
Tubuhku menggigil dan jantungku seolah di tarik keluar saat aku melihat sosok mungil itu di dalam layar. Ini adalah titik terendah dalam hidupku. Aku telah terjatuh ke dalam lubang penyesalan yang amat dalam. Tak ada seorang pun yang mampu menolongku. Aku tidak tahu lagi sebutan apa yang pantas diberikan padaku. Apakah aku masih pantas disebut manusia setelah apa yang kulakukan?
Dengan kedua tanganku, aku telah membunuh darah dagingku. Dengan kedua tanganku, aku telah membuat istriku sekarat. Mike benar, harusnya aku membusuk di neraka. Tempat itu lebih pantas buatku.
Kupandangi gambar statis sosok mungil yang sudah tidak bernyawa itu. Air mataku kembali menetes. Jika saja aku tidak bertindak bodoh, tidak lama lagi aku bisa memeluknya. Dia akan menjadi anak pertama yang akan membuat gaduh rumahku. Dia dan adik-adiknya kelak akan membuat rumahku seperti kapal pecah. Dia dan adik-adiknya kelak akan membuat Isabel menjerit lalu mengadu padaku karena ulah mereka.
Sekarang, aku hanya bisa tersenyum getir. Jangankan memeluknya, aku bahkan tidak bisa melihatnya secara langsung. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah duduk di belakang meja sambil terus memandangi layar, berharap mereka yang kuawasi akan menoleh dan berbicara padaku.
Katakanlah aku pengecut yang tidak berani berjuang. Aku hanya seorang pria patah hati yang menggantungkan harapan pada alkohol untuk menyembuhkan semua lukaku.
"Eric, buka pintunya!"
Sudah dua hari ini Chloe selalu menggangguku. Dia tidak bosan menggedor pintu kamarku hanya untuk mengantar makanan yang sama sekali tidak kupedulikan. Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain memggangguku? Jika aku jadi dia, aku akan memilih untuk bermain bersama Annabeth.
"Eric, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya!"
Aku akan tetap berpura-pura tidak mendengar. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anakku. Kenapa Chloe selalu ikut campur?
"Jika kau tidak membuka pintu, aku akan membobolnya."
Persetan dengan Chloe! Aku tidak peduli sekalipun dia merobohkan rumah ini. Karena yang aku butuhkan saat ini hanyalah istri dan anakku.
Suara bising mata bor yang beradu dengan baut membuatku menoleh. Kenapa aku mempunyai adik yang keras kepala? Tidak bisakah dia membiarkanku sendiri?
Setelah suara nyaring handle pintu memantul di lantai, pintu kamarku terbuka. Kulihat Chloe berjalan mendekat padaku sambil membawa nampan.
"Kenapa kau sangat keras kepala?" Chloe menghentak nampan di depanku.
"Kau belum makan apapun sejak kemarin. Dan apa ini ... astaga, Eric!" Chloe mengangkat botol anggurku yang sudah kosong. "Apa kau ingin mati?"
Jika mati bisa membuat aku bersatu kembali dengan anak dan istriku, kenapa tidak?
Chloe menghela nafas. Dia membereskan beberapa botol anggur yang sudah kosong. Lalu dia memunguti benda-benda yang tergeletak di lantai. Dia juga merapikan tempat tidurku. Terakhir kulihat dia menyemprotkan penghrum ruangan ke beberapa tempat. Begitu selesai, Chloe kembali lagi padaku.
"Apa aku juga harus menyuapimu seperti Annabeth?" Chole menatapku skeptis.
Aku hanya meliriknya sekilas lantas kembali memusatkan perhatianku pada layar dimana istriku sedang terbaring lemah dengan beberapa alat penunjang hidup.
Chloe meraih mangkuk lalu menyendok makanan itu dan mengarahkannya padaku. Kulihat sekilas itu adalah bubur jagung. Dulu aku sangat menyukainya, tapi sekarang tidak. Tidak ada apapun di dunia ini yang menarik bagiku selain melihat istri dan anakku.
"Mau sampai kapan kau seperti ini?" Chloe menurunkan tangannya perlahan. Dia menatapku sedih. "Aku tahu tidak mudah berada di posisimu saat ini. Tapi kau tetap harus memperhatikan kesehatanmu."
Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersama anak dan istriku. Apa ada yang salah dengan keinginan itu? Bukankah sudah seharusnya sebuah keluarga itu berkumpul. Dan caraku berkumpul dengan keluargaku adalah dengan cara ini. Dengan begini, aku merasa dekat dengan mereka. Meski aku tidak bisa memeluk mereka, tapi aku masih bisa mengusap wajah mereka di dalam layar.
Aku memalingkan wajahku saat kudengar Chloe terisak.
"Apa kau masih menganggapku adikmu? Keluargamu?" Air mata Chloe menderas. "Aku tahu kau merasa bersalah atas apa yang menimpa Isabel dan bayi dalam kandungannya. Tapi kumohon, jangan menghukum dirimu seperti ini. Lihatlah dirimu! Kau terlihat sangat menyedihkan. Apa kau pikir dengan menyiksa dirimu seperti ini, keadaan akan semakin baik? Tidak, Eric. Kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Sudah cukup aku kehilangan orang tua kita. Aku tidak ingin kehilangan dirimu karena masalah ini. Aku masih membutuhkanmu. Aku masih butuh seseorang untuk kupanggil 'kakak'."
