100 Days

100 Days
Part 29



Tidak seperti dugaan Isabel, ternyata hubungan Eric dan Jordan sangatlah baik dengan cara mereka sendiri. Cara yang menurut Isabel cukup aneh. Mereka saling mengumpat hanya karena perdebatan kecil, bahkan kadang mereka hampir baku hantam jika perdebatan mereka tak kunjung menemukan titik temu.


Tiga hari sudah Jordan menginap di safe house. Sebenarnya Isabel merasa risih. Ya, meskipun dia tidur di kamar sementara dua pria itu tidur di sofa ruang tamu, tetap saja rasanya tidak nyaman. Apalagi Jordan sering bersikap manis dan melontarkan kata-kata penuh rayuan untuknya. Sangat berbeda dengan Eric yang bermulut tajam.


Seperti pagi ini, Jordan yang sama sekali tidak tahu menahu urusan dapur berlagak ingin membantu Isabel menyiapkan sarapan.


Beberapa hari ini memang Isabel yang menyiapkan sarapan dan makan malam untuk penghuni safe house. Rasanya tidak enak saja jika hanya hidup menumpang tanpa melakukan apapun. Jadi, meskipun Eric masih bersikap acuh tak acuh padanya, Isabel tetap menyiapkan makanan untuk mereka.


Untuk makan siang, biasanya Isabel hanya makan sendirian karena dua orang itu pergi bekerja. Entah apa pekerjaan mereka, yang Isabel lihat sejauh ini mereka hanya berkutat dengan gadget masing-masing.


"Jordan, kenapa kau tidak duduk disana saja dengan Eric?" Isabel menunjuk sofa dimana Eric sedang duduk sambil menonton televisi. "Aku lebih senang melihat kalian saling mengumpat daripada kau merusak masakanku," ketus Isabel yang melihat Jordan dari tadi hanya menggeser mangkok-mangkok berisi bahan-bahan untuk masakannya.


Jordan terkekeh. "Aku lebih senang membantumu, Cantik."


Isabel membuang napas dan memutar mata malas. "Kau sama sekali tidak membantu, tapi mengganggu."


Senyum Jordan tidak pudar sedikit pun dari wajahnya. Dia seperti dilahirkan untuk selalu tersenyum. "Baiklah, aku tidak akan menyentuh apapun lagi. Aku akan disini saja melihatmu memasak." Jordan mengerlingkan mata.


"Pergilah! Biarkan aku menyelesaikan masakanku atau kau tidak akan mendapatkan sarapanmu," perintah Isabel diikuti ancaman yang Jordan tahu itu hanya gertakan saja.


Jordan mengangkat kedua tangannya. Dia menyerah. "Baiklah, aku akan ke sana dan saling mengumpat dengan keparat itu untuk membuatmu senang."  Jordan menunjuk Eric lalu terkekeh.


"Kau semakin cantik saat marah." Jordan tak melupakan gombalannya sebelum meninggalkan Isabel yang hanya bisa menghela napas dengan kata-kata manis Jordan.


Isabel menggeleng saat Jordan meninggalkannya. Akhirnya pria itu menjauh juga. Dengan cekatan Isabel menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Menu pilihan Isabel kali ini adalah bubur gandum dengan jamur dan jagung.


Ketika sarapan sudah siap, dia memanggil kedua pria yang sedang asyik saling mengumpat itu untuk sarapan bersama.


"Apa masakanmu selalu selezat ini?" tanya Jordan sesaat sebelum menyuapkan lagi bubur itu ke mulutnya.


Pertanyaan itu hanya dijawab dengan bahu terangkat oleh Isabel.


"Aku pasti akan sangat senang jika setiap hari bisa makan masakanmu." Lagi-lagi Jordan menggombal.


"Sayangnya itu tidak akan terjadi," tukas Isabel.


"Aw, kau patahkan hatiku lagi, Cantik." Kesedihan di wajah Jordan dibuat sedramatis mungkin.


Eric yang dari tadi hanya diam, akhirnya mengeluarkan suara. "Apa tidak ada hal lain lagi yang lebih menjijikkan selain rayuan murahanmu itu?" Eric sudah muak mendengar gombalan Jordan.


