
Pagi ini Eric, Jordan dan Isabel sarapan dalam keadaan sunyi. Tidak ada yang membuka suara sedikitpun. Hanya suara dentingan garpu dan pisau yang beradu dengan piring keramik yang terdengar. Isabel makan sambil menunduk, apa yang terjadi di Lighthill sungguh membuatnya malu.
Dia merutuki kebodohannya yang terhanyut dalam pesona Jordan. Pria bermulut manis yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Tapi, harus Isabel akui kalau dia sangat menyukai senyum Jordan. Sungguh, senyum pria itu sangat mempesona. Senyum hangat yang bisa melelehkan hati setiap gadis yang melihatnya.
Isabel menggeleng kecil, mengenyahkan pikiran konyol itu dari kepalanya.
"Apa kau sakit, Princess ?" Isabel mengangkat wajahnya saat mendengar suara Jordan. Pria itu melihat ke arahnya. Dan tentu saja yang ditanyai adalah dirinya.
Isabel mengerjap, otaknya terlalu lambat mencerna pertanyaan Jordan. "T-tidak." Jawabnya dengan gugup.
Jordan mengangkat alis dengan mata yang tak beralih dari gadis pirang di sisi kirinya. "Kenapa menggelengkan kepalamu ?"
Tidak ada jawaban pas yang melintas di otak Isabel. Otaknya terlalu banyak memikirkan kejadian di Lighthill semalam. Akhirnya gadis itu hanya menjawab dengan senyum kaku yang terlihat sangat dipaksakan.
"Dia sedang memikirkan ciuman kalian yang gagal. Jangan berpura-pura bodoh." Celetuk Eric yang langsung mendapat pelototan dari Isabel. Namun sedetik kemudian Isabel menundukkan wajahnya yang sudah merah karena malu. Dan sayangnya, ucapan Eric memang benar. Bukan tentang ciuman yang gagal, melainkan tentang dirinya yang terlalu bodoh untuk menolak pesona lelaki bermata coklat itu.
Jordan tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Eric. "Dan itu karena dirimu." Balas Jordan.
Isabel sempat terkejut dengan kalimat Jordan. Apa Jordan memang berniat menciumnya ? Dia menginginkannya ? Karena Isabel merasa kejadian itu hanya spontanitas akibat terbawa suasana.
Melihat Jordan yang sangat santai menanggapi ucapan frontal Eric, membuat Isabel merasa rendah diri.
Nama Aiden masih merajai hatinya, tapi dia hampir saja berciuman dengan pria lain. Ada perasaan getir yang menyergapnya. Dia merasa seperti sedang menghianati Aiden.
"Aku sudah selesai." Ucap Isabel. Dia menggeser kursi dan beranjak meninggalkan meja makan.
Jordan menghentikan gerakan tangannya mengiris pancake, melihat Isabel yang meninggalkan meja makan mendahului mereka. Lalu dia melihat ke arah piring Isabel yang masih menyisakan setengah potongan pancake.
"Sepertinya dia marah." Celetuk Eric, tanpa mengalihkan fokus pada sarapannya.
Jordan menatap datar pada Eric. "Aku akan menyusulnya." Dan dia meninggalkan pancake nya yang belum habis dimakan.
Eric mendengus kecil saat Jordan berjalan menjauh. "Dasar kekanakan." Gumamnya. Dia melanjutkan sarapannya hingga habis tanpa mempedulikan dua orang yang sedang berkejaran langkah itu.
Isabel duduk di tepi kolam bebatuan yang ada di halaman depan. Dia mencelupkan kakinya ke kolam, membiarkan ikan-ikan kecil disana berenang menjauh dan sesekali menabrakkan diri ke kakinya.
Membayangkan bagaimana dia hampir menghianati Aiden membuat dia merasa bersalah. Dia sadar Aiden bukanlah lagi miliknya. Tapi rasa cinta untuk pria itu masih sama.
Isabel menelan ludah, merapatkan kelopak matanya. Dia merasakan sesak dalam dadanya semakin menjadi. Berulang kali dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan Aiden lagi. Tapi nyatanya dia gagal. Segala sesuatu yang bisa mengingatkannya dengan Aiden masih membuat hatinya perih.
"May I ?" Sebuah suara membuat Isabel memalingkan wajah kearah datangnya suara itu. Jordan berdiri disamping Isabel dengan kedua tangan masuk dalam saku celana.
