
Rumah ini terasa sangat sunyi dan dingin. Aku masih terduduk lemas di lantai yang dingin memandangi genangan darah di depanku dengan penuh penyesalan. Kata-kata Jordan masih terngiang jelas di telingaku seperti ribuan lebah yang terus berdengung mengelilingi kepalaku.
Isabel adalah istriku? Dan bayi itu, bayi dalam kandungan Isabel adalah anakku?
Semua teka-teki itu, semua mimpi buruk itu, kini semakin masuk akal. Memori saat aku bertanya tentang suami Isabel kembali datang. Semua jawaban yang dia berikan, harusnya aku tahu. Dia sedang membicarakanku.
Isabel memberiku banyak petunjuk. Terlebih waktu aku memintanya menceritakan tentang suaminya. Caranya bercerita, caranya memuji, dia terlihat sangat mencintai suaminya. Dan suaminya adalah aku?
"Aargh ...!" Kepalaku rasanya mau meledak.
Dengan sisa tenaga aku mencoba bangkit. Aku berjalan tertatih menuju kamarku. Kubuka laci meja kerjaku dan mengeluarkan semua kertas memo berisi potongan-potongan memori yang masuk dalam mimpiku. Aku menjajarkannya diatas meja.
"Ya Tuhan!" Semua petunjuk itu mengarah pada satu orang. Betapa bodohnya aku selama ini. Orang yang kucari ada didekatku, tapi aku terlalu buta untuk menyadarinya.
Kujambak rambutku untuk mengurangi rasa sakit yang semakin menusuk. Tapi rasa sakit itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit yang kurasakan dalam dadaku.
"Kamar Isabel," kataku. Aku harus ke kamar Isabel.
Mengabaikan rasa sakit yang kurasakan, aku bergegas menuju kamar Isabel. Jika yang dikatakan Jordan benar, aku pasti akan mendapatkan jawaban disana.
Tanganku gemetar saat akan membuka pintu kamar itu. Aku tidak pernah merasa setakut ini untuk mengetahui sebuah kebenaran. Aku ragu. Haruskah aku masuk ke dalam?
Aku mencoba mengatur deru nafasku yang memburu dengan melakukan inhale dan exhale berkali-kali. Setelah nafasku stabil, aku meberanikan diri untuk membuka pintu itu. Perlahan tanganku bergerak memutar handle pintu dan membukanya. Jantungku berpacu jauh lebih cepat ketika pintu itu terlepas dari kunciannya.
Kupejamkan mataku saat aku mulai melebarkan pintu dan satu kakiku masuk. Aku takut, aku tidak berani membayangkan apa yang akan kutemukan di dalam sana. Namun kalimat Jordan dan wajah pucat Isabel membuat mataku terbuka lebar. Aku harus menemukan kebenarannya. Aku harus tahu siapa Isabel sebenarnya.
Kudorong pintu itu semakin lebar dan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam. Yang kulihat pertama kali saat memasuki ruangan itu adalah sebuah bingkai besar foto pernikahan.
"Ya Tuhan!" Kembali aku merasakan sesak luar biasa dalam dadaku. Aku terjajar ke belakang hingga punggungku menubruk kusen pintu. Tiba-tiba aku merasa paru-paruku mengalami gagal fungsi. Dalam foto itu aku terlihat sangat bahagia dengan Isabel yang tersenyum lebar dalam dekapanku. Kami saling melempar tatapan memuja yang penuh cinta.
"Apa yang telah kulakukan? Aargh ...!"
Tubuhku limbung. Satu persatu memori kebersamaanku dengan Isabel merangsek masuk ke dalam kepalaku. Kupukul kepalaku supaya memori-memori itu berhenti berputar-putar di kepalaku. Ini sangat sakit. Katakanlah aku cengeng. Aku tidak bisa mengendalikan air mata itu untuk tidak menetes. Karena kenyataannya, sakit dalam hatiku jauh lebih besar dari sakit di kepalaku.
Aku berjalan mendekat pada bingkai itu. Kuraba tulisan yang tertera dibagian bawah foto.
WITH UNCONDITIONAL LOVE,
ERIC JOSEPH MICHAELS & ISABEL JOSEPHINE MICHAELS.