"Apa ada yang cemburu disini?" goda Jordan. Dia ingin memprovokasi Eric.


Eric menatap malas pada sahabat gilanya itu. "Tutup mulutmu dan makanlah tanpa bersuara!"


"Oh, ayolah! Umurku sudah lebih dari cukup untuk mulai mencari istri. Dan aku akan sangat senang jika gadis cantik ini bersedia menjadi istriku. Jangan khawatir, aku pasti akan mengundangmu ke pernikahanku." Ucapan Jordan semakin melantur. Tentu saja itu diniatkan untuk memancing emosi Eric.


Eric menatap tajam pada Jordan. "Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, tapi jangan di depanku dan jangan di rumahku!" desisnya.


Jordan tertawa keras. Dia sampai menggebrak pelan meja makan. "Oh, Dude! Kau benar-benar cemburu."


Eric tidak menanggapai ocehan Jordan. Dia menghabiskan sarapannya dengan cepat.


Mendengar soal istri, Isabel jadi teringat dengan Aiden yang sebentar lagi akan memiliki seorang istri. Tentu saja bukan dirinya. Karena mimpinya itu sudah terkubur sangat dalam.


Isabel menghentikan gerakannya menyuap bubur. Dia mengaduk-aduk bubur di mangkok dan tak berselera lagi untuk menghabiskan sarapannya.


Pikirannya kembali pada Aiden. Rasa sesak itu masih sangat terasa, meskipun dia sudah berusaha mengikhlaskan.


"Eric ...," panggil Isabel tiba-tiba. Bertepatan dengan habisnya bubur di mangkok Eric.


Yang punya nama segera melihat pada orang yang memanggil, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


"Hei, dimana sopan santunmu? Jawablah jika ada yang memanggilmu." Jordan berbicara pada Eric, tapi sebelah matanya mengerling pada Isabel dan bibirnya menyunggingkan senyuman.


Eric melirik kesal pada Jordan lalu menatap Isabel lagi masih tanpa bersuara. Dia menunggu apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.


Isabel menunduk, dia ragu untuk mengatakannya. Karena kemungkinan besar Eric akan menolak permintaannya.


"Aku tidak bisa membuat satu hari menjadi 48 jam, cepat katakan apa yang ingin kau katakan." Eric masih menunggu.


"Bukan seperti itu caranya bicara dengan perempuan. Bicaralah dengan baik." Lagi-lagi Jordan yang bereaksi.


"Diamlah atau aku akan menendangmu keluar dari rumahku." Eric memicing pada Jordan.


Jordan hanya terkekeh mendengarnya. Dia sudah terbiasa dengan ancaman Eric.


Isabel menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku ingin datang ke pernikahan mereka."


Eric diam dengan alis bertaut. "Tidak!" tegasnya kemudian. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Isabel merusak pernikahan adiknya.


"Aku bilang tidak!" Eric bersikeras menolak.


"Kumohon, Eric. Biarkan hidupku tenang setelah ini." Isabel memohon sepenuh hati.


Eric membuang napas kasar. Dia tidak akan mengizinkan Isabel datang ke pesta adiknya.


"Jangan terlalu kejam padanya. Biarkan saja dia datang," bela Jordan yang sudah tahu pokok permasalahan antara Isabel, Chloe, Aiden dan Eric.


"Aku tidak akan mengulangi ucapanku." Eric masih bersikukuh menolak.


Kedua mata biru Isabel berkaca-kaca. Dia hanya ingin menyelesaikan apa yang dia mulai dengan Aiden. Dia membutuhkan itu untuk bisa move on dari orang yang sangat dia cintai.


Jordan yang melihat butiran bening dari mata Isabel terjatuh segera mengusap lengan gadis itu. "Jangan dengarkan keparat itu. Kau akan datang bersamaku," hiburnya.


Eric seketika menggebrak meja. "Kau tidak akan kemana-mana!" tegas Eric pada Isabel. "Dan kau tidak akan datang bersamanya!" Eric beralih pada Jordan.


