100 Days

100 Days
Part 32



Isabel menegakkan tubuhnya. Dia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi. Lalu dia menengadah menatap sendu wajah Jordan yang terasa menenangkan untuknya. "Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku."


Jordan tersenyum. "Anything for you, Princess."


"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Isabel tanpa mengalihkan pandangan.


"Sure."


Jordan merengkuh pinggang Isabel dan menuntunnya keluar. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara seseorang memanggil Jordan, hingga langkah mereka terhenti.


"Jor--Oh, hai, Nona, wajahmu seperti tidak asing." Pria tampan dengan setelan jas hitam yang memanggil Jordan itu teralihkan dengan Isabel.


"Ada apa, Nick?" tanya Jordan yang tidak ingin membuat Isabel merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nick.


Isabel ingat siapa pria itu. Tapi dia tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.


Nick mengalihkan pandangan dari Isabel. Dia menatap Jordan dengan tatapan bingung. Dia berpikir sejenak, mengingat apa yang membuatnya memanggil Jordan tadi.


Nick menjentikkan jari setelah ingat tujuannya. "Ruby sudah tiba di LA pagi ini. Terima kasih sudah mengirimnya untukku." Nick tersenyum puas.


Jordan mendengkus kecil, "Kau harus membayar mahal untuk itu," katanya sambil terkekeh.


Ruby? Isabel berpikir jika kedua pria itu sedang membicarakan seorang gadis. Mungkinkah mereka sedang membicarakan tentang perdagangan manusia? Gadis itu tersentak saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh Nick.


"Aku pinjam wanitamu sebentar" kata Nick sambil menarik tangan Isabel menjauh dari Jordan.


"Hei, apa yang kau lakukan?" protes Isabel.


"Jangan mengganggunya, Nick!" Jordan ikut protes karena Nick membawa pergi Isabel begitu saja.


"Lepaskan aku! Aku ingin kembali," pinta Isabel.


"Hanya sebentar. Aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Nick.


Nick membawa Isabel ke lantai dansa bergabung dengan puluhan pasangan yang sudah larut dalam alunan musik merdu di sana. Jordan mengejar mereka, tapi dia tidak akan membuat keributan hanya karena masalah ini. Dia tetap memerhatikan dari jarak agak jauh agar Isabel tidak merasa sendirian.


"Aku tidak ingin berdansa denganmu." Isabel protes saat Nick memaksa mengikuti gerakannya. Gadis itu ingin pergi dari sana. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalinya.


"Tentang Alice," kata Nick yang berhasil membuat Isabel berhenti protes. Isabel tahu seperti apa Nick untuk Alice. Sahabatnya itu masih mencintai Nick, meskipun bibirnya mengelak.


Perlahan Isabel mulai mengikuti gerakan Nick. Dia siap mendengar apa yang ingin disampaikan Nick. "Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Nick.


"Aku tidak tahu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya," jawab Isabel.


"Aku ingin meminta bantuanmu." Isabel mengernyit mendengar ucapan Nick. "Aku ingin bertemu dengannya," lanjut Nick.


"Kenapa kau tidak langsung menemuinya? Apa yang kau inginkan darinya?" tanya Isabel curiga.


Nick mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu dia di mana." Semenjak pertemuan dengan Alice di party Ethan, Nick memang sempat mencari Alice. Dia juga bertanya pada Ethan, tapi Ethan tidak tahu di mana tempat tinggal Alice.  Lagipula Ethan malas menanggapi Nick yang memang sering berganti-ganti pasangan.


"Bisa kau membantuku?" tanya Nick dengan nada memohon.


Isabel diam sebentar. Dia tahu Alice masih mencintai Nick. Tapi dia juga tahu jika sahabatnya tidak mengharapkan pertemuan dengan mantan kekasihnya itu.


"Please." Nick memohon.


Isabel menatap Nick sedikit kesal. Ayolah, gadis itu baru saja selesai menangisi kekasihnya yang menikah dengan gadis lain. Rasanya malas sekali harus mengurusi percintaan orang lain juga.


