
Satu minggu berlalu. Isabel kembali melanjutkan studinya yang sempat mandeg gegara permasalahan pribadi.
Banyak sekali yang harus dia kejar untuk ketertinggalannya. Dia harus bekerja extra keras agar bisa lulus.
Bukan tanpa alasan Isabel ingin segera menyelesaikan pendidikannya. Setelah negosiasi alot hampir tiga jam berdebat dengan Mike, kakaknya berjanji akan menarik kembali bodyguardnya setelah dia lulus. Dan itu menjadi salah satu pemicu segala kerja kerasnya.
Sebenarnya keberadaan bodyguard itu tidak begitu mengganggu, karena Isabel hanya fokus pada satu titik. Lulus.
Hanya saja saat dia ingin hang out dengan Alice, mereka harus rela berbagi mobil dengannya.
Kemana-mana selalu ikut. Bahkan untuk ke toilet pun bodyguard itu akan menunggu di depan pintu.
Isabel benar-benar kehilangan privasinya. Belum lagi telinga Isabel yang selalu dimanjakan oleh keluhan Alice.
"Bells, boleh aku berkencan dengan bodyguard mu ? Kurasa dia tidak akan pernah punya pasangan jika kerjanya hanya mengikutimu kemanapun. Wajahnya lumayan tampan. Sayang sekali untuk dilewatkan." Kata Alice saat dimobil tanpa menghiraukan keberadaan bodyguard Isabel yang sedang menyetir di depan.
"Ask him." Balas Isabel yang tetap khusyuk membaca buku. Bagitulah dia sekarang. Waktu luangnya dia gunakan untuk belajar dan terus belajar.
Sementara yang di bicarakan tampak tidak terusik sama sekali. Melirik saja tidak.
"Siapa namanya ?" Tanya Alice.
"Taylor." Jawab Isabel singkat.
Alice memajukan tubuhnya. Wajahnya berada di sela kursi kabin depan. Dia menoleh ke kiri, tersenyum menggoda pada Taylor.
"Hei, Taylor. Would you be my boyfriend ?" Tanya Alice sambil mengerjap lucu.
Si bodyguard itu menanggapi hanya dengan senyum tipis. Dan dia sama sekali tidak melihat pada Alice. Pandangannya fokus ke depan.
Alice kesal karena tidak digubris. Lalu dia merangsek pindah ke kursi depan.
"Apa yang Anda lakukan, Nona ?" Taylor yang terkejut langsung menatap tajam pada Alice. Gerakan mendadaknya bisa membuat mereka celaka. Beruntung Taylor cukup lihai mengendalikan mobil.
"Kurasa aku tidak perlu menjawabnya. Kau bisa lihat, kan apa yang aku lakukan ?!" Jawab Alice kesal.
Isabel hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Alice. Sahabatnya itu memang unik.
Sementara Alice sibuk merayu Taylor, Isabel sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia memandang keluar jendela. Seminggu ini dia tidak bertemu Eric. Dia masih khawatir dengan pria itu. Dia takut jika Eric marah padanya.
Isabel tersenyum kecil. Membayangkan wajah marah Eric, Isabel jadi merindukannya. Rindu bertengkar dengan pria itu. Rindu melihat wajah kesalnya.
"Apa yang sedang dia lakukan ?" Gumam Isabel.
Ingin rasanya Isabel ke Willow Spring. Tapi bodyguard itu pasti tidak mau mengantarnya, karena Willow Spring adalah salah satu tempat terlarang untuk di datangi Isabel.
Isabel memejamkan mata, tanpa sadar dia menyentuh bibir. Mengingat obrolan terakhirnya dengan pegawai Willow Spring yang membuatnya salah tingkah.
"Bodyguardmu seorang gay."
Isabel tersentak karena tiba-tiba Alice merangsek ke belakang setelah gagal merayu Taylor.
"Dis sudah menikah, Alice."
"Apa ?!" Alice tampak terkejut. Betapa bodohnya dia yang telah merayu pria beristri.
