
Ada yang mengatakan bahwa Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Terkadang Tuhan memberi kita rasa bahagia yang tidak terkira. Dan terkadang Tuhan memberi rasa sakit berulang-ulang. Semua itu akan menjadi positif saat kita menanggapinya dengan bijak.
Hari ke dua puluh lima. Eric masih belum kembali. Pernah terbesit dalam pikiran Isabel untuk bertanya pada Chloe. Tapi dia ragu. Karena dia pasti akan bertemu dengan Aiden. Hari-hari menjelang persalinan istrinya, Aiden selalu di rumah. Dia selalu mendampingi Chloe. Betapa beruntungnya Chloe, memiliki suami yang sangat perhatian seperti itu.
Hingga saat yang ditunggu-tunggu itu tiba. Semalam Chloe telah melahirkan seorang putri cantik yang di beri nama Annabeth Daniela Muller.
Besar harapan Isabel bahwa Eric akan datang untuk menjenguk adik dan keponakannya. Maka dari itu, Isabel bergegas mendatangi Rumah Sakit tempat Chloe melahirkan putrinya sesaat setelah dia mendengar kabar bahagia itu. Tidak peduli kalau hari masih gelap karena matahari masih bergelung dibalik selimut malam.
Isabel berjalan perlahan menuju kamar tempat Chloe dirawat sambil mengedarkan pandangan, berharap melihat sosok yang dia cari.
Kebetulan sekali, saat Isabel sampai di depan pintu, Aiden membuka pintu itu dari dalam.
"Isabel ?" Aiden sempat terkejut dengan kehadiran Isabel disana sepagi ini.
Isabel tersenyum kikuk. "Hai." Sapanya.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Aiden tersenyum sambil mengerutkan kening. Pasalnya ini bukan waktu yang lazim untuk menjenguk seseorang.
"A-aku...ingin menjenguk istrimu." Jawab Isabel.
Meski agak janggal, tapi Aiden tidak mempertanyakannya lagi. Aiden yang tadinya ingin keluar pun mengurungkan niatnya. Dia membuka pintu lebih lebar agar Isabel bisa masuk.
"Masuklah." Aiden menggerakkan kepalanya ke arah dalam ruangan.
"Aiden, siapa yang datang ? Apa itu Eric ?" Terdengar suara Chloe dari dalam ruangan.
"Bukan." Jawab Aiden sambil berjalan mendekat ke pembaringan istrinya. "Dia Isabel."
Raut wajah Chloe berubah kecewa. Tapi dia buru-buru menyembunyikannya dan tersenyum hangat menyambut kedatangan Isabel.
"Hai." Sapa Isabel. Dia bergerak kikuk sambil meremas tali tasnya.
"Hai, Isabel. Kau sendirian ?" Chloe melihat ke arah belakang Isabel, berharap seseorang ikut masuk bersama mereka.
Isabel mengangguk. Dalam hati dia berharap Chloe tahu dimana Eric berada.
"Kupikir kau bersama Eric karena kau datang sepagi ini. " Tutur Chloe kecewa.
"Apa Eric belum kemari ?" Tanya Isabel. Chloe menggeleng. Raut kecewanya tidak bisa dia sembunyikan. Jika tebakannya benar, Chloe juga menjadi korban menghilangnya Eric.
"Aku tidak bisa menghubunginya sejak Elena meninggal....maaf." Chloe menjeda ucapannya, dia menatap bersalah pada Isabel karena mengingatkan gadis itu tentang insiden beberapa minggu lalu.
Isabel tersenyum. "It's okay." Katanya. Meski sebenarnya dadanya terasa sesak karena hal itu mengingatkannya tentang Eric yang masih mencintai Elena.
"Dia menghubungi Aiden. Dia bilang dia sedang ada urusan bisnis di luar negeri." Chloe mendesah kecewa. Isabel menoleh pada Aiden yang terlihat gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu. "Aku berharap saat anakku lahir dia akan kembali. Tapi hingga sekarang dia tidak menghubungi kami lagi."
"Nanti akan kucoba menghubungi dia lagi." Aiden mengusap bahu Chloe.
Isabel merasa gelagat Aiden sedikit aneh. Dia mengenal Aiden cukup baik. Dia tahu pria itu sedang berbohong.
"Apa kau ingin melihat putri kami ?" Tanya Aiden pada Isabel.
Isabel melihat Aiden dan Chloe bergantian. Apa tidak masalah jika dirinya pergi bersama Aiden ? Seolah mengerti arti tatapan Isabel, Chloe tersenyum lantas berkata, "Pergilah. Putri kami ada di ruangan sebelah."
Isabel mengangguk. "Semoga kau lekas pulih." Isabel tersenyum. "Ah, aku hampir lupa mengucapkan selamat atas kelahiran putri kalian. Maaf aku tidak membawa apapun. Nanti aku akan mengirimnya." Tambah Isabel.