Isabel mengangguk memberi ijin untuk Jordan duduk disebelahnya.
Pria itu duduk dengan posisi sama seperti Isabel. Dia menautkan jemarinya di sela kaki yang menggantung di kolam.
Keduanya diam untuk beberapa saat. Isabel memusatkan pandangannya pada ikan-ikan dalam kolam. Jordan memandang jauh ke depan, ke arah pepohonan yang menjulang tinggi di sisi selatan rumahnya.
"Kau marah ?" Tanya Jordan memecah keheningan diantara mereka.
Isabel menoleh pada Jordan dengan wajah datar. Bertepatan dengan Jordan yang menoleh ke arahnya, hingga kedua mata mereka bertemu.
Entahlah, Isabel sendiri juga bingung apa yang dirasakannya saat ini. Tapi, marah ? Sepertinya tidak.
Jordan akui kalau Isabel adalah gadis yang sangat menarik. Dia hanyalah lelaki normal yang terpana melihat wajah cantik di hadapannya.
Beruntung Eric datang di waktu yang tepat. Jika tidak, Isabel pasti akan sangat membencinya saat ini. Pria bodoh yang mengambil kesempatan pada seorang gadis yang perasaannya sedang labil.
Isabel paham dengan maksud pertanyaan Jordan. Tapi tenggorokannya seperti tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara. Lalu dia menurunkan pandangannya lagi pada ikan-ikan dibawah.
"Aku sama sekali tidak bermaksud lancang." Lanjut Jordan.
"Lupakan saja." Sahut Isabel singkat. Dia juga tidak ingin memperpanjang hal sepele seperti ini. Dia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung. Atau lebih tepatnya, dia takut kehilangan bahu untuk bersandar. Rasa nyaman dan aman yang diberikan Jordan terlalu sulit untuk dilepaskan.
Bibir Jordan melengkung, membentuk sebuah senyuman. Senyum hangat yang sangat disukai Isabel.
"Terima kasih." Ucapnya. "Jadi, kau siap untuk petualangan hari ini ?" Jordan memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Isabel.
Senyum tulus Jordan yang tak pernah pudar, menular pada Isabel. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Kemanapun Jordan membawanya, Isabel yakin ini akan menjadi petualangan yang tidak akan terlupakan.
"Cepatlah bersiap, Princess." Jordan mengacak rambut Isabel lalu beranjak masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap. Pria itu berhenti sebelum sampai di teras lalu berbalik, "Jangan lupa membawa baju ganti." Katanya.
Baju ganti ? Apa disini ada pantai ? Pikir Isabel. Whatever ! Isabel tidak ambil pusing. Dia bergegas menyusul Jordan. Bersiap-siap dan tidak lupa membawa baju ganti seperti kata Jordan.
"Apa kita akan ke pantai ?" Tanya Isabel. Dia dan Jordan berjalan beriringan keluar dari rumah.
"Tidak, Princess." Jordan menoleh, lalu meneliti penampilan Isabel. Kaos longgar berwarna putih dan hot pant berwarna maroon. Dipundaknya menggantung tas slempang--milik Chloe--berisi baju ganti. Dan di tangan kanannya menenteng hoodie hitam yang dulu dia pakai saat menguntit Chloe.
"Pilihan yang bagus." Ucap Jordan sambil tersenyum penuh arti.
Isabel tidak mengerti maksud pria itu. Dia melenggang begitu saja mengikuti langkah lebar Jordan menuju mobil yang terparkir di halaman.
Langkah Jordan tidak mengarah ke mobilnya, tapi ke arah jeep Eric. Dan yang Isabel lihat Eric sudah duduk dibalik kemudi.
"Ayo, Princess !" Jordan menuntun Isabel masuk ke kabin penumpang di belakang. Sementara Jordan duduk di kursi penumpang di depan.
"Dia ikut ?" Isabel melirik Eric yang mulai menyalakan mesin mobil.
Eric melirik tajam melalui kaca spion di depannya. Sementara Jordan hanya terkekeh melihat interaksi kedua orang itu. "Ya, Princess. Dia ikut." Jawab Jordan yang tak bisa menyembunyikan senyum gelinya.
Isabel sedikit was-was. Apa Eric akan membawanya ke tempat ekstrim seperti waktu itu ?
Jordan cukup jeli mengartikan pertanyaan Isabel. Dia menoleh ke belakang lalu berkata, "Ada aku yang akan menjagamu, Princess."