"Maaf, Nick, kurasa Alice tidak ingin bertemu denganmu. Kau menyakitinya," kata Isabel. Berharap Nick tidak memohon lagi.


"Aku tahu. Aku ingin meminta maaf padanya." Isabel menatap mata Nick. Dia melihat ketulusan dalam mata itu.


"Sekali lagi aku minta maaf, Nick. Aku tidak bisa ka--" Ucapan Isabel terpotong saat seseorang menarik tubuhnya tanpa permisi.


"Carilah pasangan dansa yang lain," ketus orang itu yang tak lain adalah Eric.


"Oh, come on! Aku belum selesai dengannya," protes Nick. Eric tidak menghiraukan, dia fokus pada gadis di depannya.


Tangan Eric merengkuh pinggang Isabel dan mulai mengikuti ritme musik romantis yang mengalun indah.


Nick yang jengah dengan tingkah Eric segera menyingkir dari lantai dansa sambil menggeleng kesal.


"Terima kasih sudah datang ke pesta," ucap Eric sambil menarik satu tangan Isabel ke bahunya. Isabel berpikir Eric sudah tidak marah dengan kehadirannya di pesta ini. Hingga kalimat selanjutnya terucap. "Tapi kenapa kau masih disini?" Eric menatap tajam Isabel.


Pertanyaan Eric terdengar menyakitkan untuk Isabel. Dia sampai menatap tidak percaya pada Eric. Ternyata Eric sangat membencinya. Bahkan hingga pernikahan ini sudah terjadi, Eric tetap membencinya.


"Temanmu yang menarikku ke sini," jawab Isabel.


"Kau bisa menolak. Di mana keparat itu? Kenapa dia tidak mencegahnya?" Yang dimaksud Eric adalah Jordan. Dia kesal karena Jordan membiarkan Isabel bersama Nick, padahal dia sudah setuju untuk membawa Isabel pergi.


Isabel menghela napas lelah. Apapun alasannya, Eric akan tetap membencinya. Dan akan tetap seperti itu.


"Aku sudah melepaskannya, Eric," kata Isabel dengan nada lemah. Kedua matanya menatap sendu mata kelabu Eric. "Aku tidak akan mengganggu hubungan Aiden dan adikmu lagi," lanjutnya.


Eric diam. Kedua matanya menangkap ketulusan yang dibalut luka dalam wajah Isabel. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Mulut yang senantiasa mengeluarkan kata-kata tajam itu bungkam, seolah kehilangan kemampuan untuk bermain kata.


Isabel menundukkan wajahnya. Terdengar memalukan memang, mengemis untuk tinggal di tempat seorang pria yang belum lama dikenalnya. Namun Isabel merasa nyaman berada di sana tanpa ada hal yang mengingatkannya pada Aiden.


Tidak ada jawaban dari Eric atas permintaan itu, membuat Isabel kembali mengangkat wajahnya di mana Eric masih menatapnya dengan tatapan yang ambigu.


"Aku bisa bekerja di cafe milikmu. Tanpa gaji," ucap Isabel untuk meyakinkan Eric.


"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Eric dengan nada meremehkan.


"Aku bisa memasak," jawab Isabel yakin.


"Aku sudah punya koki yang hebat," tukas Eric.


"Aku bisa membersihkan meja, mencatat dan mengantar pesanan."


"Pelayan di sana sudah banyak."


Isabel menurunkan bahu. Eric tidak memberi celah untuknya. "Aku bisa mencuci piring kotor atau membersihkan toilet."


Samar Eric tersenyum. "Aku memercayakan bagian itu pada pekerja pria."


Isabel mendengkus kasar. Eric membuatnya frustasi. "Baiklah, berikan pekerjaan apapun untukku di sana supaya aku tidak menjadi parasit untukmu." Suara Isabel terdengar putus asa. Bicara dengan Eric sungguh membuatnya lelah.


Eric terkekeh merasa menang dari gadis yang masih menjadi pasangan dansanya itu. "Akan kupikirkan," katanya.


