100 Days

100 Days
Part 107



"Terima kasih." Ucap Isabel kepada seorang maid yang memberikan kiriman bunga dari Eric padanya. Namun ada yang berbeda sejak dua hari lalu, Isabel tidak lagi menerima kiriman kue seperti biasanya.


"Mungkin dia sadar kalau sudah terlalu banyak kue manis yang dia kirim untukku." Isabel mengedikkan bahu tidak peduli. Dia lantas berjalan santai kembali ke kamarnya.


Isabel merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil menghirup wangi bunga dari Eric. "Aku merindukanmu." Gumam Isabel.


"Mungkin aku harus memberinya satu kesempatan." Isabel memejamkan mata, mengingat momen-momen bahagia yang pernah mereka lewati bersama. "Aku masih sangat mencintainya. Sebesar apapun keinginanku untuk membencinya, itu tidak pernah bisa mengalahkan rasa cintaku padanya. Menyebalkan sekali !" Isabel mendesah, memang seperti itulah kenyataannya. Dia sakit hati, dia marah, tapi dia tidak pernah bisa benar-benar membenci Eric.


Besok pagi Isabel memutuskan untuk kembali bekerja. Dia harus punya kesibukan kalau tidak mau stress gara-gara terlalu banyak memikirkan Eric.


Dengan kembali bekerja, Isabel berharap bisa melupakan sakit hatinya pada Eric. Karena jujur saja, Isabel sangat ingin kembali bersamanya. Menikah dengannya, memiliki banyak anak dan saling menemani hingga hari tua. Mimpi yang sangat indah, bukan ?!


Tapi sekali lagi Isabel harus bersabar. Dia harus menguji seberapa besar kesungguhan Eric menyesali perbuatannya. Jika dia kembali pada Eric, dia tidak ingin suatu saat nanti pria itu mengulangi kesalahannya lagi.


Sebuah pesan masuk dari Alice membuyarkan lamunan Isabel. Dalam pesannya, Alice mengajaknya bertemu di butik langganan gadis itu. Alice meminta bantuan sahabatnya untuk memilih gaun yang akan dia gunakan untuk makan malam dengan kekasih barunya.


Isabel bergegas mengganti pakaian dan segera meminta Taylor mengantarnya ke tempat tujuan.


Sesampainya di butik, Alice ternyata sudah menunggu di dalam.


"Bells !" Panggil Alice. Gadis itu tersenyum lebar dengan wajah berseri menyambut kedatangan Isabel yang baru saja membuka slide door butik tempat janjian mereka.


Isabel balas tersenyum lantas menghampiri sahabatnya.


"Ayo, aku sudah mengambil beberapa gaun. Bantu aku memilih yang paling bagus." Alice langsung menyeret Isabel ke bagian dalam butik dimana seorang pegawai sudah menyiapkan beberapa gaun yang tadi sempat di pilih Alice.


"Siapa kekasihmu kali ini ? Apa aku mengenalnya ?" Tanya Isabel yang sangat penasaran. Tidak seperti biasanya, kali ini Alice sedikit tertutup soal hubungan dengan kekasihnya yang baru berjalan selama satu bulan. Bukan bermaksud menyembunyikan, tapi Alice tahu satu bulan yang lalu, saat dia mulai menjalin hubungan dengan kekasihnya, Isabel sedang dalam keadaan terpuruk. Tepatnya saat Eric menghilang tanpa kabar. Mana mungkin Alice tega memberikan kabar bahagia itu disaat sahabatnya sedang bersedih karena ditinggalkan kekasihnya ?


Walaupun tidak gatal, Alice menggaruk kepalanya untuk menutupi kebingungannya dalam menjawab pertanyaan Isabel. Dia menggigiti bibirnya. Berharap dengan begitu dia bisa menjawab pertanyaan Isabel dengan baik.


"Mm.....dia....." Alice ragu-ragu menjawabnya. Berulang kali dia menggerakkan bola matanya ke segala arah untuk menghindari kontak langsung dengan mata Isabel.


"Really ? Kau bermain rahasia denganku ?" Isabel mengangkat sebelah alisnya, menuduh dengan tatapan matanya pada Alice.


Mendapat tatapan seperti itu dari Isabel, Alice jadi salah tingkah. Dia tidak bermaksud demikian, hanya saja dia merasa malu. Dia takut akan ditertawakan oleh sahabatnya itu.


