100 Days

100 Days
Part 30



Isabel terlihat sangat berbeda dengan mengenakan kaos putih coklat dan celana jeans hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai. Bibirnya di poles dengan lipstik merah menyala dan alis yang di gambar dengan warna coklat gelap, membuat Isabel terlihat lebih dewasa.


Cukup lama dia tidak keluar dari safe house. Dan malam ini Jordan mengajaknya keluar untuk membeli baju pesta yang akan dia pakai ke pernikahan Aiden dan Chloe.


Kedua pria yang sedang duduk di ruang tamu serentak menoleh saat Isabel keluar dari kamar. Keduanya kompak menunjukkan ekspresi yang sama. Melongo melihat penampilan Isabel yang terlihat sangat berbeda.


Isabel yang mendapat tatapan seperti itu menjadi salah tingkah. Dia meneliti penampilannya, melihat sisi kanan dan kiri tubuhnya, barangkali ada sesuatu yang aneh. Namun dia tidak menemukan hal yang janggal. Menurut dia, penampilannya biasa saja. "Kenapa mereka melihatku seperti itu?" batinnya.


Jordan berdehem, membuat Eric langsung memalingkan wajah dari Isabel. "Kau sudah siap?" tanya Jordan yang berhasil memutus kecanggungan di antara mereka bertiga. Isabel mengangguk.


Jordan terlihat bingung mau berkata apa lagi, dia menggosok kedua telapak tangannya sebelum berdiri.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang." Jordan menelengkan kepalanya ke arah pintu.


Isabel ragu untuk melangkah, dia melirik pada Eric yang pura-pura menonton televisi.


"Waktu terus berjalan, Cantik," ucap Jordan saat Isabel tak kunjung melangkahkan kakinya.


"Aku ... pergi dulu," pamit Isabel pada Eric yang hanya di balas dengan deheman.


Jordan mengajak Isabel ke sebuah butik yang jaraknya hanya tiga blok dari Willow Spring. Mereka memilih berjalan kaki ke sana.


Isabel melihat sekeliling saat keluar dari pintu Willow Spring. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Dia merasa sudah sangat lama tidak keluar dari sana.


"Kau yakin akan datang ke pernikahan itu?" tanya Jordan.


Isabel tersenyum kecut. "Ya," jawabnya.


Jordan berjalan dengan kedua tangan masuk dalam saku mantelnya. "Kenapa kau tidak kembali saja ke rumah? Bukankah Eric tidak menahanmu lagi?"


Isabel berjalan sambil menunduk. Kedua tangannya meremas tali sling bag yang menyilang di bahunya. Dia diam, tidak menjawab.


"Okay, lupakan saja pertanyaanku," kata Jordan.


Mereka diam untuk beberapa saat.


"Meskipun ucapan Eric terkadang sangat menyebalkan, sebenarnya dia orang yang sangat baik," kata Jordan tiba-tiba.


Isabel mendongak pada Jordan yang jauh lebih tinggi darinya. Gadis itu tersenyum miring. "Ya, jika meninggalkan seorang gadis sendirian malam-malam di tepi jembatan termasuk dalam kategori baik." Isabel mengingat kejadian beberapa minggu lalu.


Jordan menghentikan langkah sebentar. Dia mengernyit lalu tertawa. "Pria itu sungguh tidak waras."


"Dia marah karena aku menyebutnya pria gila," timpal Isabel.


Tawa Jordan berubah jadi senyuman. "Itu bukan seperti Eric yang kukenal." Dia terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu.


Isabel mengangkat bahu, menarik bibir kebawah. "Kenyataannya seperti itu." Gadis itu mendesah lalu menatap lurus ke depan. "Seacuh apapun dia padaku, aku yakin masih ada kebaikan dalam dirinya untukku." Pandangan Isabel turun ke ujung kakinya. "Aku sangat berterima kasih karena dia sudah mengizinkanku tinggal di sana."


Jordan mengusap bahu Isabel sedikit ragu, tidak seperti biasanya yang sesuka hati. Dia tahu gadis pirang di sampingnya itu sedang berperang dengan hatinya untuk bertahan dalam kesakitan.


