
Jordan tidak bisa berhenti tertawa sekembalinya dari RCT. Kejadian yang sungguh diluar dugaan. Kedatangan Mike benar-benar membawa bencana bagi Eric. Mike masih menuduhnya membawa pengaruh buruk bagi Isabel dan hanya ingin memanfaatkan adiknya itu.
Sekeras apapun Eric menjelaskan kalau diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, Mike tidak mendengarnya sama sekali. Bagi Mike, apa yang dilakukan Eric dan Isabel--tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan--adalah satu kesalahan besar yang tidak bisa di tolerir.
Jordan dan Joe menampilkan ekspresi yang sama. Mereka mengangkat alis, menatap heran pada dua pria besar yang sedang adu mulut di depan mereka.
"Ini menarik." Celetuk Joe sambil tersenyum penuh arti.
Jordan meliriknya sebentar lalu ikut tersenyum. "Biasanya adikku tidak sesabar itu." Timpal Jordan.
Joe menoleh cepat saat mendengar ucapan Jordan. "Dia adikmu ?"
Jordan mengedikkan bahu sambil menarik bibir kebawah. "Adik angkat. Actually, orang tuanya mengangkatku sebagai anak."
Joe mengernyit lalu kembali memperhatikan dua orang yang sedang berdebat itu. "Menarik." Joe tersenyum tipis. "I have one. Dan pria itu menikahi adik angkatku." Tunjuknya pada Mike.
Giliran Jordan yang mengernyit, sedikit terkejut dengan ucapan Joe. Mike menikahi adik angkatnya ?
"Jadi dia adik iparmu ?" Jordan menunjuk Mike dengan matanya.
"Adik ipar, sahabat, saudara, rival. It's a long complicated story. Kau tidak akan mau mendengarnya." Joe tersenyum penuh arti lalu dia beranjak dan mendekati Mike dan Eric yang masih adu mulut.
"Okay, gentlemen ! Kita sudahi saja meeting hari ini sebelum kalian berdua masuk rumah sakit karena pertengakaran konyol seperti ini." Joe merangkul bahu Mike dan menggiringnya keluar ruangan.
"Aku belum selesai dengan b*jingan itu !" Mike berusaha melepaskan diri dari Joe.
"Dengar, Tuan ! Semua tuduhanmu terhadapku itu sama sekali tidak benar. Pantas saja adikmu lebih memilih tinggal bersamaku, daripada tinggal bersama saudara sepertimu." Kata Eric yang sudah tersulut emosi. Jika saat di Willow Spring dia diam saja, kali ini dia sudah habis kesabaran.
"Beraninya kau bicara seperti itu padaku !" Mike meronta dari cekalan Joe.
"Hans, antar tamu kita turun. Ada yang harus kujinakkan." Kata Joe yang kembali menahan tubuh Mike dan dengan sedikit kasar menyeretnya keluar ruangan sebelum semua diluar kendali.
Jordan mendekat pada Eric. Berdiri disamping Eric sambil mengulum senyum. "Really ? Kalian bertengkar seperti wanita, Dude."
Eric melirik tajam pada Jordan. Lalu dia mendesah frustasi. Dia tidak mengira kejadian seperti ini akan menimpanya. "Gadis itu benar-benar pembawa masalah." Ucapnya frustasi.
Jordan terkekeh, lalu menepuk bahu Eric. "Kita pulang sekarang."
Mau tidak mau, Eric mengikuti langkah Jordan bersama sekretaris Joe yang bernama Hans itu.
Dan disinilah mereka sekarang. Makan siang di restauran yang letaknya tidak begitu jauh dari RCT. Jordan harus segera menjinakkan adiknya itu. Mungkin jika perut Eric kenyang, dia akan lebih mudah mengendalikan emosi.
"Jadi, dia mengira kau kekasih Isabel ?" Tanya Jordan. Tentu saja senyum geli tak lepas dari wajahnya.
Eric mengangkat bahu sambil mendengus kesal. "Dan dia mengira aku memanfaatkan adiknya selama tinggal di tempatku. Bukankah itu gila ?!" Tutur Eric berapi-api.
Jordan tertawa kencang mendengarnya. "Sepertinya kau butuh usaha sangat keras untuk mengambil hati kakaknya, Dude."
"F*ck you !" Umpat Eric.
"Sebaiknya kau segera habiskan makanmu. Kita butuh tenaga ekstra untuk hasil yang ekstra."
Eric masih mendesiskan umpatannya melihat Jordan yang tidak bisa berhenti merapatkan bibirnya.
Menggelikan memang, Eric dan Mike terlihat seperti dua orang wanita yang sedang berebut pria.
*****
Isabel menarik selimut hingga menutupi kepala. Mimpi aneh itu masih membayanginya. Sungguh itu adalah mimpi terburuk yang pernah dia alami.
Mimpi terburuk ? Bagaimana kalau ternyata itu adalah keinginan alam bawah sadarnya ? Bagaimana kalau sebenarnya dia ingin merasakannya lagi ? Sangat menginginkannya mungkin ?
Memangnya apa lagi ? Mimpi seperti itu bisa masuk ke alam mimpi Isabel hanya karena dua hal. Satu, karena Isabel sangat membenci Eric atau apa yang dilakukan Eric. Dua, karena Isabel sangat menyukai Eric atau apa yang dilakukan Eric.
Untuk opsi pertama, coret. Isabel tidak membenci Eric. Dan dia juga tidak membenci apa yang dilakukan Eric karena dia mendapatkan keuntungan dari ciuman itu.
Jadi pilihannya jatuh pada opsi kedua. Jauh di lubuk hati Isabel, dia sangat menyukai ciuman Eric.
