
Seumur hidup Isabel, ini adalah makan malam terburuk yang pernah dia alami. Bahkan makan malam bersama keluarga Grampsey yang berakhir dengan si bungsu Grampsey memuntahkan isi perutnya di meja makan masih terasa lebih baik.
Di meja makan ini empat orang makan dalam diam. Masing-masing dari mereka mempunyai pemikiran yang lebih menyita perhatian daripada berbicara satu sama lain.
Hanya Jordan yang sesekali berusaha menghidupkan suasana dengan mengajak bicara Aiden ataupun Chloe. Namun keduanya hanya menanggapi singkat tanpa berniat menimpali.
Bahkan orang seperti Jordan tidak mampu mencairkan suasana yang sangat sensitif itu.
"Aku akan mengantar makanan untuk Eric." Isabel memilih untuk menyingkir. Diantara mereka berempat, Isabel merasa dirinyalah yang menjadi pembunuh suasana.
Jordan sebagai tuan rumah mengangguk. Lalu Isabel mengambil makanan dan segera melesat ke kamar Eric.
Sekarang hanya tersisa tiga orang di meja makan. Seperti dugaan Isabel, mereka bertiga mulai terlibat obrolan meskipun sedikit canggung.
"Kalian bisa menempati kamarku. Aku akan tidur di kamar Eric." Ucap Jordan. Menurutnya, itu lebih baik. Karena tidak mungkin Chloe menempati kamarnya sendiri.
"Kami bisa menyewa penginapan." Tolak Aiden dengan halus. Karena suasana disini juga sangat berpengaruh padanya.
Jordan langsung mengangkat wajahnya. "Tidak. Kalian tetap disini." Tegasnya.
Aiden melihat Chloe sebentar, mencoba membaca ekspresi istrinya apakah dia setuju dengan usul Jordan. Chloe mengangguk kecil.
"Baiklah." Aiden setuju. Lagipula mereka tidak lama disana. Aiden hanya berharap semoga hatinya kuat berdekatan dengan gadisnya--mantan gadisnya.
*****
"Saatnya makan malam." Ucap Isabel setelah masuk ke kamar.
Dia duduk ditepi ranjang dengan nampan berisi makanan dan minuman.
Eric tidak menjawab, tapi dia juga tidak menolak saat Isabel mulai memberikan suapan kepadanya.
Isabel menyuapi Eric dengan telaten. Tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Begitu pula dengan Eric, dia diam sambil membaca raut wajah Isabel.
Masih ada sedikit rasa khawatir dalam benak Eric. Khawatir jika gadis yang sedang menyuapinya sekarang ini akan nekat melakukan hal diluar dugaan. Eric mengkhawatirkan Chloe. Tapi dia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terpancing.
Sehabis makan malam,Isabel memilih untuk menikmati udara malam di halaman depan. Duduk diatas rumput hijau, sambil menikmati secangkir coklat panas. Coklat membuatnya lebih rileks. Dia ingin melepaskan beban yang bergelayut manja di hatinya.
Melihat Jordan, Aiden, Chloe bahkan Eric yang sedang bercengkerama di ruang keluarga, membuat Isabel merasa asing. Dia merasa tidak pantas menerima tawaran Jordan untuk bergabung. Dia masih cukup waras untuk tidak membiarkan hatinya terluka kembali. Dan dia tidak ingin menjadi pembunuh suasana lagi.
Rumput di sebelah Isabel berubah menjadi gelap, membentuk siluet seseorang yang sangat dia kenal. Membuat dada Isabel berdesir nyeri dengan degup jantung yang berubah cepat.
"Udara malam tidak baik untuk kesehatan." Ujar seseorang yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sebelah kanan Isabel.
Isabel tersenyum masam. Mendengar suara yang sangat dia rindukan, membuat hatinya meringis.
Keduanya diam, membiarkan angin malam membelai tubuh mereka. Rintihan serangga menjadi pengisi suara. Rasanya sangat canggung duduk berdua seperti itu setelah semua yang terjadi.
"Bagaimana kabarmu ?" Aiden menoleh, meneliti wajah yang dia rindukan.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Isabel menjawab dengan pertanyaan.
"Menjenguk Eric." Jawab Aiden, berpura-pura tidak paham maksud Isabel.
"Mereka bisa berpikir macam-macam."
"Aku merindukanmu."
