
Siangnya, Jordan dan Isabel membawa Eric ke rumah sakit. Jalan sudah dibuka meski baru satu lajur.
Di rumah sakit Eric mendapatkan perawatan lanjutan. Jahitan Nora sangat rapi. Di sana luka Eric hanya dibersihkan dan diganti perban baru. Dia juga diberi obat-obatan yang lebih bagus. Baik yang diminum ataupun di oles.
Lengan Eric bengkak, Isabel tidak bisa membayangkan betapa panas dan perihnya luka itu. Tapi Eric tidak menunjukkannya sedikitpun.
Mereka tiba di rumah sore menjelang malam. Langit sudah mulai gelap. Ditambah lagi mendung kelabu yang membuat bulan enggan untuk menampakkan diri.
Saat mereka memasuki halaman rumah, ada sebuah mobil asing yang terparkir di samping jeep Eric.
"Mobil siapa itu ?" Tanya Jordan yang pertama kali menyadari keberadaan mobil asing tersebut.
Eric dan Isabel otomatis melihat je halaman dimana mobil asing itu terparkir.
"Entahlah. Temanmu ?" Eric balik bertanya.
Berbeda dengan Isabel. Dia tahu persis siapa pemilik mobil itu. Bahkan hafal betul interior di dalamnya. Mobil yang pernah dia tumpangi dengan seseorang. Mobil yang pernah menjadi saksi kebersamaannya dengan orang yang paling dia cintai.
Isabel tersenyum kecut. Apakah aroma pewangi di mobil itu masih sama ? Apakah stiker-stiker yang dia tempelkan di body mobil itu masih ada ? Termasuk stiker inisial nama mereka yang tertempel di sudut kaca depan mobil yang akan selalu mereka lihat saat menumpangi mobil itu.
"Adikmu." Timpal Isabel dengan suara tercekat.
Kedua pria di dalam mobil itu langsung bungkam.
Isabel menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Dia belum siap bertemu lagi dengan si pemilik BMW putih itu.
Mobil Jordan berhenti di samping BMW itu. Jordan turun lebih dulu untuk membantu Eric turun. Keduanya saling pandang. Gadis yang duduk di kabin belakang masih bergeming di tempatnya.
Sementara dari arah rumah, Chloe berjalan cepat menghampiri Jordan dan Eric dengan raut khawatir.
"Kenapa lenganmu ? Apa yang terjadi ? Ya Tuhan, kau pucat sekali. Kau berhutang penjelasan padaku. Kau bilang hanya kecelakaan kecil, tapi lihatlah ! Ya Tuhan, Eric. Tidak bisakah kau menjaga dirimu sendiri ?" Cecar Chloe sambil membantu memapah Eric yang masih lemah.
Eric diam saja. Ada banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Mendengar ocehan Chloe semakin membuatnya pusing.
"Bawa dia masuk." Perintah Jordan. Dia menyerahkan Eric pada adiknya, karena ada hal yang harus dia lakukan.
Chloe mengangguk, lantas membawa Eric masuk ke dalam rumah.
Jordan kembali ke mobil. Dia membuka pintu kabin belakang lalu masuk ke dalam mobil.
Jordan melihat Isabel menatap nanar ke arah pintu masuk, dimana seorang pria baru saja keluar dari sana. Kedua matanya berkaca-kaca. Jordan yakin Isabel sedang berperang dengan batinnya.
Dengan lembut Jordan menggenggam tangan Isabel. Tidak ada yang dia ucapkan. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu Isabel sedang merasa kesakitan dalam hatinya. Dia hanya berusaha memberikan dukungan, menyalurkan kekuatan pada Isabel.
Isabel membalas tatapan Jordan. Kalau boleh jujur, Isabel benci ditatap seperti itu. Dia tidak suka dikasihani. Tapi, saat ini dia butuh tempat untuk bersandar. Dia butuh pelukan yang menenangkan. Dia butuh menangis tanpa harus mendengar ceramah atau nasehat dari siapapun. Dan itu bisa dia dapatkan dari pria yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang dia benci. Ya, Isabel benci ditatap dengan iba. Isabel benci dikasihani.
Air mata Isabel jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang ditarik oleh Jordan. Isabel menangis terisak dalam pelukan pria itu. Membiarkan air matanya membasahi dada Jordan. Nyatanya, Isabel merasa sangat nyaman untuk menumpahkan perasaannya dalam pelukan pria itu.
*****
Chloe memapah Eric hingga kamarnya, menuntun tubuh Eric untuk duduk di tampat tidur.
"Apa kau sudah makan ? Aku baru saja selesai masak. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Kata Chloe setelah Eric duduk dengan sempurna dengan bersandar pada headboard.