Eric mendengus, memutar bola mata jengah mendengar gombalan Jordan. Jordan memang bermulut manis. Siapa yang menyangka kalau pria seperti dia betah menyendiri.
"Ayo jalan." Jordan menepuk bahu Eric. Akan lebih baik jika mereka segera berangkat sebelum Eric mengamuk.
Isabel menghela nafas. Pasrah. Saat Eric melajukan mobilnya masuk ke dalam hutan. Jordan tidak berhenti mengucapkan kalimat-kalimat penenang saat Isabel menjerit karena mobil yang bergoyang cukup keras.
Eric memang lihai mengendalikan mobilnya di medan ekstrim. Namun tetap saja Isabel harus senam jantung saat mobil yang mereka tumpangi terasa hampir terguling atau terbalik.
"Tenang, Princess. Percaya pada keparat ini. Dia offroader yang bisa di andalkan." Ucap Jordan yang terlihat santai dengan guncangan yang mereka rasakan. Dia sangat yakin dengan kemampuan Eric.
Namun tetap saja, Isabel belum pernah ikut offroad sebelumnya. Jangankan ikut, menonton di televisi saja dia enggan.
Setelah hampir satu jam berpacu dengan adrenalin, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti.
"Kita sudah sampai, Princess." Ujar Jordan sambil menoleh ke belakang.
Isabel melihat sekeliling. Tidak ada yang menarik. Hanya pohon-pohon tinggi, semak-semak, bunga liar yang kebetulan sedang bermekaran, dan----air ? Ya, Isabel mendengar suara gemuruh air seperti----air terjun ?
Mereka bertiga turun dari mobil. Eric berjalan lebih dulu melewati jalan setapak yang dikanan dan kirinya banyak ditumbuhi bunga aster warna warni. Sepertinya sengaja ditanam, karena tumbuhnya sangat rapi. Jordan dan Isabel menyusul di belakang.
Tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil, yaitu diujung jalan setapak, ada sebuah papan dari kayu yang luasnya sekitar 4 meter persegi.
Dari sini suara gemuruh air itu semakin jelas.
Eric berhenti di sisi papan. Hal yang tidak pernah di duga oleh Isabel, setelah melepas sepatu, Eric melepas t-shirt abu-abunya dan melemparnya ke atas papan.
"Aaa...!!" Isabel menjerit sambil menutup wajah dengan telapak tangannya. "Apa yang kau lakukan ?!" Pekiknya.
Eric yang hanya memakai celana pendek selutut itu menoleh dengan wajah datar. Dia tidak peduli sama sekali. Jordan terkekeh lalu menepuk bahu Isabel, "Dia sudah pergi."
Isabel merenggangkan jarinya yang menutupi wajah. Mengintip dari sela-sela jari, ternyata benar Eric sudah tidak ada.
"Lihatlah !" Jordan menunjuk ke arah kiri Isabel. Isabel mengikuti arah yang ditunjuk Jordan.
Mata Isabel membelalak takjub. Amytville benar-benar surga dunia. Gudangnya keindahan dunia yang masih alami.
Salah satunya seperti yang dilihat Isabel saat ini. Air terjun berundak yang sangat indah. Ada tiga trap air terjun yang tidak terlalu tinggi. Bebatuan yang tersusun secara alami membentuk kolam di setiap trapnya. Tumbuhan hijau dengan bunga-bunga yang sedang mekar tumbuh di sekitar air terjun dengan apik. Hingga Isabel harus membekap mulutnya yang tidak bisa menutup dengan telapak tangan.
Disaat dia hendak memalingkan wajah ke arah Jordan--yang dari tadi tersenyum melihat tingkah Isabel--, dia urungkan niat itu karena tiba-tiba Eric melompat dari atas air terjun dan berputar di udara sebelum jatuh dalam kolam alami dibawahnya. Pendaratan yang sempurna. Eric kembali muncul ke permukaan, berenang ke ujung air terjun dan melompat lagi dengan cara yang sama di trap kedua. Dan untuk trap ketiga, Eric meluncur diatas batu--yang kelihatannya memang sangat licin--dan mendarat dengan sempurna di kolam paling bawah. Batu itu seperti prosotan, hanya saja dalam bentuk yang lebih maskulin.
"Kau mau bergabung atau hanya akan melihat kami berenang ?" Ucap Jordan yang sudah melepas sepatunya.
