
Suara denting alat masak menelusup masuk ke indera pendengaran Eric. Mata yang masih lengket dan berat untuk terbuka membuat Eric kembali menarik selimutnya hingga batas leher.
Namun, suara alat dapur yang beradu itu tak kunjung berhenti hingga saat aroma harum dan sedap masakan menyerang indera penciuman Eric.
Kelopak mata Eric yang tadi masih terkatup rapat dan enggan untuk menunjukkan iris kelabunya, kini terbuka sempurna.
Siapa yang memasak? Eric terduduk dengan kedua kaki yang turun ke lantai. Ia melirik sofa di ujung yang berlawanan dengannya dan melihat bantal serta selimut yang tertumpuk rapi. Dia sudah bangun? Lantas ia memutar kepala ke arah dapur.
Dia memasak? Eric mengernyit tidak percaya. Paginya disambut dengan pertanyaan-pertanyaan seputar gadis yang menumpang di tempatnya. Ralat, gadis yang dia bawa ke tempatnya. Semakin aneh tingkah Isabel menurut Eric. Masih jelas dalam ingatan Eric bagaimana gadis itu meratapi kenyataan bahwa kekasihnya menghamili gadis lain. Dan pagi ini, gadis itu terlihat baik-baik saja, bahkan dia terlihat sibuk berkutat di dapur.
Aroma masakan yang lezat menarik perhatian Eric. Kakinya melangkah mendekat ke sumber aroma tanpa diperintah.
Beberapa saat dia berdiri di kejauhan sambil memerhatikan Isabel yang terlihat sedang berkutat dengan grill pan di mana aroma sedap itu berasal.
"Eh, hai!" Isabel terperanjat saat ia membalik tubuhnya dan mendapati Eric sedang berdiri di pintu masuk dapur yang terlihat semakin seksi dengan wajah bantalnya.
"Selamat pagi," sapa Isabel saat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya. Sebuah senyum mengiringi suara lembut gadis pirang itu.
Eric hanya menjawab sapaan itu dengan senyum kaku. Lalu dia mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kenapa dengan gadis itu? Eric masih diam memerhatikan keanehan Isabel sambil meneguk air mineral dan bersandar pada pintu lemari pendingin.
"Aku membuat sarapan untukmu. Sebentar lagi siap." Isabel tersenyum pada Eric.
"Hei, apa aku tidak salah dengar? Gadis itu membuat sarapan? Untukku?" batin Eric.
"Sebagai ucapan terima kasih karena telah mengizinkanku tinggal disini." Isabel tersenyum lagi.
"Ya." Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Eric. Perubahan sikap Isabel yang mendadak ini masih terlalu janggal bagi Eric. Hingga menimbulkan spekulasi macam-macam dikepala pria itu.
Apa lagi yang dia rencanakan? Eric menduga Isabel sedang merencanakan sesuatu dengan bersikap manis di depannya, mengingat bagaimana Isabel memperlakukan Chloe sebelum ini. Untuk itu dia harus waspada. Tidak serta merta menanggapi sikap manis Isabel dengan tangan terbuka.
"Sudah siap!" seru Isabel dengan dua piring berisi makanan di tangannya. Gadis itu meletakkan kedua piring di tangannya ke meja makan.
"Aku membuat tuna panggang saus lemon. Cobalah!" Isabel mengisyaratkan pada Eric untuk mendekat. Semoga saja dia suka.
Eric mengisi kembali gelasnya yang telah kosong dengan air mineral, lalu berjalan perlahan ke meja makan. Tatapan matanya masih sarat dengan kecurigaan, namun sebisa mungkin dia sembunyikan.
Suara derit kursi yang ditarik menjadi pemecah keheningan diantara dua orang disana. Perlahan Eric duduk di kursi tadi. Lalu Isabel menggeser piring berisi daging tuna berwarna kecoklatan dengan lelehan saus lemon ke hadapan Eric, tak lupa asparagus dan apel panggang sebagai pelengkap.
Dari aromanya, hidangan yang dibuat Isabel sungguh menggoda. Andai saja situasinya tidak seperti sekarang, bisa dipastikan Eric akan melahap sajian itu dengan rakus.
"Cobalah," kata Isabel masih dengan senyum manisnya.
Tanpa menjawab, Eric meraih pisau dan garpu di hadapannya lalu mulai memotong daging tuna itu. Tak lupa Eric mencocol daging tuna tersebut dengan saus lemon yang aromanya sangat segar lantas memasukkannya ke dalam mulut.
Saat olahan itu beradu dengan lidah Eric, hal pertama yang terlintas dalam pikiran Eric adalah 'sempurna'. Masakan Isabel sangat lezat. Bahkan Eric sempat menghentikan kunyahannya hanya untuk lebih menikmati rasanya. Beruntung matanya tidak ikut terpejam, jadi tidak terlalu kentara kalau dia sangat menyukai hidangan itu.