Lantas bagaimana dengan perasaannya terhadap Aiden yang hingga detik ini belum bisa dia singkirkan ? Bukankah ini terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa Isabel mulai menyukai orang lain ?
"Aarrgghhhh....!!!" Isabel memekik tertahan dibalik selimut.
"Ada apa denganmu, Bells ? Kau sakit ?" Tanya Alice yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Ya, Isabel sedang berada di apartemen Alice. Dengan Taylor yang setia menunggu di lobi bawah karena Alice tidak mengijinkannya naik.
Isabel menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Dia memasang wajah merana. "The worst nightmare ever." Gumamnya sambil kembali menarik selimut menutupi kepalanya.
Alice duduk di tepi ranjang. Dia menarik selimut yang menutupi wajah sahabatnya. "Tell me !"
Isabel menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Dia malu untuk menceritakan mimpinya pada Alice. Pasti Alice akan mengejeknya habis-habisan jika tahu dirinya memimpikan Eric.
"Apa kau akan memendam semuanya sendirian ? Kau tidak percaya padaku ?" Tanya Alice lagi.
Isabel mendesah lelah. Bukan dia tidak percaya pada Alice. Tapi dia malu. Ya, sangat malu.
"Kau tidak akan tahu kalau tidak mencobanya." Alice mengangkat alisnya.
Isabel menatap melas pada Alice. "Aku bermimpi sangat buruk, Alice." Ucapnya dengan nada lemah.
"Mimpi apa ?" Desak Alice.
Isabel meraung dengan wajah yang tertutup telapak tangannya. "Aku bermimpi berciuman dengan Eric." Jawabnya dengan suara lirih yang masih bisa di dengar Alice.
Kedua mata Alice membulat. Dia segera membekap mulutnya agar tidak tertawa. Dia sengaja menggigit bibirnya hingga terasa sakit, hanya untuk menahan mulutnya agar tidak meledek sahabatnya itu.
"Kau mentertawakanku, kan." Isabel menutup wajahnya lagi dengan telapak tangan.
"Ti-tidak. Siapa yang mentertawakanmu ? Aku hanya sedikit syok mendengarnya." Kilah Alice. Padahal dia setengah mati menahan tawa.
"Kurasa aku sudah gila. Mungkin karena aku belajar terlalu keras." Kata Isabel putus asa. Wajah Eric yang selalu muncul dalam pikirannya membuat dia frustasi.
Alice berdehem. Dia sudah bisa mengendalikan diri dari hasrat ingin tertawanya. "Menurutku mimpimu tidak buruk." Kata Alice. Dia menyamankan posisi duduknya diatas ranjang. Duduk bersila berhadapan dengan Isabel. "Bells, Eric itu sangat tampan. Tidakkah kau lihat ? Tubuhnya kekar, senyumnya sangat menggoda, bulu-bulu halus di rahangnya membuat dia terlihat lebih sexy...."
"Kau belum lihat saja bulu di dadanya." Sahut Isabel tanpa sadar.
"Apa ?!" Alice membulatkan mata. "Kalian....." Alice menggantung kalimatnya.
"Apa ?" Tanya Isabel yang bingung melihat ekspresi Alice yang tiba-tiba berubah seperti habis melihat hantu.
"Oh my God, Bells !" Alice meremas rambutnya dengan gemas. "Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Eric ?"
Isabel menegakkan posisi duduknya. Dahinya mengkerut bingung. "Apa maksudmu ?"
"Apa kalian sudah tidur bersama ?"
"No !" Jawab Isabel cepat.
"Lantas darimana kau tahu tentang bulu dada Eric ?"
Isabel membulatkan matanya mendengar pertanyaan Alice. "A-apa yang kau katakan ?" Tanya Isabel gugup.
Alice menepuk dahinya. "Kau belum lihat saja bulu di dadanya." Alice menirukan ucapan Isabel dengan suara dibuat-buat.
"Apa aku bilang begitu ?"
"No. I said that." Alice memutar bola mata malas. "Jujur, sejauh apa hubungan kalian ?" Tanya Alice lagi.
"Aargh..." Isabel membekap wajahnya dengan bantal. Setelahnya dia menarik nafas dalam dan menatap sendu pada Alice. "Kami pernah berciuman." Ucap Isabel lirih.
"Oh, Bells....Pantas saja Mike melarang keras dirimu bertemu Eric lagi. Jika kalian tinggal bersama lebih lama lagi, aku yakin kau akan pulang dalam keadaan tidak perawan." Ujar Alice.
"Bukan seperti itu. Kejadiannya tidak seperti yang kau pikirkan, Alice. Semua terjadi begitu saja. Dan bodohnya aku membalas ciumannya untuk membuat Aiden cemburu." Jelas Isabel.
"Aiden melihatnya ?" Isabel mengangguk. "Apa Aiden cemburu ?"
"Sangat. Dan kebodohanku yang lain adalah aku mengatakan padanya kalau aku menyukai Eric. Aahh...Alice, aku benar-benar sudah gila."
"Dan kurasa Tuhan mengabulkan ucapanmu, Bells."
"Aku tidak tahu, Alice. Otakku tidak bisa berpikir lagi." Isabel membenamkan wajahnya pada bantal yang ada di pangkuannya sambil meraung gemas dengan apa yang ada dalam otaknya.
Diam-diam Alice tersenyum. Dia senang jika Isabel sudah bisa melupakan Aiden. Walau bagaimanapun, cintanya terhadap Aiden adalah jalan buntu. Dan memulainya dengan Eric terdengar cukup bagus.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Ciye......ada yang mulai galau nih.
Tapi kasian juga ya bang Eric, di gas mulu ama Mike. Gimana mau deketin adeknya coba, kalo belum apa-apa aja udah pasang pager selangit.
Jangan lupa like dan vomment nya dears.
See you next part, Love.