
Malam semakin larut. Pesta mewah itupun berakhir tanpa adanya masalah berarti. Semua tamu undangan telah meninggalkan hotel. Keluarga pun sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya sepasang pengantin baru yang masih tinggal di hotel.
Sebuah presidential suit room dihadiahkan oleh Nick untuk mereka. Sebuah kamar di lantai teratas dengan dinding kaca di satu sisinya menampilkan view keindahan kota di malam hari.
Kamar mewah itu telah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat indah. Taburan kelopak mawar merah ditata diatas ranjang king size membentuk pola hati. Aroma lavender yang langsung tercium saat memasuki ruangan itu memberi kesan rileks setelah seharian menjalani prosesi yang sangat melelahkan.
Cahaya temaram yang berasal dari rembulan membuat suasana dalam kamar itu lebih hangat dan romantis.
"Whoa....!" Seru Isabel saat pertama kali memasuki kamar pengantinnya. Kedua matanya disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Kerlip bintang dan bulan yang menghiasi langit menjadi salah satu view terindah yang dia dapatkan. Belum lagi saat dia mendekat ke dinding kaca diujung ruangan. Bintang dan bulan dilangit seolah bercermin pada bumi. Pemandangan yang sangat indah.
"Kau menyukainya ?" Tanya Eric sambil memeluk Isabel dari belakang.
"Hm. Ini indah sekali." Jawab Isabel. Dia mendekap tangan Eric yang melingkar di perutnya.
"Nick memberi kita tiga hari untuk menginap disini dengan pelayanan terbaik."
Isabel menoleh keatas, ke wajah Eric. Hal itu tidak disia-siakan Eric untuk mencuri satu kecupan di bibir Isabel.
"We can make a baby in three days." Bisik Eric nakal.
Isabel membalik tubuhnya dan memukul dada Eric. "Kita menikah dengan syarat. Ingat ?"
Bukannya mundur, Eric justru semakin menyudutkan Isabel ke dinding kaca. "Aku ingat. Aku juga ingat bagaimana cara membuat bayi tanpa melanggar syarat itu." Kata Eric sambil menyeringai.
"Pervert !" Seru Isabel yang langsung meloloskan diri dari Eric.
Eric berdecak sambil berkacak pinggang. "Kita sudah menikah, Bells. Tidak ada yang salah dengan membuat bayi."
Isabel tertawa melihat Eric yang berpura-pura kesal. Gadis itu terus menyusuri tiap sudut ruangan dengan perasaan kagum tanpa mempedulikan Eric yang sudah ribut ingin membuat bayi bersamanya.
"Berapa harga sewa kamar ini satu malam ?" Tanya Isabel.
"Tiga hari disini, setara dengan harga sebuah suv. Kau bisa menghitungnya sendiri."
Mulut Isabel menganga tidak percaya. Semahal itu ? Seumur hidup dia tidak pernah menginap di hotel dengan kelas presidential. Tentu dia terkejut dengan besarnya nominal yang harus dikeluarkan untuk semalam saja tidur di tempat seperti ini.
Jika dilihat fasilitasnya, memang semua yang ada disini adalah fasilitas superior. Tidak heran jika management hotel mematok harga yang sangat tinggi untuk sekali menginap. Namun jika suatu saat nanti harus menginap di hotel lagi, Isabel berpikir untuk melewatkan pilihan presidential suit room. Sayang sekali kalau harus membuang uang sebanyak itu untuk sekali bermalam.
Eric berjalan menyusul Isabel yang sudah sampai di depan slide door menuju balkon. Hingga saat Isabel berdiri di dekat pagar pembatas. Angin yang berhembus cukup kencang membuat ujung gaun pengantin Isabel melambai-lambai. Model gaun off-shoulder yang dia kenakan membuat tubuhnya menggigil kedinginan saat angin membelai kulit.