"Terima kasih. Tidak perlu dipikirkan, kami senang kau bersedia datang menjenguk." Balas Chloe.
"Kalau begitu, aku ingin melihat putrimu. Pasti dia cantik sepertimu." Isabel memberi pelukan pada Chloe yang dibalas ucapan terima kasih oleh Chloe, lantas dia berjalan mengikuti Aiden keluar ruangan.
"Aku tahu kau berbohong." Kata Isabel saat mereka sudah keluar dari ruangan itu.
Aiden menghela nafas. Dia berhenti melangkah lantas memiringkan badan menghadap Isabel.
"Dan aku tahu tujuanmu datang kemari adalah mencari Eric." Katanya kemudian. Setelah itu dia kembali melangkah menuju ruang bayi.
Sesampainya disana, dia meminta perawat untuk membawa putrinya.
"Dia sangat cantik." Ucap Isabel lirih saat melihat bayi dalam gendongan Aiden. Pria itu tampak sangat lihai menggendong bayi. Mungkin dia ikut kelas ayah siaga sebelum Chloe melahirkan.
"Namanya Annabeth." Aiden memperkenalkan putrinya. "Hallo, Aunty. Nice to meet you." Aiden menirukan suara anak kecil.
Isabel tertawa kecil mendengarnya. "Hallo, Annabeth....uhm...maybe I'll call you Anna. Annabeth terlalu panjang. Hallo Anna, nice to meet you too." Isabel menoel pipi bayi mungil itu. Bayi itu menggerakkan kepala, bibirnya bergerak-gerak lucu.
"Dia lucu sekali." Isabel tidak bisa melepas pandangan dari bayi mungil menggemaskan itu.
"Ya. Aku tidak menyangka aku sudah menjadi seorang ayah di usia yang belum genap 23." Aiden pun tak henti menatap kagum pada putri kecilnya.
"Something happens for a reason, right." Ucap Isabel.
"Kau benar." Aiden menyerahkan bayinya pada perawat lagi. "Thank you." Katanya pada perawat. Lalu dia berjalan keluar dari ruang bayi, diikuti Isabel.
"Jadi....kau juga tidak tahu dimana Eric ?" Tanya Aiden.
Raut bahagia Isabel langsung lenyap saat pembicaraan tentang Eric dimulai.
"Dia....pergi begitu saja." Jawab Isabel terdengar sedih.
Mereka lantas duduk di kursi tunggu di depan ruang bayi.
Aiden mengedikkan bahu. "Aku hanya tidak ingin dia stress. Bahkan aku sampai harus bekerja dari rumah hanya untuk membuatnya tidak terlalu memikirkan Eric. Akan berbahaya untuk kehamilannya jika dia terlalu banyak pikiran." Aiden menoleh pada Isabel, lalu pada cincin yang melingkar di jari Isabel. "Dulu aku sangat ingin memakaikan cincin di jarimu. Menimang anakku yang lahir dari rahimmu...."
"Apa yang kau katakan ? Kita sudah berakhir. Tidak perlu membahas hal itu lagi." Potong Isabel.
Aiden terkekeh. "Aku tahu. Maaf." Aiden menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Aku tidak mengira kalau akhirnya kau akan menjadi kakak iparku." Aiden tersenyum masam. "Mungkin dunia ini memang terlalu sempit untuk kita."
"Kau terlihat sangat menyayangi Chloe." Isabel memiringkan wajahnya menatap Aiden.
"Aku menyayanginya. Seperti yang pernah kau bilang, dia pantas mendapatkan kasih sayangku. Meski aku belum bisa memberikan hatiku padanya--karena ada satu nama yang sulit sekali untuk dihapus di dalam sana--, tapi aku akan berusaha. Dia terlalu baik untuk disakiti." Aiden menatap lekat pada Isabel.
"Ya. Sudah semestinya begitu." Isabel membalas tatapan Aiden. Untuk beberapa saat mereka saling bertukar pandangan. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak sedekat ini.
"Apa kau bahagia bersama Eric ?" Tanya Aiden tanpa memutus tatapannya.
Mendengar pertanyaan itu, buru-buru Isabel memutus tatapannya pada Aiden. Dia menelan ludah. Ya, dia bahagia bersama Eric. Tapi itu kemarin, sebelum Eric pergi. Sebelum Elena meninggal. Dan sekarang....Isabel tidak tahu. Yang dia rasakan di hatinya hanya sakit saat mengingat Eric. Mengingat alasan kepergian Eric yang paling masuk akal di kepalanya.
"Kau tidak meminta bantuan Jordan ?" Aiden memberi pertanyaan lain, karena pertanyaan sebelumnya tidak mampu Isabel jawab.