Ucapan Aiden membuat Isabel mengatupkan bibirnya rapat. Kalimat itu terdengar seperti momok untuknya. Kalimat yang selalu terngiang di kepalanya. Kalimat yang bisa membuat benteng yang dia bangun dengan susah payah runtuh.
"Apa kau menjalani harimu dengan baik ?" Tanya Aiden. Kedua matanya tak lepas dari gadis yang sedang menunduk menyembunyikan kesedihannya.
"Aku menikmati liburanku." Jawab Isabel yang masih enggan mengangkat wajah. Desiran dalam dadanya sangat menyesakkan.
Aiden menatap lurus ke depan. Dimana ratusan kunang-kunang beterbangan dalam kegelapan. Pasti akan terasa sangat romantis jika kondisinya tidak seperti sekarang.
"Bagaimana denganmu ? Kau menjalani harimu dengan baik ?" Isabel memberanikan diri memandang wajah yang sangat ingin dia sentuh.
Aiden menoleh, tatapan mereka terkunci. Isabel ingin sekali menangis. Mata itu masih seindah dulu. Wajah itu masih setampan dulu. Dan tatapan itu masih sehangat dulu.
Isabel menyesal telah menatap ke arahnya. Sekarang dia harus kembali mengendalikan hatinya yang berontak ingin meneriakkan kata rindu.
"Kami....berteman dengan baik." Jawab Aiden tanpa berkedip. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan saat harus kembali dihadapkan dengan iris sebiru lautan itu dengan jarak sedekat ini.
Isabel memutuskan tatapan mereka. Dia memejamkan mata sambil menelan ludah yang rasanya sangat sulit.
Perlahan bibirnya menyunggingkan senyuman. Senyum yang menyembunyikan kegetiran hati.
"Aku ikut bahagia. Dia gadis yang baik."
Tangan Aiden bergerak, dia ingin menggenggam tangan Isabel. Tapi dia sadar kalau itu hanya akan mempersulit hubungan diantara mereka. Dia tidak ingin membebani Isabel dengan cintanya yang masih membara, rindunya yang masih menggebu.
Aiden memilih untuk mencondongkan tubuhnya ke belakang dan menjadikan tangannya sebagai tumpuan.
"Jadi....sekarang kau berteman dengan Eric ?" Aiden tahu bagaimana sikap Eric dulunya terhadap Isabel. Jika sekarang mereka berteman, itu adalah suatu kemajuan yang pesat.
"Dia banyak membantu. Meskipun seringkali bersikap menyebalkan." Isabel terkekeh.
Aiden tersenyum. Satu kesalahan lagi yang Isabel lakukan. Menoleh disaat Aiden sedang tersenyum. Senyum yang sangat indah, seperti dulu.
"Maaf." Aiden menunduk. "Aku mengacaukan semuanya." Aiden sadar, semua derita yang dialami Isabel adalah karena kesalahannya.
Isabel tersenyum tipis. "Dan aku memperparahnya." Tentu saja Isabel tidak lupa bagaimana dia bertindak anarkis terhadap Chloe.
Mereka tertawa kecil bersamaan. Rasanya sudah sangat lama Isabel tidak tertawa bersama Aiden. Dan ini....aneh.
Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Saling menghindari tatapan mata satu sama lain. Karena itu yang akan melemahkan hati mereka.
"Kau terlihat sangat peduli dengan Eric." Ucap Aiden. Entah kenapa dia mengatakan itu. Ada perasaan yang tidak asing dalam hatinya, hingga kalimat itu meluncur begitu saja.
"Dia terluka karena melindungiku. Aku berhutang nyawa padanya."
"Bagaimana dengan Jordan ? Dia.... sangat perhatian." Lagi-lagi kalimat itu meluncur begitu saja.
Isabel menoleh dengan cepat. Seperti dejavu, Isabel pernah merasakan situasi seperti ini.
Lalu Aiden juga menoleh ke arahnya. Isabel melihat tatapan yang dulu pernah dia rasakan. Tatapan tenang tapi menuntut jawaban.
Apa Aiden cemburu ?
*****
"Apakah pria seperti itu yang selalu kau bela ?" Tanya Eric sarkas saat melihat sepasang mantan kekasih yang sedang duduk berdua dan saling menatap intens melalui jendela kamarnya.
