100 Days

100 Days
Part 35



Pernikahan Aiden daan Chloe sudah berjalan selama dua minggu. Sejak menikah, Chloe tinggal di apartemen Aiden. Meskipun mereka terikat pernikahan dan tinggal satu atap, tapi mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di tempat yang sama.


Keduanya tidur di kamar terpisah. Terkadang Chloe memilih untuk tidur di apartemennya sendiri. Letak apartemen yang bersebelahan membuat Chloe lebih leluasa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, terkecuali urusan ranjang tentunya. Karena sampai saat ini keduanya masih sama-sama belum bisa membuka diri untuk itu.


Tidak jarang Aiden maupun Chloe merasa terkejut saat tiba-tiba salah satu diantara mereka muncul pada waktu mereka sedang larut dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka belum terbiasa dengan kehadiran orang lain.


"Kapan jadwal periksa kandunganmu?" tanya Aiden saat makan malam.


Chloe menelan kunyahan daging ayamnya lalu menjawab, "Lusa."


Gerakan tangan Aiden untuk memotong daging ayamnya terhenti sejenak. "Lusa aku ada pekerjaan di luar kota. Bagaimana kalau besok saja?"


"Besok aku ada pertemuan dengan klien pertamaku, mungkin akan selesai sore hari." Chloe sedang merintis usaha kecil-kecilan, membuat design perhiasan. Impiannya menjadi penari harus kandas sebelum dimulai, jadi dia mencari kesibukan di bidang lain untuk mengisi waktu.


"Tapi lusa aku tidak bisa menemanimu." Selain karena merasa tidak enak, Aiden juga ingin tahu kondisi calon bayinya.


"Aku bisa berangkat sendiri. Jangan khawatir."


"Tapi ...."


Tatapan mata Chloe berhasil membuat Aiden berhenti meneruskan kalimatnya. Sejauh ini Chloe memang sangat mandiri. Dia tidak menuntut Aiden macam-macam. Dengan Aiden bersikap baik padanya, itu sudah sangat cukup untuk Chloe.


"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati." Aiden akhirnya mengalah.


"Hm."


Aiden selesai dengan makannya. Dia mengelap mulut dengan tissue. "Mengenai pekerjaanmu ... jangan terlalu lelah," kata Aiden kemudian.


"Aku mengerti." Chloe yang juga sudah selesai makan segera membereskan peralatan makan mereka.


Pandangan Aiden tak luput dari Chloe yang dengan cekatan mengerjakan segala urusan rumah tangga. Termasuk urusan dapur seperti ini.


Gadis yang baik. Aiden tak memungkiri jika Chloe adalah gadis yang sangat baik. Tapi sayang, dia belum bisa membuka hatinya untuk gadis itu. Bahkan setiap malam, bayangan Isabel masih menari-nari di otaknya.


Kadang Aiden merasa dirinya sangat jahat. Sebagai suami, tidak seharusnya dia memikirkan gadis lain sementara istrinya sedang mengandung anaknya. Tapi dia tidak bisa membohongi hatinya. Biarlah untuk sementara semua berjalan seperti ini.


"Aku akan mencari asisten rumah tangga untuk membantumu mengerjakan pekerjaan rumah," kata Aiden yang masih duduk di meja makan. Dia tidak tega melihat Chloe mengerjakan semuanya sendiri. Apalagi dengan kondisi Chloe yang sedang mengandung ditambah lagi pekerjaan baru Chloe, dia tidak ingin istrinya itu kelelahan.


"Tidak perlu. Aku masih bisa mengerjakannya sendiri," tolak Chloe.


Aiden menghela napas pelan. "Kalau kau tidak mau, berhentilah bekerja." Sejak awal sebenarnya Aiden tidak mengizinkan Chloe bekerja. Dia takut Chloe akan kelelahan hingga membahayakan kandungannya.


Chloe membalik tubuhnya, dia menatap lelah pada Aiden. Dia butuh kesibukan untuk mengalihkan pikiran dari mimpinya menjadi penari.


"Baiklah." Chloe pasrah. Berdebat dengan Aiden adalah hal yang sangat dia hindari. Dia tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi buruk. "Tapi jam kerjanya hanya dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Untuk sarapan dan makan malam biar aku yang mengurusnya."


Aiden tampak berpikir. "Okay." Itu lebih baik daripada Chloe harus kelelahan yang akan berakibat buruk untuk kandungannya.


                            ***


Isabel berjalan menuruni anak tangga dari lantai empat ke lantai satu. satu minggu ini dia menyibukkan diri dengan membantu meracik minuman di Willow Spring. Pegawai di sana mengira kalau Isabel adalah kekasih Eric. Meskipun tidak ada yang bertanya langsung padanya.


Jose sebagai manager yang bertanggung jawab di sana tidak berani memberikan pekerjaan yang berat untuk Isabel. Jadi dia hanya diperbolehkan membantu meracik minuman.


Pekerjaan ringan yang tidak banyak membantu sebenarnya. Tapi karena Isabel bersikeras meminta diberi pekerjaan, jadi dia mendapatkannya.


"Eric sudah datang?" tanya Isabel pada Jose. Dia tahu Eric sudah kembali dari luar kota dua hari lalu, hanya saja sekarang Eric tidak pernah menginap di safe house. Dia ingin berterima kasih karena sudah diizinkan bekerja di Willow Spring, meskipun tanpa gaji.


"Sudah, Nona. Dia ada di ruangannya." Jawab Jose.