"Bukan seperti itu !" Seru Alice. Isabel meletakkan gaun yang tadi dia pegang ke sofa lantas melipat tangan di dada, menunggu jawaban Alice.


"Berjanjilah kau tidak akan mentertawakanku !" Tutur Alice. Isabel masih diam saja menunggu Alice menyebutkan sebuah nama.


Alice menggigit bibir lagi sambil meremas jemarinya. Haruskah dia menjawabnya sekarang ?


"Dia...." Alice menjeda ucapannya. Dia memandang Isabel sambil meringis. "Nanti kau akan bertemu dengannya." Lanjut Alice. Mungkin sebaiknya Isabel bertemu dengannya langsung. Toh nanti dia juga akan datang menjemput Alice.


Isabel memutar bola mata malas. "Apa aku mengenalnya ?" Desak Isabel. Jawaban Alice semakin menguatkan kecurigaannya kalau kekasih Alice adalah orang yang dia kenal.


"Kubilang nanti kau bisa bertemu dengannya. Sudah, jangan banyak bertanya lagi ! Cepat bantu aku memilih gaun yang bagus sebelum dia datang." Tukas Alice. Bisa-bisa dia tidak jadi mendapatkan gaun kalau terus menanggapi rasa penasaran Isabel. Karena jawaban yang akan dia berikan bisa menumbuhkan seribu pertanyaan baru dari Isabel.


Meski harus menahan rasa ingin tahunya, Isabel kembali memberikan pendapatnya tentang gaun-gaun yang akan dibeli Alice.


"Jadi, kau akan makan malam dengannya ?" Tanya Isabel.


Seketika wajah Alice bersemu merah. Gadis itu melipat bibir menahan senyum. "Sebenarnya, dia mengajakku makan malam bersama keluarganya." Jawab Alice malu-malu.


Rahang Isabel terbuka lebar. Alice, sahabatnya yang selama ini tidak pernah memikirkan hubungan serius dengan pria, mau menerima ajakan untuk makan malam keluarga ? Wow ! Ini kemajuan yang luar biasa !


"Are you kidding me ?"


Alice menggeleng dengan wajah semakin merah. Okay, kali ini dia benar-benar serius ! Alice bukan tipe gadis yang mudah merona hanya karena seorang pria. Dan jika pria ini mampu merubah sifat Alice, sudah pasti dia adalah orang yang sangat istimewa.


"Siapa dia ?" Desak Isabel dengan wajah serius. Terlalu lama jika harus menunggu kekasih Alice datang menjemput.


Alice membuang nafas kasar. Isabel tidak akan berhenti kalau sudah begini. "Okay ! Tapi, kumohon jangan bereaksi berlebihan !" Alice mengangkat kedua telapak tangannya ke arah Isabel.


"Hm."


Alice menghirup nafas dalam lantas menghembuskannya perlahan sebelum menjawab. "Dia.....ada di belakangmu." Jawab Alice sambil melihat seorang pria yang berjalan mendekat pada mereka.


Refleks Isabel membalik tubuhnya. Oh, my God ! Isabel menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Kedua matanya membulat sempurna.


Tunggu ! Mungkin bukan dia. Isabel melihat ke sekeliling dan satu-satunya pria yang ada di belakangnya tadi ya hanya dia.


"Nick ?!" Isabel melihat ke arah Nick dan Alice secara bergantian. Dia masih tidak percaya kalau kekasih baru Alice adalah Nick. Bukankah Alice pernah mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu lagi dengan Nick ? Lantas yang terjadi sekarang ? Oh, God ! Sepertinya Isabel sudah melewatkan banyak hal.


Nick berhenti di samping Alice lantas mencium kening kekasihnya itu. "Maaf, aku terlambat." Katanya yang dibalas senyum maklum dari Alice.


"Kalian.....?" Isabel seperti baru saja melihat kucing terbang. Kau tahu, sesuatu yang mustahil tapi entah bagaimana caranya hal itu kini terjadi di depan matanya.


"Seperti yang kau lihat." Nick tersenyum bangga. Dia semakin mengeratkan rangkulannya pada bahu Alice. Dan apa itu ? Alice tersipu malu mendapat perlakuan manis dari Nick ? Sepertinya ada yang salah dengan anak itu.