Isabel menatap takjub untuk pemandangan yang baru saja dia lihat. Itu pertama kalinya Eric menunjukkan senyum yang tidak dibuat-buat padanya. Hingga tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Senyum di wajah Eric menghilang saat pria itu menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Dia terbawa suasana, rasanya menyenangkan melihat Isabel yang menatapnya lelah dan putus asa seperti itu. Kini dia terpaku pada Isabel yang tersenyum padanya. Sempat ragu, tapi akhirnya Eric membalas senyum itu. Keduanya hanya saling menatap dalam diam dengan senyum tipis yang tersisa di wajah mereka.


"Ehem."


Suara deheman membuat keduanya memutuskan tatapan mereka dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Lalu melepaskan tangan mereka yang sedari tadi bergerak dengan sendirinya membuat sikap dansa yang baik.


"Maaf, mengganggu. Aku ingat, tadi seseorang memintaku membawa pulang pasanganku. Jadi, mari kita pulang, Princess." Jordan mengulurkan tangan pada Isabel sambil tersenyum jahil.


Eric memasukkan tangannya ke saku celana sambil melihat ujung sepatunya. Dia persis seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.


Isabel menyambut uluran tangan Jordan dengan perasaan tidak enak karena sudah membuat pria itu menunggunya cukup lama. Bahkan dia meninggalkannya untuk berdansa dengan dua orang pria berbeda.


Jordan menggandeng Isabel dan melangkah menjauh dari pria dengan setelan jas satin hitam yang hanya memandang kepergian kedua orang itu tanpa sepatah kata pun.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Isabel.


"Bukan salahmu. Kedua keparat itu yang seenaknya memonopoli pasanganku." Jordan terkekeh. Isabel lega, ternyata Jordan tidak marah padanya.


Namun perasaan itu tidak bertahan lama. Ketika dirinya hampir sampai di depan pintu ballroom, sepasang suami istri baru saja masuk melalui pintu itu.


Isabel berhenti melangkah. Hal yang sama dilakukan pasangan itu. Perlahan Isabel melepaskan tautan tangan Jordan. Kedua matanya berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya.


"Sayang." Emma berjalan mendekat lalu memeluk putrinya dengan penuh kerinduan. Isabel diam, otaknya tidak bisa berpikir. Harusnya dia tidak bertemu mereka disini.


"Pulanglah, Nak," pinta Emma yang sudah meneteskan air mata. Wanita itu menangkup wajah putri kesayangannya.


Jhon masih diam di tempatnya. Dia sangat ingin memeluk putrinya, tapi dia takut putrinya menolak.


"Kami merindukanmu, Nak. Pulanglah," pinta Emma lagi.


Yang kedua orang tua Isabel ketahui, sampai saat ini Isabel tinggal bersama Alice. Jadi mereka tidak terlalu khawatir. Hanya saja rasa rindu tidak bisa dipungkiri.


Setetes air mata turun dari mata Isabel. Dia menatap Jhon yang masih diam ditempatnya. Dia mengira Jhon masih marah padanya.


"Maaf, Mom, aku butuh waktu," jawab Isabel singkat. Lalu dia melangkah cepat meninggalkan kedua orang tuanya. Tangisnya pecah seketika.


Jordan masih berdiri di tempatnya, menatap bingung dengan kedua orang di hadapannya.


"Apa kau teman anakku?" tanya Emma pada Jordan.


Jordan mengangguk. Setelah sadar dengan situasi, Jordan berkata, " Ya. Saya Jordan. Senang berkenalan dengan Anda, Tuan, Nyonya." Jordan menatap Emma dan Jhon bergantian.  "Tapi maaf, saya harus mengejarnya," tambah Jordan seraya menunjuk arah perginya Isabel.


Pria itu berjalan dua langkah lantas berhenti dan menoleh pada sepasang suami istri itu. "Saya akan berusaha membujuknya untuk pulang," katanya sebelum melanjutkan langkah.


Emma merapat pada Jhon yang dengan sigap menarik bahu istrinya dan membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya.


***


tbc.


Apakah Jordan berhasil membujuk Isabel untuk pulang ?


Eh itu tadi Bang Eric ketahuan nyuri permen dimana yak sampe segitunya, hihihihi


See you next part, Love.