100 Days

100 Days
Part 51



Aku tidak bisa membencimu. Maka akan kubuat kau membenciku.


          __________________________


Katakanlah Isabal jahat, memanfaatkan Eric untuk membuat Aiden membencinya. Tapi dengan cara seperti itu, Isabel yakin Aiden akan membencinya. Dan dengan begitu, ikatan yang masih dia rasakan selama ini akan pudar.


Ide itu muncul begitu saja dalam otak Isabel. Dia tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan Eric. Tapi saat Eric menciumnya, itu adalah kesempatannya untuk membuat Aiden tahu bahwa perasaan diantara mereka memang harus berakhir.


Rasa rindu, cemburu bahkan cinta yang masih ada dalam hati mereka tidak seharusnya di pelihara. Biarkan semua itu pupus.


Isabel berjalan menuju dapur dengan perasaan berkecamuk. Aiden akan membencinya. Eric juga mungkin akan membencinya. Isabel bisa menyimpulkan seperti itu karena Isabel tahu Eric akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan adiknya. Jika dengan tindakan Isabel tadi akan membuat Aiden melupakannya, maka Eric tidak akan merasa dimanfaatkan. Karena dia juga mendapatkan keuntungan.


Isabel merasakan tangannya di tarik dengan kuat oleh seseorang. Aiden. Dia menarik tangan Isabel dan membawanya masuk ke ruang loundry. Aiden mengunci pintu ruangan itu.


Nafas Aiden memburu, rahangnya mengeras, wajahnya merah padam dengan tangan mengepal.


Isabel memejamkan matanya. Dia tahu hal ini akan dia hadapi. Aiden akan meluapkan amarahnya. Dan ini pertama kalinya Isabel melihat Aiden yang sedang diliputi amarah. Isabel tidak pernah melihat Aiden semarah ini sebelumnya, apalagi padanya.


Gadis itu mempertahankan wajah datarnya. Tapi satu hal yang dia hindari, mata Aiden. Karena itu akan melemahkannya.


Tanpa aba-aba Aiden meraih tengkuk Isabel dan menciumnya dengan brutal. Ini terasa seperti perpaduan antara marah, cemburu, dan rindu. Aiden tidak melepaskan Isabel meskipun gadis itu berusaha menjauh.


Sejujurnya, Isabel juga merindukan ciuman Aiden. Tapi tidak ! Isabel tidak boleh terbuai. Isabel harus mengakhiri semua ini. Karena ini yang terbaik untuk semuanya.


Isabel mendorong dengan kuat dada Aiden hingga ciuman itu terlepas.


"Apa yang kau lakukan ?!" Teriakan Isabel tertahan.


"Menghilangkan jejak orang lain di bibirmu." Jawab Aiden menahan luapan api cemburunya.


Isabel terperangah mendengarnya. Apa-apaan dia ? Aiden boleh memakinya, bahkan memukulnya. Tapi kenapa justru itu yang dilakukan Aiden ?


Dan apa katanya tadi ? Menghilangkan jejak orang lain ? Tuhan, sadarkanlah Aiden ! Hubungan keduanya sudah berakhir. Harusnya dengan siapapun Isabel berciuman, Aiden tidak mempunyai hak untuk marah.


"Kita sudah berakhir, Aiden. Hentikan omong kosongmu ! Kau sudah menikah dan.....dan sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah." Isabel meremas rambutnya frustasi.


"Aku mencintaimu, Isabel. Aku tahu betul siapa dirimu. Aku tahu kau melakukannya hanya untuk membuatku menjauhimu. Dan itu tidak akan berhasil. Karena aku tidak akan berhenti mencintaimu." Aiden mendorong tubuh Isabel hingga merapat pada dinding. Kedua matanya menunjukkan kilat amarah yang berapi-api.


"Tidak, Aiden ! Kau salah. Aku melakukannya karena aku menginginkannya." Sanggah Isabel. "Aku menyukai Eric." Akunya kemudian.


Aiden tersenyum miring. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau tidak pandai berbohong, Bells. Aku masih bisa melihat cinta di matamu untukku. Aku tidak sebodoh itu untuk mempercayai ucapanmu."


"Ya, memang perasaanku terhadapmu belum sepenuhnya hilang. Tapi kau harus menerima kenyataan kalau aku mulai membuka hatiku untuk orang lain. Kau harus menerima kenyataan kalau ternyata cintaku untukmu tidak sekuat yang sering kita bicarakan. Aku sudah mulai bisa melupakanmu, Aiden. Aku menyukai Eric. Tidakkah kau berpikir, waktu yang kami habiskan bersama selama ini sudah cukup untukku mengikis perasaanku terhadapmu. Kebersamaanku dengannya yang membuatku mulai menyukainya. Terimalah kenyataan, Aiden. Kau juga harus mulai membuka hati untuk istrimu. Dialah yang seharusnya kau cintai. Di dalam rahimnya ada anakmu. Darah dagingmu. Dia tidak pantas kau perlakukan seperti ini. Dia pantas mendapatkan cintamu."


Entah mendapatkan kekuatan dari mana, kalimat panjang lebar itu meluncur begitu saja dari mulut Isabel sampai dia terengah-engah.


Aiden semakin mengeratkan giginya. Urat di pelipisnya yang berkedut dan rahang yang keras menandakan kalau dia sedang sangat marah saat ini. Ucapan Isabel terasa seperti ribuan belati yang ditancapkan dalam jantungnya.


Mulut Aiden bungkam. Dia tidak bisa membalas ucapan Isabel karena ucapan itu benar. Dia tidak bisa menyangkal apapun yang dikatakan Isabel.


"Aargghh....!" Teriakan Aiden tertahan di tenggorokannya. Semarah apapun dia, dia masih sadar dimana posisinya saat ini. Dia tidak ingin orang lain mendengarkan pertengkaran mereka.