Selesai dengan ucapannya, Eric beranjak meninggalkan mangkok kosongnya begitu saja di meja makan.


Isabel memejamkan mata, air matanya menderas sepeninggal Eric. Tidak ada lagi kata yang bisa keluar dari bibirnya yang bergetar.


"Jangan khawatir. Kau bisa datang sebagai pasanganku." Jordan mengusap punggung tangan Isabel yang terasa sedingin es.


Isabel menatap Jordan dengan matanya yang merah, "Benarkah?"


Jordan tersenyum hangat. "Ya, tentu saja."


"Tapi Eric ...." Isabel takut jika disana nanti Eric akan mengusirnya.


"Serahkan padaku." Jordan menepuk-nepuk punggung tangan Isabel.


"Terima kasih," ucap Isabel lirih.


Jordan berdiri, "Habiskan makanmu. Nanti malam ikutlah denganku," katanya sambil mengacak rambut Isabel.


"Ke mana?" Isabel memutar kepalanya mengikuti arah Jordan.


Jordan berhenti melangkah. "Kau tidak akan datang ke pesta dengan pakaian seperti itu, bukan?" Jordan menunjuk gaun rumahan yang dipakai Isabel. Dia tersenyum lalu pergi meninggalkan meja makan.


Isabel baru menyadari jika disini dia tidak punya baju pesta. Dia punya, banyak, tapi semua itu dia tinggalkan di rumah. Sedangkan dia tidak mungkin kembali ke rumah itu untuk saat ini.


Ternyata ada untungnya juga Jordan datang ke sini. Di luarnya saja pria itu terlihat menjengkelkan, tapi hatinya sungguh baik.


Jordan menyusul Eric yang berada dalam kamar. Sahabat sekaligus orang yang dia anggap saudara itu sedang duduk di sofa yang menghadap ke dinding kaca.


"Kenapa kau tidak membuat balkon disini?" tanya Jordan yang ikut duduk di sebelah Eric.


Eric hanya berdecak, tidak ingin menjawab. Dia sudah tahu apa yang ingin dikatakan Jordan sebenarnya.


Jordan menghela napas, dia menatap jauh di bawah sana di mana anak-anak sedang bermain.


"Biarkan dia datang. Akan kupastikan dia tidak membuat masalah," kata Jordan kemudian. Pandangannya masih tertuju pada anak-anak di taman.


"Pergilah!" usir Eric.


Bukannya pergi, Jordan menggeser posisi duduknya hingga menghadap Eric. Sebelah kakinya terlipat di sofa dan satu tangannya bertumpu pada punggung sofa.


"Hargailah usahanya untuk menukar rasa cintanya dengan rasa sakit. Dia perlu melihat bagian paling menyakitkan itu untuk bisa membebaskan hatinya."


Eric sama sekali tidak menggubris. Dia tahu Isabel bisa berbuat nekat di sana. Maka dari itu dia tidak akan mengizinkan Isabel datang.


"Dia akan datang bersamaku, sebagai pasanganku," pupus Jordan. Kenapa sebagai pasangannya? Karena jika Eric tidak mengizinkan pasangannya datang, maka Jordan juga tidak akan datang. Dan Jordan tahu seberapa penting dirinya dalam hidup Eric, karena begitu pula Eric baginya. "Aku yang bertanggung jawab jika dia berbuat macam-macam," tambah Jordan.


Pria jangkung berambut lurus itu berdiri lantas menepuk bahu Eric sebelum meninggalkan sahabatnya yang masih duduk memangku laptop disana.


***


tbc.


Nah lo ! Disamber kan sama sahabatnya. Bang Eric sih, punya mulut setajam silet.


Apa Jordan bisa menyembuhkan luka hati Isabel ? Mau dibawa pulang ke kampung halaman trus di jadiin istri lho. Jadi kan nanti bisa gantian ngundang mantan ke nikahannya. wkwkwk.....!


Kita bantu doa saja yak !


Jangan lupa vote, like dan comment. Klik favorit juga yak biar tahu setiap ada episode baru.


See you next part, love.