Taylor mengacungkan jari manisnya yang di lingkari sebuah cincin. Isabel bisa melihat senyum geli di wajah Taylor. Memang wajah Taylor masih terlihat sangat muda, tidak jelek juga. Tapi siapa sangka kalau dia sudah mempunyai tiga anak. Dua diantaranya kembar.
Alice mendengus sambil memutar bola mata. Pantas saja dari tadi merayu sampai bibir jontor, Taylor sama sekali tidak tergoda.
Meskipun Alice tidak serius, tapi pasti akan menyenangkan jika Taylor tergoda sedikit saja.
"Kau sungguh tidak menyenangkan." Gerutunya.
Isabel terkekeh, "Sebaiknya kau pikirkan saja kekasihmu. Siapa namanya ? Luke ?"
"Kami sudah putus."
Isabel mengerutkan kening lalu berdecak. "Berhentilah bermian-main Alice. Apa kau tidak ingin memulai hubungan yang serius ?"
Alice memutar bola mata malas. "Aku masih muda, Bells. Aku masih ingin bersenang-senang."
"Atau mungkin kau ingin kembali pada Nick ?" Isabel mengangkat bahu, menarik bibir ke bawah. Dia lupa jika Nick pernah meminta bantuannya untuk bertemu dengan Alice.
"Si berengsek itu ? Big No !" Alice menolak mentah-mentah.
"Aku bertemu dengannya di pernikahan Aiden. Dia bilang ingin bertemu denganmu. Untuk minta maaf."
Alice diam sejenak. Lalu dia tertawa sumbang. "In his dream."
"Sepertinya dia serius ingin meminta maaf. Kenapa tidak mencobanya ?"
"Berhenti membicarakannya. Bagaimana denganmu ? Sudah bisa move on dari Aiden ?"
Isabel menghela nafas. Lagi-lagi dia teringat cara liciknya untuk membuat Aiden membenci dirinya. "Aku masih mencintainya. Tapi aku sudah mantap untuk melupakannya."
"Memang sudah seharusnya." Alice membenarkan.
*****
"Jadi ini yang kau lakukan ? Bermalas-malasan dan menyerahkan semua pekerjaan padaku ?" Jordan membuka pintu safe house dan mendapati Eric berbaring santai sambil bertelanjang dada di sofa padahal hari sudah siang.
Eric berdecak malas. Dia bangkit, menurunkan kakinya ke lantai. "Aku sedang tidak enak badan." Jawab Eric santai.
Jordan melangkah masuk lalu duduk tak jauh dari Eric. "Kau terlihat sehat, Dude."
Tidak menghiraukan ucapan Jordan, Eric berjalan santai ke dapur mengambil dua kaleng soda dari lemari es. Dia kembali ke sofa dan memberikan satu keleng ditangannya pada Jordan.
"Dimana Isabel ? Aku tidak melihatnya dibawah." Jordan meneguk minumannya sambil melihat sekeliling.
"Pulang."
"Dia pulang ?" Jordan memastikan lagi sekembalinya dia dari dapur.
Eric mengangkat alisnya sebagai jawaban.
"Kapan ?" Tanya Jordan.
"Seminggu yang lalu." Jawab Eric.
Jordan mengusap dagunya dengan jari. Isabel sudah pulang. Mengejutkan. Jordan pasti akan merindukannya. Tapi mungkin itu yang terbaik. Apalagi dengan kabar yang dibawa Jordan kali ini. Akan lebih baik jika Isabel tidak berada di safe house.
Lalu Jordan memicingkan mata, menatap penuh curiga pada Eric.
"Apa ?" Tanya Eric saat menyadari tatapan curiga Jordan.
"Jadi itu yang membuatmu seperti ini ?" Selidik Jordan.
Eric mengangkat alisnya, bingung dengan arah pembicaraan Jordan.
"Tidak bersemangat karena dia sudah tidak disini lagi ?"