Aiden mencengkeram rambutnya frustasi lalu dia meninju dinding dengan sangat keras.


Isabel memekik saat Aiden menghantamkan kepalan tangannya ke dinding dengan tenaga penuh. Ini adalah pertengkaran besar pertamanya dengan Aiden. Dan ini akan jadi pertengkaran terakhir mereka karena setelah ini Isabel sudah membulatkan tekad untuk benar-benar melupakan Aiden.


Dengan nafas terengah-engah Aiden membuka pintu ruang loundry dengan kasar. Dia keluar dengan membanting pintu itu cukup keras. Isabel berjengit karena suara debuman pintu yang menyentak jantungnya.


Bukan. Bukan suara pintu itu yang menyentak jantungnya. Tapi kemarahan Aiden. Isabel tidak pernah melihat Aiden semarah ini.


Tubuh Isabel merosot ke lantai. Dia menyugar rambut dengan kasar lalu mencengkeramnya. Rasa sesak dalam dada membuat air matanya tidak terbendung lagi.


"Aku mencintaimu Aiden. Tapi aku harus melakukannya." Gumam Isabel dalam Isak tangisnya.


Sesakit apapun itu, Isabel siap menanggungnya. Dia sudah sangat yakin dengan pilihannya karena ini adalah pilihan yang paling tepat menurutnya.


Seseorang yang sedari tadi berdiri di sudut dapur tersenyum masam. Dia mendengar semuanya. Dia mengetahui apapun yang kedua orang itu bicarakan di ruang loundry. Dia mencengkeram gelas ditangannya hingga pecah. Darah segar pun merembes melalui goresan kaca ditangannya.


*****


Chloe memarkirkan mobil Jordan di sebelah mobil Eric. Dia dan Gloria baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan bulanan.


Saat Chloe turun dari mobil, dia melihat pintu mobil Aiden terbuka. Dia mengernyit, apa yang dilakukan Aiden disana ?


Chloe berjalan menghampiri mobil Aiden yang terhalang mobil Eric.


Betapa terkejutnya Chloe saat melihat Aiden duduk di kursi kemudi menghadap keluar dengan pintu terbuka dalam kondisi kacau. Rambutnya berantakan. Dia menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya dan menghisapnya. Kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya. Satu lagi, buku-buku tangan kanan Aiden memerah dengan sedikit bercak darah.


Setahu Chloe, Aiden tidak merokok. Setidaknya selama mereka menikah tidak sekalipun dia melihat Aiden merokok. Di apartemennya pun tidak pernah ada puntung rokok.


Chloe sempat ragu untuk mendekat. Mungkin Aiden sedang ingin sendiri. Mungkin dia sedang ada masalah. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan Isabel.


Biarkan Aiden sendiri dulu. Chloe sadar betul jika Aiden belum bisa sepenuhnya terbuka padanya. Jika dia memaksakan diri untuk mendekat, bisa jadi Aiden akan marah.


Chloe membalik tubuhnya. Baru satu langkah, suara Aiden terdengar hingga ke telinga Chloe.


"Kenapa kau berbalik ?"


Chloe berhenti melangkah. Tapi masih dalam posisinya membelakangi mobil Aiden.


Aiden turun dari mobilnya dengan sedikit melonjak. Dia berjalan ke arah Chloe.


"Apa kau juga akan meninggalkanku untuk orang yang kau cintai ?" Tanya Aiden sambil menjentikkan rokoknya yang masih tersisa setengah.


Saat Chloe membalikkan badannya,  Aiden sudah berdiri di depannya dengan wajah suram. Dia memasukkan kedua tangannya di saku celana.


Chloe tahu Aiden sedang tidak baik-baik saja. Dan jujur saat ini dia takut melihat Aiden.


"Apa kau juga akan menjauhiku ?" Aiden menatap penuh intimidasi.


Chloe mundur selangkah, dengan cepat Aiden mencekal tangan Chloe.


"Aakh...!" Chloe meringis. Cekalan tangan Aiden terlalu kuat ditangannya.


"Kau istriku, bukan ?!" Aiden mendesis, "Jadi aku bisa mengambil hakku sebagai suamimu."


Tangan kanan Aiden mencekal tangan Chloe, sedangkan tangan kirinya menarik tengkuk Chloe lalu Aiden menciumnya.


Ciuman Aiden sangat kasar. Chloe meronta, mencoba melepaskan diri dari Aiden.


Hanya sebentar, Aiden melepaskan ciumannya. Yang berakibat satu tamparan keras mendarat di wajah Aiden.


"Aku memang istrimu. Tapi aku bukan bahan pelampiasanmu !" Chloe menunjuk wajah Aiden. "Selesaikan masalahmu secara dewasa dan jangan libatkan aku !" Chloe berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Aiden yang masih mematung di tempatnya.


Aiden menatap punggung Chloe yang semakin jauh dengan seribu penyesalan. Apa yang dia lakukan terhadap Chloe sudah sangat keterlaluan.


Chloe benar. Tidak seharusnya Aiden melampiaskan kemarahannya pada Chloe. Dengan begini, Aiden telah menyakiti Chloe. Untuk kedua kalinya Aiden menyakiti Chloe.


*


*


*


*


*


*


tbc.


Huft....!! Ikut ngos-ngosan nulisnya. Akhirnya Isabel bisa bersikap tegas.


Tapi, apakah Aiden akan menerima keputusan Isabel begitu saja ?


Atau mungkin dia akan melampiaskan kemarahannya pada Eric yang telah mengambil hati Isabel ?


Siapa tadi ya yang main debus di dapur ? Gelas di remet sampe pecah. Apa gag perih tuh tangannya ?


See you next part, Love.