aku peduli padamu." Jawab Isabel yang juga tidak melepaskan tatapannya.


"Baiklah."


Mendengar ucapan Eric, Isabel tersenyum lebar.


"Aku akan merawatmu dengan baik." Ucap Isabel sambil beranjak dari duduknya. Gadis itu meletakkan mangkuk diatas nakas lalu membantu Eric merebahkan tubuhnya lagi.


Setelah itu Isabel menarik selimut hingga pinggang Eric. "Istirahatlah." Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Meskipun tidak seberapa, paling tidak dia punya kesempatan membalas jasa Eric.


Saat Isabel berbalik, Eric menahan tangannya. Isabel menoleh penasaran.


Eric tersenyum tulus, "Terima kasih."


*


*


*


*


*


*


tbc.


Doanya ya semoga Eric cepat sembuh, biar Isabel ada teman berkelahi lagi.


See you next part, Love.