"Kau suka?" Isabel yang juga mulai menyuap potongan tuna ke mulutnya berharap Eric menyukai masakannya.
Sangat enak, tapi Eric tidak akan mudah tertipu. Eric menelan kunyahannya lalu menjawab, "Ya." Hanya satu kata. Itu pun dia tidak melihat pada orang yang bertanya. Pandangannya masih terpaku pada sajian di hadapannya.
Keduanya menghabiskan sarapan dalam keheningan. Hanya denting alat makan yang terdengar. Dalam waktu hampir bersamaan mereka selesai makan.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Eric dengan nada curiga. Eric menautkan jemarinya diatas meja. Sorot matanya tidak menunjukkan keramahan sama sekali.
Bukankah dia tidak tahu diri? Sudah makan masakan Isabel sampai habis, tetapi masih bersikap menyebalkan.
Binar di mata Isabel padam. Ternyata Eric masih menganggapnya berniat buruk. Padahal ia tulus ingin berterima kasih. Sungguh reaksi yang tidak di harapkan oleh Isabel.
Beberapa hari larut dalam kesedihan dan kehilangan, cukup membuat Isabel membuka pikirannya. Rival sebenarnya yang harus dia hadapi bukanlah Chloe, melainkan janin yang ada dalam rahim Chloe.
Isabel yang sangat menyukai anak-anak merasa menjadi orang yang sangat kejam jika harus egois dengan memaksakan keinginannya. Maka sekarang ia ingin berusaha menerima kenyataan bahwa anak Aiden lebih membutuhkan ayahnya. Hanya anak Aiden!
Meskipun begitu, pernikahan Aiden dan Chloe tetap menjadi hal yang paling menyakitkan untuknya. Bukan hal yang mudah untuk menerimanya. Maka dari itu ia butuh waktu untuk melewati semua proses menyakitkan ini agar bisa melanjutkan hidupnya.
Isabel menunduk, ia hanya bisa tersenyum pahit menanggapi pertanyaan Eric.
"Aku menunggu jawabanmu."
Isabel mengangkat wajah dan berusaha tersenyum tulus. "Aku sudah mengatakan apa yang kuinginkan tadi. Aku ingin berterima kasih padamu."
Eric mengernyit lalu mengalihkan pandangan sambil tersenyum sinis. Wajahnya kembali datar saat menjatuhkan pandangan ke arah gadis di depannya. "Hanya itu? Kau yakin?"
"Boleh kutarik kata-kataku lagi? Oh God, untung saja aku membutuhkannya. Kalau tidak, sudah kuhajar wajah menyebalkannya itu," batin Isabel.
Malas meladeni Eric yang hanya membuatnya emosi, Isabel membuang napas lalu berkata, "Ya, hanya itu." Gadis itu beranjak, menarik piring dan gelas kotor milik Eric untuk sekalian dicuci.
Hanya suara mesin pencuci piring yang terdengar di sana. Sepertinya percuma bersikap baik pada pria menyebalkan seperti Eric. Berbicara dengan pria itu hanya menguras emosi jiwa dan raga. Jadi lebih baik diam.
Tanpa mengatakan apapun Eric meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya.
Isabel membalik badannya saat mendengar derit kaki kursi beradu dengan lantai. Yang dia lihat adalah tubuh tegap Eric yang berjalan memunggunginya. "Seriously? Pergi begitu saja?" Isabel mendengkus, menggeleng tidak percaya dengan sikap Eric yang sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Pria itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih untuk sarapan lezatnya. Ya, meskipun masakan itu sebagai ucapan terima kasih untuknya. Sekedar mengucapkan terima kasih untuk usaha Isabel tidak akan membuatnya mati, bukan?
Isabel menarik napas dalam lalu mengembuskannya. "Jangan terpancing Isabel. Kau masih membutuhkannya." Gadis itu menenangkan dirinya sendiri.
Saat ini Isabel membutuhkan tempat untuk menyendiri. Dan di tempat ini dia mendapatkannya. Jujur Isabel belum siap bertemu dengan keluarganya, bahkan Alice sahabatnya.
Entahlah, bertemu dengan mereka serasa melempar kotoran ke wajah sendiri. Isabel benci harus mengakui jika keluarganya benar. Anggaplah ego Isabel terlalu tinggi. Ya, gadis itu memang keras kepala. Meskipun tahu dirinya berbuat salah, dia hanya akan berusaha memperbaikinya tanpa ingin mengakui kesalahan pada orang lain. Baginya, mengakui kesalahan sama saja dengan mengakui kekalahan.
***
tbc.
Bang Eric curigaan mulu ya, sepertinya dendam karena Isabel telah menyakiti adiknya belum pupus nih.
Pengen deh ngelempar tuh piring kotor ke Bang Eric, eh lempar cinta aja deh. Sayang kalo ganteng-ganteng gitu dilempar piring, hehehe.
see you next part, love !