
"Mohon tunggu sebentar ya Bu." ucapnya.
"Iya." sahutku membalas senyuman ramahnya.
...----------------...
Tak berapa lama aku menunggu, petugas itu di panggil oleh seorang karyawan lain. Seperti ada sesuatu hal yang penting. Mereka terlihat berbicara dengan serius di depan pintu. Ntah apa yang sedang mereka bicarakan.
Tak lama petugas itu menghampiriku. Dia memintaku untuk masuk ke dalam, mengikuti karyawan itu.
Dengan penasaran, aku bangkit dari dudukku dan mengikuti karyawan itu masuk ke dalam. Aku di ajak menuju ke salah satu ruangan. Di sana sudah ada seorang lelaki yang terlihat begutu sangat rapi. Mungkin dia adalah manager bank ini.
"Selamat siang. Dengan Ibu siapa?!" tanya lelaki itu.
"Ayunda Tresno Ningrum." sahutku menyambut jabat tangan lelaki itu.
"Bu Ayunda ya. Jadi begini, tabungan ini sudah cukup lama. Dan tadi saya sudah mengecek lebih detail lagi. Bahwa setiap bulannya ada sebuah transaksi dari rekening ini. Dan jumlah saldonya sendiri saat ini sudah hampir menyentuh angka 1,7.Triliun Rupiah." jelas karyawan itu. "Tapi maaf Bu Ayunda. Untuk penarikan saldo. Kami membutuhkan data yang lengkap yang valid dari Ibu Ayunda."
Panjang lebar karyawan itu menjelaskan. Dia menyuruhku kembali esok hari untuk membawa berkas-berkas data keluargaku.
Mereka harus mencocokannya dengan data yang berada di rekening tersebut.
Dengan jantung berdebar aku menyelusuri jalan aspal yang hitam. Aku sangat bahagia mendengar penjelasan karyawan itu. 1,7.Triliun Rupiah, itu bukan uang yang sedikit. Aku bisa melakukan oprasi dengan uang itu.
Sampai di rumah, aku bergegas mencari berkas-berkas milik ayah dan ibuku. Pasti ada selembaran berkas milik ibu dan ayahku. Tak lama aku mencari, aku menemukan sebuah foto copy KK dan data kelahiranku. Di sana juga ada beberapa berkas lainnya.
Tidak perduli berkas itu berguna atau tidak. Aku membawa semua berkas itu kembali ke Central Bank tempatku menanyakan saldo tadi. Besok! Aku tak punya banyak waktu jika aku harus menunggu esok pagi.
Sampai di Bank itu, aku di sambut begitu sangat hormatnya. Bak tamu VIP yang selalu di nanti. Aku kembali di iring menuju ruangan manager lantai 2.
Lelaki itu menyambutku dengan senyuman yang lebar. Dia tak menyangka, bahwa aku akan kembali secepat itu.
"Sore Mbak, bagaimana? Ada yang bisa saya bantu kembali??" tanya dengan ramah.
"Saya membawa berkas yang Anda minta. Anda bisa mengambil semua yang Anda butuhkan." ucapku dengan terengga.
Lelaki itu meraih tumpukan berkas yang aku bawa. Dengan di bantu oleh salah satu karyawannya. Dia memilah berkas di hadapannya. Lelaki itu dengan sabar memilah satu per satu berkas yang dia butuhkan, dari tumpukan kertas yang berdebu dan usang itu.
Sekitar satu jam aku harus menunggu semua itu selesai. Sampai aku mendapatkan sebuah Kartu Platinum berwarna hitam keunguan. Aku juga mendapatkan sebuah kartu credit dengan percuma oleh karyawan itu.
"Oni silahkan Mbak. Saldo sudah bisa di tarik atau di gunakan menggunakan kartu ATM atau buku tabungan. Ini juga ada kartu Kredit jika mungkin Mbaknya membutuhkan. Banyak discon yang kami tawarkan dengan Kartu kredit ini." ucapnya.
"Iya, terimakasih banyak Pak." sahutku merasa lega.
Badan yang lelah, kepala yang sedikit berat. Aku masuk ke dalam rumah yang sepi dan gelap. Aku menghampiri sebuah tiang dan menyalakan semua lampu ruangan.
Ntah kenapa, perasaanku hampa seketika. Tak ada orang yang menyambutku. Tak ada orang yang mengharapkanku pulang. Tak ada seorang pun yang ada dalam hidupku. Aku sendiri, dan tak punya siapa-siapa.
Aku duduk di atas ranjang kayuku. Termangu melihat selembaran data lap yang berserakan di atas kasurku.
Untuk apa aku hidup. Jika hidupku tak ada siapa-siapa. Gumamku dalam hati.
Aku meringkuk menangis di atas kasur usangku. Ntah apa yang harus aku lakukan. Aku tak tau harus berbuat apa.
Aku mengingat kembali memori lamaku. Semua kenanganku bersama ibu dan ayahku. Masa-masa saat kita bahagia bersama dalam sebuah ke sederhana.
Jika boleh memilih, aku tak mau di lahirkan. Buat apa aku di lahirkan, jika harus melihat kedua orang tuaku berpisah. Buat apa di lahirkan, jika cuman untuk menyaksikan orang-orang di sekitarku pergi dan menjauh. Buat apa aku di lahirkan, jika belum aku mendapatkan kebahagiaanku. Aku sudah harus pergi dengan kesendirian dalam hidupku.
Aku tertegun dalam tangisku saat melihat sebuah rantai kecil yang menjurai keluar dari dalam kotak kayu milik kakekku itu. Aku ingat, itu adalah sebuah arloji milik kakek dulu. Arloji itu sudah rusak dan mati, tapi itu, adalah satu-satunnya barang berharga yang kakekku berikan kepadaku.
^^^(Flashback)^^^
"Dulu waktu Kakek muda. Kakek ingin sekali keliling dunia. Mangkanya kakek beli Arloji ini. Tapi ternyata, keliling dunia itu tidak mudah untuk Kakek ha ha ha.." ucap kakek yang duduk di atas kursi rodanya.
"Kenapa Kek?!" tanyaku.
"Kakek tak cukup uang. Saat Kakek sudah banyak uang. Kakek sudah tua dan harus duduk di kursi roda." tutur Kakek. "Jika kau punya cita-cita nanti. Wujudkan di masa mudamu. Karna kita tidak tau. Kehidupan apa di masa tua kita nanti. Huhukk uhukk."
"Iya Kek." sahutku.
^^^(FlashOff)^^^
Aku mengingat jelas memori itu. Aku bangkit dari tidurku dan meraih arloji itu. Arloji yang hampir kuning berkarat. Bahkan kacanya pun juga sudah retak.
Cita-citaku saat aku kecil. Adalah seorang Dokter. Gumamku dalam hati.
Tapi mustalih aku menjadi seorang dokter. Selain aku minim dengan ilmu. Hidupku juga sudah tak lama lagi. Batinku.
Aku temangu dalam lamunku. Menatap sendu arloji usang itu. Ku tratapi dengan mendalam hidupku ini.
Keliling dunia?! Gumamku dalam hati.
...****************...