"Apa kau tinggal di Amytville? Kudengar kau dan Eric sering menyebutnya." Isabel mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak canggung lagi.


Jordan tersenyum. Dari senyumnya dia terlihat bangga. "Aku lahir dan tumbuh di sana. Eric dan Chloe juga." Isabel menoleh saat kedua nama terakhir disebutkan.


"Begitu banyak hal yang kami lewati bersama. Orang tuaku meninggal saat aku 10 tahun. Orang tua Eric merawatku karena mereka adalah sahabat ayahku. Kami sudah seperti saudara." Jordan tersenyum, tapi kali ini tersirat kesedihan dalam senyumnya.


"Saat aku 17 tahun, Kedua orang tua Eric meninggal karena kecelakaan beruntun di Shalter Bridge. Saat itu Eric masih 15 tahun. Dia sangat terpukul."


Jordan tertawa, seperti menertawakan masa lalunya. "Kami tumbuh jadi anak nakal. Kau tahu, remaja labil yang tumbuh tanpa orang tua. Keluarga Eric adalah keluarga sederhana, jangan kira hidup kami mudah. Satu-satunya peninggalan mereka adalah rumah yang kami tempati. Eric berhenti sekolah selama satu tahun. Sedangkan aku, aku hanya bekerja di toko elektronik kecil dengan gaji tak seberapa."


Pria berambut lurus itu menghela napas. "Kami panik saat Chloe yang baru berusia 7 tahun sakit. Kami sama sekali tidak punya uang. Aku pergi ke casino di kota. Aku memakai ponselku untuk berjudi. Hasilnya lumayan, kami bisa membawa Chloe berobat. Setelah itu kami berpikir keras bagaimana caranya menghasilkan uang banyak. Kami pernah menjadi pengedar shabu. Hasilnya tidak mengecewakan, meskipun tidak sedikit pula luka yang kami dapatkan akibat dipukuli preman. Kehidupan kami membaik, Chloe dan Eric bisa melanjutkan sekolah. Saat Chloe beranjak remaja, kami mulai ketakutan. Dunia kami sangat tidak baik untuk Chloe. Jadi kami gunakan tabungan kami untuk kuliah. Kami beruntung memunyai otak yang cerdas. Kami adalah lulusan terbaik." Jordan menunjuk pelipisnya dengan bangga.


"Wow!" Isabel terkesima mendengar cerita dari Jordan.


"So, Cantik, tetaplah kuat untuk mencapai kebahagiaanmu."


"Kau bahagia sekarang?" Isabel menengadah.


Jordan menarik bibir kebawah, dia tersenyum tipis. "Setidaknya aku tidak harus menjadi pengedar lagi."


Tak terasa mereka sudah sampai di butik yang dimaksud. Jordan membiarkan Isabel memilih gaun yang dia inginkan. Isabel memilih gaun panjang sederhana berwarna beige tanpa lengan dengan hiasan bordir bunga berwarna merah di bagian pinggang samping hingga dada.


Setelah dari butik, Jordan mengajak Isabel membeli sepatu. Isabel memilih sepatu berwarna merah dengan heels yang tidak terlalu tinggi.


"Kau yakin memilih sepatu yang ini?" tanya Jordan sambil mengangkat sepatu pilihan Isabel seperti tidak yakin.


"Aku takut orang akan mengira kau adalah anakku." Jordan terkekeh. Bagaimana tidak, tinggi Isabel tidak sampai sebahu Jordan. Dengan sepatu pilihan Isabel itu, tingginya tidak akan bertambah banyak.


Isabel mencebik kesal. "Kau saja yang terlalu tinggi." Dengan berat hati Isabel mengembalikan sepatunya tadi. Dan pilihannya kali ini jatuh pada sepatu berwarna putih gading dengan heels setinggi 15 cm.


Gadis bermata biru langit itu menjajal sepatunya lantas berdiri di hadapan Jordan.


"Sudah pantas disebut pasanganmu?" tanya Isabel sarkas. Kini tingginya melebihi bahu Jordan, tapi tidak sampai pada telinganya.


Jordan tersenyum. Untuk beberapa saat kedua manik mereka bertemu. Berhadapan dengan jarak sedekat itu membuat Jordan merasa seperti tersedot ke dalam manik biru Isabel.