Isabel menoleh. "Tentu saja ikut. Aku ingin mencoba apa yang dilakukan Eric tadi." Jawab Isabel dengan yakin, lantas dia melepas sepatunya di samping Jordan.
"Kau tidak melepas t-shirt mu ?" Tanya Isabel yang melihat Jordan berdiri masih dengan pakaian lengkap.
"Aku tidak ingin membuatmu menjerit lagi, Princess." Jawab Jordan tanpa menghilangkan senyum tampannya.
Isabel menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir. Benar juga yang dikatakan Jordan. Berada di tengah hutan dengan dua pria bertelanjang dada ? Isabel takut khilaf.
"Ayo." Ajak Jordan. Keduanya segera menyusul Eric yang sudah asyik bermain dengan air.
"Hati-hati." Jordan membantu Isabel menuruni jalan setapak berbatu menuju puncak air terjun.
"Indah sekali." Isabel kembali membekap mulutnya yang tak bisa berhenti menganga. Kini dirinya dan Jordan sudah berada di puncak air terjun.
"Kau mau mencoba ?" Tawar Jordan. Dia mengulurkan tangannya.
"Kau yakin dia bisa melakukannya ?" Tiba-tiba Eric muncul di belakang Isabel. Isabel yang terkejut refleks membalikkan badan dan lebih terkejut lagi karena ternyata Eric berdiri sangat dekat dengannya hingga saat dia membalikkan badan kedua matanya tepat berada di depan dada bidang Eric yang telanjang.
Isabel menelan ludah melihat pahatan sempurna tubuh Eric. Dia melihat di lengan kanan Eric ada sebuah tato seperti---sayap malaikat yang tertutup. Bulu-bulu halus yang tumbuh di dada Eric menambah kesan maskulin pada pria itu.
Eric menjentikkan jarinya di depan wajah Isabel. Setelah beberapa saat membiarkan gadis itu terdiam sambil melihat tubuh shirtless nya dengan seksama. Tidak seperti tadi yang berteriak histeris karena tubuh yang sedang dipandanginya saat ini.
Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu membuang pandangan ke sembarang arah selain tubuh Eric. Wajahnya merah menahan malu karena ketahuan mencuri pandang tubuh shirtless Eric.
"Sudah puas memandangi tubuhku ?" Eric menyeringai puas. Dia sangat menikmati ekspresi Isabel yang seperti itu. Saat gadis itu gugup atau kesal, wajahnya akan tampak merah. Menggemaskan.
Menggemaskan ? Oh, Eric jangan bilang kau mulai menyukai gadis itu !
"Jangan mengganggunya, Eric." Sergah Jordan yang mengerti arti seringai Eric.
"Tidak tertarik untuk menjerit lagi ?" Eric tidak mendengarkan Jordan. Dia sangat ingin mengerjai Isabel. Pria itu maju selangkah. Diikuti Isabel yang juga mundur selangkah.
Sukses. Isabel kehilangan kata-kata. Kenyataannya, gadis itu bukannya menjerit dan menutup mata seperti tadi tapi malah mengagumi ciptaan Tuhan yang indah itu.
"Atau kau ingin menjerit bersamaku ?" Eric maju lagi selangkah dengan seringai yang semakin lebar.
Isabel menelan ludah kasar dan mundur selangkah. Mulutnya terkunci rapat. Dia mengarahkan pandangannya ke bawah dimana kakinya semakin masuk ke dalam aliran air. Jantungnya berpacu tidak beraturan hingga rasanya begitu sesak.
"Eric." Jordan memperingati Eric untuk berhenti mengganggu Isabel. Tapi Eric tidak mengindahkannya.
Eric mendekatkan wajahnya ke telinga Isabel dan berbisik, "Bukankah aku juga sudah pernah melihatmu hampir telanjang ?" Eric menekankan kata 'hampir telanjang' dengan maksud tertentu.
Isabel menggigit bibirnya, mengingat kejadian sebelum dirinya berangkat ke Amytville. Bisikan Eric membuatnya merinding.
"Eric !" Peringat Jordan dengan nada lebih tinggi. Pria itu ingin menarik tangan Isabel agar menjauh dari Eric, namun terlambat.
"Menjeritlah bersamaku." Bisik Eric sambil menangkap tubuh Isabel dan membawanya melompat dari atas air terjun.