"Aku bisa jadi duda sebelum malam pertama kalau kau berdiri disini terus." Ucap Eric sambil menyampirkan selimut ke bahu Isabel lalu memeluknya dari belakang.
Isabel tersenyum sambil mengelus tangan Eric yang melingkari perutnya. "Tidak, kalau kau memelukku seperti ini."
"Kalau begitu, kau yang akan menjadi janda sebelum malam pertama. Karena aku bisa mati kedinginan disini. Ayo masuk !"
Eric menuntun istrinya untuk kembali masuk ke dalam. Udara malam di ketinggian ratusan meter bisa merontokkan tulang mereka jika mereka terus berada di luar.
"Siap melihat kamar pengantin kita ?" Tanya Eric sebelum membuka pintu kamar utama.
Dengan satu gerakan, Eric membuka pintu kayu bercat putih itu. Isabel kembali dibuat terkesima melihat dekorasi kamar yang akan menjadi saksi malam pertama mereka.
"Indah sekali !" Isabel berjalan cepat masuk ke dalam kamar sambil menutup mulutnya yang sulit mengatup karena kagum.
Bukan hanya taburan kelopak bunga yang memenuhi ruangan, tapi ada satu hal yang membuat Isabel semakin terkesima.
"Apa itu kolam renang ?" Tanya Isabel sambil terus berjalan menuju slide door kaca yang menghubungkannya dengan ruangan lain.
"Ya. Itu kolam renang." Jawab Eric. Dia berjalan di belakang Isabel sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Dia membiarkan istrinya mengagumi hadiah dari Nick ini hingga puas.
Sebuah ruangan berdinding kaca yang berisi private pool serta kursi santai di tepinya.
"Kau bisa mengatur suhu airnya." Jelas Eric. "Kita bisa membuat bayi dengan nyaman disini." Tambah Eric yang membuat Isabel melotot kepadanya.
Eric terkekeh melihat reaksi polos Isabel. Lalu tiba-tiba Eric mematikan lampu di ruangan itu. Sebuah keindahan lain yang membuat Isabel berdecak kagum untuk kesekian kalinya. Kolam renang berdinding kaca itu dilengkapi dengan lampu LED di setiap sisinya yang akan berganti-ganti warna secara berkala. Itu sangat indah !
"Kurasa tiga hari tidak akan membuatku puas menginap disini." Ucap Isabel yang masih terbuai dengan keindahan ruangan itu.
Lalu terdengar suara Isabel memekik saat tiba-tiba Eric mengangkat tubuhnya.
"Sisanya, biar aku yang memuaskanmu, my bride !" Ucap Eric sambil menggendong tubuh Isabel kembali masuk ke dalam kamar.
Wajah Isabel terasa panas. Dia masih membenci jantungnya yang bereaksi berlebihan seperti ini. Lalu dia menyembunyikan wajah merahnya ke dada Eric. Membuat pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu terkekeh geli dengan tingkahnya.
"Aku suka melihatmu tersipu seperti ini." Kata Eric. "It makes me want you more." Lanjutnya sambil berbisik.
Isabel menggigit bibirnya kuat-kuat. Sebenarnya dia ingin sekali berteriak. Bisikan Eric membuat bulu kuduknya merinding. Hingga dia tidak sadar kalau Eric sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi Eric yang menunduk dan bertumpu pada kedua tangannya.
"Aku sangat mencintaimu, Bells. Aku masih tidak percaya kalau kau sudah menjadi istriku." Eric membelai wajah Isabel dengan jari-jarinya.
Isabel menelan ludah. Setiap sentuhan dari kulit Eric membuatnya nerinding. Seluruh tubuhnya meremang. Dia bisa melihat dari mata Eric, betapa pria itu sangat menginginkannya.
Dia pernah melihat Eric menatapnya dengan tatapan seperti ini sebelumnya, tapi apa yang dirasakan Isabel saat ini sangat berbeda. Eric terlihat sangat mendambanya. Keinginan yang sudah sejak lama dia tahan, membuat jiwa Eric seakan terbebas.