"Nanti saja. Aku masih kenyang." Tolak Eric. Tatapan tajam Eric berpindah pada Aiden yang ikut masuk ke dalam kamar. Lalu kembali menatap adiknya dengan tidak suka. "Kenapa kalian ada disini ?" Tanya Eric ketus. Sebenarnya itu pertanyaan untuk Aiden. Eric merasa Aiden terlalu sembrono membawa Chloe ke Amytville sementara kandungannya sedang bermasalah.
Chloe duduk di tepi ranjang. Dia memutar mata malas. "Aku khawatir denganmu." Jawabnya.
"Harusnya kau tidak kemari. Kandunganmu sedang bermasalah. Atau jangan-jangan memang ada yang sengaja ingin membuat janinmu celaka." Eric mulai lagi.
Chloe menggeleng lelah. Eric masih saja berprasangka buruk terhadap Aiden. Padahal selama ini Aiden selalu berusaha bersikap baik terhadapnya. Bersikap layaknya suami yang baik, minus urusan ranjang. Karena Chloe pun masih belum bisa berperan sebagai istri seutuhnya.
Sebenci apapun Eric pada Aiden, Aiden tidak pernah membalasnya dengan kebencian. Itu yang membuat Chloe merasa kalau Aiden memang benar-benar orang yang sangat baik. Dia salut dengan sifat dan sikap Aiden selama ini.
Terkadang Chloe tersenyum miris mengingat hidupnya. Kehilangan orang tua di usia dimana dia sedang membutuhkan banyak perhatian dari mereka. Di asuh oleh dua kakak laki-laki yang mempunyai masa lalu kelam dengan segala kepahitan yang mereka lalui bersama. Impiannya hancur disaat dia hampir menggapainya karena kesalahan yang tidak dia inginkan.
Tapi dibalik itu semua, ada rasa syukur saat dia menikah dengan Aiden. Meskipun tanpa cinta, tapi dia merasakan kepedulian yang luar biasa dari pria itu. Meskipun bukan cinta, tapi dia tidak pernah merasa kekurangan perhatian.
Dia merasa beruntung menikah dengan Aiden. Apakah itu salah ?
"Kau terlalu berlebihan, Eric. Tidak ada masalah serius dengan kandunganku. Tubuhku hanya kesulitan menerima vitamin yang diberikan dokter hingga membuatku mual terus menerus. Setelah vitaminnya diganti, semua baik-baik saja." Jelas Chloe dengan jujur.
"Tapi tidak seharusnya kau melakukan perjalanan jauh. Apa tidak ada yang bisa mencegahmu melakukan hal berbahaya seperti ini ?" Lagi-lagi Eric menyindir Aiden yang masih diam menerima perlakuan ketus kakak iparnya itu.
"Eric..." Chloe jengah mendengar kata-kata pedas Eric untuk suaminya.
"Sebaiknya aku keluar. Senang kau baik-baik saja, kakak ipar." Sela Aiden. Dia tidak ingin membuat masalah dengan kakak iparnya. Setelah itu dia bergegas keluar dari kamar Eric. Itu lebih baik, daripada membuat Eric terkena hipertensi karena keberadaannya.
Eric mendengus sinis. Chloe menatap tidak suka pada Eric. "Aku tahu kau khawatir. Tapi kau tidak perlu memperlakukan Aiden seperti itu. Walau bagaimanapun sekarang dia adalah suamiku, adik iparmu."
Eric membuang wajah, masih ada rasa tidak rela dalam hatinya untuk mengakui Aiden sebagai adik iparnya.
Chloe meraih tangan Eric, menggenggamnya dengan lembut. "Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Kau tidak perlu khawatir."
Eric menatap intens adiknya. Melihat ekspresi jujur di wajah adiknya, membuat Eric lebih tenang. Setidaknya salah satu kekhawatirannya tidak terbukti.
Chloe tersenyum miring. "Lantas mau kau apakan suamiku ? Menghajarnya ? Kukira anakku tidak akan suka mempunyai paman yang anarkis."
Eric menghela nafas. "Harusnya dulu aku mengahajarnya hingga puas dan memastikannya terbaring di rumah sakit dalam waktu lama."
"Eric !" Chloe setengah berteriak mendengar ucapan kakaknya itu.
"Kau lihat kan, bahkan sekarang kau selalu membelanya." Gerutu Eric.
Chloe tersenyum mengejek. "Apa itu artinya kau sedang cemburu ?"
"Omong kosong."
Chloe tersenyum bahagia. "Kau dan Jordan akan tetap menjadi pria yang paling aku sayangi." Ucapnya sambil memeluk Eric.