Aku tahu itu. Aku tidak pernah ragu jika Chloe sangat menyayangiku. Namun saat ini aku hanya ingin sendiri.
Chloe menangkup sisi wajahku. Dia menggerakkan ibu jarinya untuk membelai wajahku. "I love you, Eric. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu." Chloe memelukku. Kubiarkan dia menangis dibahuku tanpa ada niat untuk membalas pelukannya. Aku menyayanginya, tapi aku tidak ingin dia mendikte hidupku.
"Aku akan meninggalkannya disini. Makanlah! Setidaknya, kau butuh energi untuk terus memandangi anak dan istrimu."
Kualihkan pandanganku pada layar lagi. Kubelai wajah Isabel yang terlelap dalam sakit yang kuciptakan. "Kuharap aku bisa berada di sisimu, Bells. Aku ingin menggenggam tanganmu dan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku ingin memeluk anak kita. Aku ingin meminta maaf pada kalian."
Entah sudah berapa banyak kata maaf yang keluar dari mulutku. Aku merasa semua itu tidak pernah cukup. Dosaku terlalu banyak pada mereka. Aku terlalu kotor untuk menjadi bagian dari mereka.
Luka yang menggores hatiku semakin menganga saat aku menerima surat gugatan perceraian dari pengadilan. Papa benar-benar memenuhi ucapannya. Dia mengambil putrinya kembali dariku.
Aku tidak pernah mengira jika pernikahan yang sangat kuimpikan akan berakhir seperti ini. Karena kebodohanku dan karena kesalahanku, aku harus kehilangan istri beserta anakku. Aku kehilangan duniaku.
Semua mimpi yang pernah kami rajut bersama harus kandas dalam waktu singkat. Janji yang pernah kuucapkan di depan keluarga Bennings waktu itu telah kuhancurkan dengan begitu mudah. Aku tidak bisa menjaga Isabel dengan baik. Malah dengan kedua tanganku sendiri, aku telah mencelakai mereka. Aku telah membunuh anakku sendiri. Sungguh fakta menyakitkan yang akan menghantuiku seumur hidup.
Sekarang, harapanku untuk kembali bersama Isabel telah pupus. Tidak ada lagi kesempatan untukku. Aku telah menghabiskan kesempatan keduaku untuk menikahinya. Dan sekarang ... tidak akan ada lagi kesempatan ketiga. Aku telah kehilangan semua harapanku.
Aku merasa hidupku hampa. Aku bagai raga yang tak memiliki jiwa. Tidak ada lagi yang berarti dalam hidupku. Setiap hari aku hanya seperti orang bodoh yang terus menerus memandangi layar hanya untuk meluapkan kerinduanku terhadap Isabel.
Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam rasa sakit ini. Aku benar-benar terpuruk dalam kehampaan. Aku tidak lagi memiliki teman. Mungkin orang-orang mengira aku telah mati. Hanya Chloe, satu-satunya orang yang masih peduli padaku. Jordan? Kami tidak lagi berhubungan sejak kejadian mengerikan itu. Hh, kurasa dia sangat ingin membunuhku. Aku tidak akan menyalahkan siapapun yang menginginkan kematianku. Karena aku memang pantas untuk mati. Bahkan tanpa mereka membunuhku pun, sebenarnya aku telah mati.
Semenjak Isabel keluar dari rumah sakit, aku tidak lagi bisa memantau keadaannya. Aku kehilangan dia. Seakan-akan keluarganya tahu bahwa setiap hari aku tidak pernah melepaskan Isabel dari pandanganku. Dan kini mereka memutus semua akses yang bisa kudapatkan untuk sekedar mengetahui kondisi Isabel.
Aku mulai kebingungan. Aku mencari akses yang bisa membawaku pada Isabel tapi tidak menemukan hasil. Di rumahnya sekalipun aku tidak dapat menemukan Isabel.
Aku yang tadinya bisa bernafas lega karena Isabel telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kini harus berjuang melawan gejolak rasa rindu yang menggempur hatiku habis-habisan.
Dimana Isabel sekarang? Aku mulai gila karena tidak bisa lagi melihat wanita yang sangat kucintai. Tidak! Aku tidak bisa hidup tanpa melihat Isabel. Aku bisa benar-benar gila jika aku tidak menemukannya.
Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan mereka memutus aksesku pada Isabel. Aku sudah cukup menerima dengan perpisahan kami. Tapi aku tidak siap jika harus kehilangan akses pada Isabel. Aku masih membutuhkannya. Aku masih sangat mencintainya.
*
*
*
*
*
tbc.
100 Days ganti cover guys!
Hapus dulu dari rak buku supaya bisa muncul cover barunya.
Jangan lupa mampir juga di side project aku yang baru judulnya THE BASTARD BOSS. Baru side project ya, up nya belum teratur 😊 sementara ini sudah ada 4 part.
See you next part, Love.