"Dia terlalu sibuk memburu Jim." Jawab Isabel singkat. Memang kenyataannya seperti itu. Setiap hari Isabel mendatanginya, tapi Jordan tidak pernah keluar dari ruangannya. Bahkan Isabel harus memaksanya untuk sekedar makan. Mungkin perburuan itu sudah berubah menjadi obsesi baginya. Dia tidak akan berhenti hingga Jim ditemukan.
Dari jawaban itu Aiden tahu kalau sebenarnya Isabel sangat tersiksa. Jujur dia sangat ingin memeluk Isabel. Dia tidak tega melihat Isabel terluka seperti ini. Luka yang dia torehkan dulu mungkin masih berbekas di hatinya. Sungguh tidak tega membiarkan orang yang pernah menjadi pengisi hatinya--mungkin masih--harus tersakiti begini. Tapi dia sadar. Sekarang prioritasnya adalah Chloe dan Annabeth.
"Aku tahu kau terluka." Ucap Aiden memecah keheningan selama beberapa saat diantara mereka.
Isabel menoleh, menatap Aiden yang sedang menatapnya teduh.
"Kalau kau ingin menangis, menangislah." Kata Aiden yang melihat kilat kesedihan di mata Isabel. Meski sudah tidak bersama lagi, tapi dia tidak lupa cara membaca hati Isabel dari sorot mata gadis itu. Dia tahu kapan Isabel berbohong, bersedih, atau kecewa. Dan dia bisa melihat kesedihan yang amat dalam dari mata gadis itu.
"Kau tidak harus berpura-pura kuat di hadapanku. Aku sangat mengenal dirimu, Bells. Aku tahu kapan kau bersedih dan kapan kau bahagia."
Aiden menggenggam tangan kanan Isabel. "Kita bisa menjadi sahabat. Kau bisa cerita semua padaku." Ucapnya tulus.
Isabel menelan ludah saat air matanya jatuh. Tapi dia tidak mampu megeluarkan sepatah katapun. Seolah semua kata-kata yang sudah sampai diujung lidah itu tertelan kembali. Aiden masih sama seperti dulu. Dia selalu bisa menenangkan hatinya.
"Aku sudah mengirim pesan pada Gloria. Jika Eric datang ke Amytville, dia akan mengabariku." Terang Aiden.
Amytville. Kenapa tidak terlintas di pikiran Isabel tentang Amytville sebelumnya. Bisa jadi Eric disana. Gloria tidak bisa bicara, bisa saja Eric memintanya berbohong. Bukankah berbohong lewat tulisan itu lebih mudah dilakukan ?!
Isabel mengusap air matanya dengan cepat lantas berdiri. Aiden yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Isabel yang tiba-tiba ini pun ikut berdiri.
"Terima kasih, Aiden." Kata Isabel. Setelah itu dia memeluk Aiden. "Sampaikan salamku pada Chloe. Aku harus segera pergi." Kata Isabel sambil berjalan cepat menjauh dari tempat Aiden berdiri.
"Isabel !" Seru Aiden. Dia mengernyit heran. Ada apa dengan gadis itu ?
Isabel sama sekali tidak mendengarkan seruan Aiden. Dia setengah berlari menuju area parkir. Dia harus bergegas.
"Antar aku ke Amytville !" Seru Isabel pada Taylor.
"Amytville ? Tapi Nona....."
"Jangan membantah ! Cepat jalankan mobilnya !"
Taylor tidak bisa membantah Nona-nya yang sedang terlihat sangat menakutkan itu. Meski jarak tempuh ke Amytville tidak dekat, dia harus tetap menjaga keselamatan Nona-nya. Jika Nona-nya nekat kesana sendiri, maka dia yang akan terkena masalah. Maka diapun segera menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas perlahan meninggalkan Rumah Sakit. Sebuah mobil lagi berisi tiga bodyguard segera menyusul di belakang. Insiden yang menimpa Isabel membuat keluarganya waspada. Sehingga mereka menugaskan tiga bodyguard--empat dengan Taylor--untuk terus mengawal Isabel kemanapun gadis itu pergi selama Jim belum tertangkap.
"Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya ? Bodoh !" Isabel marah pada dirinya sendiri.
Harusnya dia tahu tempat apa yang akan di datangi Eric disaat seperti ini. Kenapa baru teringat sekarang ?
Persetan dengan Eric yang masih mencintai Elena. Isabel harus mendengar sendiri dari mulut Eric alasan yang sebenarnya. Apapun nanti yang dia dengar, dia siap.
"SPEED UP, T !"
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Nah....tempat apa yang mau disambangi Isabel ?
Apa nanti dia akan bertemu Eric disana ?
Jawabannya ada di part selanjutnya.
See you next part, Love.