"Aaaaa.....!!!!" Jeritan Isabel menggelegar, membuat burung-burung yang bertengger diatas pohon langsung berhamburan terbang.
Begitu tubuh mereka masuk ke dalam air, Eric melepaskan tubuh Isabel. Keduanya berlomba segera naik ke permukaan.
Isabel bergerak cepat di dalam air seperti seekor ikan. Dia menyergap Eric yang sedang lengah. Dengan sekuat tenaga dia mnenggelamkan kepala Eric ke dalam air.
"Rasakan ! Ini balasan untukmu !" Kata Isabel saat berhasil menahan tubuh Eric dibawah air.
Jordan hanya bisa menggeleng dan menghela nafas kasar melihat kelakuan saudara angkatnya itu. Dia tersenyum melihat Eric yang sepertinya sangat menikmati apa yang dia lakukan. Membuat gadis pirang yang manis itu ketakutan.
Tak lama kemudian Jordan ikut melompat turun. Mereka bertiga berenang di trap teratas air terjun itu. Eric dan Isabel masih sibuk bertarung untuk saling menenggelamkan. Saat di dalam air tenaga Isabel seperti bertambah berkali-kali lipat hingga dia bisa menahan Eric dibawah air cukup lama. Atau mungkin---Eric sengaja mengalah ?
Lagi-lagi Jordan hanya bisa menggeleng kepalanya melihat tingkah kedua orang itu.
"Kau benar-benar akan membunuhnya, Princess." Ucap Jordan saat melihat Isabel menahan Eric dibawah air cukup lama.
Isabel seperti tersadar akan sesuatu setelah mendengar ucapan Jordan. Dia menahan tubuh Eric dibawah air cukup lama. Gadis itu segera melepaskan cekalannya. Tapi tidak ada pergerakan dari Eric.
Isabel panik. Dia segera menarik tubuh Eric ke atas permukaan agar pria itu bisa bernafas.
"Jordan !" Isabel memanggil Jordan yang sedang asyik berenang untuk mendekat.
"Eric, buka matamu ! Jangan mati, Eric ! Aku tidak sungguh-sungguh melakukannya. Eric, bangun ! Buka matamu !" Kedua mata Isabel berkaca-kaca. Dia terus menepuk-nepuk pipi Eric agar pria itu membuka mata. Dia takut jika Eric benar-benar mati kehabisan oksigen karena dirinya.
Jordan berenang mendekat dengan cepat. Kedua alisnya bertaut melihat Isabel menahan tubuh Eric agar tetap berada di permukaan. Gadis itu sudah menangis sekarang.
Sangat jelas terlihat ketakutan yang ada di wajah gadis itu.
"Jordan, dia tidak bergerak. Aku membunuhnya, Jordan. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak bermaksud mencelakainya. Jordan aku takut." Isabel terisak sambil memeluk tubuh Eric agar tidak tenggelam.
"Apa yang kau lakukan ?! Kau sengaja melakukannya ?!" Jordan geram. Dia menarik tubuh Eric dari pelukan Isabel.
"Aku tidak sengaja, Jordan. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja." Isabel meraih tangan Jordan memohon untuk dimaafkan. Air matanya semakin deras. Gadis itu benar-benar ketakutan.
"Aku tidak bertanya padamu, Princess." Jordan menatap datar pada Isabel.
Seketika itu isakan Isabel berhenti. Gadis itu mengernyit dengan mata yang sudah memerah karena menangis.
"Aku bertanya pada keparat ini." Kata Jordan yang langsung menjatuhkan tubuh Eric dan menenggelamkannya cukup dalam.
Tawa Eric pecah berbarengan dengan dirinya yang muncul ke permukaan. "Kau merusak kesenanganku, keparat !"
Isabel melotot melihat Eric yang tertawa lepas. Jadi dia berpura-pura mati dan membuat Isabel ketakutan setengah mati? Sangat tidak lucu !
Dengan kekuatan penuh Isabel menerjang Eric dan menenggelamkan pria itu sekuat tenaga.
"Sialan kau, Eric ! Aku tidak akan melepaskanmu !"
*
*
*
*
*
tbc.
Bejek-bejek aja tuh neng, bang Ericnya. Bercandanya kelewatan.
Sebenernya aku pengen bikin ini jadi dua part. Tapi gag jadi. Biar sekalian kelar liburannya ke air terjun.
See you next part, Love.