Isabel tidak bodoh. Dia tahu saat ini Eric sudah sangat menginginkannya. Tapi, siapkah dia untuk malam pertama ini ?
"I love you, Bells." Ucap Eric sambil mengikis jarak wajah mereka.
Eric mengernyit. "A-aku butuh mandi." Ucap Isabel gugup lalu menelan ludah. "Aku tidak ingin melakukannya dengan tubuh kotor seperti ini. Kau tahu, berkeringat, bau minuman, dan.....dan.....a-aku hanya butuh mandi. Hanya sebentar !" Isabel mendorong kuat tubuh Eric lantas dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Eric hanya bisa memijit pelipis sambil melipat sebelah tangannya di pinggang. Dengan tubuh lesu dia menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Sedetik kemudian dia tersenyum kecil. Kasihan juga jika dia memaksakan malam pertama ini pada Isabel. Tubuh yang lelah karena seharian harus menjalani prosesi panjang, ditambah lagi dengan mental Isabel yang mungkin belum siap untuk melakukannya, membuat Eric memaklumi sikap Isabel.
Sementara itu, di dalam kamar mandi super luas dengan interior serba mewah, Isabel berjalan mondar-mandir di depan cermin. Dia gugup. Ini akan jadi pengalaman pertamanya, tentu saja dia tidak ingin melakukannya dengan asal-asalan. Yang pertama harus menjadi yang paling istimewa.
Isabel berdiri di depan cermin, kedua tangannya menekan kuat pinggiran wastafel. "Kau bisa melakukannya, Isabel. Dia suamimu." Isabel menghirup nafas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan.
"Sekarang yang perlu kau lakukan adalah membersihkan dirimu sebelum suamimu menyentuhmu." Gumam Isabel sambil berusaha melepaskan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.
Resleting yang ada di bagian belakang, membuatnya kesulitan untuk membuka gaun itu. Dia ingin keluar dan meminta bantuan Eric, tapi dia malu.
Dia sudah berusaha memutar tangan hingga menggoyang-goyang bahunya agar bisa menjangkau ujung kait resleting, namun selalu gagal.
Tidak kurang akal, Isabel mengambil setangkai bunga plastik yang menjadi hiasan di dalam kamar mandi, lantas membengkokkan ujung tangkainya yang terbuat dari kawat.
Dia memiringkan tubuh hingga bisa melihat bagian punggungnya di cermin. Dengan memutar tangan ke belakang, dia berkali-kali berusaha memasukkan ujung kawat ke lubang kait resleting yang memang memiliki ukuran sangat kecil.
Berkali-kali dia gagal melakukannya. Bahkan kesabarannya hampir habis hanya untuk membuka resleting gaun itu.
"Persetan dengan gaun mahal ini." Ujar Isabel sambil memasukkan ujung kawat dengan sedikit kasar. Tapi justru itu berhasil membuat resletingnya terbuka.
"Akhirnya." Isabel menghembuskan nafas lega. Lalu dia menanggalkan gaun itu. Satu persatu dia juga menanggalkan kain yang menutupi tubuhnya. Hingga tidak ada satu helai pun benang yang melindungi tubuh polosnya.
Perlahan dia berjalan menuju jacuzzi. Pihak hotel benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Jacuzzi itu sudah penuh dengan air susu dan kelopak bunga mawar seolah sudah siap menyambut tubuh lelah Isabel.
Dengan gerakan perlahan Isabel membenamkan tubuhnya ke dalam air hangat dengan aroma susu dan mawar yang begitu harum.
"Rasanya aku sudah satu tahun lebih tidak berendam dalam air senyaman ini." Gumam Isabel sambil memejamkan mata, menikmati pijatan lembut dari air yang menyentuh kulitnya.