"Seriously ? Kalian kembali bersama ? How ? Bagaimana bisa ? Alice ?" Isabel menatap Alice, menuntut penjelasan.


Alice membuat ekspresi bersalah. "Maaf, Bells. Waktu itu......kau tahu.....aku tidak mungkin membagi kabar bahagiaku disaat sahabatku sedang banyak masalah." Tutur Alice sambil mengerucutkan bibir. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Hanya saja......waktunya yang tidak tepat untuk bercerita. Aku janji aku akan menceritakan semuanya." Tambah Alice.


"Apa yang kau katakan ?" Isabel berjalan maju lantas memeluk Alice dengan erat.


"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Aku senang akhirnya kalian bisa bersama. Dan...." Isabel menggantung ucapannya. Dia memandang Nick penuh selidik. "Makan malam keluarga ?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari Nick.


Nick mengangkat bahu sambil tersenyum simpul. "Aku ingin keluargaku mengenal Alice lebih dekat." Jawabnya, membuat Alice menunduk tersipu.


Isabel ikut bahagia melihat keseriusan Nick. Semoga saja mereka berjodoh. Dan semoga hubungan mereka berjalan dengan baik. Tidak seperti dirinya yang baru saja mengalami surutnya hubungan dengan Eric.


Alice meraih tangan Isabel dan menggenggamnya. Dia melihat perubahan raut wajah Isabel. Pasti Isabel sedang teringat pada Eric. Alice tahu, setelah hubungan Isabel dan Eric kandas, Isabel belum memutuskan untuk menerima Eric kembali meski pria itu sudah berupaya keras. Bahkan sampai merelakan wajahnya menjadi samsak untuk Mike.


"Maafkan aku, Bells. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Kata Alice.


Isabel membalas genggaman tangan Alice. Dia tersenyum hangat. "Jangan meminta maaf. Kau pantas bahagia, Alice. Kau sahabatku. Aku senang kau bisa menemukan kebahagiaanmu." Isabel memeluk Alice lagi.


Seketika suasana berubah haru. Isabel dan Alice sama-sama meneteskan air mata. Namun bibir mereka menyunggingkan senyuman bahagia.


"Girls !" Seru Nick disela isak tangis bahagia kedua gadis di hadapannya itu. "Our time is running out." Kata Nick sambil menunjuk arlojinya.


"I know that song. Muse." Gurau Isabel.


Nick memutar mata malas. "Aku masih ada urusan lain setelah ini, Girls." Tuturnya dengan nada lelah, membuat Alice dan Isabel tertawa kencang.


"Baiklah, Mr. Grant. Sebaiknya Anda duduk manis di sana dan biarkan kami para gadis bekerja !" Kata Isabel sambil menunjuk sofa. Sementara dia dan Alice kembali memilih gaun yang akan dikenakan Alice untuk makan malam bersama keluarga Nick.


Lima belas menit kemudian pilihan sudah ditentukan. Alice memilih gaun satin berwarna marun tanpa lengan dengan panjang dibawah lutut yang memiliki belahan hingga setengah paha.


"Bagaimana kabar Eric ? Dia sudah sembuh ? Maaf aku belum sempat menjenguknya." Kata Nick setelah selesai membayar belanjaan Alice.


Wajah Isabel langsung berubah saat mendengar pertanyaan Nick. Kenapa Nick harus menanyakan Eric padanya ? Eh, sembuh ? Apa Eric sedang sakit ? Apa karena itu Eric tidak mengirimkan kue lagi padanya dua hari ini ?


Alice yang paham dengan perasaan Isabel segera menarik pelan lengan Nick. Maksudnya untuk memberi kode agar Nick tidak membahas masalah Eric untuk sementara waktu. Salahnya juga, karena dia tidak menjelaskan pada Nick kalau hubungan Isabel dan Eric belum membaik.


Lihatlah sekarang ! Isabel terlihat terkejut dan sedih. Dan itu membuat Alice merasa bersalah.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Akhirnya Alice dan Nick jadian. Ayo...jangan-jangan nanti Isabel kesalip sama Alice. Nick sudah mulai menunjukkan gelagat untuk menuju ke jenjang yang lebih serius dengan Alice.


Hm....Eric sakit ? Bisa sakit juga dia. Sakit apa kira-kira ?


See you next part, Love.