"Lebih baik." Jordan segera memutus tatapan mereka. Isabel tersenyum kaku. Sadar dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku ambil yang ini." Isabel melepas sepatunya lantas memberikannya pada pelayan toko.


Setelah itu mereka kembali ke Willow Spring. Di tengah perjalanan mereka melihat seorang pengamen yang sedang melantunkan lagu Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are. Langkah kaki mereka berhenti. Keduanya menikmati suara merdu pengamen itu bersama beberapa orang yang berkerumun disana. Entah kenapa, Jordan jadi sangat menghayati lagu itu. Merasakan liriknya dengah hati.


Setelah lagu itu selesai, Jordan melempar satu lembar uang dollar ke kotak gitar yang ada di depan pengamen itu.


"Harusnya dia membuat album sendiri dengan suara sebagus itu," komentar Jordan saat mereka kembali melanjutkan langkah.


"Dia hanya kurang beruntung," ucap Isabel sebelum kedua matanya menangkap sebuah mobil van penjual es krim. Mata biru itu langsung berbinar. "Aku mau es krim itu," tunjuk Isabel pada mobil van putih di seberang jalan.


"Apapun yang kau mau, Cantik." Jordan mengekori langkah Isabel menuju van.


Es krim coklat dengan topping almond menjadi pilihan Isabel. Gadis itu memakan es krimnya sambil jalan kembali ke Willow Spring.


"Kau tidak suka es krim?" tanya Isabel sambil menjilati es krimnya.


Jordan mengedikkan bahu. "Begitulah."


"Kau harus coba!" Isabel menyodorkan es krimnya pada Jordan.


Jordan mengangkat tangannya, berusaha menolak. "No, thanks." Kenyataannya Jordan memang tidak suka es krim.


Isabel tidak memaksa, dengan senang hati gadis itu melahap es krimnya kembali.


Langkah mereka berhenti di depan Willow Spring. Cafe itu masih ramai pengunjung, baik di lantai satu maupun dua. Hanya lantai tiga yang terlihat sepi. Lantai tiga memang hanya ramai di siang hari.


"Kenapa Eric tidak membuat lift khusus untuk ke lantai empat?" gerutu Isabel yang merasa kakinya pegal menaiki anak tangga.


"Dia bilang lift membuat orang menjadi malas."


"Bagaimana caramu masuk ke safe house waktu itu? Eric bilang padaku kalau hanya dia yang bisa membuka pintu." Isabel berhenti melangkah dan menatap Jordan penasaran.


Pria jangkung itu tersenyum. "Dia menggunakan sidik jarinya sebagai kunci. Aku meretasnya."


"Apa sekarang masih seperti itu? Aku lihat kau leluasa membuka pintu."


"Aku memasukkan sidik jariku dalam data."


Sampai di depan pintu, Jordan berhenti melangkah. Dia menatap Isabel sambil tersenyum sebelum membuka pintu dan mempersilakan gadis itu masuk.


Isabel tidak menemukan keberadaan Eric saat masuk dalam safe house. Pandangannya mengedar ke segala penjuru namun pria itu tidak ada.


"Kemana Eric?"


"Kau merindukannya?" goda Jordan.


Isabel memutar mata malas, tidak berniat menjawab.


"Malam ini dia tidak akan pulang ke sini. Dia di rumahnya," jelas Jordan tanpa diminta.


Tentu saja Eric pulang ke rumah. Besok adalah hari besar untuk adiknya. Pasti banyak yang harus dia persiapkan. Beberapa hari ini Eric selalu menghabiskan malamnya di safe house. Padahal seharusnya dia banyak menghabiskan waktu untuk bersama adiknya yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Mau bagaimana lagi, adik kesayangannya itu yang meminta dia untuk selalu menemani Isabel. Apapun yang membuat adiknya bahagia, pasti akan dia lakukan.


***


tbc.



Waduh, mereka hanya berdua di safe house. Apakah akan terjadi sesuatu ? Tadi bukannya ada yang kesedot masuk ke mata biru ya ? Apakah nanti bakal kesedot lagi ? Kita lihat saja nanti.


See you next part, love.