Eric mendesis sakit saat tangan Chloe tidak sengaja menyenggol lengan Eric yang terluka.
"Maaf." Chloe melepaskan pelukannya. "Apa yang membuatmu terluka seperti itu ?" Tanya Chloe. Sebenarnya dari tadi dia sangat penasaran. Tapi karena Eric sibuk menyindir dan membenci Aiden, Chloe sampai lupa bertanya.
"Digigit srigala." Jawab Eric datar.
Chloe membulatkan matanya. "Di hutan ? Kalian berburu ? Setahuku area berburu adalah area aman. Bagaimana bisa ada srigala disana ?" Chloe kembali mencecar Eric dengan pertanyaan.
"Kau cerewet sekali." Tukas Eric tanpa memberi jawaban yang pas.
Chloe mendengus kasar. Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Mhm...Eric, apa ada seseorang yang menempati kamarku ?"
****
Aiden berjalan keluar dari kamar Eric dengan menahan sedikit kekesalan pada sikap Eric terhadapnya.
Untung saja Aiden mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi. Menghadapi orang seperti Eric tidak bisa dengan bersikap yang sama dengan dia. Salah satu memang harus mengalah atau mengalahkan. 'Mengalah' seperti dirinya dan 'mengalahkan' seperti Chloe.
Sekeras apapun Eric, Chloe selalu bisa meluluhkannya. Dan anehnya, Chloe tidak pernah menunjukkan sikap lemahnya terhadap Eric. Chloe akan bersikap dominan jika menyangkut kakaknya. Pastinya dalam batasan tertentu.
Langkah Aiden membawanya ke ruang keluarga. Dia memperhatikan ruangan itu dengan seksama. Di dinding putihnya banyak menggantung pigura berisi foto keluarga.
Rumah bergaya klasik ini kental sekali dengan nuansa kehangatan para penghuni rumah. Terlihat dari foto-foto keluarga yang terlihat sangat harmonis.
Satu kesamaan yang membuat Aiden nyaman dengan Chloe. Mereka sama-sama ditinggalkan kedua orang tua mereka disaat usia mereka masih terlalu kecil.
Bedanya Aiden dirawat oleh kakeknya dengan segala fasilitas lengkap dan kemewahan yang memudahkannya untuk menjalani hidup. Namun dibalik segala kemewahan yang kakeknya berikan, dia merasa hidupnya hampa. Kakeknya terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak punya waktu untuk Aiden kecil.
Aiden dan Chloe juga sering bertukar cerita tentang kehidupan mereka sebelumnya. Dari situ Aiden bisa menyimpulkan kalau Chloe jauh lebih beruntung darinya. Karena mempunyai dua kakak yang sangat menyayangi dan melindunginya.
Maka dari itu, seburuk apapun sikap Eric terhadap dirinya, Aiden tidak mempermasalahkan. Aiden memakluminya sebagai bentuk kasih sayang kakak terhadap adiknya.
Perkembangan hubungan Aiden dan Chloe cukup bagus. Tidak ada kecanggungan lagi diantara keduanya. Mereka menganggap satu sama lain sebagai teman. Bersikap layaknya teman, tapi tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Semuanya mereka lakukan demi calon bayi mereka. Anak tidak berdosa itu pantas mendapatkan cinta dan perhatian yang banyak dari kedua orang tuanya.
Aiden mengangkat sebuah pigura dari atas meja di sudut sofa. Dia tersenyum kecil melihat foto itu. Foto itu sepertinya diambil saat mereka sedang berkemah di danau. Di foto itu usia Chloe sekitar 5 atau 6 tahun. Ekspresi hampir menangisnya terlihat menggemaskan dengan rambut yang diacak-acak oleh Eric dan Jordan.
Aiden meletakkan pigura tadi ke tempatnya semula. Dia kembali melihat-lihat foto yang menggantung di dinding.
Derap langkah dari luar rumah mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh ke arah pintu.
Seperti baru saja dihantam dengan mjolnir, Aiden tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tatapannya terkunci pada mata sembab yang kini juga tengah menatapnya begitu dalam.
Gadisnya. Kekasihnya. Orang yang sampai detik ini masih sangat dia cintai berdiri diambang pintu menatap nanar pada dirinya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Bakal ada reuni disini. Sangat tidak direncanakan. Semoga tidak ada gempa bumi, gunung meletus, ataupun tornado di part selanjutnya.
Mjolnir tahu kan yak, itu tuh palunya si ganteng Thor.
Ahh, semoga kalian menikmati. Jangan lupa vomment dan like.
See you next part, Love.