"Apa yang kau bicarakan ?"
Jordan terkekeh. "Kau mulai menyukainya ?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." Eric pura-pura tidak mengerti. Padahal ucapan Jordan sudah sangat jelas.
"Lupakan." Jordan menenggak sodanya hingga tandas. "Kuharap kau tidak lupa kalau besok kita ada pertemuan di Red Crown Tower." Kata Jordan mengingatkan sambil menunjuk Eric dengan kaleng soda kosongnya.
"Aku tidak lupa." Eric tetap santai.
"Ini proyek besar, kita harus mendapatkannya."
"Aku mengerti."
Jordan menggeleng melihat Eric yang tampak tak bersemangat itu. Dia menyeringai lalu berkata, "Hei, kurasa kau benar-benar jatuh cinta pada Isabel."
Eric melotot, "Jangan asal bicara !" Katanya.
Jawaban Eric membuat Jordan terbahak. Dipancing sedikit saja, Eric sudah mencak-mencak.
"Berhenti tertawa, keparat ! Bukankah kau sendiri yang menyukainya ?" Balas Eric.
"Aku tidak pernah menyangkal kalau aku menyukainya, bukan ?!" Jordan kembali terbahak. "Tapi melihat keadaanmu yang seperti ini..." Jordan menunjuk Eric sambil menaikkan alis mencemooh, "Aku yakin kau mulai jatuh cinta padanya." Jordan mendapat lemparan remote tv dari Eric.
Jordan masih tidak bisa berhenti tertawa melihat respon Eric. "Seminggu tanpa dirinya sudah berhasil membuatmu kelimpungan."
"Kalau kau menyukainya, kenapa tidak kau nikahi saja dia agar aku segera punya kakak ipar." Tukas Eric.
Jordan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri. "Aku tidak akan merebut cinta adikku sendiri."
"Berhenti mengatakannya atau kulempar kau keluar !" Ancam Eric.
Lagi, Jordan terbahak-bahak.
"Baiklah, baiklah." Jordan meredam tawanya. "Tapi kau harus tahu satu hal." Kata Jordan serius.
Masih dengan raut kesal, Eric menoleh pada Jordan.
"Bagus, Isabel sudah tidak disini lagi...."
Eric berdecak saat lagi-lagi Jordan menyebut nama Isabel. Dia membuang wajah ke depan lalu menyambar kaleng soda di depannya.
"Dengarkan aku dulu." Sergah Jordan sebelum Eric kembali mencak-mencak.
"Elena ada di kota ini."
Eric hampir saja menyemburkan soda yang dia minum.
"Bukankah kau sudah membereskannya ?" Eric menghentakkan soda di meja lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kasar. "Kau memang selalu lemah jika berhubungan dengannya." Kata Eric ketus.
"Dia pernah berjasa pada kita, kau ingat ?!" Jordan tahu kalau Eric sangat membenci Elena setelah Elena menghianatinya. Tapi sebenci apapun Eric pada wanita itu, Jordan tidak akan pernah lupa dengan kebaikan Elena terhadap mereka.
"Ular sepertinya lebih pantas membusuk di neraka."
Jordan menghela nafas. Mengabaikan Eric yang sedang emosi, "Dia tahu kau mengajak seorang gadis ke Amytville. Jika dia tahu tentang Isabel, aku takut dia akan mengganggunya." Ucap Jordan khawatir.
Mereka tahu persis seberapa nekat Elena. Apalagi setelah Eric dan Nick membongkar semua skandal wanita itu yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan berakhir di penjara karena kasus narkoba, kegilaan Elena semakin menjadi. Dia bilang kalau dia masih mencintai Eric, dan dia tidak akan membiarkan Eric dekat dengan wanita manapun selain dirinya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Elena mulai muncul. Hati-hati untuk para gadis yang berniat mendekati Eric, bisa-bisa dijadiin sate sama Elena.
Jangan lupa like dan vomment.
See you next part, Love.