"Josephine?" Aku beberapa kali bermimpi menulis nama itu dalam sebuah buku bersampul emas. Dan aku tidak pernah tahu bahwa itu adalah nama tengah Isabel.
Aku melarikan pandanganku ke setiap penjuru kamar. Setiap benda yang kulihat membawa kembali ingatan tentang Isabel. Aku mulai bisa mengingat kenangan yang kami ukir bersama.
Kulihat ranjang Isabel. Selimut yang teronggok tidak rapi membuat rasa sesal dan bersalah dalam hatiku kian menjadi. Aku berjalan mendekatinya. Kuraup selimut itu dan kuhirup aroma Isabel yang tertinggal disana. Ini aroma yang sama dengan yang kutemukan di safe house. Aku sangat yakin jika pemiliknya adalah orang yang sama.
"Bells, maafkan aku. Maafkan aku, Sweetheart." Aku tergugu mengingat betapa buruknya yang kulakukan pada istriku.
Apa yang kulakukan mungkin tidak akan pernah bisa termaafkan. Aku adalah orang paling buruk yang pernah ada. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku pantas menderita. Aku pantas mendapatkan neraka.
Kedua mataku tak sengaja menangkap sebuah benda yang ada diatas nakas. Sebuah flashdisk yang terletak didepan sebuah bingkai foto pernikahan kami yang lebih kecil.
Kuambil flashdisk itu dan aku menemukan sebuah note kecil bertuliskan 'our memories' yang menempel diatasnya.
Lalu rasa penasaranku menggelitik saat aku melihat laci nakas dengan kunci yang menggantung. Aku memutar kunci itu lalu menariknya. Satu kotak perhiasan besar dan satu kotak beludru kecil terletak berdampingan di dalam laci nakas.
Aku menarik nafas dalam sebelum mengambil kotak perhiasan besar disana. Ada satu set perhiasan bertahtakan berlian. Aku tahu siapa yang membeli perhiasan itu. Dan aku tahu berapa harga perhiasan itu. Harga yang tidak akan pernah senilai dengan ketulusan pemilik perhiasan itu. Karena akulah yang memilihkannya untuk istriku, sebagai hadiah pernikahan.
Kukembalikan kotak itu ke dalam laci. Lalu kotak beludru hitam yang masih ada di sana menarik perhatianku. Aku menelan ludah, aku tahu apa isi kotak itu. Dan saat kubuka, hatiku seperti tercabik-cabik. Benar, itu adalah cincin pernikahanku. Aku mengambilnya dari dalam kotak, lalu aku memakainya di jariku. Kucium cincin itu seolah aku sedang mencium tangan Isabel yang terikat padaku. Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia selama ini karena diriku.
Aku tidak tahan lagi. Aku keluar dari kamar Isabel dan bergegas masuk ke kamarku. Aku berjalan cepat menuju meja kerja untuk membuka isi flashdisk yang kutemukan di kamar Isabel.
Jika mati bisa menebus semua sakit yang kuberikan pada Isabel, maka aku akan melakukannya. Aku melihat setiap foto dan video yang ada dalam flashdisk itu. Kini aku ingat semuanya. Aku ingat semua tentang istriku. Aku ingat semua tentang wanita yang sangat kucintai.
Tidak! Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku harus meminta maaf langsung pada Isabel. Aku harus menemuinya dan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya.
Aku mengusap wajah lantas mengambil kunci mobil dari atas meja. Aku harus cepat. Aku berlari menuruni anak tangga. Aku mengambil mobil lalu mengendarainya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Matahari sudah mulai menunjukkan dirinya. Sebentar lagi jalanan akan ramai, maka aku harus menambah kecepatan agar aku bisa secepatnya sampai di rumah sakit.
Aku tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang memandangku dengan tatapan aneh. Persetan dengan mereka semua! Aku hanya ingin segera bertemu dengan istri dan bayiku. Aku ingin memeluknya dan mengatakan betapa aku menyesal. Dan aku akan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya.
Aku berlari melewati selasar rumah sakit yang masih lengang. Setelah beberapa saat mencari, kedua mataku menangkap beberapa orang yang kukenal di depan pintu emergency room.