"Isabel, Jose." Gadis itu memutar mata malas. Dia lebih suka dipanggil dengan namanya. Dia tidak tahu saja kalau pegawai di sana merasa sungkan padanya karena mengira dia adalah kekasih pemilik tempat kerja mereka.


Jose tersenyum ramah. "Ya, Isabel. Bos ada di ruangannya."


Tanpa ragu Isabel melangkah menuju ruangan Eric. Setelah mengetuk pintu kaca berwarna hitam, Isabel menggeser pintu itu. Dia melihat Eric sedang duduk di balik meja kerjanya.


Eric mengangkat wajah ketika melihat pintu ruangannya terbuka dan menunjukkan wajah Isabel di sana.


"Apa aku mengganggu?" tanya Isabel.


"Tidak terlalu," jawab Eric sekenanya. Isabel tidak peduli dengan jawaban Eric. Dia sudah terbiasa dengan itu. Dengan wajah cerah Isabel masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Eric dengan wajah datar.


"Aku ingin berterima kasih untuk--" Ucapan Isabel terhenti saat dia menyadari di dalam ruangan itu tidak hanya ada dirinya dan Eric.


Pandangan Isabel beralih pada seseorang yang duduk di sofa. Seseorang yang sudah cukup lama tidak dia temui. Seseorang yang sekarang sudah menyandang nama besar Muller di belakang namanya.


Chloe memerhatikan Isabel yang masuk ke ruangan Eric dalam diam. Sebenarnya dia terkejut Isabel berada di sana. Dia juga takut kalau Isabel masih marah padanya.


Chloe ingin sekali menegur Eric yang bersikap tidak ramah pada Isabel, tapi dia tahan. Hingga saat Isabel menyadari keberadaannya dan akhirnya pandangan mereka bertemu.


Isabel tersenyum kaku. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Benci? Marah? Sedih? Kecewa? Entahlah, rasanya sungguh tidak menyenangkan.


"Hai." Isabel menyapa terlebih dulu.


"Hai," balas Chloe. Dia juga tersenyum kaku.


Seketika suasana di ruangan itu jadi canggung. Eric tampak tertarik dengan interaksi keduanya. Dia menautkan jemarinya lalu bertopang dagu. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Isabel melirik sebuah kertas yang ada di atas meja kaca di depan Chloe. Di situ juga ada dua foto hasil USG. Tanpa bertanya pun Isabel tahu itu adalah milik Chloe.


"Dia ... sehat?" tanya Isabel sambil menunjuk foto hasil USG itu dengan matanya. Susah payah Isbael menelan ludah untuk bisa mengeluarkan kata-katanya.


Chloe mengerjap beberapa kali. Dia tidak menyangka Isabel akan menanyakan kondisi kandungannya. Justru dia merasa bersalah karena mengira Isabel akan berbuat buruk padanya.


"Y-ya. Dia sehat," jawab Chloe.


Isabel terlihat canggung. Dia seperti memaksakan senyum tapi bibirnya hanya membentuk garis lurus. Dia meremas jemarinya lantas berbalik ke arah Eric.


"Aku hanya ingin berterima kasih karena sudah mengizinkanku membantu di sini," ucap Isabel dengan suara lirih.


Eric masih bertopang dagu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Diterima," jawabnya singkat masih dengan gesture yang sama.


Ragu-ragu Isabel tersenyum. "Aku permisi." Tanpa menunggu jawaban dari Eric, Isabel segera meninggalkan ruangan itu.


Eric dan Chloe saling pandang. Ini adalah pertemuan pertama Isabel dan Chloe setelah insiden sarat ancaman beberapa minggu lalu yang berakhir dengan terkurungnya Isabel di safe house. Di pesta pernikahan pun mereka tidak sempat bertemu.


Isabel keluar dari ruangan Eric dan menuju ke meja bar di mana Jose sedang memberi arahan pada beberapa pegawai di sana. Pria latin itu membubarkan para pegawai setelah selesai memberi arahan.


"Ada masalah?" tanya Jose saat Isabel  tiba-tiba duduk dengan wajah ditekuk di depan meja bar.


Isabel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia tidak menyangka akan bertemu Chloe secepat ini.


Jose memutari meja bar lalu duduk di sebelah Isabel. "Ada masalah dengan Bos?" tanya Jose.


Isabel menggeleng dengan kedua tangan yang masih menutupi wajah.


Jose memgangguk-anggukkan kepala. Dia enggan untuk ikut campur urusan pribadi Isabel dengan Bosnya. Jika Isabel tidak ingin bercerita, dia tidak akan bertanya lagi.


"Kau bisa memanggilku jika butuh teman bicara." Jose menepuk bahu Isabel lantas beranjak dari tempatnya untuk melanjutkan pekerjaan.


Tak berselang lama, Eric dan Chloe keluar dari ruang kerja. Keduanya bersitatap saat melihat Isabel terduduk lesu di meja bar.


"Bicaralah dengannya. Ingat, perlakukan dia dengan baik," pesan Chloe.


"Hm." Pesan itu dijawab dengan deheman oleh Eric. Dia sudah bosan selalu diingatkan untuk bersikap baik pada gadis itu.


Chloe tersenyum lalu berpamitan pada Eric. Setelah Chloe keluar dari Willow Spring, Eric berjalan ke arah Isabel.


Isabel yang melihat Eric berjalan mendekat, segera menegakkan posisi duduknya. Eric berhenti satu meter dari Isabel. Dengan wajah datar dia berkata, "Ikut aku."


***


tbc.


Mau dong ikut, hihihihi....


Hayo mau diajakin kemana tuh ?


Simak episode selanjutnya.


See you next part, love.