
Dengan berlahan aku lajukan mobilku meninggalkan Masjid megah itu. Jalanan yang lumayan ramai membuat lalulintas padat merayap malam itu.
"Ta. Makan apa kita. Laper nih?!" seruku kepada Shita yang bergeming di sebelahku.
"Tre. Kenapa kamu memilih keliling Indonesia sih Tre? Papamu kan orang kaya. Di luar negri sana, aku yakin pasti kamu bisa sembuh." tutur Shita dengan sendu.
"Ta, bisa gak, gak bahas itu lagi." sahutku. "Aku sudah putuskan pilihanku. Jadi sekarang, aku ingin menikmati perjalananku. Aku tidak perduli jika memang aku harus cepat mati. Lagian, tak ada alasan untuk melawan takdir."
Shita hanya terdiam mendengar jawabanku. Dia terlihat menghela nafasnya dan mengeluarkannya berlahan. Sesekali ia melihat pemandangan ke luar jendela.
Sepanjang jalan, hanya keheningan yang mengisi suasana di dalam mobil. Sesekali suara google intruktor berbunyi menunjukan arah yang harus kami tuju.
"Ta Ta Ta, lihat Ta lihat. Ada keris gede banget itu. Foto Ta foto, pumpung masih lampu merah." sergahku.
"Ajip nih. Keren banget, emang the best lu milih Hp." sahut Shita.
"Upload upload." seruku.
"Tre, lo seriusan gak punya temen satu pun gitu?!" celetuk Shita.
"Masa iya komentnya dikit banget! Aku aja baru posting seenggaknya dapat like 20+ orang lho." ujar Shita.
"Lo kan tau Ta. Temenku cuman kamu doang." sahutku.
"Tau gitu pakai akunku aja Tre. Pasti banyak like." tutur Shita.
"Ta. Hidup jangan pentingkan sebuah pujian. Yang penting itu, bagaimana kita menjalaninya." tuturku. "Kita kejar pujian gak ada habisnya. Tapi apa kita bahagia atas itu semua. Gak kan Ta. Jadi biarkan, yang penting sekarang. Kita nikmati perjalanan kita ini. Okay."
Aku melihat ke arah Shita dengan sebuah senyuman hangat.
"Ya ampun Tre. Berapa Tahun kita gak bertemu. Lo jadi Mario Teguh gini." puji Shita menepuk pundakku beberapa kali dengan bangganya.
"Apa sih, Ta. Biasa aja kalik." sergahku.
Sekitar 30 Menit perjalanan. Kami sampai di sebuah Rest Area. Kami memutuskan untuk berhenti dan bermalam di tempat ini.
Di rest area KM 429 di ruas jalan tol Semarang-Solo. Kami menghabiskan malam kami.
Tadinya kami ingin membuka sebuah tenda. Tapi aku rasa tempat ini cukup aman. Jadi tak perlu kita buka tenda dan yang lainnya. Toh jika kita mau makan, kita tinggal masuk ke area dalam, banyak yang jual bakso hangat.
"Ta kamu mau makan apa?" tanyaku.
"Lo gak usah mikirin gua. Yang penting itu elo. Lo mau makam apa? Biar gua cariin." sahut Shita.
"Apa ya Ta? Aku gak ada pengen buat makan Ta. Tapi perut laper juga Ta." tuturku.
"Ahh elu. Coba deh." sahut Shita.
"Helo Google. Makanan khas Solo apa'an?!" seru Shita ke sebuah layar monitor.
"Tung Theng."
^^^"Mencari makanan Khas Solo."^^^
"Tung Thung."
^^^"20 makanan Khas Solo yang wajib kamu coba jika berkunjung di Solo."^^^
^^^"Nasi Liwet Solo .1^^^
^^^Selat Solo .2^^^
^^^Serabi Notosuman .3^^^
^^^Tahu Kupat Solo .5^^^
^^^Tengkleng Solo .6^^^
^^^Soto Gading .7^^^
^^^Bakso Solo .8^^^
^^^Sate Buntel .9^^^
^^^Brambang Asem .10^^^
^^^Mie Gajah Mas .11^^^
^^^Soto Seger Solo .12^^^
^^^Kue Lapis Mandarin .13^^^
^^^Cabuk Rambak .14^^^
^^^Sup Galantin .15^^^
^^^Sate kere .16^^^
^^^Sup Matahari .17^^^
^^^Soto Kwali .18^^^
^^^Gudeg Ceker .19^^^
^^^Bubur Tumpang .20"^^^
"Widih gila ni gugel. Keren juga ya. Tau gitu aku ajak karaokean bareng." Kagum Shita tercengang dengan kecanggihan teknologi di hadapan kami.
"Aku lihat banyak netijen main-main sama ni fitur Ta. Kita coba yuk." sungutku.
"Kalau soal iseng mengisengi serahkan ke gua." ujar Shita.
"Beteweh, lo mau makan apa? Banyak nih pilihannya." sambung Shita.
"Coba aku lihat." sahutku.
Aku melihat banyak menu yang di tampilkan di layar berukuran 9 inci itu. Begitu banyak pilihan menu yang terlihat sangat menggoda.
"Aduh mengoda semua. Jadi bingung milihnya." seruku.
"Makan yang kuah kuah enak Tre." ucap Shita.
"Iya ya. Ya udah, kita turun yuk." ajakku.
"Ehh cari apa?! Emang mau makan apa?" seru Shita.
"Timlo, bakso, soto. Apa ajalah, yang penting kuah." sahutku.
Kami pun masuk ke dalam rest area untuk mencari pedagang makanan yang kami inginkan. Berkeliling dari ujung ke ujung. Membaca satu per satu menu yang terpampang di depan kios.
"Ta, timlo Ta timlo. Coba yuk." seruku.
"Ayok lah." sahutnya.
Kami pun masuk ke kios yang tidak cukup besar itu. Tapi terlihat sangat rapi yang bersih. Kami memesan 2 porsi timlo kepada pelayan. Tak lama kami menunggu, datanglah seorang pelayan yang mengantarkan pesanan kepada kami. Kami tertegun saat melihat apa yang pelayan hidangkan di depan kami.
"Apa'an nih?!" seru Shita.
...****************...