Aku berdiri kaku menatap mereka dari jarak sekitar 10 meter. Tidak ada satupun dari mereka yang saling bicara. Semuanya menunjukkan raut kekhawatiran dengan cara mereka sendiri.
Dad duduk sambil memeluk mom yang terus menangis. Jordan berdiri sambil bersandar pada tembok dengan kepala menengadah, tampak putus asa. Dan Mike yang berjalan mondar-mandir sambil sesekali memijit pangkal matanya.
Aku berjalan perlahan mendekati mereka. Aku tidak berharap banyak. Mereka adalah orang-orang yang secara tidak langsung juga telah kusakiti. Tapi aku tidak akan mundur. Aku harus tetap menemui istriku.
"B*jingan!"
Mike berlari ke arahku dengan tangan mengepal dan wajah mengeras. Aku berhenti melangkah dan menunggu Mike datang padaku.
"Aku akan membunuhmu, B*jingan! Aku akan membuatmu membayar apa yang telah kau lakukan pada adikku! Ba*jingan! B*ngsat! Harusnya kau membusuk di neraka! Harusnya kubiarkan kau mati kehabisan darah! B*jingan!"
Aku menerima setiap sentuhan menyakitkan dari tangan dan kaki Mike dengan senang hati. Tidak peduli berapa banyak darah yang kumuntahkan, dan darah yang mengucur di dahi dan pipiku. Aku sangat menikmatinya. Ini adalah rasa sakit ternikmat yang pernah kurasakan. Tapi aku masih merasa ini tidaklah cukup. Aku ingin Mike melakukan hal yang lebih menyakitkan dari ini. Ini sama sekali belum cukup.
"B*jingan kau! Aku akan membunuhmu, B*ngsat!" ucap Mike parau dengan kepalan tangan yang siap menghancurkan tulang di wajahku.
Aku menatapnya tanpa takut, menunggu rasa sakit yang akan dia berikan dengan mata terbuka. Meski mungkin dia tidak akan bisa melihat mataku yang sudah bengkak karena pukulannya. Justru aku memohon untuk dia lakukan apa yang menjadi niatnya.
Mike menggantung tangannya yang masih mengepal di udara. Matanya merah dan basah. Deru nafasnya sangat cepat, menandakan emosinya yang meledak.
"Cukup, Nak!"
Entah kenapa suara itu membuatku kecewa. Mike mengendurkan kepalan tangan dan cengkeramannya padaku. Dia bangkit lalu menggeser tubuhnya dan terduduk sambil memegangi kepala. Dia terus mengumpatiku meski lirih. Suaranya seperti sudah habis karena kesedihan yang begitu besar.
Dad mengulurkan tangan padaku untuk membantuku duduk. Aku bersandar pada dinding, berjarak satu meter dari Mike. Demi Tuhan, luka di sekujur tubuhku saat ini sama sekali tidak sebanding dengan apa yang telah kulakukan pada Isabel dan anakku. Termasuk pada mereka yang begitu menyayangi Isabel.
Sekilas aku melihat pada Jordan. Dia hanya menatapku dingin, tidak peduli jika aku mati. Sungguh, aku pun tidak akan peduli jika aku mati.
"Pulanglah, Nak!" Dad berbicara dengan nada lembut, tapi aku bisa merasakan kekecewaan yang sangat mendalam padaku.
"Biarkan Isabel kembali pada kami. Aku akan mengurus semuanya." Dad menghembuskan nafas pelan lantas kembali pada mom yang juga menatapku kecewa.
Aku masih mempunyai cukup kesadaran untuk bisa mencerna kalimat yang keluar dari mulut Dad. Aku menggeleng lemah. Ucapan Dad terasa lebih menyakitkan dari pukulan dan tendangan Mike. Aku ingin protes dengan keputusannya. Namun aku tidak sanggup. Aku merasa terlalu hina untuk menuntut lebih dari rasa sakit yang aku terima ini. Ini semua kesalahanku. Aku pantas mendapatkan hal yang lebih menyakitkan dari ini. Yes, I deserve to get hurt. I deserve to get this beautiful pain.
*
*
*
*
*
tbc.
Maaf Eric, aku harus melakukan ini padamu.
See you next part, Love.