Setelah puas berendam dan membersihkan tubuhnya, Isabel keluar dari jacuzzi dan memakai bathrobe untuk mengeringkan badan serta membelitkan handuk ke kepalanya.
Isabel membuka lemari yang ada di dalam kamar mandi, berniat mencari jubah tidur atau piyama. Tapi kedua matanya malah disuguhi pemandangan yang membuat mulutnya menganga.
Lemari sebesar itu hanya berisi puluhan lingerie seksi dengan berbagai macam model dan warna.
Isabel mengambil dan melihat satu persatu lingerie itu. "Apa ini tidak salah ?" Tanyanya entah pada siapa sambil mengangkat satu lingerie berwarna hitam yang menurutnya paling tertutup. Oh, tidak ! Bukan tertutup, karena semua lingerie itu transparan. Masalahnya, dia tidak memiliki pakaian dalam yang bersih untuk dipakai.
Hanya saja, lingerie yang ada di tangan Isabel saat ini adalah lingerie dengan model yang menurutnya lebih layak pakai dibandingkan yang lainnya.
"Really ? Apa aku harus memakai ini ?" Isabel mengerutkan dahinya merasa tidak nyaman. Tapi dia benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau, Isabel memakai lingerie itu.
Setelah selesai mengeringkan rambut dan memakai lingerie-nya, Isabel kembali dibuat gusar untuk keluar dari dalam kamar mandi.
Dia sangat malu. Dia tidak mau keluar dengan pakaian seksi yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya dibalik kain transparan itu. Isabel berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadapi malam pertamanya.
Beberapa saat berpikir, Isabel memutuskan untuk memakai bathrobe yang tergantung di rak untuk melapisi lingerie seksi yang dia pakai.
"Begini lebih baik." Gumam Isabel. Setelah itu, dia baru berani membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana.
Pelan-pelan Isabel melangkah mendekati ranjang. Dia bisa melihat Eric tidur diatas ranjang dengan posisi kaki yang menggantung. Satu tangan Eric terlipat menutupi wajahnya.
"Eric ?" Panggil Isabel. Tidak ada jawaban dari Eric. Isabel duduk di tepi ranjang lantas memanggil nama Eric lagi. Tapi pria itu tidak juga menyahutinya.
"Dia terlihat lelah sekali." Gumam Isabel. Lalu dengan hati-hati Isabel menggeser tubuh Eric agar bisa mengangkat kaki pria itu keatas ranjang.
Begitu selesai membuat posisi tidur Eric menjadi lebih nyaman, Isabel berjalan memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Eric dengan posisi miring menghadap suaminya.
Isabel tersenyum kecil. Melihat Eric yang tertidur lelap membuat hatinya menghangat. Wajah damai Eric dan dengkuran halusnya membuat Isabel ikut merasa damai. Dia bahagia, karena pada akhirnya mereka sampai pada titik ini. Titik dimana mereka saling memiliki dengan ikatan suci yang mereka mimpikan bersama.
"Terima kasih untuk semuanya." Isabel membelai wajah Eric dengan sayang. "I love you like I'll never love again, my husband." Gumam Isabel sambil tersenyum, menyimpan sejuta asa untuk masa depan yang bahagia bersama sang suami.
Sesaat sebelum memejamkan mata, Isabel tidak sengaja melihat jam digital berbentuk kepala rusa yang menempel di dinding. Saat itu juga kedua matanya terbuka sempurna. Satu hal yang baru saja dia sadari.
"Aku menghabiskan waktu 2 jam di kamar mandi." Isabel menepuk dahinya sendiri.
*
*
*
*
*
*
*
THE END
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah membaca novel ini. Meski jumlah kalian tidak banyak, aku sangat menghargai semua komen, like dan vote kalian. Setiap aku merasa lelah untuk menulis, membaca komen kalian bisa menjadikan semangat baru lagi untuk terus melanjutkan cerita ini. You're all my mood booster, Love.
Thank you and see you next..............