Chloe mengikuti arah pandang Eric. Lalu dia tersenyum tipis. "Melupakan seseorang yang sangat dicintai tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bukankah kau sangat memahami hal itu ?"
Chloe duduk sambil memperhatikan kakaknya yang masih saja menjelek-jelekkan suaminya.
"Berharap saja dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun." Ucap Eric sarat ancaman. Dia menatap tajam keluar jendela. Dimana kedua orang disana sedang tertawa bersama.
"Istirahatlah. Kau memikirkan terlalu banyak hal. Dan itu tidak baik untuk kesehatanmu." Chloe beranjak, berjalan mendekati jendela lalu menutupnya. Eric bisa kalap jika terus melihat kedua orang itu bersama.
"Aku akan selalu mengawasinya." Ucap Eric penuh kesungguhan.
"Selamat malam, Eric. Aku menyayangimu." Chloe mengecup pipi Eric lantas mengusap lengan kiri kakaknya itu.
Chloe keluar dari kamar Eric dan menemui Jordan di kamarnya.
"Kulihat kalian bertiga cukup akrab." Ujar Chloe tiba-tiba hingga membuat Jordan yang sedang serius dengan laptopnya berjingkat. Chloe bersandar pada pintu sambil bersidekap.
"Shit !" Umpat Jordan. "Aku terkejut, Mrs. Muller." Ucap Jordan sarkas.
Chloe berdecak. "Jangan memanggilku seperti itu."
Chloe berjalan mendekat ke ranjang Jordan lalu duduk di tepinya, di sebelah kaki Jordan yang sedang bersandar pada headboard.
"Aku akan keluar sebentar lagi." Ucap Jordan. Jordan tidak lupa kalau tadi dia menyerahkan kamarnya pada sepasang pengantin baru itu. Hanya saja dia sedang membutuhkan privasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Chloe mengangkat alisnya tidak peduli. "Sepertinya kedua kakakku sangat menikmati liburannya." Celetuk Chloe.
"Apa yang ingin kau bicarakan ?" Tembak Jordan. Dia yakin ada yang ingin Chloe sampaikan.
Chloe melepaskan nafasnya, "Apa Isabel baik-baik saja ?"
Jordan mengalihkan fokusnya pada Chloe. "Sebelum kedatangan kalian, ya. Dia baik-baik saja. Sedikit syok karena insiden kemarin tapi dia baik-baik saja."
"Kalian bertiga sangat akrab. Aku tidak tahu kalau Eric mengajaknya kesini."
"Aku yang menyuruhnya." Sahut Jordan.
"Wow ! Apa ada yang kulewatkan ?" Selidik Chloe. Jordan memang bermulut manis, tapi dia tidak akan sembarangan membawa perempuan ke rumah.
Jordan mendengus. Mata, otak dan jarinya fokus pada benda dalam pangkuannya.
Chloe menarik paksa laptop dalam pangkuan Jordan.
"Shit ! Apa yang kau lakukan ? Aku sedang bekerja."
"Katakan, apa yang kulewatkan." Chloe tersenyum jahil.
"Tidak ada." Jordan mengulurkan tangan, meminta laptopnya kembali.
"Kau menyukainya ?"
"Apa yang kau katakan ?"
Chloe menyeringai jahil. "Yes, you like her."
"Kembalikan laptopku." Jordan menunjukkan wajah malas.
Chloe mencebik, menjauhkan laptop dari jangkauan Jordan.
"Aku sedang bekerja, Chloe. kembalikan !"
"You deserve to be happy, brother. Perjuangkanlah." Kata Chloe sambil mengembalikan laptop Jordan.
Jordan memicingkan mata. "Apa ini sebuah tawaran kerjasama ?"
Chloe mendelik, "Yap ! Kerjasama mencarikanmu jodoh."
"Kalau begitu, maaf aku harus menolak."
Chloe beranjak, "Jujurlah pada hatimu. Aku menyayangimu, Jordan." Chloe mencium pipi Jordan lalu memeluknya. "Terima kasih telah menjadi kakak yang luar biasa untuk kami."
"Aku juga menyayangimu."
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Hampir nangis aku nulisnya. Ngebayangin duduk berdua dengan mantan yang sama-sama masih saling mencintai.
Oops ! bayangin Isabel dan Aiden lho ya, bukan yang lain. Mantan mah udah kelaut berenang sama hiu dan paus.
Jangan lupa vomment dan like.
See you next part, Love.